Hal Bunji Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia/Bab 1

BAB 1

KETERANGAN-DASAR.

1. Dalam monografi ini terdapat uraian tentang hal bunji dalam bahasa² Indonesia.

Tjatatan : Tentang transkripsi lihatlah keterangan dibawah nomor 39 dan tentang singkatan lihatlah keterangan dibawah nomor 38.

2. Tentang soal jang dibitjarakan ini belum ada suatu ichtisar, meskipun telah tjukup bahan untuk keperluan itu. Bahan itu dapat dipéroleh dalam karangan² tentang tatabahasa, ber-bagai² kamus dan karangan lain. Sumber² dan pekerdjaan pendahuluan itu tak disebut satu demi satu dalam uraian ini, oléh sebab dalam karangan ”Geschichte der IN Sprachen” , jang tak lama lagi akan diterbitkan, dengan tjara mendalam saja akan berbalik pada sumber² itu. Karangan² pendahuluan jang dimaksudkan itu telah memberikan sebagian ketjil bahan jang saja butuhkan, entah sebagai bahan mentah entah sebagai bahan jang sedikit banjak sudah dikerdjakan, sebagian besar bahan² telah saja kumpulkan sendiri. Dalam menjusun dan mengerdjakan hal² dalam monografi ini, saja menempuh djalan sendiri dengan tak bergantung pada orang lain.

3. Gedjala² bunji baik jang sekarang maupun jang terdapat pada djaman jang telah lampau perlu digambarkan. Bunji dalam bahasa² Indonésia menurut keadaan jang telah lampau, dapat dibuktikan berdasarkan dokumén² jang turun-temurun dari bapak keanak atau berdasarkan ilmu bahasa jang telah diketahui terutama dengan membanding²kan. Untuk penjelidikan bunji bahasa, bahasa Djawalah jang amat penting oléh sebab tentang bahasa itu dalam keadaannja dulu terdapat dokumén jang turun-temurun dari bapak keanak. Idiom Bugis, Sunda, Malagasy dan idiom² lain djauh tak sepenting bahasa Djawa.

4. Dalam mentjari bukti² kami membutuhkan pangkalan untuk bertolak dan pangkalan itu ialah bahasa Indonésia purba. Dalam hal itu saja berbuat seperti Brugmann dalam karangannja ”Kurze vergleirhende Grammatik der indogermanischen Sprachen”. Seperti dalam membandingkan bahasa² Indogerman dari kata dhūmàs (asap) dalam bahasa India kuno dan dari kata fumus (asap) dalam bahasa Latin ditundjukkan kata dhumòs dalam bahasa Indogerman purba; dalam membitjarakan vokal atau harakat ū Brugmann bertolak dari kata dhūmòs itu dan kata² lain jang mengandung u dalam bahasa Indogerman purba. Begitu djuga dari kata telu dalam bahasa Howa, tolu dalam bahasa Toba, dsb. dapat ditundjukkan kata tělu dalam bahasa Indonésia purba. Kata tělu itu dan kata² lain jang mengandung huruf Indonésia purba ě dipakai sebagai pangkal untuk membitjarakan bunji ě dan huruf lain, jang berasal dari huruf itu.

Tjatatan: Pada sebagian besar kata Indonésia jang dikemukakan dalam monografi ini suku kata jang mendahului suku kata jang terachirlah jang ditekankan. Hal itu tak ditundjukkan lagi, djadi saja menulis telu dan tolu dengan tak ditandai tekanannja. Sebaliknja, kata talò dalam bahasa Pangasin ditundjukkan tekanannja, oléh sebab suku katanja jang terachirlah jang ditekankan. Tentang pandjang dan péndéknja bunji lihatlah keterangan dibawah nomor 67 dan selandjutnja.

5. Saja ingin hendak menundjukkan satu hal dan dalam hal itu tampaklah sistim jang saja pakai untuk menjusun bentuk² purba dalam bahasa Indonésia.

Dalil

„Bahasa Indonésia purba mempunjai satu harakat (vokal) jang dalam bahasa Djawa dan dalam ilmu bahasa jang mem-banding²kan bahasa² Indonésia dinamai huruf pepet dan dengan tjara jang kurang tepat ditundjukkan dengan ě, misalnja dalam kata tělu dalam bahasa Indonésia purba.”

Bukti

I. Kalau dalam bahasa Pangasin terdapat kata talò, dalam bahasa Howa telu, dalam bahasa Sunda tilu, dalam bahasa Tinggian tulu, dalam bahasa Toba tolu, -maka adanja ber-bagai² vokal dalam suku kata jang pertama itu dengan djelas dapat diterangkan dengan berbalik pada satu pangkal, jaitu huruf pepet, jang telah dikemukakan tadi.

II. Huruf pepet itu sekarangpun masih terdapat dalam beberapa bahasa. Bahasa² itu tak banjak tetapi dipakai di-daérah² jang tersebar letaknja. Kata tělū (tiga) terdapat dalam bahasa Karo di Sumatera, bahasa Bali dekat pulau Djawa, bahasa Tontémboa di Sulawesi dll. III. Bahasa Djawa kuno mempunjai djuga kata telu. Dalam nomor 6 diterangkan bahwa pentinglah petundjok jang terdapat dalam bahasa Djawa kuno.

IV . Bahasa Nias tidak mempunjai huruf pepet. Dalam bahasa itu huruf o nenggantikan huruf e jang terdapat dalam idiom2 lain. Tetapi huruf o itu diutjapkan dcngan tjara luar biasa dalam bahasa Nias, jaitu dibagian belakang mulut. Djika huruf o jang diutjapkan dcngan tjara biasa disebut o-1 dan o jang diutjapkan dibagian belakang mulut disebut o-2, maka dalam bahasa Nias misalnja terdapat kata bo-2li, jang sama artinja dengan kata beli dalam bahasa Indonesia purba dan djuga dalam bahasa Gayo, Melaju, dll. Kata o-lno-1 dalam bahasa Nias menggantikan kata anak jang terdapat dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Tagalog, dll. Bunji chusus tentang o-2 menundjukkan, bahwa huruf o itu mula2 adalah huruf lain, jaitu huruf pepet.

