Sitti Nurbaya: Perbedaan revisi

241 bita ditambahkan ,  4 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
saudaranya itu.
 
"Sudah beberapa kali kukatakan 300 rupiah*)<ref>Harga uang dulu tinggi dari uang sekarang</ref>," jawab
perempuan itu.
 
"Astaga! Dari mana akan hamba peroleh sekaliannya itu?"
kata sutan Mahmud.
 
*) Harga uang dulu tinggi dari uang sekarang
"Bukankah sudah kukatakan; kalau tak cakap engkau
mengadakan permintaan orang itu, janganlah dibicarakan juga
tinggi) harus dari sutera pula, diberi bertekat benang Makau
sekaliannya harus diadakan. Belanja alat yang tujuh hari tujuh
malam, dengan biaya perarakan dan gajah mena*)<ref>Kendaraan atau usung-usungan untuk pengantin, bentuknya semacam ikan laut</ref> tidak
sedikit."
 
Tatkala itu datanglah putri Rukiah membawa suatu
hidangan, yang berisi semangkuk kopi dengan kue-kue, ke
hadapan Sutan Mahmud, lalu diletakkannya di atas meja. Kemudian
*) Kendaraan atau usung-usungan untuk pengantin,
bentuknya semacam ikan laut
Mahmud, lalu diletakkannya di atas meja. Kemudian
masuklah ia ke dalam biliknya. Rupanya ia mengerti, bahwa
orang tuanya itu sedang memperbincangkan hal yang tak
pada waktu itu, karena sejauh tepi langit dari tepi kolam itu,
sejauh itu pulalah kelak pikiran dan kenang-kenangan
mereka.*)<ref>Sayang taman itu sampai sekarang tak dipelihara lagi susul keempat anak muda itu.</ref> Tetapi bagi mereka yang berkasih-kasihan tempat
itu, pada waktu terang bulan, adalah sebagai dengan sengaja
diperbuatnya.
terlalu lama kita berhenti di taman ini, pastilah takkan dapat
lagi kita
*) Sayang taman itu sampai sekarang tak dipelihara lagi
susul keempat anak muda itu.
 
"Bukan demikian," jawab Arifin, tatkala mendengar
 
Orang Belanda menamai Gunung Padang ini Apenberg
(gunung kera*<ref>Sebenarnya yang dinamakan Apenberg itu sebuah daripada puncaknya, yang dekat ke tepi laut, tingginya 108 m.</ref>), sebab di puncaknya banyak kera yang jinak
jinak, yang memberi kesukaan kepada mereka yang mendaki
gunung itu. Apabila dipanggil dan diberi pisang, datanglah
mengunjungi kuburan sanak saudaranya, yang telah
meninggalkan dunia, untuk mendoakan arwahnya.
*) Sebenarnya yang dinamakan Apenberg itu sebuah
daripada puncaknya, yang dekat ke tepi laut, tingginya 108 m.
 
Walaupun gunung ini pada hakikatnya tempat sedih dan
"Tentu tak dapat," jawab Samsu. "Memang bagi seorang
pegawai, hal yang sedemikian seperti kata pepatah: Bagai
bertemu buah si mala kamo*)<ref>Buah perumpamaan, yang hanya ada dalam peribahasa</ref>. Dimakan, mati bapak, tidak
dimakan, mati mak. Mana yang hendak dipilih?"
 
"Jadi kau rupanya lebih sayang kepada ayahmu, daripada
kepada ibumu," sahut Nurbaya.
 
*) Buah perumpamaan, yang hanya ada dalam peribahasa
"Bukan begitu, Nur," jawab Bakhtiar, "kalau perkara
sayang, tentu aku lebih sayang kepada ibuku daripada kepada
mencapai pangkat yang tinggi. Ayah kita, apa kepandaiannya?
Menulis pun hampir tak dapat. Tetapi mengapakah dapat juga
ia menjabat pangkat Tuanku Bendahara*)<ref>Pangkat yang hampir sama dengan patih di tanah Jawa</ref>. Siapakah di antara
Penghulu-Penghulu yang ada di Padang ini, yang pandai
bahasa Belanda? Tak ada seorang pun. Bukankah sekaliannya
 
"Mengapa engkau berkata demikian?" tanya putri Rubiah.
 
