Halaman:20 Mei Pelopor 17 Agustus - Museum Dewantara Kirti Griya.pdf/27

Halaman ini telah diuji baca

rendah Belanda). Oleh sebab Wahidin djauh melebihi teman-temannja karena fikirannja jang tjerdas tiada terhingga, orangpun mengusahakan agar dapatlah ia melandjutkan peladjarannja, sehingga achirnja tertjatatlah djuga nama Wahidin sebagai murid sekolah Dokter-Djawa di Djakarta (dulu Betawi). Disinipun dalam kalangan guru-guru ia terkenal sebagai seorang murid jang giat bekerdja, tjerdas otaknja serta sehat djiwanja.

Sebagai „dokter-djawa” diwaktu itu iapun boleh dikata luar biasa sehingga dipandang patut serta terpilih untuk mendjadi guru-bantu atau „assistentleeraar” pada sekolahnja. Kelak sesudah itu ia berkedudukan tetap di Jogjakarta, tempat ia mengetjap pendidikan jang pertama dan achirnja mendjadi salah seorang penduduknja jang terkenal dan budiman. Disana Dr. Wahidin tinggal sampai wafatnja, jalah pada hari bulan Mei, tahun 1917.

Siapa kelak membuka kitab-kitab sedjarah kebangsaan kita, iapun pasti akan menghadapi lembaran bersih berhiaskan nama orang, jang sedang kita peringati djasa-djasanja dengan terbitnja risalah ini.

Bertahun-tahun: nama Dr. Wahidin ~ (dikalangan Djawa terkenal dengan sebutan Mas Ngabehi Sudiro-husodo) ~ terikat erat dengan pergerakan nasional, sehingga orang jang meriwajatkan hidupnja ta boleh tidak harus memberi pandangan tentang pergolakan masa diwaktu itu, masa jang sungguh-sungguh merupakan titik perhentian dalam perdjalanan sedjarah bangsa kita.

Orang menamakan Dr. Wahidin Bapa dari „Budi Utomo”, perkumpulan pemuda Djawa, tetapi setelah

28