V. Bahasa Ilok tidak mempunjai huruf pepet. Dalam bahasa itu huruf e menggantikan huruf pepet. Tetapi konsonan jang mengikuti huruf e itu diduakalikan. Dengan begitu kata lepas jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba dan djuga dalam bahasa Djawa kuno, Melaju, dll. sesuai dengan kata leppas dalam bahasa Ilok. Konsonan jang mengikuti huruf e jang berasal dari huruf lain tidak diduakalikan. Dalam bahasa Madura terdapat kata leppas; djadi, konsonan jang mengikuti e diduakalikan djuga sedang huruf e-pepet tetap dipakai. Hal menduakalikan konsonan jang mengikuti huruf e baik dalam bahasa Ilok maupun dalam bahasa Madura menundjukkan, bahwa huruf e dalam bahasa Ilok mula2 ialah huruf e-pepet.

VI. Bahasa Talaut tidak mempunjai huruf pepet. Huruf e jang terdapat dalam bahasa2 Iain mendjadi huruf a dalam bahasa Talaut. Tetapi bunji-lebur (liquida) l jang mengikuti huruf a jang dimaksudkan itu berlainan diutjapkannja dari pada huruf l jang mengikuti huruf a jang sesuai dengan huruf a dari bahasa Indonesia purba. Djadi, dalam bahasa Talautpun terdapat suatu petundjuk tentang huruf pepet jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba.

VII. Bahasa Howa tidak mempunjai huruf pepet; dalam suku kata jang ditekankan, huruf e menggantikan huruf pepet itu dan dalam suku kata jang tak ditekankan huruf i lah jang menggantikan huruf e-pepet. Dalam bahasa Howa terdapat kata-sedjadjar, jaitu telina, (menelen) untuk kata telen, jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba, bahasa Karo, dll. Huruf l jang mengikuti huruf i (e dalam bahasa Indonesia purba) tak berubah. Tetapi djika huruf l itu meng­ikuti huruf i jang sama dengan huruf i dalam bahasa Indonesia purba, maka huruf l mendjadi huruf d misalnja dalam kata dimi ( = lima dalam bahasa Indonesia purba) : suatu bahasa lagi jang tidak mempunjai huruf pepet, menundjukkan tentang adanja huruf itu dalam bahasa Indonesia purba.

Kesimpulan

Petundjuk2 jang telah dikemukakan dibawah nomor I-V1I jang dapat ditambah lagi dengan petundjuk2 lain dengan tjara jang tak dapat disangkal membuktikan, bahwa dalam sistim bunji bahasa Indonesia purba terdapat vokal pepet.

6. Ber-bagai2 bunji dalam bahasa Djaw a kuno umumnja sama dengan bunji2 dalam bahasa Indonesia purba, jang dapat ditundjukkan dengan djalan membandingkan bahasa2 Indonesia antara sesamanja. Hal2 jang diperoleh dengan djalan mengambil kesimpulan dari suatu hipotese se-mata2, dikuatkan oleh dokumen2 jang objektif. Dalam dua hal keselarasan itu terganggu :

I. Huruf r-2 (uvula, anaktekak) dalam bahasa Indonesia purba tidak berbunji dalam bahasa Djawa kuno. Maka dalam bahasa Djawa kuno terdapat kata atus, (seratus) jang terdjadi dari kata r-2attu dalam bahasa Indonesia purba.

II. Rentetan vokal dalam bahasa Indonesia purba atjapkali disingkatkan dalam bahasa Djawa kuno, misalnja : kata lain jang ter­dapat dalam bahasa Indonesia purba, bahasa Melaju dll. mendjadi len dalam bahasa Djawa kuno.

7. Seperti halnja tentang bunji2 dalam bahasa2 Indogerman, tentang bunji2 dalam bahasa2 Indonesiapun jang sekarang berlaku tidak selalu dapat ditundjukkan bunji jang sesuai dengan bunji2 itu dalam bahasa Indonesia purba. Banjak bahasa Indonesia mempunjai bunji hamza, tetapi tak dapat saja menentukan bahwa bunji itu ter­dapat djuga dalam bahasa Indonesia purba.

8. Antara suatu bunji dalam bahasa Indonesia jang sekarang berlaku dengan bunji jang sesuai dengan bunji itu dalam bahasa Indonesia purba atjapkali terdapat keadaan poralihan. Kaum penjelidik bahasa Indogerman dalam banjak hal dapat menentukan keadaan peralihan itu. Kluge dalam kamusnja etimologi tentang bahasa Djerman mengemukakan, bahwa antara kala medus dalam bahasa Indogerman purba dengan kata Met dalam bahasa Indogerman sekarang tcrdapat kata medus dalam bahasa German purba, kata nieto dalam bahasa Djerman lama, kata met dalam bahasa Djerm an pertengahan sebagai keadaan peralihan. Djalan untuk menentukan keadaan peraiihan itu terbatas dalam penjelidikan bahasa2 Indonesia. Hanja bahasa Djawalah, jang mempunjai tulisan seperti pada djaman jang telah lampau dan tulisan itupun menundjukkan bunji2 jang sama dengan bunji2 dalam bahasa Indonesia purba. Meskipun begitu halnja, dalam penjelidikan bahasa2 Indonesiapun dalam banjak hal dapat ditundjukkan keadaan peralihan itu. Dibawah ini dikemukakan beberapa kemungkinan :

I. Keadaan peralihan dalam bahasa Djawa kuno :

Pangkalan. Keadaan peralihan. Keadaan sekarang.
Bahasa Indonesia purba Bah. Djawa kuno. Bah. Djawa sekarang
dir2us dyus adus (mandi)

II. Keadaan peralihan dinjatakan dengan tulisan :

Pangkalan. Keadaan peralihan. Keadaan sekarang.
Bahasa Indonesia purba Bah. Minangkabau tulisan Bah. Minangkabau lisan
selsel sasal sasa (menjesal)

III. Keadaan peralihan terdapat dalam dialek jang berdekatan :

Pangkalan. Keadaan peralihan. Keadaan sekarang.
Bahasa Indonesia purba Bah. Tunong-Atjeh Bah. Atjeh sekarang
batu batew batee (batu).

