Halaman:Balerina Antologi Cerpen Remaja Sumatra Barat.pdf/114

Halaman ini tervalidasi

cukup untuk membuat Bik Siti terkejut.

"Dia memaksa saya mencari tahu tentang Doni. Saya diancamnya," Bik Siti kembali menangis.

"Bik Siti diancam apa?" tanyaku setelah dapat menguasai emosiku.

"Dia mengancam akan menghancurkan keluarga Tini jika saya tidak mau bekerja sama dengannya."

"Tini, adik Bik Siti yang di kampung itu?"

Bik Siti mengangguk, kemudian menambahkan "Bahkan, dia bilang biar dia ikut merasakan penderitaan teman masa kecilnya."

"Maksudnya, Ina?"

Bik Siti jadi takut melihat ekspresiku. Tapi, ia tetap buka suara walaupun agak takut-takut.

"Kalau boleh, saya ingin memberi tahu sesuatu kepada Tuan."

"Apa, Bik?"

"Tini yang memberi tahu saya. Katanya Ina sebenarnya tidak ingin meninggalkan Tuan karena ia sangat membenci Raymond."

"Aku tahu, Bik. Sebenarnya akulah yang menyuruh Ina pergi. Aku cukup tahu diri. Aku tidak sebanding dengan keluarga Ina. Apalagi, aku kekurangan fisik." Aku tersenyum getir.

"Oh, ya Bik, Ina banyak bercerita sama Tini?"

"Dulu ya, tapi sejak Raymond membawa Ina ke Medan, hubungan Ina dan Tini terputus."

"Dasar bajingan," umpatku. Sebenarnya aku sudah mencium bau busuknya sejak masa-masa kanak-kanak. Dasar manusia sampah." Aku terus mengumpat.

Bik Siti diam saja. Menunggu sampai emosiku normal kembali. Setelah amarahku mereda, baru aku merasakan kejanggalan dalam kasus ini.

"Tapi, Bik, apa untungnya bagi Raymond menganiaya Doni?" tanyaku segera sebelum Bik Siti beranjak.

Bik Siti menggeleng lemah. "Saya tidak tahu, Tuan. Dia tidak mau memberi tahu,"

"Aneh, punya dendam apa ia terhadap Doni?" tanyaku seolah-olah pada diri sendiri.

102