U  (2012)  oleh Goenawan Mohamad
2012


Surga terletak di telapak kaki ibu, ia selalu ingat itu: perempuan tua
penyapu jalan yang tak dikenalnya yang memberinya seraut tapal kuda
dan berkata, ‘Kutemukan ini; coba kau simpan.’

Sejak itu di tas sekolahnya ada tapal kuda yang separuh berkarat. Tiap
pagi, sebelum memasuki kelas, ia merabanya: sesaat, entah di mana, ia
dengar gerit pintu kandang dibuka dan bunyi langkah ksatria yang belum
ia beri nama: seorang kurus yang meregangkan kakinya di sanggurdi dan
berangkat membunuh Boma di perbatasan.

Di kedai tukang kebun, terkadang ia tunjukkan tapal kuda itu kepada siapa
saja yang duduk di dekatnya. Siapa saja tak pernah tahu apa yang
sebaiknya dikatakan. Beberapa orang hanya berkata, ‘Wah!’ dan pergi.

Beberapa tahun kemudian ia menangis untuk ayahnya yang menghilang di
Semenanjung dan ibunya yang memahat kayu sampai jauh malam.
Digenggamnya tapal kuda itu di jam-jam sebelum tidur, karena ia ingin
bermimpi Boma tak mengalahkan ksatria yang tak bernama itu, meskipun
kuda itu pulang tak berpenunggang.

Dulu ia pernah percaya besi berkarat yang disimpannya itu juga terpasang
di kuda kavaleri yang terjun ke jurang dengan leher tertembak. Tapi
kemudian ia menemukan sejumlah cerita lain yang setelah 25 tahun
berlalu ia lupakan.

Kini, di studionya, tapal kuda itu terpasang pada tepi meja gambar: seraut
U yang bersahaja, sebuah desain dengan sederet lobang yang seakan-akan
malu menyembunyikan kesedihan.

Tapi mungkin juga bukan kesedihan. Kemarin malam di atas kertas ia
goreskan pensil mengikuti lengkung U. Lalu ia gambar sebuah candi di
sebuah hutan Bali yang hampir tak kelihatan karena kabut. ‘Ini
cerita perjalanan yang lama,’ demikian ia berkata kepada anaknya
yang menatapnya dengan takjub.

‘Aku melihat kuda itu, Ayah.’
‘Apa warnanya, Isa?’

‘Ungu, tapi kakinya putih. Di pelananya duduk seorang ibu yang tua.’

‘Bukan seorang ksatria yang kurus?’
‘Bukan.’

Ia diam. Dielusnya kepala anak itu.

Di depan jendela studio, kemudian, ketika ia sejenak melihat ke gelap, ia
dengar berisik sebuah jalan yang tak dikenalnya. Seperti di pagi hari.
Seorang ibu tua penyapu jalan, dengan seragam kuning yang berlumpur,
terbungkuk memungut sesuatu dari sampah.

Di antara asap mobil yang lewat, benda itu berkilau. Seperti setangkai daun
surga.