IV. Keadaan peralihan dapat ditundjukkan djuga dengan menarik kesimpulan dari bunji pada achir kata. Kalau dalam bahasa Bunku kata wea menggantikan kata bar2a (api batu bara) jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba, maka dapat dikemukakan sebagai bentuk peralihan kata waya. (lihat keterangan dibawah nomor 136).

9. Atjapkali diberitakan, bahwa kaum tua berpegang pada bunji jang berlaku pada djaman jang telah lampau, sedang kaum muda mempergunakan bunji lain. Dalam bahasa Kamberi bunji h menggantikan bunji s dalam bahasa Indonesia purba. Kata ahu ialah sama dengan kata asu dalam bahasa Indonesia purba. „kaum tua masih mengutjapkan bunji s” (Wielenga).

10. Perubahan bunji terdjadi dengan bersjarat atau tidak dengan bersjarat. Bunji pepet dalam bahasa Indonesia purba berubah dengan tak bersjarat dalam bahasa Dajak mendjadi e. Dengan begitu kata teken (tongkat) jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba men­djadi teken dalam bahasa Dajak. Dalam bahasa Howa jang erat bertali dengan bahasa Dajak, huruf pepet hanja mendjadi e kalau huruf itu ditekankan. (teken mendjadi tehina).

11. Kadang2 perubahan bunji itu bergantung pad a sjarat, kadang2 lagi pada sebab. Sjarat2 tentang perubahan bunji itu dalam bahasa* Indonesia atjapkali dapat diketahui. Tetapi tentang sebab2 berlaku pendapat Hirt tentang bahasa Junani jang dikemukakannja dalam karangannja ’’Handbuch der Griechischen Laut-und Formenlehre” . Pendapatnja itu berbunji: ,,Sebab2 perubahan bunji atjapkali tak dapat diketahui”. Bagaimana djuapun dalam penjelidikan tentang soal itu banjak teori telah dikemukakan. Beberapa teori saja sebut dibawah ini dengan tak dibubuhi komentar: „Dalam idiom2 Toradja terdapat suatu hal jang chusus, jaitu s beralih mendjadi h. Pada hemat saja kobiasaan untuk mengikir gigi atau memotongnja sebagian, menjebabkan peralihan bunji itu.” (Adriani). Dalam bahasa Karo bunji a tetap mendjadi a, tetapi disamping kata jah (disana) terdapat kata joh ,,karena gerak bibir jang menundjukkan arah „sana” itu.” (Joustra). „Kebiasaan memakan sirih menjebabkan bangsa Djawa atjapkali mengutjapkan konsonan bibir atau labial sebagai konsonan langit2 lembut atau velar, misalnja kata pestul (pistol) diutjapkannja sebagai kestul.” (Roorda).

12. Tentang hal bunji dalam bahasa2 Indonesia terdapat banjak kemungkinan jang mempengaruhi bunji itu, tetapi kemungkinan2 itu tak dapat dinamai „sebab” atau „sjarat” perubahan bunji menurut artinja jang sebenarnja. Kemungkinan2 itu ialah analogi, etimologi bangsa, ketjenderungan akan diferensiasi, bunji sebagai lambang, meniru2 bunji, melemahkan arti kata2, ketjenderungan akan mempergunakan kata2 jang terdiri atas dua suku kata.

13. Peranan analogi dalam hal bunji dalam bahasa2 Indonesia adalah sama pentingnja seperti dalam bahasa2 Indogerman. Katabilangan dalam hampir semua bahasa Indonesia mengalami pengaruh analogi itu. (lihatlah djuga karangan Paul "Prinzipien der Sprachgesehichte" , Bab. "Kontamination").

Dalam bahasa Indonesia terdapat kata r-2atus dan r-libu; dalam bahasa Gajo terdapat kata ribus dengan mengambil bunji2 s dari r-2atus.

14. Pengaruh etimologi rakjatpun sama pentingnja seperti dalam bahasa2 Indogerman. Kata rojowerdi dalam bahasa Djawa sama artinja dengan kata lazuwerdi dalam bahasa Iran (Persia); lazuwerdi berarti : biru seperti langit. Kata rojowerdi bersandarkan kata rojo (radja), se-akan2 warna itu merupakan warna keradjaan. Dalam bahasa2 In­donesia atjapkali terdapat „etimologi rakjat tentang tata bahasa”. Kata yoga dalam bahasa India kuno mendjadi iyoga (periuk) dalam bahasa Karo. Tetapi oleh sebab huruf i- dalam bahasa Karo adalab suatu awalan, maka kata iyoga tampak oleh bangsa Karo sebagai awalan y + oga. Dengan begitu dari kata iyoga diturunkan kata dasar oga jang sekarang dipakai disamping kata iyoga. Atau, oleh sebab dalam bahasa Djawa kuno bentuk ka- atjapkali merupakan awalan, maka kata kawi (penjair) dalam bahasa India kuno dipandang sebagai kata jang diturunkan, oleh sebab itu diturunkan kata dasar awi (membuat sjair) dari kata kawi itu dan dari kata dasar awi itu diturunkan lagi kata2 lain, misalnja kata awiawian (sjair).

15. Tjenderung diferensiasi. Kalau suatu kata, jang mula2 hanja mempunjai satu arti sadja tetapi kemudian ber-beda2 artinja, maka begitu djuga halnja tentang bunji. Hal itu terdjadi baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa2 Indogerman. Kata messe dalam bahasa Djerman-pertengahan mendjadi Mass dalam bahasa Djerman sekarang (mis dalam geredja) dan kata Maas jang dulu berlaku se­karang mendjadi Messe (pekan raja, jaarmarkt). Begitu djuga kata ulu (kepala) dalam bahasa Indonesia purba berubah artinja mendjadi „dulu” dalam bahasa Bima. (dan uru berarti „permulaan”.)

