Halaman:Balerina Antologi Cerpen Remaja Sumatra Barat.pdf/30

Halaman ini tervalidasi

kolokan dan bandel. Tapi, papa dan mamanya hampir tidak pernah memarahi sifat buruk yang dimiliki Karen. Mungkin karena papa dan mamanya harus pergi bekerja pagi hari dan pulang malam harinya. Jadi, mereka tidak melihat hal-hal yang buruk tentang Karen. Atau, bisa juga karena rasa bersalah kedua orang tuanya yang tidak sempat menunggui Karen di rumah karena dari kecil Karen sudah biasa dititipkan di tempat penitipan bayi atau di rumah tetangga yang dipercaya. Mungkin karena itulah orang tuanya selalu menuruti apa kemauan Karen.

Malam itu ketika makan bersama, seluruh anggota keluarga merasa aneh dengan sikap Karen yang menjadi pendiam dan selalu memasang muka cemberut.

“Tumben, hari ini kamu pendiam. Ada apa, Karen?” celetuk Rena, kakaknya yang paling tua.

“Iya. Mama juga merasa heran dengan sikap kamu. Ada apa, sih?” Mamanya ikut bertanya.

“Tek Emi dipecat saja, Ma!” sergah Karen kesal.

“Loh, kok, gitu?”

“Mama tahu, nggak! Tek Emi itu selalu datang terlambat. Siang tadi malah tidak datang sama sekali. Karen harus menyeterika sendiri. Teman-teman di sekolah ngeledekin baju seragam Karen yang kusut karena seterikaan Karen yang nggak rapi.”

“Bukankah itu bagus? Kamujadi bisa menyeterika sendiri tanpa bantuan orang lain.”

“Tek Emi itu di sini dibayar. Jadi, dia nggak boleh seenaknya, kan. Pokoknya Karen nggak suka. Titik!”

Dengan kesal Karen meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya dan mengunci diri dari dalam.

Esok harinya Tek Emi kembali datang dengan memasang wajah lesunya, seolah-olah mengharapkan belas kasihan dari mama Karen. Karen sengaja menguping pembicaraan mereka.

“Bagaimana ini, Bu?” Tek Emi mulai mengeluh.

“Mengapa, Emi?” mama Karen balik bertanya.

“Hari ini kembali ada keluhan dari anak-anak. Isil mengeluhkan seragamnya yang sudah kecil, Ujang mengeluhkan utang bukunya yang sudah menumpuk, sementara si Sari sudah empat bulan tidak bayar uang sekolah.”

18