Halaman:Perang Bratajoeda.pdf/66

Halaman ini tervalidasi

65

kadoea tangannja, hingga anak moeda itoe djadi mati di depan matanja dia poenja ajah.

Karna meliat begitoe djadi sanget goesar. Dengen kaloearken soeara treak kras dia madjoeken kreta prangnja, jang dihiasi indah sekali, pake klintingan-klintingan dan ditarik oleh koeda-koeda poeti. dengen kibarken bendera kapala gadjah. Tatkala itoe lantas djoega seanteronja balatentara Korawa boenjiken tamboer-tamboer dan slompret-slompret, hingga soearanja amat rioeh.

Soeara mendjepratnja Karna poenja gendewa ada njaring sekali dan oedjan anak-panah dia tambahken ka djoeroesan kaoem Pandawa. Ini penggempoeran ada amat seroe.

„Djangan goegoep, Ardjoena”, kata Kresna pada Ardjoena. „Tinggal tetep sabar, Ardjoena!”

„Saja matoer banjak trima kasih,” djawab Ardjoena. „Pertandingan jang heibat sekarang djoega terdjadi!”

Seperti banteng-banteng mengamoek kedoeanja orang gaga perkasa itoe serang-menjerang dengen sanget santer. Ardjoena