Di Mercu Suar  (2013)  oleh Goenawan Mohamad
2013


Berdirilah di sudut, katamu.
Raba tembok tua itu.
Di dekat pigura yang tergores pisau,
tertulis “1927”.

Siapa tahu kita akan tenang dengan ruang yang dihuni waktu: pintu kayu
besi yang dibalur lumut, engsel yang digerus asin laut, gambar dua
mendiang presiden pada dinding….

Mungkin mercu ini akan melindungi kita
dari hal-hal yang berarti,
dengan tamasya yang minimal.
Seorang penjaga pernah menuliskan
satu kalimat di langit-langitnya,
“Cahayaku memberikan segalanya ke samudera.”

Kita belum tahu siapa yang pernah di sini, adakah kita tamu di sini.
Tertahan di sepetak pulau, kita bisa juga betah dengan sebungkah karang
dan seonggok tanggul yang membiasakan diri kepada pasang – seperti semak
jeruju kering di utara yang tak jauh itu yang hampir hanyut, tapi selalu
menemui ombak.

Aku tak bisa jawab
apa yang akan lenyap
dan yang tiba
kelak.

Apa yang dicatat,
apa yang diingat?
Apa yang disimpulkan?

Jangan-jangan di mercu ini kita akan juga bikin sejarah, kataku.

Barangkali, jawabmu, tapi jangan cemas, sejarah hanya sebentuk origami,
kisah yang tersusun dari ingatan,
lipatan yang tak dijahit mati, camar kertas yang terbang diguncang angin
dan dipercakapkan dari jauh.

Kita juga yang kemudian membayangkan arahnya.

Menakjubkan bahwa kau begitu sabar.

Ah, berdirilah di sudut, jawabmu,
dan lihat: laut tak menginvasi.
Dari mercu ini kita akan mencoba mengerti badai
ketika langit tak bisa diharapkan.



Pada debur ombak berikutnya,
aku terkantuk dengan mimpi yang tipis:
Sebuah jung. Deretan layar malam.
Dua orang di buritan
yang tak tahu mereka di mana.
“Tapi kita bahagia,”
kata salah seorang di antaranya.

Sebenarnya mereka berharap
ada seseorang yang di bandar menantikan.
Tapi anak yang tertidur di dermaga dengan kostum kapas itu mengigau,
tak memanggil….

Ketika aku terbangun, angin meraung.
Di dinding kulihat bayang kita yang bongkok sedikit
dan Ajal yang bergerak
seperti siluet tangan seorang anak.

Barangkali di pucuk mercu suar ini
telah diterakan sepasang inisial –
nama yang akan lama tinggal
nama yang mati;
nama kita yang mati.


Koran Tempo, 20 Januari 2013.