16. Perlambangan bunji (geluidssymboliek), terdapat dalam hal menduakalikan kata2, misalnja dalam kata uncal-ancul (me-lontjat2 kesini dan kesana) dalam bahasa Sunda disamping kata ancul (melontjat); djuga dalam hal mengubah huruf jang tak keras bunjinja mendjadi huruf jang keras bunjinja seperti dalam kata aizo-2-aizo-2 (agak asam) dalam bahasa Nias disamping kata aiso-2 (asam) dan hal2 lain barangkali terdapat perlambangan bunji. Sebaliknja, saja tidak menjetudjui pendapat, bahwa dalam pembentukan duratif, bunji dipergunakan kan djuga sebagai lambang, misalnja kata mamanah dalam bahasa Djawa kuno dibentuk dari kata dasar panah (memanah); dalam mono­grafi saja jang dulu telah ditundjukkan peranan bunji méchanis dalam hal sematjam itu dan saja jakin, bahwa kaum penjelidik bahasa Indo­-german membenarkan pendapat saja itu.

Hal jang menarik perhatian ialah tjara menduakalikan kata asal dalam bahasa Madura, misalnja dalam kata² los-alos (sangat halus), te-pote (sangat putih). Kata alos (halus) dan kata pote tumbuh dari kata halus dan putih jang terdapat dalam bahasa Indonésia purba, bahasa Melaju, dll. Tetapi disamping kata los-alos dan te-pote terdapat kata lus-alus dan ti-puti jang mengandung vokal seperti dalam kata halus dan putih dalam bahasa Indonesia purba. Lus-alus berarti lebih halus lagi dari pada los-alos dan ti-puti berarti lebih putih lagi dari pada te-pote. Bentuk bunji jang lebih tua menundjukkan tingkat jang lebih tinggi.

Hal me-niru² bunji (Onomatopǒe). Karena hal me-niru2 bunji itu, maka hukum bunji kata² tak dapat dilakukan dengan konsekwén. Hal me-niru² bunji itu terdapat dalam kataseru (interjéksi) jang me-niru² bunji. Huruf-lebur (liquida) dalam bahasa Indonésia purba tak dibunjikan dalam bahasa Minangkabau kalau terdapat pada achir kata dasar; kata lapar dalam bahasa Indonesia purba ditulis djuga lapar dalam bahasa Minangkabau, tetapi diutjapkan lapa. Selandjutnja konsonan letusan (éksplosif) pada achir kata dalam bahasa Indo­nésia purba diutjapkan sebagai hamza dalam bahasa Minangkabau; dengan begitu kata atěp dalam bahasa Indonésia purba mendjadi atoq dalam bahasa Minangkabau-lisan. Djadi pada achir kata² dalam bentuk bahasa Minangkabau-lisan tak terdapat bunji r dan p, ketjuali pada kataseru seperti gar, dapap, dsb. (hal menjatakan bunji). Hal meniru² bunji terdapat djuga dalam kata² lengkap, teruiam a pada nama² binatang, jang terdjadi karena me-niru² bunjinja. Dalam bahasa Tontémboa pada kata dasar jang terdjadi dari akar kata jang diduakalikan, konsonan pada achir separuh kata jang pertama, biasanja mendjadi q. Dengan begitu kata koqkor (menggorés) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi koqkor dalam bahasa Tontémboa. Tetapi dalam nama burung kerker jang terdjadi dengan me-niru2 bunji, huruf r tetap ter­dapat pada separuh kata jang pertama.

18. Euphemismus. Berdasarkan alasan euphemismus beberapa kata jang tertentu dalam bahasa² Indonesia, terutama kata² dari dunia séksuil, diubah dengan tjara serampangan. Beberapa kata sematjam itu disebut oleh van der Tuuk dalam kamusnja tentang bahasa Toba, misalnja kata ilat jang terdjadi dari kata pilat (kelamin). Perubahan kata² itu umumnja terdjadi dengan bersandarkan kata jang bertalian. Kata ilat bersandar akan kata ila (malu).

19. Ketjenderungan akan kata² jang terdiri atas dua suku kata. Analogi, étimologi bangsa dan pengaruh² lain jang telah dikemukakan berlaku baik bagi bahasa² Indogerman maupun bagi bahasa² Indonésia, tetapi pengaruh ketjenderungan akan kata² jang terdiri atas dua suku kata hanja berlaku bagi bahasa² Indonésia sadja. Pengaruh itu telah diakui oleh Humboldt ("Kawisprache"). Kata² dasar dalam bahasa² Indonésia umumnja terdiri atas dua suku kata dan orang tjenderung akan memasukkan kedua suku kata itu dalam kata² jang tidak mempunjai dua suku kata. Kata lijst dalam bahasa Belanda mendjadi ěles dalam beberapa bahasa Indonésia dengan awalan ě jang tidak mempunjai arti, dan kata Rom (Konstantinopėl) bukanlah Rum, tetapi Ruhum dalam bahasa Minangkabau.

20. Antara bentuk bahasa-tulisan dengan bentuk bahasa-lisan atjapkali terdapat perbedaan bunji. Dalam bentuk bahasa-lisan atjapkali kata² dalam bentuk bahasa-tulisan disingkatkan. Dalam bentuk bahasa Djawa-lisan misalnja, kata dulur (saudara perempuan) meng­gantikan kata sedulur dalam bentuk bahasa Djawa-tulisan.

21. Gedjala² bunji jang telah digambarkan terdapat dalam bahasa² se-hari² jang normal. Disamping bahasa² itu terdapat bahasa² chusus, jaitu bahasa anak², bahasa binatang dalam tjerita tentang binatang, bahasa poési, bahasa buatan.

