Halaman:Citra Manusia Dalam Puisi Indonesia Modern 1920-1960.pdf/76

Halaman ini tervalidasi

Suaranya melandai
turun ke pantai.

Jika segala senyap pula,
berkata pemukat tua:
"Anjing meratapi orang mati!"

Elang laut telah
hilang ke lunas kelam
topan tiada bertanya
hendak ke mana dia.
Dan makhluk kecil

yang membangkai di bawah
pohon eru, tiada pula akan
berkata:
"Ibu kami tiada pulang."

(Jassin, 1959: 89—90)

Sajak "Elang Laut" Asrul Sani itu secara alegoris mengisahkan perjuangan seorang ibu dalam menghidupi anak-anaknya. Tantangan kehidupan yang keras tak dihiraukannya demi cinta dan rasa tanggungjawabnya terhadap anak-anaknya hingga akhirnya ia sendiri menjadi korban. Dengan demikian, sajak "Elang Laut" Asrul Sani menyiratkan citra seorang manusia yang penuh pengabdian dan tanggung jawab pada keluarga.

4.4 Citra Manusia yang Menginginkan Pembaruan

Dari sejumlah sajak Indonesia tahun 1920—1960 yang mengemukakan masalah hubungan manusia dan masyarakat terdapat tiga sajak yang menampilkan citra manusia yang menginginkan pembaruan dalam masyarakatnya, antara lain sajak Sutan Takdir Alisjahbana, "Menuju ke Laut". Manusia yang menginginkan pembaruan dalam masyarakatnya dapat dikatakan lahir karena adanya konflik antara seorang manusia dengan masyarakatnya. Konflik antara manusia dan masyarakat pada umumnya muncul karena perbedaan kepentingan, aspirasi, cita-cita, dan pandangan hidup. Bisa juga konflik antara manusia dengan masyarakatnya lahir karena penolakan terhadap kemapanan atau sesuatu yang dipandang usang, seperti tampak dalam sajak Sutan Takdir Alisjahbana berikut ini, "Menuju ke Laut":

Manusia dan Masyarakat

67