Halaman:Balerina Antologi Cerpen Remaja Sumatra Barat.pdf/32

Halaman ini tervalidasi

sampai di situ, Karen mulai memperbanyak cucian dan berarti juga memperbanyak kain seterikaan. Contohnya, Karen mengganti baju tiga sampai empat kali sehari, dan itu belum termasuk seragam sekolah dan baju tidur. Tek Emi pun terbungkuk-bungkuk mengangkat keranjang kain kotor dan menghadapi bertumpuk-tumpuk kain seterikaan. Tapi, Tek Emi tetap tersenyum manis kepada Karen yang membuat Karen kehabisan akal untuk menjahilinya.

Suatu hari Karen ingin mengenakan kembali gaun jin terusan berwarna pink yang sangat disukainya. Karen mencari-cari gaun itu dalam tumpukan kain di lemarinya. Ketika ja tidak menemukan gaun itu, ia mengalihkan pencariannya ke lemari pakaian mama.

“Mungkin nyasar di lemari mama,” pikir Karen.

Lagi-lagi Karen tidak menemukan gaun itu. Melihat Karen yang membongkar-bongkar lemari mama, membuat mamanya bertanya.

“Apa yang sedang kamu cari, Karen?”

Mama ngeliat baju Karen yang berwarna pink, nggak?

Mama merasa heran dengan pertanyaan Karen dan menjawab.

“Baju itu sudah mama berikan kepada anak Tek Emi.”

“Bisa-bisanya mama memberikan baju itu. Karen nggak mau dan nggak suka baju kesayangan Karen dipakai anak Tek Emi!”

“Karen...Karen. Ini hanya karena baju itu diberikan pada Tek Emi, kan? Kalau saja baju itu diberikan kepada orang lain, mungkin kamu tidak akan marah seperti ini. Padahal, dulu kamu yang tidak suka dengan baju itu. Kamu bilang baju itu sudah sempit. Jadi, terserah mama mau berikan kepada siapa.”

Mama berjalan meninggalkan Karen seorang diri, yang masih tenggelam dalam kemarahannya. Tidak ada yang bisa memahami perasaannya saat itu. Di dalam dirinya cuma ada rasa marah dan kesal. Karen berniat menanyakan baju itu kepada Tek Emi. Setiap pulang sekolah, Karen selalu menunggu kedatangan Tek Emi, sampai-sampai mama sedikit marah dengan sikap kekanak-kanakan Karen.

20