22. Empat hal jang chusus terdapat dalam bahasa anak².

I. Hal menggantikan bunji. „Selama anak Baréqé tidak dapat mengutjapkan konsonan langit² lembut (vélar), maka dipakainja konsonan gigi (déntal) sebagai gantinja. Kata aku dalam bahasa Indo­ nésia umum dan bahasa Baréqé misalnja diutjapkannja sebagai atu. Huruf s biasanja diutjapkan sebagai c oléh anak². Djadi kata susu dalam bahasa Indonesia purba dan dalam bahasa Baréqé diutjapkan sebagai cucu” (Adriani).

II. Anak² Baréqé mengutjapkan kata keje sebagai jeje, anak² Tontémboa mengutjapkan kiqciq (menggigit) sebagai kiqkiq dan kiliq (tidur) sebagai titiq. Konsonan langit² lembut (vélar) digantinja dengan konsonan gigi (déntal).

III. Mengubah hubungan bunji. Hubungan bunji jang sukar diutjapkan oleh anak² diubahnja. Kata lay-pe (se-kali² tidak) dalam bahasa Karo misalnja diutjapkan sebagai a-pe oleh anak² Karo.

IV. Disamping hal² itu bahasa anak² menundjukkan gedjala² jang tak dapat disatukan dalam satu pengertian. Anak² Tontémboa misalnja kadang² mengatakan léleq (mandi) dan kadang djuga lileq.

23. Djika orang tua berbitjara dengan anak², maka kadang² dipakainja bahasa jang normal, kadang² lagi bahasa anak² atau bahasa kompromis. Tadi telah diterangkan bahwa anak² Baréqé mengutjapkan kata susu sebagai cucu. Tetapi dalam bahasa Baréqé jang normal konsonan langit² letusan (patalal) jang tak berbunji hanja mengikuti bunji sengau sadja. Djadi kata seperti cucu tak terdapat dalam bahasa orang dewasa Baréqé. Konsonan langit² (palatal) jang ditekankan bunjinja tak terbatas dipakainja dan oléh sebab itu orang tua² Baréqé jang berbitjara dengan anak² tak mengatakan susu atau cucu, tetapi juju.

24. Atjapkali kata² jang dipakai anak² masuk dalam bahasa orang dewasa. Kata ama (ajah) dan ina terdapat dalam bahasa Indonésia purba dan dalam sebagian besar bahasa² Indonesia jang se­karang berlaku. Tetapi dalam beberapa bahasa terdapat kata mama dan 'nina', jang menggantikan kata ama dan ina. D alam bahasa Tontémboa terdapat kata apoq (kaké) dan itoq (paman); kata serunja (vokatif) ialah papoq dan titoq. Dalam bahasa Bugis anak perempuan ketjil dinamai běsseq (hanja dipakai bagi putri radja) atau běcceq. Menurut keterangan dibawah nomor 22-I kata jang mengandung s ialah kata jang normal dan kata jang mengandung c ialah mula kata jang dipakai anak².

25. Gedjala² bunji dalam bahasa anak² Indonésia sebagian besar terdapat djuga dalam bahasa² Indogerman. K ata Vater (ajah) dalam bahasa Djerman mendjadi Atti atau Tätti dalam bahasa Swis (lihat "Schwcizerischcs Idiotikon 1” hal. 585).

26. Dalam tjerita tentang binatang bahasa jang dipakainja ialah seperti bahasa anak². Dalam karangan Adriani "Lecsboek in de Bareqe taal” hal. 17 seékor tikus tua mengutjapkan kata dunko (kulit kuwé nasi) sebagai kuko.

Dalam karangan ini, 1) sebagai bunji ng dan ń bunji ng dan n sebagai bunji nj. 27. Bahasa kaum penjair. Keperluan akan irama membawa berbagai² perubahan bunji. Kesusasteraan dalam beberapa bahasa séperti bahasa Baréqé tak mengidzinkan perubahan itu. Kebebasan kaum penjair dalam mengubah bunji itu dua matjamnja. Perubahan jang pertama terdjadi dalam rangka kemungkinan² bahasa dan perubahan jang kedua bébas sama sekali.

I. Matjam kebébasan jang pertama meliputi kebebasan kaum penjair dalam bahasa Bisaja jang berani mempergunakan bunji i depan vokal sebagai konsonan, misalnja dalain kata motya jang mengganti­ kan kata motia jang terdiri atas tiga suku kata. (motia — mutiara). Perubahan i mendjadi konsonan sematjam itu terdapat dalam banjak bahasa Indonésia normal; dalam bahasa Djawa kuno kata dasar ipi (mimpi) mendjadi aηipya dalam bentuk kondisionalnja.

II. Matjam kebébasan jang kedua meliputi ber-matjam² kebebasan jang tak berdasarkan ratio. Kebébasan itu terdjadi karena kebutuhan akan irama. Dalam Epos Megantaka dalam bahasa Bali misalnja ter­dapat kata tos jang menggantikan kata totos (datang kemudian); djika digunakan kata totos, maka sjair itu akan terlampau banjak suku katanja. Kebébasan itu terdjadi djuga djika dipandang perlu untuk keperluan sadjak. Dalam épos ” Kaba Sabay nan Aluyh” dalam bahasa Minangkabau terdapat kalimat: maq kami bario-io, maq kami batido-tido. Kata tidaq dalam bahasa biasa diubah dengan tjara sekehendaknja sadja untuk keperluan sadjak : Kedua vokal dalam kata dasar harus sama bunjinja. Ketiga : kebébasan itu terdjadi karena dibutuhkan untuk lagu. Bahasa Atjeh misalnja mempunjai lagu chusus bagi sjair² jang menjedihkan atau jang dinjanjikan pada upatjara. Dalam lagu itu kata² jang terdiri atas satu suku kata kadang² dipandjangkan mendjadi kata3 jang terdiri atas dua suku kata dengan mengutjapkan dua kalimat harakat (vokal) dengan mempergunakan bunji η diantaranja; misalnja : purjucoq jang menggantikan pucoq (mata sendjata) jang berlaku dalam bahasa normal.