*) Pangkat yang hampir sama dengan patih di tanah Jawa
"Ada suatu tanda padanya, ia akan mati berdarah dan akan
menjadi musuh kita," jawab Sutan Hamzah.
beristri seorang. Jika demikian katanya, sesungguhnyalah
pikirannya telah bertukar dan otaknya telah miring. Barangkali
telah termakan perbuatan orang*<ref>Kena ramuan guna-guna (pekasih)</ref>, sehingga lupalah ia akan
dirinya dan jalan yang benar," sahut Sutan Hamzah, seraya
menggelenggelengkan kepalanya.
"Pikiranmu sesuai benar dengan pikiranku. Rasa hatiku
memang telah "berudang di balik batu," kata putri Rubiah
pula, sambil menoleh kepada saudaranya.
pula,
* Kena ramuan guna-guna (pekasih)
sambil menoleh kepada saudaranya.
 
"Sekarang tahulah hamba, apa sebabnya ia sebagai benci
ditumpangkannya pada tukang pedati, yang berangkat malam
itu juga ke sini. Rupanya pedati itu lama berhenti di Lubuk
Bagalung dan di sanalah kedapatan oleh yang kuning leher*)<ref>Opas polisi, pada masa dahulunya opas-opas memakai setrip kuning ada leher bajunya dan pada celananya.</ref>.
 
Oleh sebab tukang pedati itu mengatakan ia menerima
pergi ke Hulu Limau Manis, menolong si Patah, sebagai telah
Engku katakan. Tetapi tatkala sampai ke Bukit Putus, dapat
kabar dari seorang murid di sana, ada ilmu baru, datang dari Jawa,
kabar dari
*) Opas polisi, pada masa dahulunya opas-opas memakai
setrip kuning ada leher bajunya dan pada celananya.
seorang murid di sana, ada ilmu baru, datang dari Jawa,
dengan kapal yang masuk hari itu. Ilmu itu banyak harganya.
 
 
Demikian bunyinya:
 
Jakarta, 10 Agustus 1896
Awal bermula berjejak kalam, Pukul sebelas suatu malam,
Bulan bercaya mengedar alam, Bintang bersinar laksana
nilam.
 
<poem>
Langit jernih cuaca terang, Kota bersinar terang benderang,
Awal bermula berjejak kalam,
Angin bertiup serang-menyerang, Ombak memecah di atas
Pukul sebelas suatu malam,
karang.
Bulan bercaya mengedar alam,
Bintang bersinar laksana nilam.
 
Langit jernih cuaca terang,
Awan berarak berganti-ganti, Cepat melayang tiada
Kota bersinar terang benderang,
berhenti, Menuju selatan tempat yang pasti, Sampai ke
Angin bertiup serang-menyerang,
gunung lalu berhenti.
Ombak memecah di atas karang.
 
Awan berarak berganti-ganti,
Udara tenang hari pun terang, Sunyi senyap bukan
Cepat melayang tiada berhenti,
sebarang, Murai berkicau di kayu arang, Merayu hati dagang
Menuju selatan tempat yang pasti,
seorang.
Sampai ke gunung lalu berhenti.
 
Udara tenang hari pun terang,
Guntur menderu mendayu-dayu, Pungguk merindu di atas
Sunyi senyap bukan sebarang,
kayu, Hati yang riang menjadi sayu, Pikiran melayang ke
Murai berkicau di kayu arang,
tanah Melayu.
Merayu hati dagang seorang.
 
Guntur menderu mendayu-dayu,
Angin bertiup bertalu-talu, Kalbu yang rawan bertambah
Pungguk merindu di atas kayu,
pilu, Hati dan jantung berasa ngilu, Bagai diiris dengan
Hati yang riang menjadi sayu,
sembilu.
Pikiran melayang ke tanah Melayu.
 
