Halaman:Asmara Moerni.pdf/7

Halaman ini tervalidasi

kepindahan saja. Saja ditempatkan di kota Betawi, dipekerdjakan pada salah satoe roemah-sakit”.

„Sjoekoer. Itoe baik. Sebab sebagaimana doeloe kau pernah berkata, ilmoe ketabiban itoe ta' ada habisnja. Boeat menambah pengetahoean satoe keoentoengan besar kalau bisa dekat dengan banjak collegas jang lebih toea dan professor-professor diantaranja kau poenja goeroe. Gampang boeat bertanja ini dan itoe. Beda dengan waktoe kau ada di Borneo. Sama siapa kau haroes bertanja ini dan itoe ?”

„Pardi, barangkali kau hendak mengaso doeloe. Gampang nanti kita berbitjara lagi”, kata njonja Koesoemapradja.

„Baiklah iboe”.

Nji R. Partiah oendjoek kakanja kamar jang telah disediakan. Ajah dan iboe mengikoeti langkah doea pemoeda ini dengan kebangga'an dan perasa'an poeas jang boléh dibatja dari air-moekanja masing-masing

Sesampainja dalam kamar jang disediakan oentoek Dr. Pardi, disitoe soedah ada empat koffer jang tadi dibawanja. Dr. Pardi laloe memboeka salah satoe diantaranja.

„Par, saja membawa oléh-oléh boeat ajah, iboe dan kau”, kata Dr. Pardi seraja keloearkan beberapa boengkoesan dari koffernja. „Ini boeat ajah, ini boeat iboe ......”.

Sampai disini perloe diterangkan bahwa familie Koesoemapradja mempoenjai seorang boedjang perempoean jang mengabdi sedari ketjil. Itoe boedjang jang soeaminja soedah meninggal, mempoenjai anak perem-

5