Halaman:Antologi Biografi dan Karya Lima Sastrawan Sumatera Barat.pdf/86

Halaman ini tervalidasi

Antologi Biografi dan Karya Lima Sastrawan Sumatra Barat

Selama menjadi wartawan di mingguan Canang, Harris bisa menuangkan kreativitasnya dengan membuat cerita bersambung dalam bahasa Minang, misalnya ada cerita seri “Mardambin”, dan seri “Mandaram”. Cerita itu bisa terbit setiap Minggu selama tiga tahun. Walaupun kuliah di bidang teknik, dunia cerpen tidak pernah ditinggalkannya, Hampir setiap Minggu cerpennya selalu mengisi surat kabar lokal di dan di luar Sumbar. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai juru gambar (arsitek) pada Sumatra Regional Planning Study (SRPS), sebuah perusahaan yang bermitra dengan pemerintah Jerman. Alhasil, kuliahnya kedodoran. Ditambah lagi ia menikah sebelum sarjana scthingga untuk menamatkan sarjana muda saja dia membutuhkan waktu tujuh tahun Jamanya.

Setelah tamat sarjana muda, ia menerima pekerjaan sebagai teknisi di jurusannya. Pekerjaannya mengurus media pembelajaran, OHP, CCTV, cetak, dan lain-lain, Harris memiliki bawahar 14 orang, semuanya tamatan STM dan seluruhnya teknisi. Kariernya meningkat perlahan sarmpai menjadi Kepala Percetakan IKIP Padang selama delapan tahun. Setelah menamatkan sarjana penuh, Harris langsung direkrut menjadi dosen, Itulah sebabnya, ia tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Ketika kuliah di jurusan pendidikan bahasa dan seni, barulah ia mengetahui bahwa seluk-beluk bahasa itu rursi!. Ia harus berurusan dengan morfologi, fonologi, komposisi, dan paragraf. Dahulunya, Haris tidak mempedulikan itu semua karena ia berasal dari praktisi sehingga haraya menulis saja tanpa memperhatikan kaidah bahasa. Menurut Harris, mungkin orang melihat tulisannya sudah bagus, tetapi Harris tidak bisa menjelaskan apa syarat sebuah kalimat yang baik itu. Kemudian ada orang yang meramalkan waktu itu, jika Harris sudah belajar bahasa, maka bahasanya akan menjadi rusak. Modal estetika bahasanya yang sudah hapus akan dirusak oleh wawasannya tentang ilmu bahasa.

Ternyata hal itu tidak terjadi sama sekali. Hal itu terbukti berdasarkan ulasan salah seorang komentator (yang menulis di buku kompulan Kompas tiap tahun itu) yang selalu memuji Harris. Komentator itu mengatakan bahwa bahasa Harris Effendi Thahar itu apik. Harris menganggap menulis itu sebagai suatu keterampilan, banyak orang yang berair pengetahuan, tetapi tidak trampil menulis. Ternyata, orang yang tidak berasa dari praktisi bahasa dan tidak “mengerti” bahasa, belajar bahasa justru akan membuat kemampuan bahasanya lebih bagus dari seheatanya Begitulah yang dirasakan oleh Harris selama ini.