Angin bertiup bertalu-talu,
Tatkala angin berembus tenang, Adik yang jauh terkenangkenang,
Kalbu yang rawan bertambah pilu,
Air mata jatuh berlinang, Lautan Hindia hendak
Hati dan jantung berasa ngilu,
direnang.
Bagai diiris dengan sembilu.
 
Tatkala angin berembus tenang,
Jika dipikir diingat-ingat, Arwah melayang terbang
Adik yang jauh terkenangkenang,
semangat, Tubuh gemetar terlalu sangat, Kepala yang sejuk
Air mata jatuh berlinang,
berasa angat.
Lautan Hindia hendak direnang.
 
Jika dipikir diingat-ingat,
Betapa tidak jadi begini, Ayam berkokok di sana-sini,
Arwah melayang terbang semangat,
Disangka jiwa permata seni, Datang menjelang kakanda ini.
Tubuh gemetar terlalu sangat,
Kepala yang sejuk berasa angat.
 
Betapa tidak jadi begini,
Disangka adik datang melayang, Mengobat kakanda mabuk
Ayam berkokok di sana-sini,
kepayang, Hati yang sedih berasa riang, Kalbu yang tetap rasa
Disangka jiwa permata seni,
tergoyang.
Datang menjelang kakanda ini.
 
Disangka adik datang melayang,
Lipur segala susah di hati, Melihat adikku emas sekati,
Mengobat kakanda mabuk kepayang,
Datang menjelang abang menanti, Dagang merindu bagaikan
Hati yang sedih berasa riang,
mati.
Kalbu yang tetap rasa tergoyang.
 
Lipur segala susah di hati,
Silakan gusti emas tempawan, Sila mengobat dagang yang
Melihat adikku emas sekati,
rawan, Penyakit hebat tidak berlawan, Sebagai kayu penuh
Datang menjelang abang menanti,
cendawan.
Dagang merindu bagaikan mati.
 
Silakan gusti emas tempawan,
Silalah adik, silalah gusti, Sila mengobat luka di hati, Jika
Sila mengobat dagang yang rawan,
lambat adik obati, Tentulah abang fana dan mati.
Penyakit hebat tidak berlawan,
Sebagai kayu penuh cendawan.
 
Silalah adik, silalah gusti,
Tatkala sadar hilang ketawa, Dagang seorang di tanah
Sila mengobat luka di hati,
Jawa, Rasakan hancur badan dan nyawa, Nasib rupanya
Jika lambat adik obati,
berbuat kecewa.
Tentulah abang fana dan mati.
 
Tatkala sadar hilang ketawa,
Di sana teringat badan seorang, Jauh di rantau di tanah
Dagang seorang di tanah Jawa,
seberang, Sedih hati bukan sebarang, Sebagai manik putus
Rasakan hancur badan dan nyawa,
pengarang.
Nasib rupanya berbuat kecewa.
 
Di sana teringat badan seorang,
Tunduk menangis tercita-cita, Jatuh mencucur air mata,
Jauh di rantau di tanah seberang,
Lemah segala sendi anggota, Rindukan adik emas juita.
Sedih hati bukan sebarang,
Sebagai manik putus pengarang.
 
Tunduk menangis tercita-cita,
Teringat adik emas sekati, Kanda mengeluh tidak berhenti,
Jatuh mencucur air mata,
Rindu menyesak ke hulu hati, Rasa mencabut nyawa yang
Lemah segala sendi anggota,
sakti.
Rindukan adik emas juita.
 
Teringat adik emas sekati,
Terkenang kepada masa dahulu, Tiga bulan yang telah lalu,
Kanda mengeluh tidak berhenti,
Bergurau senda dapat selalu, Dengan adikku yang banyak
Rindu menyesak ke hulu hati,
malu.
Rasa mencabut nyawa yang sakti.
 
