Aku, Amak, dan Reyna

Aku, Amak, dan Reyna
oleh Aries Oktaviany

Aku, Amak, dan Reyna

Aries Oktaviany
SMA N 1 Pariaman




Selasa 3 Maret 2003
Ya Allah, maafkan aku.
Sebenarnya aku tak pantas menuliskan segala permasalahan di buku ini, tapi mau apa lagi. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menutupi kegusaranku ini.

Kepalaku nyaris pecah dan dada ini sudah terlalu berat menampung segala jenis kesusahan ini. Aku tahu aku tak boleh lemah. Aku, Upik' sulung dari tiga bersaudara ini, telah beberapa bulan terakhir ini menjadi sangat gusar. Amak sudah lama sakit-sakitan dan aku sendiri tidak tahu penyakit apa yang telah melumpuhkan insan kuat seperti beliau. Sudah berkali-kali aku bertanya tentang sakitnya itu, tapi dia malah menjawab seolah tidak ada yang terjadi pada dirinya. Ia malah tersenyum lemah, menatapku penuh arti, "Sudahlah Upik, Amak cuma sedikit capek. Kau lihat tadi, kan? Dagangan kita laku banyak. Amak senang sekali rasanya." Aku tak tahu lagi bagaimana cara menanyakannya, apabila setiap kali aku bertanya, dia selalu mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Aku baru bisa menulis setelah kulihat Amak tertidur pulas di antara dua adikku, Minah dan Dullah. Sayangnya, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Sudah tiga tahun lebih kami hidup tanpa Abak2.Abak,orang yang sangat aku sanjung sepanjang hidupku, telah mendahului kami berpulang menghadap Sang Khalik.

Saat itu aku sangat putus asa. Aku merasa bagaikan terbang tanpa sayap, berjalan tanpa kaki. Bermata, tapi tak melihat. Aku terus merenungi kepergiannya itu dan mulai berhenti saat Amak mulai meyakinkan aku bahwa kami akan bisa melewatinya bersama, jika kami tetap berusaha dan saling menyayangi. Abak juga pernah mengatakannya padaku. Banyak sekali pesan yang Abak sampaikan kepada kami sebagai pedoman hidup kami di masa yang akan datang.

Kami memang miskin, tapi kami pernah ke Suzuya3 bersama-sama, layaknya keluarga kaya. Walaupun kami tidak membeli apa-apa di sana, kami cukup senang. Abak selalu mendukungku untuk menjadikan apa yang kuinginkan. Tidak seperti orang tua yang lain, yang memaksakan kehendaknya pada anaknya, Abak malahan mendukung cita-citaku yang ingin menjadi dosen walaupun tampaknya Abak merasa cita-citaku tidak sama seperti apa yang beliau inginkan dariku. Coba katakan kepadaku bagaimana kau bisa melupakannya? Amak tidak pernah berhenti membujukkku menghilangkan kesedihan itu. Perlahan aku mulai membuka mata. Namun, apa yang kulihat sekarang sama sekali tidak sama dengan dengan apa yang dijanjikan Amak kepadaku. Aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Aku harus bangkit berjuang dan harus melakukan apa yang pernah Amak lakukan padaku sebelumnya. Aku akan meyakinkannya untuk menceritakan apa yang terjadi pada dirinya sekarang ini. Rabu, 4 Maret 2003 (dini hari)

Entah apa yang kuharapkan dari diriku ini. Aku tidak punya keahlian apa-apa, bahkan untuk memaksa Amak menceritakan penyakitnya itu.

Kamis, 5 Maret 2003

Hari ini Reyna datang ke rumahku, saat aku sedang mencuci pakaian. Ia meminta petunjuk bagaimana menyelesaikan soal-soal Fisika (dia memang selalu begitu). Reyna teman baikku. Dia cantik, kaya, dan yang terpenting, dia sangat baik kepada keluarga kami. Dia selalu merasa miskin dengan kekayaan yang dimilikinya. Sangat lucu, sementara kami menjadi sangat kaya dengan kasih sayang orang tua kami.

Dia anak tunggal. Kedua orang tuanya selalu pergi meninggalkannya untuk urusan bisnis. Ibunya mempunyai usaha kerajinan bordir yang sudah laku di pasaran, sedangkan Ayahnya seorang pemborong (kontraktor) bangunan. Rumahnya bagus, tapi dia lebih senang menghabiskan waktunya di pondok kami. “Aku tidak ingin dikasihi," begitu yang kukatakan kepadanya waktu itu, tapi dia malah menjawab, “Kau akan berdosa karena tidak membiarkan terjalinnya tolong-menolong antarumat beragama!" aku hampir saja marah kalau saja aku tidak melihat gurauan di wajahnya. Aku nyaris saja memberi tahukannya tentang perasaanku sekarang ini, tapi kuputuskan untuk tidak menceritakannya saja karena kalau saja satu kalimat terucap, ia akan segera berubah menjadi “Dewi Penolong”. Aku tidak mau merepotkan temanku sendiri dengan masalah yang aku hadapi sekarang ini.