28. Kedua matjam kebébasan jang telah dikem ukakan tadi ter­dapat djuga dalam bahasa² Indonésia. Dalam karangan Aneis ter­dapat kata conubjo (diukur), dengan begitu djuga terdjadi kata motya jang tadi telah dikemukakan. Tentang perubahan bunji jang dimaksudkan dibawah II terdapat kata-sedjadjar dalam kata navyasa vacas jang dikem ukakan oléh Waekemagel dalam karangannja "Altindische Grammatik I, S. XVII". 29. Dalam hal membatjakan surat terdapat djuga perubahan bunji. „Diistana radja² di Djawa dalam hal membatjakan surat² resmi orang biasa mengutjapkan harakat (vokal) pada permulaan kata sebagai konsonan pangkal tenggorok atau laringal, misalnja hadalěm meng­gantikan adalěm (diam) Poensen.

30. Bahasa buatan. Dalam bahasa² Indonésia berlaku banjak bahasa buatan, misalnja : bahasa kaum pendéta, bahasa jang dipakai diistana, bahasa kaum pemburuh, bahasa kaum pentjuri. dsb. Menurut ilmu léksikografi, ilmu morphologi dan ilmu bunji dalam bahasa² buatan itu terdapat hal² jang bersifat chusus. Dipandang dari djurusan ilmu bunji, terutama dua asas berlaku dalam bahasa² biatan itu;

I. Métatése. Dalam bahasa kaum pentjuri Toba misalnja kedua suku kata dari kata dasar dibalikkan : kata mate (mati) digantinja dengan tema.

II. Perubahan bunji menurut analogi. Dalam bahasa kaum pendéta di Dajak tcrdapat kata rohoη (pedang) jang menggantikan dohoη jang berlaku dalam bahasa normal. K ata rohoη itu terbentuk bersandarkan rohes (membunuh). Dalam bahasa Djawa jang dipakai diistana kata kiraη menggantikan kata kuraη bersandarkan liraη (separuh).

31. Dalam membentuk bahasa Djawa jang dipakai diistana itu beberapa huruf pada achir kata diganti dengan bentuk -jiη atau jěη, misalnja esuq (besok) mendjadi enjiη dan buru (memburu) mendjadi bujěη. Tjara perubahan bunji itu kami namai jěη-type. Jěη-type itu terdapat djuga dalam beberapa bahasa lain. Dalam bahasa Melaju ter­dapat kata anjiη (andjing) dan dalam bahasa Makasar tojeη (benar) dengan mengandung e jang menggantikan ĕ. Kata² itu berlaku dalam bahasa normal, tetapi oleh sebab disamping kata anjiη terdapat kata asu dalam bahasa Indonésia purba, bahasa Djawa kuno, dll. dan disamping kata tojěη terdapat kata toto dalam bahasa Dajak, maka kami berpendapat, bahwa kata² itu mula² merupakan kata² dalam bahasa buatan dan kem udian dipakai dalam bahasa norm al m enurut jěη-type, dan mendesak kata asu dan toto. Hal itu ialah sebuah tjontoh jang menarik porhatian tentang bahasa buatan jang mempengaruhl bahasa normal.

32. Kata anjiη ialah kata Melaju asli dan kata tojěη ialah kata Makasar asli, tidak diambil dari bahasa Djawa jang tidak mempunjai kata² itu. Djadi jěη-type itu terdapat dalam beberapa bahasa jang berlaku di-daérah² jang djauh letaknja antara sesamanja. Oléh sebab itu gedjala² jang tampak dalam bahasa buatan itu barangkali terdapat dalam bahasa Indonesia purba.

33. Pengaruh idiom asing. Pengaruh itu terutama tampak dalam daftar kata², dilapangan bunji pengaruh itu kurang.

I. Pengaruh idiom² Indonésia lain atas suatu bahasa Indonésia jang tertentu. Dalam bahasa Kulawi bunji s berubah mendjadi h, misalnja dalam kata tahi (danau) jang sesuai dengan kata tasik dalam bahasa Indonésia purba. „Tetapi kaum laki² jang hampir semua paham akan bahasa Palu (bunji 's dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Palu itu) atjapkali masih mempergunakan bunji s itu. Kaum perempuan jang sebagian besar hanja paham akan bahasa Kulawi sadja biasanja mempergunakan bunji h." (Adriani). Dalam dialek Ruso dari bahasa Talaut bunji k pada suku kata jang terachir dalam bahasa Talaut jang normal, diutjapkan sebagai s; misalnja kata àpusa menggantikan kata àpuka (kapur) jang berlaku dalam bahasa Talaut jang normal. Tetapi gedjala itu lambat laun hilang sedjak banjak bunji jang terdapat dalam bahasa Niampak masuk dalam dialék Ruso dan sedjak kebiasaan untuk mengubah bunji k mendjadi s itu diédjék oléh meréka jang memakai bahasa Niampak.” (Steller). Bahasa Tojo-Baréqé menekankan sebagian kata²nja dengan tjara jang berlaku dalam bahasa Bugis. „Tempat tinggalnja” ialah dalam bahasa Baréqé banuà-ña, dalam bahasa Bugis : wanuwà-na. Dalam bahasa Tojo-Baréqé atas pengaruh bahasa Bugis kata itu diutjapkan sebagai : banuà-ña

II. Pengaruh bahasa² bukan bahasa Indonésia. Bahasa Madura mula² tak mempunjai bunji f, tetapi dapat mengutjapkannja dengan baik dan bunji itu tetap dipakainja dalam kata2 jang diambilnja dari bahasa Arab atau bahasa² Eropah, sehingga bunji f itu sekarang dapat dipandang masuk sistim bunji dalam bahasa Madura. Bahasa Bima mula² menolak semua konsonan pada achir kata, djuga pada achir kata² jang diambil dari bahasa² lain. Dengan begitu kata acal dalam bahasa Arab mendjadi asa dalam bahasa Bima. ,,Tetapi orang2 Bima budaja atjapkali mengutjapkan konsonan pada achir kata.” (Jonker).

