Genta Suara Republik Indonesia: Perbedaan revisi

tidak ada ringkasan suntingan
(add category)
 
Karena itulah maka tak mungkin orang-orang ber-Revolusi tanpa rasa.
 
Ya, ini adalah satu dialoog. Dan karena ini satu dialoog, satu pembicaraan dari hati kehati antara kamu dengan aku, antara aku dengan kamu, maka saya bertanya kepadamu: sudahkah tepat, bahwa kamu tempohari menetapkan aku menjadi Presiden Republik Indonesia seumur hidup? Saya menyampaikan terimakasih kepadamu atas penetapan itu, tetapi saya masih menanya: sudahkah tepat penetapanmu itu? Engkau yang harus menjawab, sebab aku sendiri tidak bisa menilai, apakah keputusan itu tepat. Aku sendiri tidak bisa menilai kwalitas pekerjaanku sendiri selama ini. Aku hanya dapat mengatakan, bahwa aku selalu cinta kepada Tanah-air dan Bangsa, bahwa aku telah mengabdikan jiwa-ragaku kepada Tanah-Air dan Bangsa itu berpuluh-puluh tahun lamanya, bahwa akupun bermaksud jika diizinkan oleh Tuhan untuk mengabdi kepada Tanah-Air dan Bangsa itu sampai kepada saat Tuhan memanggil aku pulang kembali ke tempat asal. Kwalitas daripada pekerjaanku selama ini, aku tidak dapat menilailmenilai sendiri. Engkau yang harus menilai. Sejarah, sejarah nanti akan menilai, sejarah nasional dan sejarah internasional.
 
Tetapi, bagaimanapun juga, – keputusan saudara-saudara itu menentukan, bahwa selama saya masih hidup dan dapat bekerja, kedudukan dan tugas Presiden dan Pemimpin Besar Revolusi tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain. Dan karena Revolusi masih lama berjalan terus, maka ini berarti bahwa tidak ada harapan bagi saya untuk mengurangi aktivitas sedikitpun, atau mengaso sedikitpun, meski usia bertambah tinggi tiap hari, tenaga bertambah kurang tiap tahun. Tetapi dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa saya terima keputusan saudara-saudara itu, dan semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan dan kemampuan kepadaku untuk memenuhi kepercayaan yang saudara-saudara letakkan di pundak saya yang dhaif ini.
Banyak orang di luar negeri sekarang ini menganggap Revolusi Indonesia itu, – sesuai dengan anggapan kita sendiri -, sebagai salah satu Revolusi yang terbesar di kalangan Umat Manusia sepanjang masa, satu Revolusi yang paling modern dalam arti progresivitas yang dinamis dan dialektis, dalam gegap-gempitanya dunia modern zaman sekarang.
 
Nah, dengan itu semua, cukuplah alasan untuk berbesar hati. Cukuplah alasan untuk tidak mundur setapakpun menghadapi konfrontasi-konfrontasi macam baru yang saya maksudkan tadi. Cukuplah alasan untuk berderap terus ke arah Fajar Sosialisme yang telah menyingsing di cakrawala Indonesia. Ya, kita Insya Allah menang! Menang! Sekali lagi Insya Allah MENANG! Ini bukan kesombongan! Ini bukan zelfgenoeg-zaamheid! Ini bukan kecongkakan, melainkan sekedar kepercayaan kepada diri kita sendiri, sekedar kesadaran tentang potensi-potensi dan kemampuan-kemampuan yang nyata dari bangsa Indonesia sendiri, juga jika dibandingkan dengan potensi dan kemampuan dari bangsa-bangsa yang lain. Dan adakah sesuatu bangsa yang dapat meneruskan Revolusinya dan menyelesaikan Revolusinya, jika ia tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, tidak mempunyai kesadaran tentang kemampuan-kemampuan diri sendiri? '''Sesuatu bangsa yang tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, tidak dapat berdiri langsung.'''
 
