Sarinah: Perbedaan revisi

357 bita dihapus ,  3 bulan yang lalu
format
k (→‎top: clean up, replaced: akte → akta (2) using AWB)
(format)
'''KEWAJIBAN WANITA dalam PERJUANGAN'''
'''K E W A J I B A N W A N I T A''' d a l a m
 
'''PERJUANGANREPUBLIK INDONESIA'''
 
oleh
'''R E P U B L I K I N D O N E S I A''' oleh
 
Ir. SOEKARNO
'''PELOPOR PEJUANG WANITA INDONESIA'''
 
'''==KATA PENDAHULUAN'''==
 
''Pada cetakan pertama''
Yogyakarta, 3 Nopember 1947.
 
==BAB I: SOAL PEREMPUAN==
'''BAB I'''
 
Satu pengalaman, beberapa tahun yang lalu, waktu saya masih ”orang interniran”.
'''SOAL -PEREMPUAN'''
 
Satu pengalaman, beberapa tahun yang lalu, waktu saya masih
 
”orang interniran”.
 
Pada suatu hari, saya datang bertamu bersama-sama seorang kawan dan isteri kawan itu pada salah seorang kenalan saya, yang mempunyai toko kecil. Rumah kediaman dan toko kenalan saya itu bersambung satu sama lain: bahagian muka dipakai buat toko, bahagian belakang dipakai buat tempat kediaman.
Tetapi saya mengetahui, bahwa di dalam masyarakat Islam, dulu dan sekarang, ada beberapa aliran tentang posisi perempuan. Ada yang ”kolot”, ada yang ”modern”. Ada yang ”sedang”. Semuanya membawa dalil-dalilnya sendiri. Mana yang benar? Mana yang salah?
 
Sekali lagi saya berkata: saya bukan ahli fiqh. Saya beragama Islam, saya cinta Islam, saya banyak mempelajari sejarah Islam dan gerak-gerik masyarakat Islam, tetapi sayang seribu sayang, saya bukan ahli fiqh. Walaupun demikian, saya telah mencari beberapa tahun lamanya di banyak buku-buku yang dapat saya baca, bagaimanakah sebenarnya posisi perempuan dalam Islam. Sebagai saya katakan tadi, tentang hal ini saya menjumpai banyak aliran. Sehingga bolehlah saya katakan di sini, bahwa di dalam masyarakat Islam pun masih ada soal perempuan. Kesan yang saya dapat daripada apa yang saya baca itu, adalah sama dengan kesan yang didapat oleh Miss Frances Woodsman sesudah beliau mempelajari posisi perempuan di dalam masyarakat Islam itu, yakni kesan, bahwa soal perempuan adalah justru bagian yang ”most debated” – bagian yang paling menimbulkan pertikaian – di dalam masyarakat Islam.
 
”most debated” – bagian yang paling menimbulkan pertikaian – di dalam masyarakat Islam.
 
Malahan seorang wanita Islam Indonesia sendiri, Encik Ratna Sari, yang dulu di Padang – di dalam satu risalah yang membicarakan soal perempuan, ada menulis: ”Masyarakat kita pun masih megandung dilemma’s, soal-soal yang pelik, yang masih teka-teki sekarang, tapi sangat penting”.
Demikianlah. Saya berpendapat, bahwa soal perempuan seluruhnya (juga dalam masyarakat Islam) masih harus dipecahkan. Masih satu ”soal”. Atau, jikalau, memakai perkataan Encik Ratna Sari: masih satu ”dilemma”, masih satu ”soal yang pelik”. Sekali lagi, soal perempuan seluruhnya, – dan bukan hanya misalnya soal tabir atau lain-lain soal yang kecil saja! Soal perempuan seluruhnya, posisi perempuan seluruhnya di dalam masyarakat, – itulah yang harus mendapat perhatian sentral, itulah yang harus kita fikirkan dan pecahkan, agar supaya posisi perempuan di dalam Republik Indonesia bisa kita susun sesempurna-sempurnanya.
 
Jadi: baik buat fihak yang meneropong soal perempuan dengan teropong fiqh Islam, maupun buat fihak yang meneropong soal ini dengan teropong Rasionalisme belaka, soal ini haruslah masih dipandang sebagai satu soal yang masih perlu kita pecahkan. Dipecahkan, difikirkan, dibolak-balikkan, bukan saja oleh kaum perempuan kita, tetapi juga oleh kaum laki-1aki kita, oleh karena soal perempuan adalah memang satu soal masyarakat yang teramat penting. Dan tidakkah Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda, bahwa:
 
Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda, bahwa:
 
”Perempuan itu tiang negeri. Manakala baik perempuan, baiklah negeri. Manakala rusak perempuan, rusaklah negeri”?
Ia menurut kata Vivekananda adalah ”berkepala batu”!
 