Terkenang kepada masa dahulu,
Sekarang kakanda seorang diri, Jauh kampung halaman
Tiga bulan yang telah lalu,
negeri, Duduk bercinta sehari-hari, Kerja lain tidak dipikiri.
Bergurau senda dapat selalu,
Dengan adikku yang banyak malu.
 
Sekarang kakanda seorang diri,
Tetapi apa hendak dikata, Sudah takdir Tuhan semesta,
Jauh kampung halaman negeri,
Sebilang waktu duduk bercinta, Kepada adikku emas juita.
Duduk bercinta sehari-hari,
Kerja lain tidak dipikiri.
 
Tetapi apa hendak dikata,
Setelah jauh sudahlah malam, Kakanda tertidur di atas
Sudah takdir Tuhan semesta,
tilam, Bermimpi adik permata nilam, Datang melipur gundah di
Sebilang waktu duduk bercinta,
dalam.
Kepada adikku emas juita.
 
Setelah jauh sudahlah malam,
Datangnya itu seorang diri, Tidur berbaring di sebelah kiri,
Kakanda tertidur di atas tilam,
Kakanda memeluk intan baiduri, Dicium pipi kanan dan kiri.
Bermimpi adik permata nilam,
Datang melipur gundah di dalam.
 
Datangnya itu seorang diri,
Tiada berapa lama antara, Dilihat badan sebatang kara,
Tidur berbaring di sebelah kiri,
Abang terbangun dengan segera, Hati yang rindu bertambah
Kakanda memeluk intan baiduri,
lara.
Dicium pipi kanan dan kiri.
 
Tiada berapa lama antara,
Guling kiranya berbuat olah, Lalu mengucap astagfirullah,
Dilihat badan sebatang kara,
Begitulah takdir kehendak Allah, Badan yang sakit bertambah
Abang terbangun dengan segera,
lelah.
Hati yang rindu bertambah lara.
 
Guling kiranya berbuat olah,
Memang apa hendak dibilang, Sudahlah nasib untung yang
Lalu mengucap astagfirullah,
malang, Petang dan pagi berhati walang, Menanggung rindu
Begitulah takdir kehendak Allah,
beremuk tulang.
Badan yang sakit bertambah lelah.
 
Memang apa hendak dibilang,
Walaupun sudah nasib begitu, Tiada kanda berhati mutu,
Sudahlah nasib untung yang malang,
Gerak takdir Tuhan yang satu, Duduk bercinta sebilang waktu.
Petang dan pagi berhati walang,
Menanggung rindu beremuk tulang.
 
Walaupun sudah nasib begitu,
Jauh malam hampirkan siang, Mataku tidak hendak
Tiada kanda berhati mutu,
melayang, Di ruang mata adik, terbayang, Hati dan jantung
Gerak takdir Tuhan yang satu,
rasa bergoyang.
Duduk bercinta sebilang waktu.
 
Jauh malam hampirkan siang,
Ayam berkokok bersahut-sahutan, Di sebelah barat, timur,
Mataku tidak hendak melayang,
selatan, Hatiku rindu bukan buatan, Kepada adikku permata
Di ruang mata adik, terbayang,
intan.
Hati dan jantung rasa bergoyang.
 
Ayam berkokok bersahut-sahutan,
Di situ terkenang ibu dan bapa, Adik dan kakak segala
Di sebelah barat, timur, selatan,
rupa, Handai dan tolan kaya dan papa, Timbul di kalbu tiada
Hatiku rindu bukan buatan,
lupa.
Kepada adikku permata intan.
 
Di situ terkenang ibu dan bapa,
Begitulah nasib di rantau orang, Susah ditanggung badan
Adik dan kakak segala rupa,
seorang, Sakit bertenggang bukan sebarang, Sebagai terpijak
Handai dan tolan kaya dan papa,
duri di karang.
Timbul di kalbu tiada lupa.
 
