Tahun Berdikari: Perbedaan antara revisi

56 bita ditambahkan ,  5 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Hari ini saya ingin memberikan pertanggunganjawab kepada Rakyatku, kepada dunia, kepada Tuhan Seru sekalian alam, atas segala daya-upaya bangsa Indonesia dan aku sebagai salah seorang di antaranya, dalam masa sejarah 20 tabun ini. Karena aku sendiri tak pernah absen selama 20 tahun ini, karena aku adalah penyambung lidah Rakyat Indonesia yang pada tiap-tiap 17 Agustus menjurubicarai sikap dan pendirian Negara dan Rakyat Indonesia, maka biarlah aku cukup bagian-bagian dari pidato-pidato 17 Agustus-ku – 20 banyaknya, dari 1945 sampai 1964 – yang merupakan benang-merah yang menjelujur secara konsekwen.
 
'''1945''' Dalam pidatoku '''17[[Tujuhbelas Agustus 1945]]''' kukatakan:
 
”Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib-bangsa dan nasib-tanah-air di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya”.
 
'''1946''' Dalam pidatoku '''[[Sekali merdekaMerdeka, tetapTetap merdekaMerdeka!]]''' kucetuskan semboyan:
 
“Kita cinta damai, tetapi kita lebih lagi cinta kemerdekaan”.
 
'''1947''' Dalam pidatoku '''[[Rawe-raweRawe rantasRantas, malangMalang-malangMalang putungPutung!]]''' kutegaskan:
 
“Kita tidak mau dimakan. Dus kita melawan! … Sesudah Belanda menggempur … mulailah ia dengan politiknya divide et impera, politiknya memecah-belah … maka kita bangsa Indonesia harus bersemboyan ‘bersatu dan berkuasa’.”
 
'''1948''' Dalam pidatoku '''[[Seluruh Nusantara berjiwaBerjiwa Republik]]''' kunyatakan
 
“Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangunkan soal-soal, tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu. Hanya ketidakmerdekaanlah yang tidak memberi jalan untuk memecahkan soal-soal … Rumah kita dikepung, rumah kita hendak dihancurkan … Bersatulah!
Bhinneka Tunggal Ika. Kalau mau dipersatukan, tentulah bersatu pula !”
 
'''1949''' Dalam pidatoku '''[[Tetaplah bersemangat elang-rajawaliElang Rajawali!]]''' kubilang:
 
“Kita belum hidup di dalam sinar bulan yang purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang-rajawali !”
 
'''1950 ''' Dalam pidatoku '''[[Dari Sabang sampaiSampai Merauke!]]''' kugariskan:
 
”Janganlah mengira kita semua sudahlah cukup berjasa dengan turunnya si tiga-warna. Selama masih ada ratap-tangis di gubuk-gubuk, belumlah pekerjaan kita selesai! … Berjoanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat”.
 
'''1951''' Dalam pidatoku '''[[Capailah tata-tenteram,Tata kertaraharja!Tentrem Kerta Raharja]]''' Kumaklumkan:
 
”Adakanlah koordinasi, adakanlah simfoni yang seharmonis-harmonisnya antara kepertingan-sendiri dan kepentingan-umum, dan janganlah kepentingan-sendiri itu dimenangkan di atas kepentingan-umum!”
 
'''1952 ''' Dalam pidatoku '''[[Harapan dan Kenyataan!]]''' kuserukan:
 
“Kembali kepada jiwa proklamasi … kembali kepada sari-intinya yang sejati, yaitu pertama jiwa merdeka – nasional … kedua jiwa ikhlas … ketiga jiwa persatuan … keempat jiwa pembangun”.
 
'''1953''' Dalam pidatoku '''[[Jadilah alatAlat Sejarah!]]''' kutekankan pentingnya
 
”Bakat persatuan, bakat ’gotong-royong’ yang memang telah bersulur-berakar dalam jiwa Indonesia, ketambahan lagi daya-penyatu yang datang dari azas Pancasila”.
 
'''1954''' Dalam pidatoku '''[[Berirama denganDengan kodrat!Kodrat]]''' aku stress:
 
”Dengan ’Bhinneka Tunggal Ika’ dan Pancasila, kita, prinsipiil dan dengan perbuatan, berjoang terus melawan kolonialisme dan imperialisme di mana saja”.
 
'''1955''' Dalam pidatoku '''[[Tetap terbanglahTerbanglah rajawali!Rajawali]]''' kukemukakan
 
”Panca Dharma”: ”persatuan bangsa harus kita gembleng … tiap-tiap tenaga pemecah persatuan harus kita berantas … pembangunan di segala lapangan harus kita teruskan … perjoangan mengembalikan Irian Barat pada khususnya, perjoangan menyapu bersih tiap-tiap sisa imperialisme-kolonilalisme pada umumnya, harus kita lanjutkan … pemilihan umum harus kita selenggarakan” .
”Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner. Jangan setengah-setengah, jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan … kita adalah satu ''’fighting nation’'' yang tidak mengenal ''’journey's end’''.”
 