34. Pengaruh sekolah. Bunjiletus bersuara g (média) jang terdapat dalam bahasa Indonésia purba, bahasa Djawa kuno, bahasa Melaju, dll. mendjadi konsonan géseran (spirant) dalam bahasa Tontémboa. „Atas pengaruh didikan disekolah, jang memakai bahasa Melaju sebagai bahasa pengantar, generasi muda mengutjapkan bunjiletus bcrsuara sebagai konsonan geseran (spirant).” (Adriani).

35. Sistim tulisan dan edjaan (orthographie) dalam dua hal mempengaruhi djuga hal bunji.

I. Edjaan dalam beberapa bahasa, terutama bahasa² di Sumatra mempergunakan bunji lama. Menurut kaum penjelidik kata lépas ialah kata Indonésia purba. Bangsa Minangkabau mengutjapkannja sebagai lapeh tetapi menulisnja sebagai lapas; djadi bahasa-tulisan metnakai huruf asli pada achir kata itu. Tulisan sematjam itu membenarkan hal² jang telah ditundjukkan dengan djalan mem-bandingakan bahasa².

II. Kata² jang dengan tjara proklitis dan énklitis bersandarkan suatu kata jang tertentu, dalam banjak bahasa ditulis mendjadi satu kata. Dalam tjerita dalam bahasa Makasar, menurut J. Kukang (hal. 5 zl5 ), terdapat kalimat jang berbunji: nanitanrotanròwimo doweq (kepadanja selalu diberikan uang). Dalam kalim at itu na (dia) dan mo (partikel) disatukan dengan kata nilanrotanròdwi (selalu diberi). Menurut ilinu bahasa kebiasaan itu benar.

36. Dalam mepeladjari bunji dalam bahasa² Indonesia berbagai² téks perlu benar dibatja djuga. Téks² jang menundjukkan tekanan. kwantitét, dsb.-lah jang paling baik. Atjapkali dari téks² itu dapat diketahui lebih banjak hal² dari pada dalam buku² peladjaran. Seidenadel misalnja tidak mengemukakan teori dalam buku peladjarannja tentang bahasa Bontok, tetapi dari téks² jang diumumkannja orang dapat menjusun teori itu sendiri. Atjapkali teks² memperbaiki keterangan dalam buku² peladjaran. Mathes mengatakan dalam bukunja tentang tata bahasa Bugis (lihat keterangan dibawah nomor 193), bahwa kata ganti orang pertama (first person pronoun) ku dengan tjara proklitis tetapi tidak dengan tjara enklitis disingkatkan mendjadi u: tetapi dalam karangan jang diumumkannja „Budi Isĕtiharatĕ" terdapat kalimat: na-elòriy-aq woro-wanè-u. Tentang beberapa bahasa terdapat téks jang diterbitkan dengan saksama dan menundjukkan tekanan, kwantitét, dsb., tetapi belum terdapat buku peladjaran dan kamus.

37. Membandingkan bahasa² Indonesia dengan bahasa Indoger­man. Dalam monografi ini se-dapat²nja saja membandingkan gedjala² bunji dalam bahasa² Indonesia dengan gedjala² bunji dalam bahasa1 Indogerman. Usaha membandingkan gedjala² dalam bahasa² Indonesia dengan gedjala² dalam bahasa² Indogerman bukanlah usaha baru. Humboldt dan Bopp telah berbuat begitu djuga, tetapi bahan² kurang dipahamkannja. Perbandingan itu dilakukan djuga oleh Kern dan bahasa² Indonésia dan bahan² dipahamkannja benar. Kaum ahli bahasa umumnja menjatakan terima kasihnja kepada Kern, tetapi baru² ini timbul pendapat, bahwa perbandingan sematjam itu tak ada gunanja. Beberapa pendapat itu perlu saja kemukakan untuk mempertahankan pendiri saja.

I. Usaha mem-banding²kan bahasa² Indogerman antara sesamanja lebih madju daripada usaha membanding²kan bahasa Indonésia antara sesamanja, sistim perbandingan mengenai bahasa2 Indogerman telah disusun benar, djadi harus dipakai sebagai perintis djalan dalam penjelidikan tentang bahasa² Indonésia. Banjak kaum penjelidik baha­sa² Indonésia misalnja mem-bagi²kan bahasa2 Indonesia menurut ke­mungkinan² pada achir kata, sebagian kaum penjelidik iiu membagi²kan bahasa² Indonésia menurut bentuk genitif terutama menurut tempat bentuk génitif itu : apakah bentuk génitif itu mendahului atau mengikuti kataganti penghubung. Dalam kedua tjara mem-bagi² bahasa² Indonésia itu perhatian ditudjukan pada suatu gedjala bahasa jang tertentu. Dilapangan bahasa² Indogerman antara lain orang mem-bagi² bahasa² German atas bahasa German sebelah timur dan bahasa² German sebelah barat. Tetapi Kluge ("Urgermanisch"; lihat keterangan dibawah nomor 146) mempergunakan ber-bagai² ukuran (kriterium); tidak semua kaum penjelidik membagi² bahasa² itu atas dua bagian. Oléh sebab itu kaum penjelidik bahasa² Indonésia harus ber-hati² : disamping satu ukuran haruslah dipergunakannja ukuran² lain atau segala matjam pembagian bahasa² Indonésia harus disampingkan.

