Halaman:Taman Siswa.pdf/16

Halaman ini tervalidasi

itu batin dan lahir, menurut kodratnja sendiri. Inilah jang disebut sistem Among.

Bahwa hak mengatur diri sendiri sebagai pembuka program-azas itu akan menarik bagi seorang nasionalis, dapatlah dimengerti, sedang kita djuga tjenderung untuk berkata, bahwa tidak dapat ada damai, dimana seseorang dirintangi dalam pendjelmaan hidupnja jang biasa, damai termaksud setjara pedagogis, djadi damai batin djuga, ditukar dengan damai lahir, damai politik. Dengan pengertian kodrat (alam) Dewantoro rupa²nja achirnja telah mendapat pegangan dan dalam hal ini ia mendapat bantuan dari tjara berpikir Djawa dan karena itu tjita² umum dari pemikir² dan ahli² didik Eropah seperti Rousseau, Pestalozzi dan Montessori (tetapi dengan metodik pengadjarannja jang menunggu-nunggu „masa² peka, lekas merasai” tidak dapat ia memulai apa²) dapat dipertalikannja dengan tradisi Djawa jang paling baik. Sistem Amongnja membuat pengadjar lebih dari seorang guru (== ia jang dipertjajai dan diikuti), seorang pamong (pemelihara), jang berdiri dibelakang sebagai pemimpin, tetapi selalu djuga mempengaruhi (Djawanja: tutwuri andajani).

2. Dalam sistem ini pengadjaran tidak lain artinja dari mendidik murid mendjadi manusia jang berdiri sendiri dalam merasa, berpikir dan bertindak. Disamping memberi pengetahuan jang perlu dan bermanfaat, Guru harus djuga melatih murid dalam mentjari sendiri pengetahuan itu dan memakai setjara bermanfaat.

Inilah jang diutamakan oleh sistem Among.

Pengetahuan jang perlu dan bermanfaat ialah pengetahuan jang mentjukupi kebutuhan² manusia lahir dan batin sebagai anggota dari pergaulan-hidup.
Dalam suasana bebas ini hukuman adalah konsekwensi jang sewadjarnja dari suatu perbuatan jang salah, dimana pemimpin hanja mewakili prinsip mengatur dari masjarakat. Djuga seperti di Eropah hal ini dapat djuga dalam praktik membawa kebrandalan jang tidak disukai, walaupun risiko ini pada anak Indonesia dengan rasa hormatnja jang tradisionil kepada orang tua kurang besarnja lagi. Apakah jang achir ini akan berlaku djuga pada waktu j.a.d. adalah mendjadi pertanjaan, apabila Pak Said dengan rasa gembira melihat, bahwa anak Indonesia telah sedjak penjerahan kedaulatan memperlihatkan rasa kesedaran diri sendiri jang lebih besar.
Dalam sistem idealistis Taman Siswa kebebasan seperti jang kita lihat, diartikan dalam arti positif sebagai penghapusan rintangan² pendjelmaan hidup jang biasa dan karena itu damai dan tertib dapat ada. Dengan kebebasan si anak sampai kepada mewudjudkan diri sendiri dan hal itu berarti untuk manusia: kepada mewudjudkan nilai. Selama si anak dengan discipline sendiri belum sampai kepada tertib batin dan tata lahir, harus hal itu dibantu dengan perintah² melakukan tugas. Tetapi untuk inipun dapat bekerdja sendiri adalah sjarat dan mengadjarkan, bagaimana mentjari sendiri pengetahuan jang diperlukan, diutamakan.

Si anak tidak boleh mendjadi objek, sebab itu sekolah harus mendjadi sekolah berbuat, dimana unsur mentjipta pada anak itu dapat berkembang. Bukanlah untuk menghasilkan manusia jang sama matjamnja, tetapi untuk membina pribadi². Djuga „kerdja kasar” tidak perlu takut diberikan kepada anak itu, ia harus beladjar menolong diri sendiri dan karena itu memperoleh keberanian hidup. Untuk tidak memutuskan rasa kebebasan itu haruslah ruangan² kelas se-dikit²nja

13