Sitti Nurbaya: Perbedaan revisi

98 bita ditambahkan ,  4 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
(baru)
 
----
 
==I. Pulang dari Sekolah==
I. PULANG DARI SEKOLAH
Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda,
bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang, di muka
itu.
 
"Engku muda*)<ref>Panggilan kepada anak orang yang berpangkat di Padang</ref>, janganlah marah! Bukannya sengaja
hamba terlambat. Sebagai biasa, setengah satu telah hamba
pasang bendi ini, untuk menjemput Engku Muda. Tetapi Engku
Penghulu**)<ref>Nama pangkat di Padang, yang hampir sama dengan Wedana di tanah Jawa</ref> menyuruh hamba pergi sebentar menjemput
engku Datuk Meringgih, karena ada sesuatu, yang hendak
dibicarakan. Kebetulan Engku Datuk itu tak ada di tokonya,
jarum panjang berimpit. Pukul berapa kedua jam itu berimpit
pula, sesudah itu?"
 
- - - -
*) Panggilan kepada anak orang yang berpangkat di
Padang
**) Nama pangkat di Padang, yang hampir sama dengan
Wedana di tanah Jawa
"Ah, jalan hitungan yang semacam ini, hampir sama
dengan jalan hitungan yang telah kuterangkan dahulu
bersama-sama ibu Samsu, yang telah lama duduk menanti.
 
== II. Sutan Mahmud Dengan Saudaranya yang Perempuan ==
II. SUTAN MAHMUD DENGAN
SAUDARANYA YANG PEREMPUAN
Pada senja hari yang baru diceritakan, kelihatan bendi
Sutan Mahmud masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah
anaknya," kata Sutan Mahmud sambil merengut.
 
"Bukan kewajibanmu, melainkan kewajiban mamaknya*)<ref>Saudara ibu yang laki-laki</ref>"
jawab putri Rubiah. "Untung anakku perempuan, tak banyak
merugikan engkau. Akan tetapi walaupun ia laki-laki sekalipun,
dengan keras suaranya, lalu berhenti sejurus, sebagai tak
dapat meneruskan sesalannya.
 
*) Saudara ibu yang laki-laki
"Sampai sekarang aku belum mengerti, bagaimana
pikiranmu, tatkala mengawini perempuan itu. Apanya yang
kau pandang? Bagusnya itu saja? Apa gunanya beristri bagus,
kalau bangsa tak ada, Serdadu Belanda bagus juga, tetapi
siapa yang suka menjemputnya?" *)<ref>Memberi uang tatkala kawin</ref>
"Rupanya bagi Kakanda, perempuan itu haruslah berbangsa
tinggi, baru dapat diperistri. Pikiran hamba tidak begitu;
bahunya, seraya menoleh ke tempat lain.
 
"Pekasih**)<ref>Ilmu supaya dikasihi atau dicintai, biasanya memakai</ref> apakah yang telah diberikan istrimu itu
kepadamu, tidaklah kuketahui; hingga tidak tertinggalkan
olelunu perempuan itu; sebagai telah tetikat kaki tanganmu
olehnya. Sekalian Penghulu di Padang ini beristri dua tiga,
sampai empat orang. Hanya engkau sendirilah yangdari
dahulu,hanya obat-obatan (guna-guna di tanah Jawa).
*) Memberi uang tatkala kawin
**) Ilmu supaya dikasihi atau dicintai, biasanya memakai
obat-obatan (guna-guna di tanah Jawa).
perempuan itu saja istrimu tidak berganti-ganti, tiada
bertambahtambahbertambah-tambah. Bukankah harus orang besar itu beristri
banyak? Bukankah baik orang berbangsa itu beristri bergantigantiberganti-ganti,
supaya kembang keturunannya? Bukankah hina, jika ia
beristri hanya seorang saja? Sedangkan orang kebanyakan,
itu juga.
 
==III. Berjalan-Jalan ke Gunung Padang ==
III. BERJALAN-JALAN KE GUNUNG
PADANG
Pada keesokan harinya, pukul lima pagi. Samsulbahri
terperanjat bangun dari tidurnya, karena mendengar bunyi
masing-masing.
 
== IV. Putri Rubiah Dengan Saudaranya Sutan Hamzah ==
IV. PUTRI RUBIAH DENGAN
SAUDARANYA SUTAN HAMZAH
Pada petang hari Ahad, tatkala Samsu dengan sahabatnya
pergi berjalan-jalan ke Gunung Padang, kelihatan putri Rubiah
dirilah dukun ini, lalu pulang ke rumahnya.
 