Tjatatan. Mem-bagi² bahasa² Indonésia menurut satu gedjala bahasa hanjalah berguna, djika dapat dibuktikan, bahwa gedjala itu gedjala jang terpenting, paling chas dan paling djelas diantara semua gedjala bahasa. Tetapi bukti sematjam itu tentang bunji pada achir kata² dan tentang tempat bentuk génitif tak pernah dikemukakan. Saja sendiri tak dapat memahamkan, bahwa bunji pada achir kata lebih penting daripada bunji pada permulaan kata² (lihat keterangan dibawah nomor 193 dan selandjutnja) dan bahwa soal tempat bentuk génitif depan atau belakang kataganti penghubung lebih penting daripada tempat scbutan (predikat) berhubung dengan pokok (subjek). Pada tahun² jang terachir sifat bentuk génitif telah di-lebih²kan dalam penjelidikan tentang bahasa² Indonésia. II. Hasil penyelidikan tentang bahasa² Indonsia kadang² berguna djuga untuk penjelidikan tentang bahasa² Indogerman. Dalam tatabaliasa menurut sedjarah tcntang bahasa Perantjis jang disusun oléh Meyer-Lübke I misalnja dikemukakan, bahwa kata tante dalam bahasa Perantjis terdjadi dari ante (kata amita dalam bahasa Latin). Hal sematjam itu terdapat djuga dalam bahasa² Indonésia.

III. Psychologi-bahasa dipergunakan djuga terutama mengenai bahan² dalam bahasa² Indonésia untuk deduksi. Oléh sebab psycho­logi-bahasa itu mula² disusun untuk bahasa² Indogerman, maka psychologi itu harus disertai hal² sedjadjar dalam bahasa² Indogerman, agar dapat dipakai dengan tepat bagi bahasa² Indonésia. Dalam monografi saja jang dulu telah ditundjukkan, bahwa psychologi-bahasa itu dapat salah dipakai, djika dipergunakan bagi bahasa² Indonésia dengan tak disertai petundjuk djalan jang tentu.

IV. Banjak penjelidik jang mem-banding²kan ber-bagai² bahasa Indonésia dan bahasa² Indogerman berusaha djuga menentukan gedjala² bahasa manakah jang dapat dipandang sebagai pernjataan budi jang tinggi. Dalam hal itu diambil kesimpulan, bahwa bahasa² Indonésia tak setinggi bahasa² Indogerman tingkatnja. Djika deduksi jang menimbulkan pendapat itu tak dapat dibantah, maka orang harus menjetudjuinja, tetapi mengenai bahasa² Indonésia harus saja mengemukakan, bahwa bukti² itu menundjukkan pengetahuan jang mengandung kekurangan², sikap memandang soal dari satu segi sadja, dsb. Hal itu telah saja kemukakan dalam monografi saja jang dulu terhadap kaum penjelidik bahasa Durand dan Taffanel. Marilah kita memperhatikan satu hal lagi jang lebih baru. Finck dalam karangannja "Die Haupttypen des Sprachbaues" (hal. 94) membitjarakan susunan kalimat dalam bahasa Samoa dan menundjukkan peranan jang baik dari partikel² — jaitu katadepan (préposisi), katasambung (konjungsi), dsb. — dalam perhubungan bagian² kata². Tetapi pada hématnja partikel² itu dapat menghubungkan seluruh kalimat. Diambilnja kesim pulan bahwa bahasa Samoa itu tak dapat membentuk kalimat jang lengkap benar seperti bahasa² Indogerman. Kesimpulan itu mengandung pendapat bahwa bahasa² Indonésia tak setingkat bahasa² Indogeman. Tetapi dilupakannja bahwa bahasa² Indonésia disamping partikel² mempunjai alat² lain untuk menjusun kalimat jang lengkap benar, misalnja dengan meletakkan tekanan dalam kalimat (lihat keterangan dibawah nomor 335). Hal itu tidak di-sebut² oléh Finck. Dan pengertiannja tentang sifat partikel ternjata dari terdjemahan kepala karangannja "Sprachprobe" jang berbunji : 'o le tala i le fuŋafuŋa, jang diterdjemahkannja seperti berikut : "O ! tjerita tentang ketimun laut itu" . Sebenarnja ’o jang terdjadi dari ko (menurut tulisan saja dibawah keterangan nomor 39 : qo) ialah katadepan nominatif (lihat Kern FI. hal./Z.1) dan i ialah katadepan jang dipakai untuk berbagai² keperluan dan dalam beberapa bahasa Indonésia dipergunakan untuk menundjukkan perhubungan génitif. Dengan tjara serampangan katadepan itu diterdjemahkannja sebagai katadepan lokatif. Djika tjara membandingkan bahasa² Indonésia atau bahasa² Indogerman jang mengandung kekurangan² jang telah dikemukakan tadi, diganti dengan tjara lain jang tidak mengandung kekurangan itu dan oléh sebab itu dapat dinamai tjara jang objéktif, maka tjara perbandingan jang pertama itu tak dapat dipertahankan. Tetapi djika tjara perbandingan jang objéktif tidak mempunjai maksud lain daripada memberikan pemandangan jang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan, lagipula tidak patut dan melukai perasaan manusia, maka dapatkah tjara perbandingan itu dibenarkan ?

38. Dalam monografi ini dipakai singkatan seperti berikut:
IN = Indonesisch (Indonésia)
IDG = Indogermanisch (Indogerman)
GW = Grundwort (kata dasar)
Brugmann KvG = Karangan K. Brugmann "Kurze vergleichende Grammaatik der indogermanischen Sprachen".
Meillet GvP = Karangan A. Meillet "Grammaire du vicux Perse" .
Kern FI = Karangan Kern „De Fidjitaal".
BDG = "Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië".
Schwarz-Texte = "Tontemboanische Teksten" oleh J. Alb. T. Schwarz.
Steller-Texte = Téks dalam karangan K.G.F. Steller "Nadere Bijdrage tot de Kennis van het Talaoetsch".
Seidenadcl-Texte = Téks dalam karangan C.W. Seidenadel "The first Grammer of the Langguage spoken by the Bontoc Igorot".
Tuuk Lb. = Bataksch Leesboek door H.N. van der Tuuk.
Hain-Teny = "Les Hain-Teny Mérinas" oléh Jean Paulhan.