Biografi Tokoh Kongres Perempuan Indonesia Pertama/Nyonya Sujatin Kartowijono

6. NYONYA SUJATIN KARTOWIJONO

Sujatin lahir di Desa Kalimenur Kabupaten Wates, 9 Mei 1907. Ayahnya bernama Mahmoed Djojodirono salah seorang cucu Ario Tumenggung Djojodirono, bupati pertama Mojokerto. Sedang ibunya bernama RA Kiswari cucu Sumonegoro, bupati Ngawi. Djojodirono adalah seorang pegawai Staatspoorwagen (SS), pada zaman Hindia Belanda. Sebagai pegawai SS (jawatan kereta api) Djojodirono dengan keluarganya sering berpindah tempat. Ketika Sujatin berumur kurang-lebih enam tahun ayahnya dipindahkan ke Sumpyuh untuk menjadi kepala stasiun. Sejak itu Sujatin dan saudara-saudaranya tinggal di Sumpyuh. Sujatin adalah anak keempat dari lima bersaudara. Tiga orang kakaknya perempuan sedangkan seorang adiknya laki-laki.

Setelah tiba saatnya untuk sekolah, Sujatin masuk ke Holland Inlandsche School (HIS) di Karanganyar. Mula-mula ia merasa senang sekali dapat bersekolah, tetapi kemudian ia merasa tidak menyukai suasana sekolah yang serba kaku, serba resmi dan serius. Namun tak berarti ia tidak memperhatikan pelajarannya. Di bidang pelajaran ia memperhatikan dengan serius. Karena itu angka rapotnya selalu baik. Apalagi setelah ia tahu bahwa ayahnya sangat menginginkan anak laki-laki. Sejak itu Sujatin bertekad untuk membuktikan bahwa anak perempuan tidak akan kalah dengan anak laki-laki. Hal ini kemudian terbukti karena Sujatin dalam segala hal dapat mengalahkan adik laki-lakinya. Baik dalam pertengkaran, perkelahian maupun angka rapor.

Ketika Sujatin kelas V. ayahnya dipindahkan ke Yogyakarta. Setelah di Yogya, Sujatin dimasukkan ke Europese Lagere Meisjes School, dengan pertimbangan kelak bila meneruskan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan diterima langsung ke kelas satu. Sedang bila dari HIS harus masuk ke tingkat persiapan lebih dahulu selama satu tahun. Ternyata setelah lulus ELS Sujatin benar-benar meneruskan ke MULO. Hal itu terjadi pada tahun 1922 ketika Sujatin berusia 15 tahun.

Sementara itu Sujatin telah memasuki masa remaja, kegemarannya membaca semakin menjadi. Suatu ketika ia mendapat hadiah buku bacaan yang berjudul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku tersebut adalah kumpulan surat-surat RA.Kartini. Sujatin sangat senang pada buku tersebut. Ia membaca sampai berulang kali. Ia sangat tertarik pada cita-cita dan perjuangan Kartini. Bahkan ia ingin meneruskan perjuangan Kartini yaitu mendidik kaum wanita agar sanggup berdiri sendiri. Pada saat itu Sujatin telah mempunyai keyakinan bahwa seorang ibu yang cerdas akan menghasilkan anak yang terdidik, baik, berbudi dan berilmu. Keyakinan itu ia dapatkan juga dari kehidupan keluarga ayahnya yang sangatmemperhatikan pendidikan Sujatin dan saudara- saudaranya.

Untuk melaksanakan cita-citanya tersebut, Sujatin pada usia remaja itu telah mulai terjun ke organisasi. Ia masuk Jong Jaya, bahkan kemudian menjadi pengurus Jong Java Bagian Putri. Ia juga aktif menulis di majalah Jong Java dengan nama samaran Garbera dan kemudian diangkat menjadi redakturnya. Melalui majalah tersebut Sujatin mencoba menyatakan ide-idenya yaitu menuntut keadilan bagi kaum wanita memajukan mereka agar mampu berdiri sendiri dan lain-lain. Di samping melalui tulisan, Sujatin juga giat bergerak di lapangan. Mengunjungi sekolah-sekolah meminta izin direktur sekolah dan menemui siswa-siswa untuk menerangkan tujuan dan keuntungan masuk Jong Java.