Jumat, 5 Maret 2003

Hari ini aku memaksa Amak berhenti berjualan. Sebagai gantinya, aku yang menggantikannya membuat lontong ketupat gulai paku untuk bahan dagangannya besok. Minah menolongku, sementara Dullah menemani Amak di kamar. Amak memaksakan diri keluar dari kamar, tapi aku melarangnya. Aku tidak ingin Amak menjadi tambah sakit. Ya Allah, mudah-mudahan ketupat yang aku masak rasanya sama dengan yang biasa Amak buat. Kalau tidak, aku pasti mengurangi pemasukan kami besok.

Sabtu dini hari

Malam ini aku salat tahajud memohon kepada-Nya agar kami tetap diberikan kekuatan iman di jalan-Nya. Sangat hening, tetapi aku bisa merasakan keagungan-Nya, Kuintip kamar Amak. Mereka tampak tidur sangat pulas. Dullah mengecup jempolnya, sementara Minah sudah tidur di ujung ranjang. Aku mulai menulis buku ini setelah aku memperbaiki tidur Minah. Dia memang selalu begitu, tidak bisa tidur tenang. Aku pernah ditendangnya waktu kami masih tidur sekamar. Akhirnya, ia hanya minta tidur sekamar dengan Amak setelah aku marahi. “Ya, Uni paling pamberang di duniako!”4 begitu kata Minah waktu itu. Kami memang sering bertengkar, tapi tidak sampai sepersekian detik kami baikan lagi. Pikiranku kembali tertuju kepada penyakit Amak. Bayangan tentang penyakit Amak tampaknya tak akan hilang sebelum aku tahu penyakit apa itu.

Sabtu, 6 Maret 2003

Alhamdulillah! Aku kembali terpilih untuk mewakili sekolahku mengikuti lomba Olimpiade Fisika untuk kedua kalinya. Sebelumnya aku pernah dikirim dan hasilnya lumayan. Aku juara II dalam lomba itu dan mendapat hadiah yang sangat lumayan. Reyna tersenyum sangat senang, seolah-olah dialah yang terpilih. Aku sangat senang melihat ekspresi Reyna saat itu. Menurutku, empati Reyna terhadapku sangat berlebihan. Dia kadang merasa sangat sedih ketika melihatku mencuci pakaian, membantu Amak memasak mengajari adikku, dan semacamnya. Tentu saja dia sangat sedih dan merasa sangat letih karena dia tidak pernah melakukan apa yang aku lakukan.

Masih hari Sabtu

Hari ini aku tidak ikut belajar di sekolah. Aku harus mempersiapkan apa-apa yang akan diperlukan untuk jualan besok.Tapi, apa yang ingin aku lakukan menjadi lenyap begitu saja saat aku melihat Amak jatuh terkulai di dapur dengan seikat sayur ditangannya. Aku spontan saja menangis melihat hal itu. Betapa tidak, apa yang aku khawatirkan ternyata terjadi. Yang jelas, aku tidak ingin hal yang sama kembali terulang padaku. Aku tidak ingin Amak.

Minah dan Dullah aku tinggalkan saja di rumah. Sementara itu, aku pergi ke rumah sakit mengantarkan Amak bersama tetanggaku. Saat ini tak ada yang kupikirkan, selain keselamatan Amak. Etek Des, tetanggaku, menemaniku di rumah sakit. Dia baik kepada keluarga kami. Ia dan suaminya selalu memperhatikan kami. Hari sudah berangsur malam. Etek Des akhirnya pulang juga. Ia sempat mengatakan kalau aku tidak usah khawatir dengan kedua adikku karena dia akan menjaganya. Setengah jam berlalu, tapi aku belum mendapat kabar dari dokter. Tiba-tiba Reyna datang tergopoh-gopoh. Dia marah. Apa haknya marah padaku? "Mengapa kamu nggak ngomong, kalau Amak sakit?' Aku tidak menjawabnya. "Kalau terjadi apa-apa dengan Amak, bagaimana?" Aku yang panik kontan jadi marah. "Jan kan mangecek ka Reyna apo penyakit Amak tu, sadang awak jo indak tau apo penyakit Amak tu."5

Aku tidak boleh begitu seharusnya. Aku tahu Reyna bertanya dengan maksud baik. Tapi, entah mengapa aku jadi marah. "Maaf, Rey, awak sedang pusing. Awak tidak tahu harus bagaimana mencari uang untuk operasi Amak ini." Astagfirullah, aku terkejut dengan apa yang barusan aku ucapkan, "Itu yang Upik pikirkan? Terus apa gunanya Rey sekarang ini?

Rey akan membantu apa pun yang menyangkut kamu dan keluarga." Aku spontan tersinggung sampai aku mengatakan, "Untuk saat ini awak belum begitu butuh bantuan, Rey. Lain kali saja."Akhirnya, Reyna pulang setelah mengatakan satu hal yang paling menyakitkan, "Baik, kalau begitu. Kau memang orang miskin tersombong yang pernah aku temui!" Aku menangis. Teganya dia bilang begitu padaku.