'''1957''' Dalam pidatoku '''[[Satu tahunTahun ketentuan!Ketentuan]]''' kukobar-kobarkan:
 
”Revolusi Indonesia benar-benar Revolusi Rakyat … Tujuan kita masyarakat adil dan makmur, masyarakat ’Rakyat untuk Rakyat’. Karakteristik segenap tindak-tanduk perjoangan kita harus tetap karakteristik Rakyat … ''demokrasi met leiderschap’'', demokrasi terpimpin’ ”
 
'''1958''' Dalam pidatoku '''[[Tahun tantangan!Tantangan]]''' kusampaikan:
 
”Rakyat 1958 sekarang sudah lebih sedar … tidak lagi tak terang siapa kawan siapa lawan, tidak lagi tak terang siapa yang setia dan siapa pengkhianat … siapa pemimpin sejati, dan siapa pemimpin anteknya asing … siapa pemimpin pengabdi Rakyat dan siapa pemimpin gadungan … Dalam masa tantangan-tantangan seperti sekarang ini, lebih daripada di masa-masa yang lampau, kita harus menggembleng-kembali Persatuan … Persatuan adalah tuntutan sejarah”.
 
'''1959''' Dalam pidatoku '''[[Penemuan kembaliKembali Revolusi kita!Kita]]''' yang kemudian diperkuat oleh seluruh nasion dan disyahkan sebagai '''Manifesto Politik Republik''' '''Indonesia (Manipol)''' kurumuskanlah: ”'''tiga segi kerangka”''' Revolusi kita dan '''5 ”persoalan-persoalan pokok Revolusi Indonesia”''' yaitu dasar/tujuan dan kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia; kekuatan-kekuatan sosial Revolusi Indonesia, sifat Revolusi Indonesia, hari-depan Revolusi Indonesia, dan musuh-musuh Revolusi Indonesia.
 
'''1960''' Dalam pidatoku '''Laksana malaekat yang menyerbu dari langit!, [[Jalannya revolusiRevolusi kitaKita]] (Jarek) '''kutandaskan: perlunya, mungkinnya dan dapatnya bersatu Nasionalisme, Agama dan Komunisme; harus satunya kata dan perbuatan bagi kaum yang betul-betul revolusioner; mutlak perlunya dilaksanakan landreform sebagai bagian mutlak Revolusi Indonesia; mutlak perlunya dibasmi segala phobi-phobian terutama Komunisto-phobi; perlunya dikonfrontasikan segenap kekuatan nasional terhadap kekuatan-kekuatan imperialis-kolonialis; dan keharusannya dijalankan revolusi dari atas dan dari bawah.
 
'''1961''' Dalam pidatoku '''Revolusi[[Revolusi–Sosialisme – Sosialisme Indonesia – PimpinanIndonesia–Pimpinan Nasional!''']] '''(Resopim)''' kuketengahkan: perlunya meresapkan adilnya Amanat Penderitaan Rakyat agar meresap pula tanggungjawab terhadapnya serta mustahilnya perjoangan besar kita berhasil tanpa Tritunggal: Revolusi, Ideologi nasional progresif, dan Pimpinan nasional.
 
'''1962''' Dalam pidatoku '''[[Tahun Kemenangan]] (Takem)''' kulancarkan: gagasan untuk memperhebat pekerjaan Front Nasional, untuk menumpas perongrongan revolusi dari dalam, dan bahwa revolusi kita itu mengalami satu “''selfpropelling growth''” – “maju atas dasar kemajuan dan mekar atas dasar kemekaran”.
'''1963''' Dalam pidatoku '''[[Genta Suara Revolusi Indonesia]] (Gesuri)''' kulantunkan peringatan bahwa “tiada Revolusi kalau ia tidak menjalankan konfrontasi terus-menerus” dan “kalau ia tidak merupakan satu disiplin yang hidup”, bahwa diperlukan “puluhan ribu kader di segala lapangan”, bahwa Dekon harus dilaksanakan dan tidak boleh diselewengkan karena “Dekon adalah Manipol-nya ekonomi”, bahwa abad kita ini “abad nefo” dan saya mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan Conefo; dan akhirnya:
 
'''1964''' Dalam pidatoku yang terkenal, '''[[Tahun "Vivere Pericoloso!"]] (Tavip),''' kuformulasikan: '''” 6 hukum Revolusi ”,''' yaitu bahwa Revolusi harus mengambil sikap tepat terhadap kawan dan lawan, harus dijalankan dari atas dan dari bawah, bahwa destruksi dan konstruksi harus dijalankan sekaligus, bahwa tahap pertama harus dirampungkan dulu kemudian tahap kedua, babwa harus setia kepada Program Revolusi sendiri yaitu Manipol, dan bahwa harus punya sokoguru, punya pimpinan yang tepat dan kader-kader yang tepat; juga kuformulasikan '''Trisakti:'''
 
'''berdaulat dalam politik, '''
5.223

suntingan