Begitulah nasib di rantau orang,
Setelah siang sudahlah hari, Berjalan kakanda kian kemari,
Susah ditanggung badan seorang,
Tak tahu apa akan dicari, Bertemu tidak kehendak diri.
Sakit bertenggang bukan sebarang,
Sebagai terpijak duri di karang.
 
Setelah siang sudahlah hari,
Diambil kertas ditulis surat, Ganti tubuh badan yang larat
Berjalan kakanda kian kemari,
Kesan nasib untung melarat, Kepada adikku di Sumatra Barat.
Tak tahu apa akan dicari,
Bertemu tidak kehendak diri.
 
Diambil kertas ditulis surat,
Dawat dan kalam dipilih jari, Dikarang surat di dinihari,
Ganti tubuh badan yang larat,
Ganti kakanda datang sendiri, Ke pangkuan adik wajah
Kesan nasib untung melarat,
berseri.
Kepada adikku di Sumatra Barat.
 
Dawat dan kalam dipilih jari,
Wahai adikku indra bangsawan, Salam kakanda dagang
Dikarang surat di dinihari,
yang rawan, Sepucuk surat jadi haluan, Ke atas ribaan emas
Ganti kakanda datang sendiri,
tempawan.
Ke pangkuan adik wajah berseri.
 
Wahai adikku indra bangsawan,
Mendapatkan adik paduka suri, Cantik manis intan baiduri,
Salam kakanda dagang yang rawan,
Di padang konon namanya negeri, Duduk berdiam di rumah
Sepucuk surat jadi haluan,
sendiri.
Ke atas ribaan emas tempawan.
 
Mendapatkan adik paduka suri,
Jika kakanda peri dan mambang, Tentulah segera
Cantik manis intan baiduri,
melayang terbang, Menyeberang lautan menyongsong
Di padang konon namanya negeri,
gelombang, Mendapatkan adik kekasih abang.
Duduk berdiam di rumah sendiri.
 
Jika kakanda peri dan mambang,
Menyerahkan diri kepada adinda, Tulus dan ikhlas di dalam
Tentulah segera melayang terbang,
dada, Harapan kakanda jangan tiada, Mati di pangkuan
Menyeberang lautan menyongsong gelombang,
bangsawan muda.
Mendapatkan adik kekasih abang.
 
Menyerahkan diri kepada adinda,
Adikku Nurbaya permata delima, Dengan berahi sudahlah
Tulus dan ikhlas di dalam dada,
lama, Hasrat di hati hendak bersama, Dengan adikku mahkota
Harapan kakanda jangan tiada,
lima.
Mati di pangkuan bangsawan muda.
 
Adikku Nurbaya permata delima,
Hendak bersama rasanya cita, Dengan adikku emas juita,
Dengan berahi sudahlah lama,
Jika ditolong sang dewata, Di dadalah jadi tajuk mahkota.
Hasrat di hati hendak bersama,
Dengan adikku mahkota lima.
 
Hendak bersama rasanya cita,
Tajuk mahkota jadilah tuan, putih kuning sangat cumbuan,
Dengan adikku emas juita,
Menjadikan abang rindu dan rawan, Laksana orang mabuk
Jika ditolong sang dewata,
cendawan.
Di dadalah jadi tajuk mahkota.
 
Tajuk mahkota jadilah tuan,
Putih kuning sangat cumbuan,
Menjadikan abang rindu dan rawan,
Laksana orang mabuk cendawan.
 
Karena menurut cinta di hati,
Asyik berahi punya pekerti,
Sungguhpun hidup rasakan mati,
Baru sekarang kanda mengerti.
 
Dendam berahi sudahlah pasti,
Karena menurut cinta di hati, Asyik berahi punya pekerti,
Tuhan yang tahu rahasia hati,
Sungguhpun hidup rasakan mati, Baru sekarang kanda
Kakanda bercinta rasakan mati,
mengerti.
Tidak mengindahkan raksasa sakti.
 
