Halaman:Buku peringatan 30 tahun kesatuan pergerakan wanita Indonesia.pdf/240

Halaman ini tervalidasi

KENANGAN DALAM DETIK-DETIK PROKLAMASI.
Oleh : I. N. Suprapti.


A. Tanggapan kami terhadap Proklamasi.


Ketika itu kami berdiam dikota Djokjakarta. Maka itupun kami tidak tahu suasana di Pusat. Di Ibukota Djakarta. Teristimewa kesibukan-kesibukan, ketika Djepang akan menjerah kepada Sekutu. Tidak tahu kami, kesibukan-kesibukan para pemimpin dan tokoh-tokoh terkemuka di waktu itu.

Sampai pada suatu hari terdetik „ Indonesia Merdeka", dipimpin oleh Dwitunggal Soekarno Hatta. Berita itu hanja sajup-sajup kami dengar. Ialah berita tentang kemerdekaan negara kita . Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945.

Kami tidak begitu terkedjut dengan berita ,,Indonesia-Merdeka" itu. Sebab kami anggap, ia datang dari pihak Djepang. Bukankah Djepang telah berdjandji akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia? Dan telah dibentuk pula, suatu Panitya Persiapan Kemerdekaan, jang beranggauta 62 orang. Terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka, dan antara lain terdapat djuga tokoh wanita, seperti misalnja Nj. Sunarjo Mangunpuspito.

Tetapi kemudian ternjata, sangkaan kami keliru. Proklamasi itu tidak datang dari pihak Djepang. Melainkan dari pihak Indonesia sendiri. Pemuda-pemuda dan golongan rakjat revolusioner, jang bertekad-bulat, merentjanakan Proklamasi itu. Dan semakin hari, bertambah djelas bagi kami rangkaian perkembangannja. Djepang telah menjerah kepada Sekutu, akibat djatuhnja bom-atom di Hirosima dan Nagasaki. Tenno Heika telah meminta damai. Dan tentara Sekutu jang diwakili Inggris, akan mendarat di Indonesia konon untuk ,,mendjaga keamanan".

Segera djuga kesibukan-kesibukan terdjadi di Daerah kami. K.N.I. Daerah (Komite Nasional Indonesia) dibentuk. Banjak tokoh-tokoh Daerah dikumpulkan. Diantaranja terdapat djuga para wanita djika tak chilaf seperti : Nj. D.M. Hadi prabowo, Nj. Sukiah (dahulu Nj. Sutomo), dan terdiri penulis sendiri. Datang sebagai wakil dari K.N.I.P. (Komite Nasional Indonesia Pusat) ketika itu, Sdr. Ir. Sakirman. Jang memberikan pendjelasan soal-soal disekitar Proklamasi itu. Bahwa rakjat Indonesia, harus mendjalankan „staatsgreep" (perebutan kekuasaan) terhadap Djepang, jang ketika itu hakekatnja telah kalah. Memindahkan kekuasaan Djawatan-djawatan, kantor-kantor, gedung-gedung dan sebagainja, dari tangan Djepang ketangan bangsa Indonesia. Djika mungkin dengan djalan damai, perundingan. Dan djika tidak mungkin, sendirinja dengan kekerasan. Maka untuk ini di adakan persiapan-persiapan. Pengerahan tenaga. Tidak ketinggalan tenaga-tenaga kaum wanita.

Sedang Pemerintah Pusat di Djakarta akan mendjalankan diplomasi", djika tentara Inggris datang. Perdjuangan akan dilakukan setjara „,non-violens". Tidak memakai kekerasan sendjata. Waktu itu di Ibukota Republik Indonesia, Djakarta, telah dibentuk suatu Pemerintah Pusat. Kabinet Presidentil dipimpin oleh Dwitunggal Soekarno-Hatta. Sudah mempunjai pula Undang-undang Dasar Sementara, jang memuat 42 fatsal. Antaranja jang terkenal ialah fatsal 33. Kesedjahteraan-Sosial.

B. Kami semua serentak siau-bangkit.

Maka serentak bangkitlah rakjat di Daerah kami. Pemuda, kaum tua, wanita, ibu-ibu, pemudi-pemudi dan sebagainja. Mereka bergerak memberikan sumbangan tenaga. Dengan matjam-matjam tjara-tjara. Wanita-wanita dikampung-kampung, pemudi-pemudi disekolah, bekerdja mendukung-mempertegak negara kita jang baru sadja merdeka itu. Daripada gerak-kesibukan kaum wanita ini, dapat kami tjatat:

  1. Dalam penaikan berdera Merah-Putih di gedung Gubernur (jang kemudian mendjadi gedung kediaman Presiden ketika Ibukota hidjrah dari Djakarta ke Djokjakarta), maka seorang pemudi telah naik tiang. Memasang bendera tersebut.
  2. Disekolahan-sekolahan, rumah-rumah, para pemudi membikin lentjana Merah-Putih dengan bahan tjita dan dibagikan kepada rakjat, untuk dipakainja.
  3. Para wanita, ibu-ibu, pemudi-pemudi setjara gotong-rojong Rukun-Kampung, Rukun-Tetangga, bergolongan-bersama, memikul tugas digaris-belakang. Untuk pemuda-rakjat jang mendjalankan ,,staatsgreep" terhadap Djepang itu, jang ternjata tidak senantiasa suka melepaskan kekuasaannja dengan djalan damai. Mereka mengatur makan, minum, djuga untuk pertolongan pertama untuk ketjelakaan.

Disamping gerak jang demikian itu, maka terdapat pula gerak perkembangan jang bersifat organisasi. Untuk itu dapat ditjatat:

  1. Berdirinja Perwani. (Persatuan Wanita Indonesia). Hakekatnja organisasi ini, bukan organisasi jang dibentuk baru. Melainkan mendjelmakan apa jang telah ada. Ialah Fujin Kai, organisasi wanita dizaman Djepang, jang dirubah mendjadi Perwani. Dengan pemimpin-pemimpinnja tatkala itu ialah Nj. D. M. Hadiprabowo, dan Nj. D. D. Susanto. Organisasi ini bertugas digaris belakang. Untuk pemuda-rakjat jang bertempur, jang mendjaga keamanan dibatas-batas kota, dan lain-lain. Djuga merupakan garis-belakang bagi K.N.I. Daerah ketika itu, jang berpuluh-puluh djumlah anggautanja, dan bekerdja siang-malam.
  2. P.P.I. (Persatuan Pemudi Indonesia), dipimpin oleh Nn. Astuty.
  3. P.P.P.I. (Persatuan Pegawai Puteri Indonesia). Dipimpin pada waktu itu oleh Nn. Widajati Sugardo (sekarang Nj. Sutardjo) dan pemimpin-pemimpinnja jang lain seperti Nn. Suparni (sekarang Nj. Redansjah), Nn. Sri Oemiati (sekarang Nj. M. Siregar) dan jang lain-lainnja.

Organisasi tersebut hakekatnja telah berdiri beberapa bulan sebelum Djepang menjerah, atas usaha Nn. Widajati Sugardo dan kawan-kawannja tadi. Djadi tidak didirikan oleh Djepang, tetapi

224