Halaman:Citra Manusia Dalam Puisi Indonesia Modern 1920-1960.pdf/143

Halaman ini tervalidasi

mendapat apa berpangku dengan umur
mendapat apa berpangku dengan mati

Kalau mati biarlah di tengah laut
pecah berpencar dengan papan sampan
mencair ke dasar
Cinta, tubuh, sampan, dan laut
terasa masing-masing satu ibu
satu ayah, dan satu nenek.

(Romance Perjalanan I, 1955)

Hidup itu indah dan penuh arti, demikian diungkapkan Kirdjomuljo dalam sajaknya, "Memori". Untuk merebut keindahan hidup itu, si aku lirik berjuang dengan sekuat tenaga. Oleh karena itu, dalam sajak "Memori" yang dikutip sebagian berikut ini, kita temukan citra manusia yang ulet, yang mengabdikan dirinya untuk kerja dan perjuangan hidup karena dalam perjuangan hidup itu terletak keindahan dan makna kehidupan ini.

MEMORI

Bukan soalnya aku berharap
bukan pula mau berpinta
Soalnya tak bisa kuhidup
tanpa keindahan
keindahan wajah, keindahan maut
keindahan cinta, keindahan umur

Itulah, maka segala kupertaruhkan
sampai dasar kematian

Dan sudah waktunya jadi mengerti
kelahiran bukan lagi main-main
kehadiran bukan lagi tanpa sebab
serupa kelahiran puisi
bukan lahir tiada dera
bukan kata tiada arti
....

(Romance Perjalanan I, 1955)

134

Citra Manusia dalam Puisi Modern Indonesia 1920-1960