Halaman:Citra Manusia Dalam Puisi Indonesia Modern 1920-1960.pdf/123

Halaman ini tervalidasi

Teruslah kau kembang tenis mengwarni
Harum semerbak menghambur wangi!

Seorang tua 'lah sudah uban
'lah lanjut usia 'lah lemah badan
Termenung diam seorang diri

Memandang dunia penuh bercinta
Cintanya hanya tahu menerima
Tiada tahu memberi ...

(Pujangga Baru, VI/9, Maret 1939)

Di sisi lain, dalam sajak Muhammad Yamin, "Gubahan", kita temukan citra manusia yang ingin mendarmabaktikan dirinya di usia mudanya, seperti terungkap dalam larik-larik ini.

Beta bertanam bunga cempaka
Di tengah halaman tanah pusaka,
Supaya selamanya, segenap ketika
Harum berbau, semerbak belaka.

Beta berahu bersuka raya
Sekiranya bunga puspa mulia
Dipetik handaiku, muda usia
Dijadikan karangan, nan permai kaya

Semenjak kuntuman, kecil semula
Beta berniat membuat pahala,
Menjadikan perhiasan, atas kepala.

O, cempaka, wangi baunya
Mari kupetik seberapa adanya
Biar kugubah waktu lagi muda.

(Jong Sumatra IV/4,5, Mei 1921)

Dari larik-larik sajak Muhammad Yamin tadi tampak pada kita sosok

manusia yang ingin dirinya berguna untuk orang lain, seperti terbaca juga dalam sajak A.M.Dg. Mijala, "Rindu":

114

Citra Manusia dalam Puisi Modern Indonesia 1920-1960