Minggu dini hari

Aku tinggal di rumah sakit menemani Amak. Aku baru saja mendapat berita hebat dari dokter. Ya, sangat hebat! Ternyata Amak sudah menderita kanker payudara selama lebih dari tiga tahun belakangan ini. Tidak ada yang dapat aku lakukan sekarang ini selain berdoa kepada Allah Swt. Aku menemui dokter dan mengatakan padanya perihal dana yang akan aku keluarkan nantinya. Aku juga merujuk padanya agar aku mendapatkan sedikit keringanan dalam hal pembayaran. Untungnya, ia dokter yang bijaksana yang mau menolong kaum lemah. Aku berdoa semoga beliau mendapat balasan yang setimpal. Aku seperti baru saja memenangkan lomba, begitu mendengar kata dokter itu.

Minggu, 7 Maret 2003

Aku pulang ke rumah. Sebenarnya aku tidak tega membiarkan Amak sendirian di rumah sakit. Tapi, mau apa lagi. Aku harus pulang untuk melihat keadaan kedua adikku. Tapi, apa yang baru saja kudengar, barusan Etek Des mengatakan kepadaku bahwa Reyna telah membawa kedua adikku ke rumahnya. Aku langsung saja berangkat ke rumahnya. Aku sangat kaget ketika melihat kedua adikku memakai pakaian yang sangat bagus. Belum pernah aku melihat mereka memakai pakaian sebagus itu.

"Upik, maafkan, Rey, ya?" Ya Allah! Reyna baru saja minta maaf kepadaku. Seharusnya, akulah yang pantas minta maaf dan berterima kasih kepadanya karena dia telah mau menjaga kedua adikku dan memberinya semua yang telah tidak kami rasakan sejak Abak... "Rey, seharusnya Upiklah yang pantas minta maaf dan berterima kasih kepada Rey." Aku menunduk. "Ah, Upik, begitu saja dipermasalahkan." Aku merasa senang melihat ekspresi wajahnya. Ya, kami sudah baikan lagi. Reyna mengatakan bahwa adikku sangat senang di rumahnya, tapi Minah sangat gelisah, dia ingin sekali bertemu Amak. Aku berusaha meyakinkannya bahwa Amak baik-baik saja dan berpesan kepadanya agar tidak lupa salat dan mendoakan Amak. Aku sangat terkejut ketika Reyna kemudian menga takan bahwa ia sudah menanggung semua biaya rumah sakit. "Rey, Upik masih sanggup membayar biayanya. Kamu tidak perlu bertindak terlalu berlebihan." Reyna tersenyum "Oh, Upik, tenanglah, jangan panggil aku Reyna kalau aku

92 tidak tahu sifatmu. Kau pasti tidak akan mau aku “traktir”. Kau akan membayarnya setelah menang lomba Olimpiade Fisika nanti. Kau tenang saja, pikirkan bagaimana caranya agar menang di lomba itu nanti.” Aku menjadi tenang mendengarnya. Segera saja aku peluk dia dan tanpa terasa air mata yang telah kubendung mengalir dengan derasnya. Dullah tertawa melihatku, “Uni, Uni tertawa sambil menangis.”


Seminggu lebih

Sudah seminggu lebih aku tidak menulis di buku ini karena aku sibuk memikirkan persiapan lombaku. Hari ini adalah hari yang aku nantikan, Aku harus siap berlomba mengalahkan ratusan pemikir-pemikir hebat. Dan, ternyata hasilnya tidak sia-sia. Aku berhasil medapatkan Juara I untuk lomba tingkat daerah dan kini sedikit kepercayaan diri muncul setelah melihat Amak sehat dan kedua adikku baik-baik saja. Aku bersyukur kepada Allah. Ternyata, Ia mendengar permintaan hambanya yang lemah ini.


Hari yang sama

Aku menjemput Dullah dan Minah sekalian uang pinjamanku pada Reyna. Dia tersenyum. “Rey, Upik baru bisa kasih setengahnya, sisanya nanti kalau Upik menang tingkat provinsi. Boleh, kan?” Reyna mengangguk. Ya Allah, aku sangat ingin Reyna mendapatkan balasan yang jauh lebih banyak, yaitu perhatian dari orang tuanya.


Catatan:

  1. upik = kata sapaan bagi anak perempuan di Minang
  2. abak = bapak
  3. Suzuya = nama sebuah pusat belanja ritel
  4. Uni paling pamberang di dunia ko = Kakak paling pemarah di dunia ini
  5. "Jan kan mangecek ka Reyna apo penyakit amak tu, sadang awak jo indak tau apo penyakit Amak tu!" jangankan memberitahukanmu "apa penyakit Ibu," saya pun tak tahu apa penyakitnya.