Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah: Perbedaan revisi

tidak ada ringkasan suntingan
(add categories)
 
Berbareng dengan <i>crucial period</i>-nya krisis-krisis kabinet dan krisis demokrasi itu, kita juga mengalami kerewelan-kerewelan dalam urusan daerah, kerewelan-kerewelan dalam urusan tentara, mengalami bukan industrialisasi yang tepat, tetapi industrialisasi tambal sulam <i>zonder overall</i>–<i>planing</i> yang jitu, mengalami, aduh, Indonesia yang subur loh jinawi, bukan kecukupan bahan makanan tetapi impor beras terus-menerus, mengalami bukan membubung-tingginya kebudayaan nasional yang patut dibangga-banggakan, tetapi gila-gilaannya rock and roll, geger-ributnya swing dan jazz, kemajnunannya twist dan mamborock, banjirnya literatur komik.
 
Contoh-contoh ini adalah cermin daripada menurunnya kesadaran nasional kita dan menurunnya kekuatan jiwa nasional kita. '''Apakah kelemahan jiwa kita itu? Jawabanku pada waktu itu adalah, "kelemahan jiwa kita ialah bahwa kita kurang percaya kepada diri kita sendiri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang percaya-mempercayai satu sama lain, padahal kita ini pada asalnya adalah rakyat gotong royong".'''
 
Demikianlah seruanku pada waktu itu, dan demikianlah pesan seluruh jiwa semangatku menghadapi crucial period waktu itu.
Lihatlah ke belakang! Tidakkah pada masa yang lampau, yaitu sebelum kita merdeka maupun sesudah kita merdeka, fakta-fakta menunjukkan dengan jelas bahwa perpecahan hanyalah membawa kita pada keruntuhan semata?
 
'''Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggalanya daripada masa yang akan datang.'''
 
Hasil-hasil positif yang sudah dicapai di masa yang lampau jangan dibuang begitu saja. Membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau tidak mungkin. Sebab, kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan di masa yang lampau, yaitu hasil-hasil macam-macam perjuangan dari generasi nenek moyang kita sampai kepada generasi yang sekarang ini. Sekali lagi saya ulangi kalimat ini, membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau, hal itu tidak mungkin, sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan-perjuangan di masa yang lampau.
 
Seorang pemimpin yaitu Abraham Lincoln berkata, <i>one cannot escape history,</i> orang tak dapat melepaskan diri dari sejarah. Saya pun berkata demikian. Tetapi saya tambah, bukan saja <i>one cannot escape history</i>, tetapi saya tambah, <i>never leave history</i>, janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah! '''Jangan sekali-kali meninggal-kanmeninggalkan sejarah! Jangan meninggalkan sejarahmu yang sudah, hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan sejarahmu yang sudah, engkau akan berdiri di atas <i>vacuum</i>, engkau akan berdiri di atas <i>kekosongan,</i> dan lantas engkau menjadi bingung, dan perjuanganmu paling-paling hanya akan berupa amuk, amuk belaka! Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap.'''
 
Dalam pidatoku pada 17 Agustus 1953 telah kunyatakan bahwa kita semua tanpa perkecualian tidak dapat melepaskan diri dari sejarah-sejarah yang dalam abad ke-20 ini makin nyata dan makin tampak menunjukkan coraknya dan arahnya. Kita bangsa Indonesia di waktu yang lampau telah benar-benar ikut berjalan dalam corak dan arahnya sejarah itu, tetapi akhirnya kita datang kepada tempat yang sekarang ini. Tetapi sejarah tidak berhenti, sejarah tidak pernah berhenti, sejarah selalu berjalan terus – dan kita hendak berhenti, kita hendak mengingkari sejarah kita yang lampau, kita hendak putar haluan? Mari kita berjalan terus dengan sejarah itu, dan jangan berhenti, sebab siapa yang berhenti toh akan diseret oleh sejarah itu sendiri samasekali.
Nah, Saudara-saudara, demikianlah beberapa ungkapan introspeksi dan mawas diri daripada tahun-tahun yang telah lampau. Panjang, ya 21 tahun ini penuh dengan pengalaman-pengalaman pahit dan manis, penuh dengan pengalaman-pengalaman plus dan minus. Kewajiban kita ialah mengoreksi minus-minusnya, menyempurna-kan plus-plusnya, sebagai bekal untuk perjalanan kita seterusnya, yang masih jauh dan niscaya masih berat itu. <i>Men leert historie om wijs worden van tevoren, </i>– ini dari seorang pujangga – pelajarilah sejarah untuk tidak tergelincir di hari depan, demikianlah Thomas Carlyle, begitu namanya ahli falsafah ini pernah berkata. Kepadamu saya berkata, pelajarilah sejarah perjuanganmu sendiri yang sudah lampau, agar supaya tidak tergelincir dalam perjuanganmu yang akan datang.
 
Itulah intisari daripada peringatanku tadi, '''Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, <i>never leave history!</i> Jangan sekali-kali meninggalkan sejarahmu sendiri – never, never leave your own history.'''
 
Telaah kembali, petani kembali.
3.325

suntingan