Pada tahun 1923 di Yogyakarta diselenggarakan pawai besar-besaran untuk memperingati 25 tahun Ratu Wilhelmina bertahta. Pawai tersebut terbuka untuk umum termasuk orang-orang pribumi maupun organisasi-organisasi politik. Jong Java sebagai organisasi cukup besar pada waktu itu ingin ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Sehubungan dengan itu Jong Java mengadakan rapat pengurus untuk menentukan apa yang akan ditampilkan dalam pawai tersebut. Setelah melalui perdebatan-perdebatan akhirnya diputuskan bahwa rapat menerima usul Sujatin yaitu akan menampilkan suatu episode dalam kehidupan RA Kartini, tokoh idola Sujatin.. Tokoh Kartini akan diperankan oleh Sujatin sendiri. Ternyata peran Kartini mendapat hadiah dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Acara penerimaan hadiah berlangsung di Sociereit Yogyakarta. Hadiah akan diberikan oleh Sri Sultan sendiri dan Sujatinlah yang ditunjuk untuk menerima hadiah itu. Sesuai adat yang berlaku apabila seseorang berhadapan dengan Sri Sultan haruslah menyembah terlebih dahulu. Hal itu menimbulkan perlawanan dalam diri Sujatin. Menuruti adat keraton yang sangat dipatuhi masyarakat dengan menyembah atau menuruti kemauan sendiri yang ingin menghapuskan feodalisme yaitu tidak menyembah. Tetapi bila tidak menyembah ia akan mendapat cemoohan dari masyarakat. Ia akan dianggap tidak tahu sopan-santun dan tidak tahu adat. Akhirnya perasaan Sujatinlah yang menang, ia tidak menyembah Sri Sultan pada waktu menerima hadiah. Bagi Sujatin, hal itu merupakan beranian moral, suatu pengejawantahan dari diri seorang wanita yang menginginkan perlakuan adil.

Perlakuan Sujatin yang radikal itu timbul karena ia muak melihat perlakuan yang menimpa wanita di lingkungan keraton. Mereka diperlakukan sebagai barang dagangan. Namun anehnya mereka menerima saja perlakuan tersebut. Sujatin tidak menghendaki hal semacam itu berlanjut. Sejak kecil ia memang dididik oleh ayahnya agar memandang semua manusia sama. Jadi sudah sewajarnya apabila jiwa Sujatin memberontak melihat ketidakadilan itu. Karena itu ia terus berupaya menuntut keadilan bagi kaumnya.

Setamat MULO sebenarnya Sujatin ingin melanjutkan ke Rechts School di Jakarta, agar menjadi seorang ahli hukum dan dapat membela kaum tertindas. Tetapi saat itu asrama Rechts School hanya menerima pelajar pria saja. Sedang pelajar wanita harus indekost di luar yang memerlukan biaya yang cukup besar. Sujatin tidak mau memperberat beban ayahnya karena itu ia memutuskan untuk masuk sekolah guru di Yogyakarta.

Sementara itu kegiatannya pada organisasi tetap berlanjut. Banyak pelajaran dan pengalaman yang ia peroleh. Ia dapat belajar banyak dari Ki Hajar Dewantoro, Ir. Soekarno (Bung Karno), Inggit Ganarsih dan lain-lain. Ide persatuan bangsa Bung Karno sangat mempengaruhi jiwa Sujatin. Menurut Sujatin Persatuan Indonesia akan lebih cepat prosesnya melalui keseragaman bahasa. Karena itu pada setiap kesempatan Sujatin mencoba memperkenalkan bahasa Melayu sekalipun terhadap bangsawan yang tinggi jabatannya. Saat itu memakai bahasa Melayu masih merupakan suatu hal yang dianggap tidak wajar. Namun Sujatin tidak peduli. Sujatin tetap mempergunakan bahasa Melayu baik kepada bupati Purworejo, saudara perempuan Sultan Hamengku Buwono VIII dan sebagainya.

Setelah tamat sekolah guru Sujatin mengajar di HIS Swasta Yogyakarta. Ia memang sengaja memilih sekolah swasta agar lebih dekat dengan bangsanya. Dengan demikian secara tidak langsung ia dapat ikut mencerdaskan bangsanya. Pada tahun 1926 bersama sejumlah guru, Sujatin mendirikan perkumpulan guru wanita yang diberi nama Poetri Indonesia dan Sujatin terpilih menjadi ketuanya.

