Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 2.pdf/41

Halaman ini tervalidasi

Kecuali arca besar dan kecil dari batu dan pipisan-pipisan di Biaro Bahal, maka halaman-halaman biaro di Padang Lawas itu menghasilkan beberapa benda lain yang menarik perhatian juga, apabila dilihat dari sudut perhubungan yang terdapat antara Padang Lawas dan daerah-daerah atau negara-negara lain.

Sebagai contoh yang penting boleh disebut: sebuah arca perunggu yang mewujudkan seorang perempuan, setinggi 19,5 cm, yang ditemukan pada halaman Biaro Bahal I. Arca itu berkain yang berhiasan, tetapi dadanya telanjang, bergelang kaki, bergelang tangan, berkelat bahu, dan memakai sebuah kalung yang merupakan sebuah ”lus” pada dadanya. Rambutnya digelung, tetapi tidak memakai tutup kepala atau jamang. Karena bentuk dan langgamnya maka para sarjana menduga bahwa arca itu adalah buatan India Selatan, tetapi waktu membuatnya tidak dapat ditetapkan.

Sebuah arca perunggu lain ditemukan di serambi atas Biaro Bahal I. Arca itu duduk pada sebuah singgasana, dengan kaki kanannya dilipat di depan badannya, dan kaki kirinya tergantung dengan kaki terletak pada sebuah bantalan teratai kecil. Tangan kanannya patah, tetapi tangan kirinya masih utuh dan terletak pada paha kiri sedangkan lengan kirinya ditekukkan. Sikap duduk yang demikian disebut: lalitasana. Menurut para sarjana arca itu berasal dari India Selatan. Arca itu disebut Wajrasattwa, dewa yang penting dalam aliran Mahayana.

Dari arca-arca tersebut terlihat perhubungan antara Padang Lawas dan India Selatan. Sebuah benda yang menunjukkan juga ke arah India Selatan, ialah sebuah sandaran arca dari perunggu, yang terdiri dari semacam lengkung yang merupakan prabha dan puncaknya menjadi sebuah banaspati yang menggigit bunga. Kedua belah pihak lengkung itu terdiri dari makara. Ditengah-tengah lengkung itu terdapat sebuah bundaran. Menurut dugaan benda itu berasal juga dari India Selatan.

Bahwa arca-arca perunggu tidak hanya berasal dari luar negeri, melainkan dibuat di Pulau Sumatra juga, ternyata dari sebuah arca perunggu, yang dahulu kepunyaan Raja Gunung Tua, dan kini ada di Museum Jakarta. Arca itu bertanggal 1024 M., sepatah kata yaitu "barbwat” menjadi bukti bahwa arca itu dibuat di Sumatra dan tidak di Pulau Jawa, sebagaimana dikira dahulu karena beberapa corak yang mengingatkan kepada arca-arca perunggu di Pulau Jawa. Dalam pertulisan yang terdapat pada lapiknya disebut juga bahwa arca "Bhatara Lokanatha” itu dibuat oleh seorang pandai, yang bernama Suryya. Hal ini adalah suatu keistimewaan pula karena para seniman di zaman purbakala kebanyakan menjadi pencipta yang anonym, yang tidak menyebut nama mereka. Kata-kata lain yang tertulis pada lapik itu adalah "karena saya membuat amal yang menjadi kepunyaan seluruh umat manusia, maka saya dibuat masak untuk pengertian yang tertinggi dan sempurna”.

Arca itu, yang disebut Lokanatha atau Awalokiteçwara, tampak sedang berdiri di atas bantalan teratai yang besar. Ia memakai kain panjang dan perhiasan-perhiasan badan, kepalanya ditutup oleh sebuah mahkota tinggi. Tangan kanannya patah, tetapi tangan kirinya masih utuh. Di sebelah kiri dari arca itu duduk sebuah arca perunggu lain pada bantalan teratai juga. Arca itu mewujudkan seorang dewi yang disebut Tara. Di sebelah kanan dari arca Lokanatha itu terdapat sebuah bantalan teratai juga yang kini kosong, tetapi dahulu menjadi tempat duduk seorang Tara lain.

Apakah kesimpulan dari apa yang telah diuraikan di atas? Marilah kita buat suatu pemandangan ringkas dari apa yang telah dibicarakan tadi: Kepurbakalaan-kepurbakalaan di Padang Lawas mungkin sekali dibina oleh para raja dari Kerajaan Panai, yang dalam tahun 1024 telah menjadi kerajaan yang berkembang, dan dalam tahun 1365 masih berdiri. Tidak diketahui raja yang mendirikan biaro-biaro itu. Dari beberapa biaro dapat diketahui saat didirikannya bangunan-bangunan itu yaitu antara 1179 dan 1400. Mungkin biaro-biaro lain yang tak dapat ditentukan umurnya, dibina lebih dahulu daripada tahun 1179 itu, tetapi bahan pengetahuan untuk menetapkan anggapan itu belum ada.

Agama yang dianut di Padang Lawas adalah terutama agama Buddha, tetapi aliran Wajrayana, yang mempunyai sifat keraksasaan, terbukti dari arca Heruka dari Bahal II, sebuah arca kecil yang mewujudkan seorang Bhairawi, dan dua buah arca dari Pamutung yang mewujudkan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersifat bhairawa-bhairawi. Adanya wajrayana ternyata juga dari dua buah prasasti, yang satu dari Tandihet dan satu dari Aek Sangkilon.

36