Halaman:Balerina Antologi Cerpen Remaja Sumatra Barat.pdf/42

Halaman ini tervalidasi

“Rogan, semalam rencananya berubah. Dia tidak memberi tahu? Oh, mungkin tak sempat. Katanya, dia ada urusan ke luar negeri.”

“Aku tidak mau tahu. Nanti malam aku ke markas!” Rogan membanting gagang telepon. Pekerjaannya tak beres dan ja sangat tidak puas.

“Aku nguping pembicaraanmu tadi,” ujar Allen jujur saat mereka turun dari bus desa yang nyaris kosong itu. Lalu, mereka mendaki jalan setapak di antara cemara. Senja mulai menggelar mega di ufuk barat. Sekawanan unggas pulang berbondong-bondong dan terbang rendah ke arah hutan di lembah sana.

“Kebiasaan buruk, Allen!”

“Aku...aku masih penasaran dengan pekerjaanmu di malam hari. Ayolah, Kak! Kasih tahu,” Rogan menarik napas panjang. Ia masih melangkah dengan santai sambil membenamkan kedua tangannya dalam-dalam ke saku jaketnya. Sekepulan uap gunung yang dingin mengalir dari mulutnya.

“Pekerjaan yang rumit,” gumamnya.

“Bukannya kerja di pabrik kertas lumayan?”

“Pabrik kertas? Tidak, Allen. Pekerjaan yang ini jauh lebih baik. Uang kita melimpah di bank kalau sudah tinggal di utara nanti.”

Allen terdiam untuk sejenak.

“Apa itu Alpha 18?”

“Tahu dari mana?”

“Dari saku bajumu.”

“Benda itu...semacam peledak. Bom.”

“Lalu ..., kau namakan apa pekerjaanmu itu?”

Rogan hanya angkat bahu. Sungguh jawaban yang tidak menyenangkan Allen. Dibiarkannya Rogan melangkah lebih cepat mendahuluinya. Rumah kecil mereka di puncak bukit sudah kelihatan cerobong asapnya.

Senja memudar di kaki gunung. Meninggalkan sisa-

sisa pendaran berwarna jingga di langit yang mulai gelap.

30