1. SUATU PERTJAKAPAN

Seorang laki-laki dan seorang wanita bertjakap-tjakap tentang kedudukan kaum wanita didunia. Silaki-laki dengan semangat mempertahankan pendapatnja, bahwa manusia hanja baru akan berbahagia, bila wanita dalam hal keuangan tidak lagi bergantung pada orang laki-laki. Keadaannja akan demikian, kalau ia djuga mempunjai djabatan sebagai orang laki-laki; atau setjara begaimanapun bekerdja, sehingga ia menerima upah berupa uang.Kata silaki-laki: „Kehidupan keluarga akan bertambah baik kalau perempuan dapat berdiri sendiri dan tidak terpaksa tinggal dengan suaminja karena takut tidak dapat makan dan pakaian. Lihatlah isteriku," katanja. „Dua puluh tahun pekerdjaannja hanja menjelenggarakan rumah tangga. Seandainja ia akan mentjeraikan dirinja dari aku, tentu ia tak akan tahu, bagaimana dapat makan, karena ia tak sanggup bekerdja sebagai apapun djuga."

Lima pulun tahun jang lalu tidak seorang laki-laki akan berkata demikian, karena pada zaman itu orang laki-laki semuanja berpendapat, bahwa tempat perempuan adalah dirumah. Sebaliknja bila lima puluh tahun jang lalu seorang perempuan berani bertjakap sebagai laki-laki itu, tentu ia akan dipudji oleh segala saudaranja kaum wanita, karena mereka pertjaja, bahwa bila kaum wanita dibolehkan sadja mengerdjakan pekerdjaan laki-laki, tentu segala soal dan kesulitan akan selesai.

Akan tetapi.... ketika perempuan itu mendengar perkataan laki-laki itu, ia berpikir. Berpikir, bukan karena laki-laki itu lupa, bahwa rumah harus dibersihkan dan makanan harus dimasak, biarpun siperempuan bekerdja diluar rumah. Ia berpikir, karena timbul pertanjaan dalam hatinja: „Apakah sesungguhnja kebahagiaan seorang wanita tergantung pada uang, mata uang rupiah jang berdering-dering atau uang kertas jang berdesirdesir, jang diperolehnja sebagai upah djerih pajahnja sendiri? „Tidak!" katanja, „saja jakin, bahwa kebanjakan orang perempuan akan merasa sangat bahagia bila mereka dapat bekerdja untuk keluarganja atau rumah tangganja sendiri. Sebaliknja tentulah hendaknja ia diberi kesempatan, menurut kehendaknja sendiri, bekerdja diluar rumah.

Seorang perempuan jang ingin sekali mendjadi tabib atau djururawat, hendaknja dibolehkan dan diberi kesempatan itu, sekalipun ia bersuami. Dan sajapun jakin, bahwa adalah suatu hal jang baik untuk tiap-tiap perempuan kalau ia djuga menaruh perhatian pada hal-hal jang terdapat diluar lingkungan keluarganja, seperti persatuan kaum wanita didesanja, kewadjibannja terhadap rumah anak-anak terlantar dsb. jang meminta waktunja sehari atau dua dalam seminggu. Akan tetapi Tuhan Allah mendjadikan manusia berupa laki-laki dan perempuan, tentu ada MaksudNja. MaksudNja bukanlah supaja laki-laki lebih tinggi kedukannja dari perempuan atau perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Bukankah seorang tani tidak pula lebih tinggi kedukannja dari seorang pekerdja pabrik atau sebaliknja, oleh karena masing-masing mempunjai pekerdjaan sendiri-sendiri? Suami dan isteri hendaklah bekerdja bersama-sama, masing-masing sesuai dengan pekertinja, berusaha sebanjak-banjaknja membangun dunia untuk anak- tjutjunja jang lebih baik dari pada dunia jang kita diami sekarang ini."

Mungkin kaum wanita jang membatja buku ini akan berkata bahwa semua ini sedap untuk didengar, akan tetapi bagaimanakah mendjalankan segala-galanja dalam praktek? Kita kaum wanita memang bersifat praktis. Kita biarkan kaum laki-laki memperdebat dan memperbintjangkan soal perindustrian pakaian dengan pandjang lebar misalnja, tetapi kita kaum wanita ingin mengetahui, bagaimana kita dengan sebaik-baiknja dan semudah-mudahnja dapat membuat pakaian anak lelaki jang berumur sepuluh tahun? Maka sekarang kita hendak bertjakap-tjakap tentang kedukan kaum wanita didunia.

