Halaman:Balerina Antologi Cerpen Remaja Sumatra Barat.pdf/105

Halaman ini tervalidasi

tidak tahu sifatmu. Kau pasti tidak akan mau aku “traktir”. Kau akan membayarnya setelah menang lomba Olimpiade Fisika nanti. Kau tenang saja, pikirkan bagaimana caranya agar menang di lomba itu nanti.” Aku menjadi tenang mendengarnya. Segera saja aku peluk dia dan tanpa terasa air mata yang telah kubendung mengalir dengan derasnya. Dullah tertawa melihatku, “Uni, Uni tertawa sambil menangis.”


Seminggu lebih

Sudah seminggu lebih aku tidak menulis di buku ini karena aku sibuk memikirkan persiapan lombaku. Hari ini adalah hari yang aku nantikan, Aku harus siap berlomba mengalahkan ratusan pemikir-pemikir hebat. Dan, ternyata hasilnya tidak sia-sia. Aku berhasil medapatkan Juara I untuk lomba tingkat daerah dan kini sedikit kepercayaan diri muncul setelah melihat Amak sehat dan kedua adikku baik-baik saja. Aku bersyukur kepada Allah. Ternyata, Ia mendengar permintaan hambanya yang lemah ini.


Hari yang sama

Aku menjemput Dullah dan Minah sekalian uang pinjamanku pada Reyna. Dia tersenyum. “Rey, Upik baru bisa kasih setengahnya, sisanya nanti kalau Upik menang tingkat provinsi. Boleh, kan?” Reyna mengangguk. Ya Allah, aku sangat ingin Reyna mendapatkan balasan yang jauh lebih banyak, yaitu perhatian dari orang tuanya.


Catatan:

  1. upik = kata sapaan bagi anak perempuan di Minang
  2. abak = bapak
  3. Suzuya = nama sebuah pusat belanja ritel
  4. Uni paling pamberang di dunia ko = Kakak paling pemarah di dunia ini
  5. "Jan kan mangecek ka Reyna apo penyakit amak tu, sadang awak jo indak tau apo penyakit Amak tu!" jangankan memberitahukanmu "apa penyakit Ibu," saya pun tak tahu apa penyakitnya.

93