Halaman:Asmara Moerni.pdf/53

Halaman ini tervalidasi

pingin terima gadjih saja ini boelan sekarang sadja, boeat ongkos perdjalanan”, kata bibi Ikah sesoedah berhadapan dengan toean Abdul Sidik.

„Tentang gadjih ini boelan kau minta sekarang sama sekali tidak ada keberatan, tetapi ada oeroesan apa, dan apa sebabnja Tati menangis?”

Bibi Ikah mengarti adatnja toean Abdul Sidik. Kepadanja teroes terang adalah dihargakan. Meskipoen agak berat, tetapi apa boléh boeat, ia perloe memberi keterangan sedjelasnja.

„Toean, sebenarnja Tati datang kemari dengan toenangannja, nama Amir. Ia mendjadi toekang betja. Moestinja ini hari mereka hendak menikah, tetapi Amir tidak poelang lagi zonder kasih tahoe kepada kita”.

„Apakah barangkali terdjadi ketjilaka'an atau lain hal? Soedahkah kau mentjari tahoe tentang halnja?”

„Soedah toean. Boekan karena ketjilaka'an, tetapi disebabkan karena goda'an”.

„Ikah, tjobalah kau djelaskan barangkali saja dapat berboeat sesoeatoe goena Tati”.

Tati merasa keberatan djikalau bibinja akan menerangkan tentang iapoenja hal lebih landjoet. Dari itoe ia djawil-djawil bibinja dengan maksoed djanganlah ia berbitjara pandjang lebar. Bibi Ikah tidak perdoeli djawilan keponakannja itoe dan berbitjara teroes.

„Amir dibawa lari oléh toekang njanji, toean. Makloem kota besar dan Amir anak désa baik hati, tetapi tidak mempoenjai pengalaman ditempat jang ramai ini”.

51