Diilhami oleh keberhasilan Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda, Sujatin dan kawan-kawannya berkeinginan untuk menyelenggarakan kongres wanita seIndonesia. Mereka kemudian berhasil membentuk suatu panitia yang disebut Panitia Kongres Perempoean Indonesia I, terdiri atas Ibu Sukanto dari Wanita Oetomo sebagai ketua, Nyi Hadjar Dewantoro dari Wanita Taman Siswa sebagai wakil ketua dan Sujatin dari Putri Indonesia sebagai ketua pelaksana. Kongres akan diselenggarakan di Yogyakarta 22 Desember 1928. Penyelenggaraan kongres ini berjalan dengan lancar dan menghasilkan keputusan-keputusan sebagai berikut: membangkitkan rasa nasionalisme, menyatukan gerak perkumpulan wanita dan membentuk Perikatan Perkumpulan Perempoean Indonesia. Ki Hadjar Dewantoro menyambut peristiwa tersebut sebagai Tonggak Sejarah Pergerakan Wanita Indonesia dan mengakhiri sambutannya dengan tembang Witing Klopo yang melambangkan wanita sebagai makhluk yang mampu mengatur masyarakat.

Kesuksesan kongres ini tidak didukung oleh kehidupan pribadi Sujatin, karena di tengah-tengah kesibukannya mempersiapkan kongres. tunangannya yang sedang belajar di Batavia. datang. Sujatin tidak sempat menemui tunangannya tersebut. sehingga timbul ketegangan di antara mereka. Karena merasa tidak seiring sejalan, Sujatin kemudian memutuskan pertunangannya tersebut.

Setelah Kongres I di Yogyakarta itu kegiatan Sujatin dalam pergerakan wanita makin meningkat. Setahun berikutnya yaitu tahun 1929 Kongres Perempoean Indonesia II diadakan di Jakarta. Menjelang pembukaan Sujatin dan kawan-kawan mengalami kesulitan karena polisi Belanda melarang kongres tersebut diselenggarakan. Kantor dan gedung tempat pertemuan diperiksa. Namun setelah Sujatin menunjukkan surat-surat izin dari yang berwenang, kongres dapat dilangsungkan. Pengawasan polisi Belanda yang ketat ini ada hubungannya dengan penangkapan Bung Karno di Yogyakarta. Sehubungan dengan itu maka acara pameran dan penutupan kongres terpiksa dibatalkan. Namun secara keseluruhan kongres II ini berhasil dengan memuaskan.

Kongres III diadakan di Surabaya pada bulan Desember 1930. Di sini Sujatin diminta untuk memberikan ceramah tentang Pendidikan Wanita. Di tengah-tengah ia mempersiapkan ceramah tersebut, tunangannya Sujatin yang ke-2 datang dari Bandung. Di sini pun Sujatin memenangkan tugasnya yaitu memperjuangkan nasib wanita daripada urusan pribadinya. Kongres di Surabaya berjalan dengan lancar. Salah satu hasilnya adalah mendirikan Badan Pemberantasan Perdagangan Perempoean dan Anak-anak (BPPPA) yang diketuai oleh Ny. Sunaryati Sukemi. Praktek ”Cina Mendring” yang meminjamkan uang dengan bunga tinggi pada para petani juga mendapat perhatian khusus. Sebab seringkali terjadi apabila para petani tidak dapat mengembalikan uang, anak gadisnya dijadikan penebus hutang-hutang tersebut.

Pada tahun yang sama (1930) terjadi suatu protes pada sebuah perusahaan batik di Lasem. Sujatin dan Ny. Hardjodiningrat dikirim oleh Badan Federasi Pimpinan Pusat Istri Indonesia (PPII) untuk berbicara dalam rapat yang diselenggarakan untuk itu. Dalam kesempatan itu Sujatin menguraikan tentang kedudukan wanita dalam perburuan dan nasib wanita muda yang dijadikan ”pelipur lara”. Keadaan yang menyedihkan ini harus segera diperbaiki. Uraian Sujatin ini dianggap sebagai kecaman terhadap kehidupan di Istana yang dilindungi pemerintah. Karena itu Sujatin kemudian diambil polisi dan mendapat ancaman akan dikucilkan apabila masih mencela kehidupan di istana. Ancaman itu menyebabkan Sujatin merasa terkekang. Akibatnya ia semakin yakin bahwa hanya di Negara Indonesia yang merdeka dan berdaulatlah perbaikan nasib kaum wanita dapat dilakukan.