Siang dan malam duduk bercinta,
Dendam berahi sudahlah pasti, Tuhan yang tahu rahasia
Kepada adikku emas juita,
hati, Kakanda bercinta rasakan mati, Tidak mengindahkan
Tiada hilang di hati beta,
raksasa sakti.
Adik selalu di dalam cipta.
 
Jiwaku manis Nurbaya Sitti,
Siang dan malam duduk bercinta, Kepada adikku emas
Putih kuning emas sekati,
juita, Tiada hilang di hati beta, Adik selalu di dalam cipta.
Tempat melipur gundah di hati,
Ingin berdua sampaikan mati,
 
Tidaklah belas dewa kencana,
Jiwaku manis Nurbaya Sitti, Putih kuning emas sekati,
Memandang kanda dagang yang hina,
Tempat melipur gundah di hati, Ingin berdua sampaikan mati,
Makan tak kenyang tidur tak lena,
Tidaklah belas dewa kencana, Memandang kanda dagang
Bercintakan adik muda teruna.
yang hina, Makan tak kenyang tidur tak lena, Bercintakan adik
muda teruna.
 
Rindukan adik paras yang gombang,*)<ref>Tampan, Sianggagah</ref> dan malam
Siang dan malam berhati bimbang,
berhati bimbang, Cinta di hati selalu mengembang, Laksana
Cinta di hati selalu mengembang,
perahu diayun gelombang.
Laksana perahu diayun gelombang.
 
Setiap hari berdukacita, Terkenang adinda emas juita, Sakit
Terkenang adinda emas juita,
tak dapat lagi dikata, Sebagai bisul tidak bermata.
Sakit tak dapat lagi dikata,
Sebagai bisul tidak bermata.
 
Tiada dapat kakanda katakan, Asyik berahi tak terperikan,
Asyik berahi tak terperikan,
Adik seorang kakanda idamkan, Tiada putus kakanda
Adik seorang kakanda idamkan,
rindukan.
Tiada putus kakanda rindukan.
 
Rusaklah hati kanda seorang, Rindukan paras intan di
Rindukan paras intan di karang,
karang, Dari dahulu sampai sekarang, Sebarang kerja rasa
Dari dahulu sampai sekarang,
terlarang.
Sebarang kerja rasa terlarang.
*) Min: Tampan, gagah.
 
Pekerjaan lain tidak dipikiri, Karena rindu sehari-hari. Tiada
Karena rindu sehari-hari,
lain keinginan diri, Hendak bersama intan baiduri.
Tiada lain keinginan diri,
Hendak bersama intan baiduri.
 
Ayuhai adik Sitti Nurani, Teruslah baca suratku ini, Ilmu
Teruslah baca suratku ini,
mengarang sudahlah fani, Disambung syair surat begini.
Ilmu mengarang sudahlah fani,
Disambung syair surat begini.
</poem>
 
Tatkala Nurbaya membaca syair ini, berlinangerlinang-linanglah air
matanya, karena untungnya pun sedemikian pula.
 
bermula. Barangkali engkau belum tahu, hampir pada tiap-tiap
sekolah tinggi ada suatu adat, yang dinamakan dalam bahasa
Belanda "ontgroening"*)<ref>Perpeloncoan.</ref>.
*) Perpeloncoan.
 
Adat ini memang ada baiknya, karena maksudnya dengan
"Apabila aku tak ada lagi," kata Baginda Sulaiman pula,
"lebih berhati-hatilah engkau menjaga diri, pandai-pandai
memeliharakan badan; berkata di bawah-bawah*)<ref>Merendah diri</ref>, mandi di
hilir-hilir, sebagai kata peribahasa. Karena sesungguhnya,
bahasa itulah yang menunjukkan bangsa, istimewa pula,
berguna, kata orang kita. Kesusahan yang menimpa, karena
kesalahan itu, harus ditanggung. Kaki terdorong, ini
padahannya, mulut terlanjur, emas padahannya*)<ref>Alamatnya</ref>.
 
