Gandari  (2010)  oleh Goenawan Mohamad
2010


Lima hari sebelum ibu para Kurawa itu membalut matanya dengan
sehelai kain hitam, mendampingi suaminya, raja buta itu, sampai kelak,
beberapa detik sebelum ajal…

Ia, yang tak ingin lagi melihat dunia, sore itu
menengok ke luar jendela buat terakhir kalinya:

Sebuah parit merayap ke arah danau. Dua ekor tikus mati,
hanyut. Sebilah papan pecah mengapung.
Sebatang ranting tua mengapung.

Di permukaan telaga, di utara, dua orang
mengayuh jukung yang tipis, dengan
dayung yang putus asa.

Ombak seakan-akan mati. Air menahan mereka.

“Mereka lari dari koloni kusta,” kata Gandari dalam hati,
“dan mereka lihat warna hitam
yang berhimpun di atas bukit.”

Malam, sebenarnya mendung, seakan mendekat.
Air naik deras ke langit:
sebuah pusaran, sebelum hujan datang, lebat,
menghantam danau.

Dan angkasa gemetar
Dan mengubah diri ke dalam puting beliung.



Kemudian malam. Malam yang sesungguhnya:
Pada halaman langit
Bintang membentuk asteris,
yang merujuk ke nama yang tak ada
juga nama seorang dewa yang
susut



Dan guruh berkejaran dengan hujan
sepanjang trowongan langit
yang merendah.

Kemudian kering. Kemudian gerimis,
seperti silabel yang lebat,
berdegup, bergegas, berdegup, dari pinggir galaksi,
membentuk kata, kata, kata…

Tapi perempuan yang sedih itu tak memberinya arti.



Di luar aula para dewa, ketika angkasa kosong,
Brahma mencipta Kematian.
“Kali akan datang,” katanya,
“dan akan melambaikan tangannya yang ungu.
Tenanglah, semua tak akan apa-apa.”

Di dalam ruang, tak ada yang ingin bicara.

Dan dari bulan yang lambat
Maut meloncat ke kerumunan mega.
Ia menari. Di pelukannya yang putih, ada mayat
yang terpenggal.



Malam itu para dewa pun diberitahu,
itulah tarian Kali yang pertama.



“Aur mengisut, air surut,
cahaya jadi sepa, dan dari langit
tak ada lagi apa-apa. Hanya di malam-malam tertentu
dewa-dewa menciptakan teks mereka
yang panjang, sepanjang ribuan makam.

“Mereka menghendaki aku, Kematian,
Mereka menghendaki aku.”



Mungkin Gandari mendengar kata-kata itu.

Tapi kemarin di balairung itu,
bersama Destarastra yang berkabung,
ketika ia dengar “pyuuu” kepodang hutan,
ia tak tahu isyarat apa
yang telah disampaikan.

Itu adalah hari kesendirian mereka yang ke-7.
Suami-isteri di ruang selatan: sepasang takhta tua;
dinding yang terlindung gordin; sepetak lantai
dengan medan catur yang panjang; bidak-bidak berat
yang berdiri berjauhan: ksatria asing, pion-pion yang bungkam,
para pendeta yang angkuh, benteng bujursangkar.

Gandari pernah menyukai semua itu: “Dulu aku
memimpikan makhluk imajiner di hitam-putih senjakala.”

Tapi tiap malam Destarastra, suaminya,
hanya bisa mengkhayalkan pelbagai unggas
dengan bulu yang ia sebut hijau.



Tapi tidak di malam itu. Dari plafon
yang dipahat gambar naga,
cahaya makin tak berarti.
Lampu ke-3 tak ada lagi.

Ketika itulah raja yang buta itu berkata,
“Aku membau amis empedu.”

Meskipun semalam
tak seorang pun mempersembahkan
hewan korban.

Orang-orang bersenjata
telah meninggalkan mereka.



Pada pukul 7:45 perempuan itu pun menggeruskan kuku
tangannya
pada kain lena lengan kursi.

Ia dengar degup kaki kuda
yang lelah itu lagi, seperti kemarin, seperti kemarin,
dan seorang prajurit luka yang setiap senja berkata kepadanya:
“Hamba membawa kabar dari peperangan, Ratu.”

Gandari hanya memandang ke halaman. Ia seakan men-
dengar
kalamakara di gerbang itu bergerak
Bersama suara katak yang mengigau.



Mari kita pergi.
Ke sebuah kota di mana nujum
tak dibaca. Di mana anak-anak
tak tumbuh. Di mana masa lalu adalah masa kini.
Di mana “aku” hanya
kata sebelum amnesia.

Mari kita pergi ke sebuah kota
di mana kabar adalah tafsir
yang terlambat.



Tapi ia tahu, hanya ada sebuah kota yang tinggal.
Di Dhenuka. Di perbatasannya yang kering, Kali berdiri
dengan satu kaki, selama 15 ribu tahun.
Parasnya yang gelap seperti Semeru malam
memandang ke 700 rangka
yang terhantar. “Paduka tak memberiku cermin.
Hanya bisa kulihat wajahku
pada langit sekeruh tembaga.
Paduka tak memberiku warna
meskipun pada perak pagi.”

Brahma tertawa: “Tapi kau kematian.
Kau Mertyu.”

“Ya, aku kematian.”

“Aku suka gerak burung di pohon yang pucat.
Aku suka bau tahi sapi yang separuh terbakar.
Aku suka—”



Mungkin juga Gandari cuma bermimpi
tentang dewa-dewa yang bodoh.

Kini ia ingin duduk.

“Jangan kau hanya diam,” suaminya berkata.
Ia lihat jari kisut lelaki itu
meremas kain kasar yang terjela
dari sisi mahligai;
karena ia sebenarnya gemetar.

Ketika itu,
utusan itulah yang bersuara.

“Bhisma gugur, dengan 100 liang luka.”

“Dan ketika orang tua itu rubuh
di bawah bukit-bukit Kurusetra,
perang berhenti sebentar,
dan senjata diletakkan.
Dan di kedua perkemahan
orang-orang menunduk:
‘Bhisma gugur’ mereka berbisik,
‘dengan 100 liang luka’.”



“Katakan kepada saya,
apakah yang paling menyakitkan
dari perang? Kekalahan?
Atau kebencian?”

Gandari ingin mengatakan kalimat itu, tapi
di sudut halaman yang gelap,
utusan yang letih itu
hanya memejamkan matanya.

Ratu itu seperti melihat bidak-bidak catur bergerak.