Sementara itu kehidupan pribadi Sujatin mengalami perubahan besar. Pada 14 September 1932 ia menikah dengan Pudiarso Kartowijono. Pemuda ini bukan orang kaya, bukan sarjana dan bukan pula orang berpangkat, namun Sujatin merasa mempunyai persamaan baik dalam cita-cita maupun pandangan hidup. Karena itu setelah menikah pun Sujatin tetap giat dalam pergerakan wanita.

Karena merasa tidak bebas bergerak di sekitar daerah Yogyakarta, Sujatin dan suaminya memutuskan untuk pindah ke Batavia (Jakarta). Sejak tahun 1932 mereka menetap di Jakarta, setelah beberapa saat tinggal di Cirebon. Di Jakarta Sujatin yang kemudian lebih dikenai dengan sebutan Ny. Kartowijono mengajar di sekolah swasta di bawah Yayasan Arjuna. Di sini ia harus bekerja keras untuk memperbaiki mutu sekolah agar subsidi dari pemerintah tidak dicabut. Selama hampir sepuluh tahun di Jakarta, Ny. Kartowijono membatasi kegiatannya dalam pergerakan wanita. Hal ini dilakukan karena ia mempunyai prinsip untuk mendahulukan keluarga daripada yang lain.

Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Mereka kemudian bermaksud untuk membentuk sebuah organisasi wanita yang diberi nama Fujinkai Nyonya Kartowijono diminta hadir dalam rapat yang diselenggarakan untuk itu. Dalam kesempatan itu ·ia menolak ajakan tersebut dan bahkan menganjurkan agar memanfaatkan saja organisasi. wanita yang telah ada saat itu. Penolakan itu mengakibatkan Ny. Kartowijono masuk dalam daftar hitam Kenpetai Di lain pihak Ny. Kartowijono sangat tekun belajar bahasa Jepang. Ia kemudian diberi kepercayaan untuk mengajar bahasa Jepang dan menjadi penerjemah. Berkat kepandaiannya berbahasa Jepang tersebut ia terhindar dan jangkauan Kenpetai.

Setelah Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Presiden Soekarno memberi surat kuasa kepada Ny. Suwarni Pringgodigdo untuk memimpin pergerakan wanita Indonesia. Di Jakarta kemudian dibentuk Wanita Negara Indonesia (Wani) yang mendirikan dapur umum di bawah pimpinan Nn. Erna Djajadiningrat. Di kota-kota lain wanita menyiapkan diri, misalnya sebagai Laskar Wanita di Jawa Barat. Di Sumatera pun kaum wanita membantu pejuang-pejuang kemerdekaan. Sedang di daerah seperti di Yogyakarta dibentuk Persatuan Wanita Indonesia (Perwani). Saat itu Ny. Kartowijono tinggal di Jakarta, karena itu ia aktif dalam Wani. Ia diangkat sebagai petugas pengangkutan. Ketika lbukota RI pindah ke Yogyakarta ia harus sering ke Yogyakarta untuk melaporkan segala sesuatunya pada pemerintah di Yogyakarta.

Mengingat pentingnya semangat persatuan dalam menghadapi Belanda, maka dirasa perlu untuk membentuk suatu organisasi wanita yang merupakan fusi dari perkumpulan-perkumpulan wanita yang ada. Untuk itu kemudian diadakan Kongres Wanita Indonesia di Klaten 17 Desember 1945. Dalam kongres tersebut ternyata hanya Perwani dan Wani yang dapat dilebur dalam satu organisasi nasional, bernama Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari). Dalam kesempatan itu Ny. Sri Mangunsarkoro ditunjuk sebagai ketua Perwari. Walaupun Perwari sudah terbentuk, namun usaha untuk mempersatukan semua organisasi wanita tetap dilanjutkan. Pada 24 -- 26 Februari 1946 di Solo diadakan konferensi organisasi-organisasi wanita yang dihadiri oleh Perwari, Pemuda Putri Indonesia, Aisyah, Persatuan Wanita Kristen Indonesia dan Wanita Katholik Indonesia. Konferensi ini berhasil membentuk satu badan federasi bemama Badan Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Badan ini merupakan badan federasi dari Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari), Pemuda Putri Indonesia (PPI), Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) dan bagian wanita Partai Katholik Republik Indonesia (PKRI). Di samping badan tersebut dibentuk juga Pusat Tenaga Pejuang Wanita Indonesia (PTPWI) dipimpin oleh Ny. Sri Mangunsarkoro. PTPWI ini khusus untuk menghimpun dan memusatkan tenaga wanita dalam menegakkan pembelaan negara, karena itu terdiri atas organisasi perjuangan yang bersifat keagamaan dan ke-laskaran.