*) Alamatnya
Oleh sebab itu, haruslah perlahan-lahan dan berhati-hati
bekerja: biar lambat asal selamat, tak lari gunung dikejar. Bila
akan diusir sebagai anjing. Jika lekas diceraikan, sudahlah,
tetapi acip kali, digantung tak bertali; tiada dan tiada pula
dipulang-pulangi*)<ref>dikunjung-kunjungi/ref> sehingga segala maksud, jadi terhalang."
 
*) dikunjung-kunjungi
"Sungguhpun demikian, penanggungan itu belumlah
seberapa, jika dibandingkan dengan penanggungan
"Menembak, ke padang pembedekan," jawab Letnan Mas.
 
"Siapa yang beroleh ros?"<ref>Pusat *pembedekan (alamat).</ref>?" tanya Van Sta pula.
*) Pusat pembedekan (alamat).
 
"Ada beberapa orang: Vander Ha, de Kuip, Lewikawang,
salah sangkaku. Lihatlah olehmu bidadari yang duduk di kelas
satu itu. Alangkah manis pemandangan matanya. Lihat!
Ditentangnya aku. Matilah gua*)."
 
Ketika itu, berbunyilah lonceng tiga, dan tiada berapa saat
"Aku beristri?" tanya Van Sta dengan tersenyum, sambil
menunjuk dadanya. "Ha ha, ha! Yang akan menjadi istriku itu,
* Saya
belum ddahirkan lagi."
 
tiaptiap permupakatan itu!
Pada suatu hari berkumpullah di kantor Residen Bukit
Tinggi, sekalian Tuanku Laras keresidenan Padang Hulu*<ref>Pada ketika itu keresidenan Sumatra Barat sekarang ini masih terbatas atas dua keresidenan: pertama, keresiden Padang Hulu (Bukit Tinggi) kedua, keresidenan Padang Hilir (Padang).</ref>.
 
Asisten-Asisten Residen dengan Kemendur-Kemendur dan
berkata dalam bahasa Melayu Minangkabau, "Tuan-Tuan dan
Tuanku-Tuanku sekalian yang hadir di sini! Sebelum kami
nyatakan perintah yang kami teruna, terlebih dahulu kami ucapkan
nyatakan
*) Pada ketika itu keresidenan Sumatra Barat sekarang ini
masih terbatas atas dua keresidenan: pertama, keresiden
Padang Hulu (Bukit Tinggi) kedua, keresidenan Padang Hilir
(Padang).
perintah yang kami teruna, terlebih dahulu kaini ucapkan
selamat datang kepada Tuan-tuan dan Tuanku-Tuanku yang
telah menurut permintaan kami, datang berkumpul kemari,
pun dapat pula belajar di sana, untuk menjadi dokter.
 
Dalam sekolah Raja*)<ref>Kweekshool</ref>, di sini, bukannya bangsa Minangkabau
saja yang dapat menuntut ilmu guru, tetapi orang Tapanuli,
Aceh, Palembang- Lampung, Bengkulu sampai ke Pontianak
dan Sambas pun, boleh juga. Demikian pulalah perbaikan-perbaikan yang
*) Kweekshool
boleh juga. Demikian pulalah perbaikan-perbaikan yang
diadakan di negeri lain-lain itu, tak dapat tiada mendatangkan
kebaikan juga kepada kita di s ini.
senang hati; sebab tiap-tiap yang baru, tiada lekas diterima,
lebih-lebih jika tak nyata kebaikannya. Tambahan pula, aturan
ini, ialah aturan yang mengenai pura*)<ref>pundi-pundi uang</ref> anak negeri. Oleh
sebab itu marilah kita bersama-sama berikhtiar dan memohon
kepada Tuhan, supaya perintah ini dapat dilangsungkan
dengan selamat."
 
*) pundi-pundi uang
Sekarang marilah kita dengar pula jawab pegawai
kampung, tentang perkara ini, dalam perkumpulan yang
3.325

suntingan