Halaman:Balerina Antologi Cerpen Remaja Sumatra Barat.pdf/104

Halaman ini tervalidasi

lebih dari tiga tahun belakangan ini. Tidak ada yang dapat aku lakukan sekarang ini selain berdoa kepada Allah Swt. Aku menemui dokter dan mengatakan padanya perihal dana yang akan aku keluarkan nantinya. Aku juga merujuk padanya agar aku mendapatkan sedikit keringanan dalam hal pembayaran. Untungnya, ia dokter yang bijaksana yang mau menolong kaum lemah. Aku berdoa semoga beliau mendapat balasan yang setimpal. Aku seperti baru saja memenangkan lomba, begitu mendengar kata dokter itu.

Minggu, 7 Maret 2003

Aku pulang ke rumah. Sebenarnya aku tidak tega membiarkan Amak sendirian di rumah sakit. Tapi, mau apa lagi. Aku harus pulang untuk melihat keadaan kedua adikku. Tapi, apa yang baru saja kudengar, barusan Etek Des mengatakan kepadaku bahwa Reyna telah membawa kedua adikku ke rumahnya. Aku langsung saja berangkat ke rumahnya. Aku sangat kaget ketika melihat kedua adikku memakai pakaian yang sangat bagus. Belum pernah aku melihat mereka memakai pakaian sebagus itu.

"Upik, maafkan, Rey, ya?" Ya Allah! Reyna baru saja minta maaf kepadaku. Seharusnya, akulah yang pantas minta maaf dan berterima kasih kepadanya karena dia telah mau menjaga kedua adikku dan memberinya semua yang telah tidak kami rasakan sejak Abak... "Rey, seharusnya Upiklah yang pantas minta maaf dan berterima kasih kepada Rey." Aku menunduk. "Ah, Upik, begitu saja dipermasalahkan." Aku merasa senang melihat ekspresi wajahnya. Ya, kami sudah baikan lagi. Reyna mengatakan bahwa adikku sangat senang di rumahnya, tapi Minah sangat gelisah, dia ingin sekali bertemu Amak. Aku berusaha meyakinkannya bahwa Amak baik-baik saja dan berpesan kepadanya agar tidak lupa salat dan mendoakan Amak. Aku sangat terkejut ketika Reyna kemudian menga takan bahwa ia sudah menanggung semua biaya rumah sakit. "Rey, Upik masih sanggup membayar biayanya. Kamu tidak perlu bertindak terlalu berlebihan." Reyna tersenyum "Oh, Upik, tenanglah, jangan panggil aku Reyna kalau aku

92