Buka menu utama
Logo Wikipedia
Wikipedia memiliki artikel yang berkaitan dengan:Perumpamaan anak yang hilang.

Penulis: H.A. Oppusunggu
Disunting oleh: Bennylin

Luke 15:11-12
Luke 15:14
Luke 15:15-16
Luke 15:17-19
Luke 15:20b
Luke 15:21
Luke 15:22-24
Luke 15:25-28a
Luke 15:28b
Luke 15:29-30
Luke 15:31-32
Bapak yang Luar Biasa

Ada seorang Bapak yang baik sekali
Mempunyai dua anak laki-laki
Keduanya sama-sama ia kasihi
Keduanya sama-sama ia sayangi

Ia kaya dan punya banyak pelayan
Mengurus ternak, sawah, dan ladang
Pelayan-pelayan teratur dan aman
Senang, tenang, tanpa bimbang

Kini tiba lagi musim menuai
Bapak anak sibuk sekali
Mengatur pelayan dari pagi
Menyimpan hasil dengan rapi

Selesai musim menuai
Si bungsu menghadap Bapaknya
Ia berkata berani
Menyampaikan maksudnya

Bapak, beri aku bagianku
Jangan tunggu lagi, itu hakku
Aku mau hidup sesukaku
Hidup di sini membosankan aku

Dengan sedih dan karena terpaksa
Bapak memberi si bungsu bagiannya
Melihat itu anak sulung tidak bicara
Tapi iri dan marahlah ia

Si bungsu tertawa sangat gembira
Dan menjual semua bagiannya
Selamat tinggal, katanya bangga
Lalu melangkah membusungkan dada

Ia berangkat jauh ke kota
Menginap di hotel mewah
Dan segera mengadakan pesta
Riuh meriah

Temannya banyak laki-laki dan perempuan
Memuji-muji dia berganti-gantian
Ia bangga dan masuk restoran
Uangnya ia hambur-hamburkan

Akhirnya semua uangnya habis
Teman-temannya mengejek dan meringis
Karena itu ia sedih dan menangis
Ke sana ke mari persis pengemis

Ia diusir dari penginapan
Ke mana-mana mencari pekerjaan
Apa pun ia mau lakukan
Asal dapat makan

Akhirnya ia mendapat pekerjaan
Di ladang menjaga babi
Siang malam keringatan
Salah sedikit dicaci maki

Tapi ia tetap kekurangan
Makin lama makin tidak tahan
Dan ia takut mati kelaparan
Seorang pun tidak kasihan

Ia terkenang kepada Bapak
Ramahnya
Baiknya
Kasihnya

Mengenang itu ia malu sendiri
Di rumah Bapak tidak ada haknya lagi
Tapi ia tahu harus kembali
Kepada Bapak yang baik sekali

Ia bertekad
Bergerak
Beranjak
Berangkat

Setelah jauh meninggalkan kota
Ia melihat Bapaknya
Rindunya hangat terasa
Tapi ia jatuh tak kuasa

Bapak kasihan begitu melihatnya
Bapak berlari menyongsongnya
Bapak memeluknya
Bapak menciumnya dan mengelusnya

Bapak, katanya dengan isakan
Aku telah berdosa banyak
Berdosa terhadap Tuhan
Berdosa terhadap Bapak

Aku tidak layak lagi disebut anak Bapak
Aku hanya berharap jadi budak
Budak biasa
Seperti mereka

Bapak terharu dan berseru
Ambilkan jubah terindah untuk anakku
Cincin, sepatu, lembu gemuk muda
Siapkan semuanya kita berpesta

Anakku ini dulu hilang
Sama dengan mati
Sekarang ia pulang
Hidup kembali

Mereka riuh meriah berpesta
Terdengar ke tempat anak sulung bekerja
Ia terkejut dan bertanya curiga
Kepada pelayan yang menjemputnya

Ada apa?
Kenapa?
Pesta apa?
Untuk siapa?

Adikmu telah kembali
Bapakmu gembira sekali
Tentu engkau juga bersenang hati
Mendapat adikmu kembali

Ha?
Bapakku berpesta karena adikku kembali?
Padahal aku kerja keras setiap hari
Tapi tidak pernah Bapak hadiahi

Bapak sedih mengetahui hal itu
Dan segera menjemput anak sulung
Bapak bertanya kenapa begitu
Masam, cemberut, dan sangat murung

Bapak berpesta karena adikku kembali
Padahal terhadap aku Bapak tidak peduli
Aku kerja keras setiap hari
Tapi tidak pernah Bapak hadiahi

Anakku, engkau terus bersamaku
Kepunyaanku adalah kepunyaanmu
Tentang itu engkau tidak boleh ragu
Karena itulah keinginanku

Adikmu dulu hilang
Sama dengan mati
Sekarang dia pulang
Hidup kembali

Itulah sukacita
Kita bersama
Marilah berpesta
Riang gembira

Oh, Bapak itu sungguh luar biasa
Persis seperti Bapak yang di surga
Kalau kita mengakui dosa kita
Dia pasti gembira