Halaman:Balerina Antologi Cerpen Remaja Sumatra Barat.pdf/40

Halaman ini tervalidasi

“Wah! Kerja besar! Bisa dapat duit segepok kita.”

“Aku akan ajak Allen ke utara setelah ini. Ia mesti jadi gadis terpelajar. Kalau tidak, bisa dikutuk ayah, aku ini.”

Kemudian Rogan terdiam. Ada sebuah impian terbersit di matanya yang legam.

“Kau lihat Paman Bernie?” tanya Galih tiba-tiba.

“Ada apa di gudang. Memperbaiki Alpha 18.”

“Bukannya kita pakai Rho 7. Lebih keren! Dasar genius! Kurang kerjaan.”

Keduanya berhenti mengobrol ketika seorang pria mendehem dan melangkah ke arah mereka. Beberapa kali Galih menggelar kertas lain di atas meja. Beberapa kali pula Rogan ikut mengamatinya. Sementara yang lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

***

Sore terakhir di bulan Desember...Rogan menepati janjinya. Udara masih cukup hangat ketika Allen mengikuti Rogan memasuki sebuah toko pakaian di ujung sebuah jalan besar di kota. Kebetulan, pemilik tokonya ramah sekali sehingga Allen diperbolehkan memilih sendiri sweater sesuka hatinya.

“Cocok sekali dia memakai sweater. Dia adikmu?" tanya wanita pemilik toko dengan basa basi yang dibuat-buat. Kelihatan saja.

“Betul!” sahut Rogan singkat.

“Kalian tinggal di desa?” Sekali lagi Rogan mengangguk.

“Nah! Yang itu pas sekali!” seru wanita pemilik toko begitu Allen muncul dengan sebuah sweater biru muda yang rajutan wolnya cukup menarik. Setelah membayar, keduanya segera meninggalkan toko tersebut. Bel pintu berdenting nyaring ketika mereka melewatinya. Allen mengintip sweater itu dari balik kertas pembungkusnya.

“Keren.'

“Ya, keren! Boleh kau pakai kalau sekolah diutara nanti.'

Dituntunnya Allen menelusuri trotoar yang ramai pejalan kaki. Orang kota selalu tergesa melakukan apa saja. Sering kali mereka ditabrak oleh beberapa pejalan kaki berjas yang memang sangat terburu-buru.

28