Pada bulan Juni 1946, Kowani mengadakan kongres di Madiun. Dalam kongres ini diputuskan bahwa Kowani dipimpin oleh Dewan Pimpinan Pusat (OPP) yang terdiri atas wakil-wakil organisasi anggota. Dalam kesempatan itu Ny. S. Kartowijono ditunjuk sebagai ketua OPP sedang Ny. Sutarman menjadi wakil ketua. Di samping itu dibentuk pula sebuah Badan Pekerja dipimpin Ny. Jusupadi dan berkedudukan di Yogyakarta. Sementara itu keluarga Ny. S. Kartowijono berpindah tempat tinggal dari Jakarta ke Cirebon. Selama di Cirebon ia mengajar di Sekolah Guru Negeri. Walaupun saat itu ia sedang hamil, namun kegiatannya dalam pergerakan wanita tetap berlangsung.

Kongres Kowani tahun 1947 di Magelang, dihadiri oleh Presiden Soekarno dan Panglima TNI Jenderal Sudirman. Di antara putusan yang penting ialah mengirimkan resolusi yang berisi rasa simpati pada 'de Nederlandse Vrouwenbeweging" yang me-nentang pengiriman pasukan Belanda ke Indonesia. Dalam kongres berikutnya tahun 1948 di Solo terjadi perselisihan pendapat antara perkumpulan-perkumpulan wanita yang bersumber pada perbedaan paham politik, tetapi akhirnya dapat diatasi. Di samping itu kongres juga mengadakan protes terhadap penembakan tentara Sekutu atas pandu-pandu Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Meletusnya pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948, mempersulit perkembangan organisasi-organisasi wanita, termasuk Kowani. Apalagi setelah terjadi serbuan Belanda ke Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948. Menghadapi keadaan seperti itu Kowani tidak tinggal diam. Mereka kemudian mengadakan pertemuan besar antara wanita Indonesia pada 26 Agustus - - 2 September 1949. Pertemuan ini dihadiri oleh 82 organisasi wanita dari Jawa maupun luar Jawa yang dipimpin oleh Ny. Maria Ulfah. Permusyawaratan ini berhasil membentuk Badan Kontak Bersama.

Setahun berikutnya yaitu 28 November 1950, Ny. Kartowijono dan kawan-kawan mengadakan rapat bersama antara "Kowani dan Badan Kontak Permusyawaratan Wanita Indonesia" di Jakarta. Rapat bersama ini berhasil membentuk suatu Sekretariat yang dipimpin oleh Ny. Maria Ulfah Santoso SH, Ny . Sunaryo Mangoenpoespito, Ny. S. Kartowijono dan Ny. D. Walandouw. Dalam kesempatan tersebut, antara lain diputuskan bahwa organisasi wanita hendaknya benar-benar mempelajari kedudukan wanita dalam perkawinan. Di samping itu agar kaum wanita mempergunakan haknya dalam pemilihan umum.

Masalah tersebut dibicarakan lagi dalam kongres di Bandung tahun 1952. Selanjutnya Kementerian Agama membentuk panitia Nikah, Talak dan Rujuk (NTR) dengan tugas menyelidiki masalah-masalah hukum perkawinan. Ny. S. Kartowijono duduk dalam panitia tersebut bersama beberapa tokoh yang lain. Dalam tahun yang sama Ny. S. Kartowiyono ditunjuk untuk menjadi ketua delegasi dalam Seminar Unesco on the State of Woman di New Delhi India pada bulan Desember 1952.

