Halaman:Brosur Lagu Kebangsaan - Indonesia Raya.pdf/32

Halaman ini tervalidasi

21

Bukti itu karena tajamnya dalam kritik yang terjalin dalam cerita kemudian dilarang oleh Belanda.

Karya lain Soepratman ialah “Darah Muda” dan “Kaum Panatik”.

Lagu yang dikarang lebih banyak lagi, yaitu: Bendera Kita, Indonesia Ibuku, Ibu Kita Kartini (dulu bernama Raden Adjeng Kartini), Mars K.B.I. (Kepanduan Bangsa Indonesia), Mars Surya Wirawan (Surya Wirawan adalah organisasi bagian pemuda yang berpakaian seragam dari Partai Indonesia Raya yang dipimpin oleh almarhum Dr. Soetomo), Mars Parindra, Di Timur Matahari, Bangunlah hai Kawan, Matahari Terbit dan Pandu Indonesia. (Lihat sejarah lagu kebangsaan Indonesia Raya, hlm. 99 s/d 104).

* * * * *

Soepratman hebat semangatnya, tapi fisik lemah. Ia sakit paru-paru, dan suaranya pun serak. Dalam keadaan demikian ia bekerja amat keras, sedang hidup yang mewah seperti di Makasar tidak ia kenal lagi. Hidupnya hanya mengenal pengabdian, sekalipun keadaannya materiil amat menyedihkan. Tahun 30-an ia tinggal di Rawamangun di tengah sawah. Rumahnya bilik yang banyak lubangnya. Atapnya dari alang-alang yang bocor. Lantainya tanah liat yang diwaktu hujan lembab yang menambah penderitaan batuk keringnya, sedang di musim kering merekah.

Kasansengari yang mencatat cerita sahabat karib Soepratman, yaitu wartawan terkenal di Surabaya, Imam Soepardi, pemimpin majalah bahasa Jawa Penyebar Semangat dan majalah tengah bulanan Terang Bulan, menulis ucapan Soepratman kepada Imam Soepardi: “Mas, nasibku sudah begini. Inilah yang disukai pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saya meninggal, saya ikhlas. Saya toh sudah beramal,