Halaman:Balerina Antologi Cerpen Remaja Sumatra Barat.pdf/31

Halaman ini tervalidasi

“Tek Emi sendiri kan juga suka mengeluh ke mama,” Karen yang sedang menguping berkata dengan nada mengejek.


Yang membuat Karen semakin kesal, mamanya selalu terlena dengan keluhan Tek Emi. Kadang-kadang Tek Emi mengeluh pada saat mama Karen sedang tidak punya uang. Tapi, mama yang selalu merasa kasihan dengan setiap keluhannya merasa harus memberikan pertolongan. Tentu saja, dengan sikap mamanya itu, Karen merasa sangat bangga memiliki seorang mama, seperti mamanya. Tapi, tindakan Tek Emi semakin membuatnya kesal, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Karen sempat berpikir, sepertinya hanya Tek Emi saja yang selalu mengalami saat-saat yang sulit. Padahal, saat itu keluarganya juga sedang mengalami kesulitan keuangan.


Semakin hari berlalu, semakin besar rasa benci Karen pada Tek Emi. Selalu saja ada tindakan Tek Emi yang memicu rasa benci dalam diri Karen. Karen juga mulai menganggap bahwa mamanya sudah tidak mempunyai waktu lagi untuknya. Pada awalnya mama yang sudah mulai pulang sore selesai bekerja membuat Karen sangat bahagia. Tapi, lama kelamaan Karen menganggap, kalau waktu itu bukan untuknya. Karen tidak bisa bermanja-manja dengan mamanya karena setiap waktu yang tersisa selalu habis untuk mendengar keluhan Tek Emi.


“Anak sebenarnya, yang mana, sih!” Karen berkata dengan kesalnya.


Karen menganggap mama sudah tidak sayang lagi kepadanya, Itu berarti, Tek Emi harus diberi pelajaran. Karen memulai sikap usilnya. Ketika melihat keranjang kain gosokan, tiba-tiba muncul pikiran iseng dalam diri Karen. Karen membuka lemari pakaian, Di sana terlihat pakaian yang sudah tersusun rapi. Lipatan pakaian itu dibukanya dan diletakkan kembali ke keranjang seterikaan yang membuat Tek Emi harus menyeterika kembali pakaian itu. Tek Emi yang

melihat itu merasa heran. Menurutnya pakaian itu sudah disetetikanya, tapi mengapa sudah ada lagi di hari berikutnya. Karen yang melihat wajah terbengong-bengong Tek Emi merasa senang dan puas, Tapi, keisengannya tidak berhenti

19