Di samping aktif dalam Kowani, Ny. Kartowijono juga aktif dalam organisasi yang pernah didirikannya yaitu Perwari. Bahkan ia kemudian menjadi ketua umumnya dari tahun 1953 sampai tahun 1960. Selama itu banyak yang telah ia lakukan baik untuk kepentingan Perwari maupun bagi pergerakan wanita pada umumnya. Untuk memajukan kaum wanita. Ibu Karto mendirikan Yayasan Taman Pendidikan Perwari. Berbagai jenis sekolah mereka dirikan, antara lain taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah rumah tangga, asrama pelajar putri, sekolah pendidikan guru dan kursus-kursus pemberantasan buta huruf. Di bidang kesehatan, Perwari ikut mendirikan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). Di bidang hukum Pirnpinan Pusat Perwari di Jakarta mendirikan Biro Konsultasi Hukum. Biro ini bertugas mempelajari dan mengikuti perkembangan kedudukan wanita dalam masyarakat, termasuk mempelajari semua keten-tuan-ketentuan yang ada tentang kedudukan wanita dalam perkawinan.

Pada tahun 1952 pemerintah mengeluarkan PP Nomor 19 yang membenarkan poligami. Perwari beserta 19 organisasi wanita lainnya menolak. Mereka kemudian mendesak agar pemerintah segera mengeluarkan Undang Undang Perkawinan. Selanjutnya dalam rangka peringatan sewindu ulang tahunnya, Perwari mengadakan demonstrasi, minta agar pemerintah segera mengeluarkan Undang-Undang Perkawinan dan membekukan PP Nomor 19. Pada hari itu 17 Desember 1953 secara serentak seluruh cabang Perwari di Indonesia mengajukan petisi yang sama pada pemerintah. Demonstrasi itu merupakan suatu peristiwa bersejarah dalam pergerakan wanita Indonesia dan mendapat sambutan hangat dari hampir semua lapisan wanita pergerakan terrnasuk anggota-anggota wanita di DPR waktu itu. Di tengah-tengah wanita Indonesia sedang memperjuangkan Undang-Undang Perkawinan terdengar berita bahwa Presiden Soekarno telah melangsungkan perkawinannya yang kedua. Sesuai dengan prinsip perjuangan Perwari lbu Kartowijono sebagai ketua umum Perwari menghadap presiden untuk memprotes tindakan presiden itu. Namun pembelaan Perwari terhadap nasib dan kedudukan wanita ini mengakibatkan Perwari tidak disenangi oleh penguasa saat itu, bahkan diancam untuk dibubarkan. Sejak itu Perwari seakan-akan mengalami masa suram karena dilanda tantangan, ancaman dan bahkan fitnah. Namun berbagai kepedihan itu tidak memadamkan itikad baik Perwari. Tenaga-tenaga Perwari di seluruh kepulauan Indonesia tetap bekerja dalam batas kemampuannya. Mereka tetap bekerja sesuai dengan lambang Perwari yang mengandung arti keberani-an, kejujuran dan kesucian. Mereka tetap membimbing masyarakat dan turut menghidupkan kesadaran sosial. Demikianlah keadaan Perwari pada masa kepemimpinan Ny. Kartowijono. Pada kongres Perwari tahun 1960 Ny. Kartowijono menyata-kan akan mengundurkan dari kegiatan Perwari, namun ia masih bersedia menjadi penasihat dan sesepuh Perwari.

Sementara itu kegiatan Ny. Kartowiyono di bidang pendidikan tetap berjalan sesuai dengan perkembangan zaman. Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Ny. Kartowijono adalah guru pada Sekolah Guru Kepandaian Puteri di Jakarta. Setelah terjadi perang kemerdekaan Kartowijono sekeluarga mengungsi ke Cirebon. Di sini Ny. Karto memanfaatkan waktunya untuk bekerja di Kantor Pusat Perguruan Keresi-denan Cirebon, sebagai pemimpin Pengajaran Kewanitaan di sekolah rakyat dan Sekolah Lanjutan Gadis. Setelah pengakuan kedaulatan mereka kembali ke Jakarta. Pemerintah kemudian mengangkat lbu Karto menjadi kepala Urusan Pendidikan Wanita, Jawatan Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K).

