Halaman:Cerita Rakyat Daerah Irian Jaya.pdf/62

Halaman ini tervalidasi

burung garuda itu, dan matilah burung itu seketika. Amboruari lalu menyembelih burung itu dan dagingnya ia bagi-bagikan pada tiang-tiang rumah dari keret-keret yang telah menjadi korban keganasan si burung garuda. Juga kedua cucu-nenek yang masih hidup ini mendapat bagian. Cucu si nenek tua ini lalu segera masak dan mereka bertiga makan. Setelah makan Amboruari berkata pada nenek: ”Nek, saya akan bermalam disini !”

”Baiklah, anak”. Sambut si nenek. Malampun tibalah dan merekapun tidur dengan nyenyaknya tanpa sedikit rasa takutpun menghantui mereka. Dan pada pagi-pagi benar sebelum lalat terbang, bangunlah Amboruari yang berkoreng ini, pergi mengelilingi kampung. Sejenak ia berdiri, lalu menghentakkan lakinya ke atas tanah, dan berseru : ”Hai orang-orang Windesi yang telah mati ! Bangkitlah kamu, mari kita kedusun sambil menokok sagu dan mencari buah-buahan”.

Tapi tak seorangpun yang menyahuti suara Amboruari. Ia merasa bahwa menawarkan lainnya lagi. Amboruari berseru lagi. ”Hai orang-orang Windesi yang telah mati ! Bangkitlah kamu, mari kita berdayung ke Selatan (yaitu ke Wondama) menukar sagu dengan ikan”.

Selesai ia mengucapkan kata : itu, bangkitlah semua orang- yang telah meninggal/mati, menarik perahu ke pantai dan mereka beramai-ramai berdayung ke Wondama mencari sagu dan menukarkan dengan ikan.

Akhirnya, oleh karena orang Windesi tak mau mendengar atau mengikuti tawaran Amboruari yang pertama, maka sampai sekarang ini di Windesi tak ada dusun sagu, walaupun penduduknya makan sagu. Mereka memperoleh sagu dari Wondama dengan cara menukarkan dengan ikan.

Demikianlah ceritera Amboruari yang piatu, yang telah menghidupkan kembali orang Windesi yang telah mati.

======

46