Buku Praktis Bahasa Indonesia 1/Kata: Perbedaan revisi

(s.d kata melihat dan sinonimnya)
Jika kita membuka ''Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI)'', akan kita temukan kata ''kilah'' dengan makna 'tipu daya' atau 'dalih'. Jadi pemakaiannya seperti pada wacana (1) tidaklah tepat. ''Berkilah'' artinya 'mencari-cari alasan untuk membantah pendapat orang'. Perhatikan contoh berikut.
 
<blockquote>
(2) Dalam pertandingan semalam penampilannya begitu buruk sehingga dia mengalami kekalahan telak. Atas kekalahannya itu dia berkilah bahwa suhu udara sangat rendah sehingga gerakan tubuhnya terhambat.
</blockquote>
 
<blockquote>
(3) Banyak soal ujian yang tidak dapat dikerjakannya. Kali ini tampaknya persiapannya kurang. 'Saya tidak dapat belajar. Rumah saya terlalu bising,' kilahnya.
</blockquote>
 
Dalam contoh (2) suhu udara dijadikan alasan kekalahan untuk menolak adanya pendapat yang lain. Demikian juga dalam contoh (3), kebisingan di rumah dijadikan kurangnya persiapan untuk menutupi kekurangan lain yang sebenarnya.
Kata ''berdalih'' merupakan sinonim ''berkilah''. ''Berdalih'' artinya 'mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatan'. Berikut ini contoh pemakaiannya.
 
<blockquote>
(4) Ucok ingin menjual sepedanya untuk membayar utang. Kepada ibunya dia berdalih bahwa sepedanya itu sudah tidak baik lagi jalannya.
</blockquote>
 
Kata ''tukas'' juga sering digunakan dengan pengertian keliru. Kata ''tukas'' sering diartikan 'menjawab atau menanggapi perkataan orang dengan cepat' seperti contoh berikut
Arti kata ''tukas'' yang benar, seperti tercantum dalam KUBI, adalah 'menuduh tidak dengan alasan yang cukup'. Berikut ini contoh pemakaiannya.
 
<blockquote>
(6) Retno mendapatkan tasnya telah terbuka dan dompet berisi uang serta surat-surat penting telah lenyap dari sana. Dengan pikiran kalut dia menengok ke kiri ke kanan dan melihat orang yang rasa-rasanya selalu mengikutinya. "Pasti engkaulah yang mengambil dompetku, "tukasnya kepada orang itu.
</blockquote>
 
Selain itu, ada pula kata ''tukas'' yang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti 'mengulangi lagi' (permintaan, jawaban, panggilan, dan sebagainya). Berikut ini contoh pemakaiannya.
<blockquote>
"Jangan berhujan-hujan. Nanti ibu marah, " kata Titi kepada adiknya.
<br/><br/>
 
''"Tidak peduli,"jawab adiknya.
<br/><br/>
 
"Nanti kau dihukum, "kata Titi lagi.
<br/><br/>
 
"Tidak peduli, "tukas adiknya.''
</blockquote>
 
==Makna Kata ''Acuh'' dan ''Tayang==''==
 
Kata ''acuh'', menurut ''Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI),'' berarti 'peduli, mengindahkan'. Kata ''acuh'' lebih sering muncul dalam bentuk ''tidak acuh, acuh tak acuh'', dan ''tidak mengacuhkan''.
Wacana (1) berikut ini memuat pemakaian kata ''mengacuhkan'' yang tidak tepat, sedangkan wacana (2) memuat pemakaiannya yang tepat.
 
<blockquote>
(1) Didi diperingatkan oleh gurunya agar tidak berisik. Dia mengacuhkan saja peringatan itu dan terus bercakap dengan temannya.
</blockquote>
 
<blockquote>
(2) Di tikungan itu sering terjadi kecelakaan. Hal itu seharusnya dapat dihindari jika para pengemudi mau mengacuhkan rambu-rambu yang ada.
</blockquote>
 
Kata lain yang menjadi sinonim ''mengacuhkan'' adalah ''menghiraukan, memperhatikan, memedulikan'', dan ''mengindahkan''.
1.104

suntingan