Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 2.pdf/52

Halaman ini tervalidasi

tarikh Masehi. Berita-berita lain mewartakan bahwa nekara-nekara itu dipuja oleh penduduk Tiongkok Selatan yang bukan orang Tionghoa, seperti orang-orang Man, Mesu-tze, dan Lolo, suku-suku bangsa yang baru dalam tahun 41 M ditaklukkan di bawah Tiongkok untuk selama-lamanya oleh Jendral Ma Yuan. Pada peristiwa itu banyak nekara direbut, kemudian dilebur dijadikan kuda perunggu yang dipersembahkan kepada Kaisar Tiongkok. Ditaklukkannya suku-suku bangsa di Tiongkok Selatan, Tongkin, dan Annam Utara itu tidak menghalangi diteruskannya pembuatan nekara-nekara. Dalam tahun 300 M. .nekara-nekara itu masih dibuat oleh orang-orang Man. Untuk keperluan itu dibelilah mata uang tembaga di Kanton, kemudian dilebur dan dijadikan nekara, karena tembaga adalah bahan yang jarang terdapat dan berharga di AsiaTenggara. Ada juga beberapa nekara yang berangka tahun. Dalam kumpulan Tonang-fang, ada tertulis pada sebuah nekara: "tahun keenam dari pemerintahan Konang Wou Ti" (kira-kira tahun 30 M). Pada sebuah nekara di British Museum: "Dibuat oleh Chang-Fu dalam bulan ketujuh dari tahun keempat pemerintahan Chien Hsing" (kira-kira tahun 226M).

Dalam tahun 800 sebuah nekara dipersembahkan kepada kaisar Tingkok oleh negara Phiao yang berpenduduk orang Mon Khmer, dan kira-kira pada tahun 1200 nekara-nekara yang demikian itu masih terlihat pada orang Man Selatan yang digunakan sebagai genderang perang dan diwaktu persajian-persajian. Selama Dinasti Ming nekara yang demikian itu ditempatkan di atas puncak-puncak gunung dan bila nekara itu di pukul, maka rakyat datang berduyun-duyun. Pada kira-kira tahun 1700 di Kanton masih ada 10 orang yang membuat nekara: pekerjaan itu turun temurun dari bapak ke anak laki-laki. Pada kira-kira tahun 1800 Kanton masih menjadi pusat pembuatan nekara. Kini suku bangsa Karen Merah di Birma dan Siam Barat masih mempergunakan nekara itu, yang dipukul pada perayaan kematian seraya memanggil arwah-arwah yang dianggap berwujud burung. Pun di situ nekara itu dipergunakan sebagai semacam persajian, yaitu untuk menyajikan daging dan nasi. Masih ada berpuluh-puluh nekara yang dipergunakan, yang bentuknya ada dua macam: yang tinggi dan yang agak buntak. Dalam tahun 1894 negara-nekara itu masih dibuat oleh suku-suku bangsa Shan dan Inthas, yang tidak mempergunakannya sendiri melainkan menjualnya kepada orang Karen. Nekara-nekara itu di situ kebanyakan ditemukan berpasang-pasang, yang satu dengan katak-katak di atas bidang pemukulnya dan yang lain tidak. Di Birma yang pertama dianggap sebagai nekara laki-laki dan yang kedua sebagai nekara perempuan.

Dari uraian di atas nyatalah dengan jelas betapa kuat dan uletnya kebiasaan-kebiasaan itu dapat bertahan dari abad ke abad. Tetapi soal yang lebih penting lagi ialah: berapakah umur nekara-nekara yang tertua itu, tak terjawab oleh buku-buku sejarah. Dari dalam kuburan-kuburan di Dongson di Annam Utara telah ditemukan kira-kira 20 nekara, antara lain nekara-nekara kecil yang pasti hanya digunakan sebagai bekal kubur. Orang telah mengetahui bahwa pada berbagai peradaban terdapat suatu adat kebiasaan untuk memberikan bekal bekal kubur yang berharga, tetapi seringkali kebiasaan itu lambat laun berganti menjadi pemberian barang-barang tiruan yang tak berharga. Jika kita terima atas dasar yang kuat, bahwa permulaan kebudayaan Dongson bisa ditetapkan pada tahun 300 S.M. .maka nyatalah bahwa nekara-nekara yang tertua itu pasti lebih tua lagi, boleh jadi dari tahun 600 S.M. Anehnya baik Van Stein Callenfels maupun Heine Geldern, meskipun dengan melalui jalan yang berlain-lainan, sampai kepada pendapat yang sama tentang angka-tahun tadi. Dan nekara-nekara yang tertua itu asalnya ialah tiruan perunggu dari genderang perang kayu yang dipasangi kulit binatang.

Heger membedakan empat macam bentuk yang terpenting yang berlain-lainan, di antaranya nekara-nekara di Asia Tenggara. Bentuk pertama ialah yang terpenting dan boleh jadi dipakai sebagai bentuk dasar bagi yang lain. Selanjutnya terutama akan kita bicarakan bentuk yang pertama itu, karena hanya bentuk itulah (dengan beberapa kekecualian) yang tersebar ke Indonesia. Oleh karena itu bentuk tadi disebut oleh Victor Goloubew "le type migrateur par excellence". Bentuk itu selalu lebarnya lebih panjang daripada tinggi. Bidang pemukulnya yang lebar itu pada bagian tengahnya dihiasi dengan pola bintang yang bersinar 8, 10, 12, 14 atau 16 yang ditebalkan. Sekelilingnya ada lingkaran sepusat yang sempit dan yang lebar, yang dihiasi dengan hiasan-hiasan geometris seperti lingkaran

47