Halaman:Cerita Rakyat Daerah Irian Jaya.pdf/25

Halaman ini tervalidasi

Orang itu berkata kepada Waise, katanya: ”Jangan belah dekat dimana saya ada. Saya masih hidup”. Setelah mereka membela dan menarik keluar Beworpits, mereka mencucinya dengan air sampai bersih. Sementara itu, penduduk kampung membagi daging ular itu dan masing-masing pulang kerumah. Orang yang memanah ular pertama kali, menerima kepala, sedang dagingnya dibagi. Sebagian besar dibawa ke rumah Waise. Orang yang pernah makan daging ular itu masih hidup 3).

Mereka itu hidup ditepi sungai Siretsj yang namanya terdiri dari Koi, Hos Awok, Fos, Damen dan Biwar. Nama-nama itu kemudian dijadikan nama desa yang kita kenai sekarang ini. Karena penduduk desa tersiebut diatas dan penduduk desa Warse adalah satu keluarga.

Di gua itu masih hidup seseorang bernama Peu. Karena itu pada suatu ketika Waise berangkat untuk mengunjunginya, dan mencari tempat baru sekitar sungai Bipum, Dou dan Sindir. Setelah Waise bertemu dengan Peu, mereka berunding supaya membuka kampung mereka satu dekat yang lain. Akhirnya Peu memutuskan untuk membuka tempat tinggalnya yang baru ditepi sungai Sindir. Setelah itu ia menarik banyak pengikut dari atas sungai Siretsj supaya menetap di Sindir. Kampung-kampung yang turun dari atas Siretsj itu adalah Atsj, Koi, dan Namkai. Setelah itu, Peu juga memanggil orang lain dari Unir. Kampung-kampung yang datang dari Unir itu adalah Yamasj, Jondiu dan Yufri. Setelah berkumpul semuanya, mereka mengadakan pesta. Setelah itu mereka mulai membangun rumah-rumah mulai dari sungai Sam, Jets sampai ke sungai Yuar. Mereka itu hidup dengan rukun dan damai disitu.

1). Tepung sagu itu naik dengan sendirinya, ayua. - Menurut kepercayaan orang Asmat, tepung sagu yang naik dengan pesat didalam penampung, menandakan adanya bahaya yang akan mengancam dalam waktu yang singkat. Menandakan bahwa ada musuh yang sedang mengintai.

2). om = alat penggali 3.) informasi menurut informan.

9