"A Nation without faith cannot stand". Nah, dengan isi-jiwa yang penuh dengan kepercayaan akan kemampuan diri sendiri itulah, kita kini memasuki Phase Baru dalam Revolusi kita. Kita kataku, memasuki "selfpropelling growth". Kita menuju kepada sasaran. Kita menuju kepada Fajar Sosialisme Indonesia. Ini berarti bahwa dengan Sosialisme Indonesia itu, – kerangka ke-II daripada Revolusi Indonesia -, sudah besok pagi atau besok lusa akan tercapai. Tidak! Samasekali tidak! Sosialisme Indonesia baru sedang berfajar! Mataharinya akan terbit menyinari tanah-air kita, bukan besok pagi atau besok lusa, – yakinilah ini! – tetapi sesudah kita berderap secara ulet, membanting tulang setiap hari, memeras tenaga terus-terusan, menjalankan konfrontasi macam baru tanpa putusnya. Pendek-kata kita masih harus terus ber-Revolusi!
"A Nation without faith cannot stand".
 
Nah, dengan isi-jiwa yang penuh dengan kepercayaan akan kemampuan diri sendiri itulah, kita kini memasuki Phase Baru dalam Revolusi kita. Kita kataku, memasuki "selfpropelling growth". Kita menuju kepada sasaran. Kita menuju kepada Fajar Sosialisme Indonesia. Ini berarti bahwa dengan Sosialisme Indonesia itu, – kerangka ke-II daripada Revolusi Indonesia -, sudah besok pagi atau besok lusa akan tercapai. Tidak! Samasekali tidak! Sosialisme Indonesia baru sedang berfajar! Mataharinya akan terbit menyinari tanah-air kita, bukan besok pagi atau besok lusa, – yakinilah ini! – tetapi sesudah kita berderap secara ulet, membanting tulang setiap hari, memeras tenaga terus-terusan, menjalankan konfrontasi macam baru tanpa putusnya. Pendek-kata kita masih harus terus ber-Revolusi!
 
Syarat-syarat dan alat-alat untuk melanjutkan Revolusi gaya-baru ini sudah kita adakan.
Sebab kita-ini sungguh-sungguh ber-Revolusi. Revolusi kataku selalu, adalah satu "kiprah penjebolan dan pembangunan, satu kiprah simultan yang destruktif dan konstruktif. Di satu pihak membina, di lain pihak mengantam, menggempur, membinasakan".
 
Ya, kalau kita-ini umpamanya tidak ber-Revolusi betul-betulan, cuma Revolusi main-mainan, – barangkali tidak kita harus "kiprah dua jurusan" itu. Barangkali tidak kita-ini selalu harus menghantam, menggempur, membinasakan saja, di samping membangun. Barangkali kita tidak mempunyai musuh, barangkali kita tidak mempunyai lawan. Kalau kita-ini umpamanya mau menjadi satu bangsa satelit, atau satu negara satelit, – yaitu satu bangsa bébék atau satu negara bébék -, yang selalu wék wék wék membébék saja -, barangkali kita tidak mempunyai musuh. Tetapi, – kita tidak mau menjadi satu bangsa satelit, tidak mau menjadi satu bangsa bébék, tidak mau menjadi satu bangsa kambing. Kita mau menjadi satu Bangsa Besar yang bebas-merdeka, berdaulat penuh, bermasyarakat adil dan makmur, – satu Bangsa Besar yang Hanyakrawati Hambaudenda, gemah-ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, otot- kawat-balung-wesi, ora tedas tapak paluné pandé, ora tedas sisané gurindo!
 
satu Bangsa Besar yang Hanyakrawati Hambaudenda, gemah-ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, otot- kawat-balung-wesi, ora tedas tapak paluné pandé, ora tedas sisané gurindo!
 
Kita satu bangsa yang benar-benar ber-Revolusi, – karena itu maka kita kena hukumnya Revolusi, yaitu mempunyai kawan dan mempunyai lawan. Kalau kita bangsa satelit, kalau kita berjiwa budak, kalau kita berjiwa kambing, kalau kita berjiwa bébék, – yah, niscaya kita tidak mempunyai lawan, niscaya kita tidak akan dirongrong, niscaya kita tidak akan disubversi, tetapi sebaliknya, kita akan diinjak-injak sebagai sedia kala, diingkel-ingkel sebagai sedia kala, disumbat dan ditaléni hidung kita sebagai sedia kala, didikté, disuruh nurut saja seperti sedia kala.
Terimakasih!
 
----
———————————————————————————————————————————————–
 
LAMPIRAN MENGENAI " CIVIC MISSIONS "
3.325

suntingan