== V. Samsul Bahri Berangkat ke Jakarta ==
V. SAMSUL BAHRI BERANGKAT KE
JAKARTA
"Pak Ali, pada sangkaku baik dimulai memasang lampu,
karena hari hampir gelap," kata Samsu kepada kusirnya, di
kembali.
 
== VI. Datuk Meringgih ==
VI. DATUK MERINGGIH
Di kampung Ranah, di kota Padang adalah sebuah rumah
kayu, beratapan seng. Letaknya jauh dari jalan besar, dalam
gelap.
 
== VII. Surat Samsulbahri Kepada Nurbaya ==
VII. SURAT SAMSULBAHRI KEPADA
NURBAYA
Tiga bulan Samsulbahri telah berangkat ke Jakarta,
meninggalkan tanah airnya. Tiga bulan lamanya Nurbaya telah
lamanya kemudian sampailah ia ke rumahnya.
 
== VIII. Surat Nurbaya Kepada Samsulbahri ==
VIII. SURAT NURBAYA KEPADA
SAMSULBAHRI
Matahari silam bintang pun terbit, bintang luput fajar
menyingsing s iang hilang berganti malam, malam lenyap siang
tersedu-sedu semalam-malaman itu.
 
== IX. Samsulbahri Pulang ke Padang ==
IX. SAMSULBAHRI PULANG KE
PADANG
Lebih dari setahun lamanya kita tinggalkan gunung Padang,
sejak Samsulbahri berjalan-jalan ke sana dengan Nurbaya dan
perkataan yang tinggi, sifat yang gaduk, mendatangkan
kebencian. Jika pergi ke negeri orang, haruslah air orang
disauk**)<ref>Ditimba</ref> dan ranting orang dipatah, artinya jangan
membawa aturan sendiri, melainkan adat
*) Merendah diri **) Ditimba
kebiasaan orang dan negeri itulah yang dipakai dan
dijalanan, supaya disukai orang dan lekas mendapat sahabat
sakit, karena bercintakan anaknya.
 
== X. Kenang-Kenangan Kepada Samsulbahri ==
X. KENANG-KENANGAN KEPADA
SAMSULBAHRI
Hari kira-kira pukul setengah tujuh, petang berebut dengan
senja, siang hampir akan hilang, malam hampir akan datang.
takut dan heran memikirkan orang yang dilihatnya tadi.
 
== XI. Nurbaya Lari ke Jakarta ==
XI. NURBAYA LARI KE JAKARTA
Walaupun hari hampir pukul tujuh pagi, tetapi di pelabuhan
Teluk Bayur, belum terang benar. Di tempat-tempat yang
meminta pertolongan Tuhan yang pengasih penyayang.
 
== XII. Percakapan Nurbaya Dengan Alimah ==
XII. PERCAKAPAN NURBAYA DENGAN
ALIMAH
"Bum, bum!" bunyi tabuh. Seketika lagi kedengaranlah
orang bang di langgar dan mesjid, karena magrib telah ada,
Nurbaya.
 
== XIII. Samsulbahri Membunuh Diri ==
XIII. SAMSULBAHRI MEMBUNUH DIRI
 
"Arifin, aku belum menceritakan penglihatanku tadi malam,
kepadamu bukan?" kata Samsulbahri kepada sahabatnya,
diketahui.
 
== XIV. Sepuluh Tahun Kemudian ==
XIV. SEPULUH TAHUN KEMUDIAN
Walaupun waktu itu telah diberi berukuran, seperti detik,
menit, jam, hari, Jumat, bulan, tahun dan abad, tetapi tiadalah
yang membawa mereka, nienuju kota Jakarta.
 
== XV. Rusuh Perkara Belasting di Padang ==
XV. RUSUH PERKARA BELASTING DI
PADANG
"Sudahkah Engku Datuk Malelo mendengar kabar yang
kurang baik itu?" tanya seorang tua, di pasar Bukit Tinggi,
Pemerintah Belanda.
 
== XVI. Peperangan Antara Samsulbahri Dan Datuk Meringgih ==
XVI. PEPERANGAN ANTARA
SAMSULBAHRI DAN DATUK
MERINGGIH
Setelah masuklah kapal yang membawa Letnan Mas ke
pelabuhan Teluk Bayur, turunlah sekalian bala tentara itu ke
3.326

suntingan