Halaman:Memutuskan pertalian.pdf/54

Halaman ini tervalidasi

ke mari, kami sudah memperundingkan Syahrul, cucu ibu. Menurut mupakat kami, mamak telah mengizinkan Syahrul saya bawa ke Pontianak. Itulah sebabnya ibu mamak panggil, akan memin ta izin dari pada ibu saja lagi."

"Ya, Allah!" jawab Tiaman sekonyong-konyong. Mukanya berubah menjadi pucat, air matanya berlinang-linang pula. Dengan suara putus-putus ia berkata, "Tidak kasihankah Sutan kepadaku? Dengan siapa saya di rumah yang sebesar ini? Sejak isteri Sutan meninggal, hanyalah Syahrul yang saya harapkan lagi. Kasih sayangku sudah tertumpah kepadanya seorang, dialah obat jerih pelerai demam kepadaku. Sekarang dia akan Sutan bawa, tak dapat tiada sengsai saya ditinggalkannya."

Jangankan sedih hati guru Kasim mendengar jawab mentuanya yang disertai dengan air mata itu, malahan bertambah panas hatinya. Terbayang di matanya kejadian tiga bulan yang sudah bagaimana Tiaman menahan isterinya pergi bersama-sama dengan dia ke Pontianak. Maka ia pun berkata sendirinya; "Karena mentuaku ini, tiga bulan aku hidup sebatang kara di negeri orang. Cukuplah aku menahan sedih karena kematian isteriku, sekarang hendak dilukainya pula hatiku dengan jalan menahan anak kandungku. Sungguh, tak menenggang hati orang sedikit jua mentuaku ini. "Sambil menarik napas akan menahan hatinya yang mengkal itu, guru Kasim berkata dengan sabar, katanya, "Tidak mengapa, ibu ? Tiap-tiap bulan puasa kami pulang menemui ibu!"

"Jika Sutan ingin Syahrul tidak bernenek lagi, suka hati Sutanlah. Tak dapat tiada saya mati kejang sepeninggalnya. Saya minta dengan sangat kepada Sutan, janganlah kiranya Sutan bawa cucuku."

"Ibu!" ujar guru Kasim sebagai orang tak sabar lagi. "Sayang ibu atau bapa kepada anaknya, tentu ibu sudah maklum, bukan? Sebab itu ibu tenggang pulalah hati saya sedikit. Bagi saya pun yang saya harap hanya Syahrul pula, karena saya sebatang kara, tidak bersanak saudara. Ibu di kampung, banyak akan perintang hati; jadi tidaklah akan lama ibu menanggung sedih ditinggalkan Syahrul. Akan tetapi saya sendiri saja di negeri orang, lain tidak hanya Syahrul yang akan pengobat hati rusuh kepada saya."

"Tak mungkin rasanya Syahrul berpisah dari padaku, Sutan!"

56