Kita tidak akan puas, bila kita dalam teori sadja mengetahui apa kewadjiban dan apa hak perempuan dibeberapa negeri. Akan tetapi kita ingin pula mengetahui, bagaimana kehidupan Njonja Smith di Amerika dan apa pekerdjaan Nona Johnson di Inggeris. Apa pula pekerdjaan njonja Kavenskaja di Rusia dan Sadiqah Abbas di India? Apakah artinja bagi Makbule Diblan waktu Kemal Pasja dinegeri Turki menghapuskan chalifah serta mendjalankan hukum kewarga-negaraan Eropah Barat? Oleh sebab hukum baharu ini dengan tiba-tiba kaum wanita memperoleh hak jang sama dengan kaum lelaki, hingga setjara resmi dilarang laki-laki beristeri lebih dari seorang. Bagaimanakah kehidupan Njonja Hsjung dinegeri Tiongkok? Inilah beberapa diantara banjak pertanjaan jang mendesak.

Kaum ibulah jang melahirkan angkatan baru. Sebab itu kita insjaf, bahwa masa jang silam itu mempunjai arti. Kita tahu, bahwa manusia tidak begitu sadja didjadikan Tuhan diatas dunia, tapi bahwa ia mempunjai banjak hubungan dengan masa jang silam. Kita dapat mengenai anak laki-laki atau perempuan itu, bila kita mengetahui keadaan jang telah lampau.

Kita dapat mengerti kedudukan kaum wanita didunia pada masa ini, bila kita telah menindjau masa jang lampau. Oleh sebab itu kita bertjakap-tjakap tentang kehidupan kaum wanita pada masa jang telah silam. Boleh djadi wanita-wanita itu ternama, seperti Arme Marie van Schuurman, seorang ahli pengetahuan diabad ketudjuhbelas; Mary Wollstonecraft ditahun 1790, jang bertjita-tjita hendak mempraktekkan segala azas-azas revolusi Perantjis, jakni kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan, pada kaum wanita; Elizabeth Fry, jang mulai memperbaiki keadaan rumah pendjara serta tjara menghukum seseorang; Elizabeth Stanton, jang berani menentang orang-orang lain(malah djuga suaminja), dalam memperdjuangkan hak-pilih bagi kaum wanita (tahun 1848) dan Raden Adjeng Kartini jang sudah terkenal itu. Mungkin pula kita santa sekali tidak mengenai nama wanita-wanita masa dahulu itu dan hanja dari buku-buku atau gambar-gambar sadja kita dapat mengetahui kehidupan mereka serba sedikit.

Apabila kita sekedar mengetahui tentang kehidupan mereka pada zaman jang lampau, mengetahui perdjuangan mereka untuk merebut hak kemerdekaan bagi kemadjuan djenis kelaminnja, dan untuk perbaikan keadaan sosial, maka kita telah mempunjai suatu petundjuk bagi kehidupan kita sendiri. Djarum pedoman kehidupan ini bagi segala kaum wanita arahnja sama sadja. Pada lahirnja kehidupan seorang Njonja Smith di New York berbeda dari kehidupan Njonja Ondang disebuah kampung di Minahasa akan tetapi sesungguhnja kehidupan kedua wanita itu tak berbeda. Hanja Njonja Smith makanannja ialah beberapa makanan dalam kaleng jang diambilnja dari peti-esnja, dan ia membersihkan nuuahnja dengan penghisap debu listrik, sedangkan Njonja Ondang memasak nasi dari beras jang ditanamnja sendiri dan membenihkan rumah dengan sapu biasa. Tetapi bukan ini hal jang penting: jang terpenting ialah bahwa mereka kedua-duanja mempunjai kewadjiban jang sama, jakni: ikut membantu membangun dunia jang lebih baik untuk anak-anak kita, membangun masjarakat baru, dalam mana semua manusia dapat hidup dengan tidak takut-takut dan tidak berkekurangan, dalam mana mereka merdeka mengeluarkan buah pikiran dan merdeka memeluk agama masing-masing.

Para pembatja djanganlah sangka, bahwa kami dengan pasti dapat memberi pedoman hidup itu. Lima puluh tahun jang lalu kaum wanita menjangka, bahwa segala tjita-tjita akan tertjapai bila mereka mempunjai hak jang sama dengan laki-laki, sehingga mereka akan dapat membuat undang-undang jang baik dan dapat mengatur susunan masjarakat jang lebih sempurna. Sajang, pengalaman kita mengatakan, bahwa halnja tidak demikian. Dunia bertukar dengan tjepat. Bangsa-bangsa jang berabad-abad didjadjah oleh bangsa asing sekarang menggengam nasibnja sendiri. Gerombolan-gerombolan jang telah berabad-abad lamanja biasa menerima perintah dari "tuan"-nja, sekarang ikut bersuara dalam memperbintjangkan kepentingan perusahaan mereka. Perempuan jang dari abad keabad mendjadi hamba suaminja, sekarang mendjadi machluk jang dapat berpikir dan bertindak dengan bebas, jang dapat menjebut dan memandang kaum laki-laki sebagai "teman".

Dan seperti seorang anak muda jang baru dewasa amat sukar menjesuaikan dirinja pada orang-orang dewasa, demikian pulalah kaum wanita sukar menentukan sikapnja dalam dunia jang baru itu. Tapi pula, ..... kesulitan itu bagi Njonja Smith tak ada bedanja dengan kesulitan jang dialami oleh Njonja Ondang.