Halaman:Asmara Moerni.pdf/64

Halaman ini tervalidasi

soepaja diketemoekan dengan kau, Tati. Permohonan ...... saja...... itoe dikaboelkan!”

„Amir, djangan kata begitoe !”

Tati menangis dipinggir krib sebelah dada Amir. Amir letakkan tangannja jang di dalam verband djoega di kepala Tati seolah-olah maoe menghiboer.

Dokter jang dapat giliran, djaga malam, datang masoek di itoe zaal. Ia agak terkedjoet, tetapi sigera tegak kembali, mendekati tempatnja Amir. Tati jang dengan moekanja menangis ke bawah tidak mengetahoei wadjah moeka dokter jang baroe datang tadi, tetapi Amir melihat dengan terang, .... Dr. Pardi !

„Dokter, kita bertiga asal dari Tjigading” kata Amir dengan soeara poetoes-poetoes. „Saja rasa, ta' lama lagi saja koeat menahan. Dokter, tolonglah Tati. Saja tahoe dokter berhati moelia, tidak memandang deradjat. Dokter, saja harap dokter soeka ambil Tati boeat teman hidoep selama-lamanja. Selamat tinggal !!!!”

Loeka-loeka diloear dan di dalam menjebabkan Amir tidak tahan lama lagi. Dengan penoeh kehormatan Dr. Pardi toetoep moeka Amir dengan kain selimoetnja, satoe sikap jang tidak biasanja lain dokter oendjoek terhadap hanja seorang toekang betja......

Atas perminta'an toean Abdul Sidik, djinazah Amir dibawa ke koeboer dari roemahnja, dengan segala ongkos-ongkos jang ia tanggoeng, sekian harga tanahnja boeat koeboeran klas I.

Masih beberapa sa'at Tati melandjoetkan peladjarannja, sehingga anak jang dari sekolah desa ini, kemoedian mempoenjai kepandaian tidak djaoeh bedanja

62