Halaman:TDKGM 01.257 Keterangan singkat mengenai latar belakang Nyi Hadjar Dewantara selaku Pemimpin Umum Persatuan Tamansiswa yang disiarkan oleh Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.pdf/1

Halaman ini telah diuji-baca


keterangan singkat tentang
hidup serta perdjuangan :

NJI HADJAR DEWANTARA

Pemimpin Umum Persatuan Tamansiswa

ASAL - USUL:

Nji Hadjar Dewantara masa mudanja bernama Raden Adjeng Sutartinah. Beliau dilahirkan pada hari Selasa Pon tanggal 14 September 1890 atau 1 Sapar tahun Ehe 1820 dirumah Sasraningratan, Pakualaman Jogjakarta. Ajah Nji Hadjar adalah Pangeran Ario Sasraningrat, putra K.G.P.A.A. Paku Alam ke - III. Permaisuri K.G.P.A.A. Paku Alam ke - III adalah putera Pangeran Ario Puger, putera Sri Sultan Hamengku Buwana ke-II. P.A. Sasraningrat adalah adik P.A. Surjaningrat, ajah Ki Hadjar Dewantara. Djadi Ki dan Nji Hadjar Dewantara adalah saudara sepupu. Ibu Nji Hadjar, Bandoro R. Aju Sasraningrat adalah putera bupati-najaka K.R.T Martonegoro, putera Basah Martonagoro, salah seorang pemimpin-tentara Diponegoro. Sedangkan permaisuri Basah Martonagoro adalah putera Pangeran Diponegoro sendiri.

PENDIDIKAN :

Pada masa ketjil Nji Hadjar Dewantara belum lazim anak-anak perempuan pergi bersekolah. Karena itu Nji Hadjar mendapat pendidikan dan pengadjaran dirumah. Ajah Nji Hadjar adalah seorang pudjangga bahasa Djawa jang terkenal. Itulah sebabnja maka sudah sedjak ketjil Nji Hadjar pandai membatja kitab-kitab bahasa Djawa seperti : serat Lokapala, serat Rama, Babad Tanah Djawi dan sebagainja. Selain itu pekerdjaan dan keradjinan rumahtangga serta membatik dipeladjarinja pula.
Setelah mulai terbuka sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan djuga, Nji Hadjar dimasukkan kesekolah "Europesche Lagere Sehool" ( Sekolah Dasar Belanda ). Kemudian beliau menerima pendidikan guru dari almarhum Raden Mas Rio Gondoatmodjo dan selandjutnja mendjadi guru-pembantu pada sekolah tersebut. Banjak bekas murid-murid beliau jang sekarang mendjadi tokoh-tokoh terkemuka antara lain : Sumanang S.H. (Ketua Dana Moneter Internasional), K.R.T. Kertonegoro S.H. (Dosen guru besar di Universitas Gadjahmada), Muksinun S.H. dan lain-lain.
Di Nederland ( dalam pembuangan dengan Ki Hadjar, suaminja), Nji Hadjar melandjutkan beladjar dibidang keguruan. Karena berbagai kesibukan dalam membantu suaminja, Ki Hadjar Dewantara, Nji Hadjar belum sampai menamatkan pendidikannja terpaksa bekerdja sebagai guru pembantu di Sekolah Frobel partikelir di Weimar-Den Haag.

KEKELUARGAAN:

Sudah sedjak mudanja R.A. Sutartinah (panggilannja: Menik), dipertunangkan dengan Raden Mas Suwardi Suryaningrat ( Ki Hadjar Dewantara). Peresmian perkawinan dilangsungkan pada tanggal 4 Nopember 1907, tetapi belum dirajakan. Kedua beliau itu belum hidup bersama, karena Ki Hadjar masih bersekolah di Djakarta (sekolah dokter "Stovia" ) disamping kesibukannja dalam perdjuangan. Pada awal bulan September 1913, diadakan perajaan "temu pengantin" dengan mengadakan pertundjukan "wajangkulit", jang sekaligus dimaksud sebagai malam-perpisahan belau berdua jang akan berlajar ketempat tanah pembuangan (Nederland).

PERDJUANGAN :

Sesuai dengan sipat-sipat pribadinja jang selalu ramah, diam dan bidjaksana, Nji Hadjar Dewantara tidak termasuk pemimpin jang pandai berbitjara. Djadi sangat berbeda dengan Ki Hadjar.
Pada tahun 1928, Nji Hadjar Dewantara termasuk salah seorang jang berinisiatip untuk terselenggaranja „Konggres Perempuan Indonesia" (batja: Konggres Wanita Indonesia ) jang pertama di Jogjakarta, bersama-sama dengan tokoh-tokoh wanita lainnja, ialah : ibu (Dr) Sukonto, ibu Sujatin Kartowijono dengan dibantu oleh ibu Sukaptinah Mangunpuspito, ibu Sunarjati Sukemi, ibu Hardjodiningrat, ibu Dr Ismudijati Abdulrachman, ibu Badiah, ibu Mundjijah dan ibu Hajinah Mawardi. Konggres tersebut dmuilai pada tgl. 22 Desember 1928, jang kemudian ditetapkan sebagai HARI IBU, tanggal 22 DESEMBER.
Dalam gerakan wanita Nji Hadjar aktip memimpin dan mendjadi pinisepuh dari Wanita Tamansiswa, suatu organisasi jang tidak ternilai djasanja dalam membantu perlawanan rakjat Indonesia terhadap "Onderwijs-ordonantie 1932" atau jang terkenal dengan "Ordonansi Sekolah Liar".
Pada waktu ini Nji Hadjar Dewantara djuga terdaptar sebagai anggota perkumpulan „Hanggono Tjipto" di Jogjakarta, warga dan pelindung „Wanita Rakjat Pusat sedjak djamannja almarhum ibu Mangunsarkoro, anggota dari "Wanita Gadjah Mada" dan lain-lain.
Pada djaman kolonial, waktu di Jogja diadakan studio-radio swasta jang bernama MAVRO, sebagai alat perdjuangan rakjat memiliki salah satu rubriknja adalah rubrik Kebudajaan. Siaran kusus ini diselenggarakan dari Pendapat Dewantaran dengan call: Radio Wasita.