Selama menjadi pegawai Departemen P & K banyak yang telah dilakukan oleh Ny. Kartowijono. Pada tahun 1950 -- 1957 Ny. Karto diangkat menjadi anggota Badan Sensor Film, anggota Panitia Interdepartemen Perbaikan Makanan Rakyat, wakil ketua. Panitia Perburuhan, mengisi Acara Lembaran Wanita RRI, membantu Urusan eks Pelajar Pejuang, dan lain-lain. Di samping itu sebagai kepala Urusan Pendidikan Wanita ia mendapat kesempatan untuk mengunjungi daerah-daerah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Riau, Kalimantan Selatan dan Tengah, Jawa, Madura dan Bali. Ia bahkan sempat melawat ke luar negeri.

Pada bulan Mei 1957 Ny. Kartowijono berangkat ke Amerika Serikat untuk memenuhi undangan United States Information Service (USIS = Pusat Penerangan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia) dalam acara Leaders Exhange Program (Program Pertukaran Pemimpin}. Setelah itu Ny. Kar-towijono beberapa kali berkunjung ke negara tersebut. Dalam beberapa kunjungannya Ny. Karto sempat mengikuti Workshop, Comitte of Correspondence, mengunjungi The League of Women Voters, The Young Women Christian Association dan organisasi-organisasi wanita lainnya, meninjau usaha-usaha sosial dan pendidikan di beberapa tempat.

Pada kesempatan lain Ny. Kartowijono diundang oleh The Women's Voluntary Service yaitu sebuah organisasi wanita di London, untuk meninjau kegiatan mereka. Mula-mula organisasi ini didirikan untuk menolong korban perang. Setelah perang selesai kegiatan perhimpunan ini dialihkan untuk menolong korban bencana alam. Kemudian menjelang akhir tahun lima-puluhan kegiatan mereka ditambah dengan menolong orang-orang lanjut usia. Selanjutnya pada bulan September tahun 1959 Ny. Kartowijono berangkat ke Republik Rakyat Cina atas undangan Pergerakan Wanita di Cina untuk menyaksikan upacara peringatan ulang tahun negara tersebut. Dalam kesempatan itu ia dapat meninjau usaha usaha kesehatan, sosial dan usaha-usaha kesehatan di negara tersebut.

Di samping tugas-tugasnya seperti tersebut di atas Ny . Kartowijono juga pemah menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (tahun 1946 -- 1949). Kemudian menjadi konsultan Departemen Sosial RI (tahun 1974 -- 1978). Menjadi ketua Seksi Wanita pada Persatuan Wredatama RI Pusat (tahun 1973-1978) dan pernah memimpin Pertemuan Besar "Wanita Pejoang Indonesia" di Jakarta (Mei 1975).

Sebagai seorang yang aktif dalam pergerakan wanita lbu Kartowijono berpendapat bahwa sebenarnya wanita itu mempunyai kemampuan dan kelebihan, tapi tidak semua wanita tahu akan kelebihannya. Ibu Karto bukan hanya kaya akan ide-ide tetapi sekaligus juga pelaksanaannya. Ia ingin wanita Indonesia mandiri, tidak tergantung pada pihak lain. Untuk mencapai hal itu terlebih dulu wanita harus mandiri di bidang ekonomi, agar mampu· berpikir dan bertindak sesuai dengan kemampuannya.

Ibu Kartowiyono adalah seorang human yang benar-benar human. Ia tidak pemah menyembunyikan pengetahuan, sangat murah hati terutama dalam membantu wanita. Keberanian, kejujuran dan kesucian (trisula) tertanam dalam pola pikir dan dan pola tindak Ibu Karto. Kepada pemimpin perkumpulan wanita Ibu Karto berpesan agar mereka memiliki pengetahuan yang luas mengenai keadaan wanita, rasa kasih sayang kepada anggota, sifat ·keibuan dan sikap terbuka terhadap kritik. Selanjutnya dalam mernberikan tugas kepada anggota, pemimpin perkumpulan hendaknya mengetahui keadaan anggota yang sebenarnya, memberi tugas secara bergilir kepada anggota-anggotanya dan mengikuti dengan seksama kegiatan anggotaanggotanya.

Pada 1 Desember 1983, Ny. Sujatin Kartowijono meninggal dunia setelah menderita sakit beberapa lama. Ia meninggal dunia dalam usia 76 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir Jakarta Selatan. Atas jasa-jasa terutama dalam perjuangan pergerakan wanita pemerintah telah memberikan penghargaan berupa Satya Lencana Kebaktian Sosial (1961) dan Satya Lencana Pembangunan (1068).