==BAB II: LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN==
'''BAB II'''
 
Allah telah berfirman, bahwa Ia membuat segala hal berpasang-pasangan. Firman ini tertulis dalam surat Yasin ayat 36:l
 
”Maha mulia lah Dia, yang menjadikan segala sesuatu berpasang-pasangan”;
 
dalam surat Az-Zuchruf ayat 1.2:
'''LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN'''
 
Allah”Dan telahDia berfirman,yang bahwa Ia membuatmenjadikan segala hal berpasang-pasangan. Firmandan inimembuat tertulisbagimu dalamperahu-perahu suratdan Yasin ayat 36:l ”Maha mulia lah Diaternak, yang menjadikankamu segala sesuatu berpasang-pasangan”tunggangi”; dalam surat Az-Zuchruf ayat 1.2:
 
”Dan Dia yang menjadikan segala hal berpasang-pasangan dan membuat bagimu perahu-perahu dan ternak, yang kamu tunggangi”; dalam surat Adz-Dzariyat ayat 49:
 
”Dan dari tiap-tiap barang kita membuat pasang-pasangan, agar supaya kamu ingat”. Perhatikan: Segala barang, segala hal.
Jadi bukan saja manusia berpasang-pasangan, bukan saja kita ada lelakinya dan ada wanitanya.
 
Binatang ada jantannjajantannya, bunga-bungapun ada lelakinya dan perempuannya, alam ada malamnya dan siangnya -, barang-barang ada kohesinya dan adhesinya, tenaga-tenaga ada aksinya dan reaksinya, elektron-elektron ada positifnya dan negatifnya, segala kedudukan ada these dan anti-thesenya.
 
Ilmu yang maha hebat, yang maha mengagumkan ini telah keluar dari Mulutnya Muhammad s.a.w. ditengah-tengah padang pasir, beratus-ratus tahun sebelum di Eropa ada maha-guru maha-guru sebagai Maxwell, Pharaday, Nicola Tesla, Descartes, Hegel, Spencer, atau William Thompson.
Alam membuat manusia berpasang-pasangan. Laki-laki tak dapat ada jika tak ada perempuan, perempuan tak dapat ada jika tak ada laki-laki. Laki-laki tak dapat hidup normal dan subur tak dengan perempuan, perempuan pun tak dapat hidup normal dan subur tak dengan laki-laki. Olive Schreiner, seorang idealis perempuan bangsa Eropa, di dalam bukunya ”Drie dromen in de Woestijn”, pernah memperlambangkan lelaki dan perempuan itu sebagai dua makhluk yang terikat satu kepada yang lain oleh satu tali gaib, satu ”tali hidup”, – begitu terikat yang satu kepada yang lain, sehingga yang satu tak dapat mendahului selangkah-pun kepada yang lain, tak dapat maju setapakpun dengan tidak membawa juga kepada yang lain. Olive Schreiner adalah benar: Memang begitulah keadaan manusia! Bukan saja laki dan perempuan tak dapat terpisah satu daripada yang lain, tetapi juga tiada masyarakat manusia satupun dapat berkemajuan, kalau laki-perempuan yang satu tidak membawa yang lain. Karenanya, janganlah masyarakat laki-laki mengira, bahwa ia dapat maju dan subur, kalau tidak dibarengi oleh kemajuan masyarakat perempuan pula.
 
Janganlah laki-laki mengira, bahwa bisa ditanam sesuatu kultur yang sewajar-wajarnjawajarnya kultur, kalau perempuan dihinakan di dalam kultur itu. Setengah ahli tarikh menetapkan, bahwa kultur Yunani jatuh, karena perempuan dihinakan di dalam kultur Yunani itu. Nazi Jerman jatuh, oleh karena di Nazi Jerman perempuan dianggap hanya baik buat Kirche-Kiiche-Kleider-Kinder. Dan semenjak kultur masyarakat Islam (bukan agama Islam!) kurang menempatkan kaum perempuan pula ditempatnya yang seharusnya, maka matahari kultur Islam terbenam, sedikit-sedikitnya suram!
 
Sesungguhnya benarlah perkataan Charles Fourrier kalau ia mengatakan, bahwa tinggi rendahnya tingkat kemajuan sesuatu masyarakat, adalah ditetapkan oleh tinggi rendahnya tingkat kedudukan perempuan di dalam masyarakat itu. Atau, benarlah pula perkataan Baba O’lllah, yang menulis, bahwa ”laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung”. Jika dua sayap itu sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai puncak udara yang setinggi-tingginya; jika patah satu daripada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu samasekali.
 
Apakah maksud saya dengan uraian .tentang tali sekse ini? Pembaca, nyatalah, bahwa baik laki-laki, maupun perempuan tak dapat normal, tak dapat hidup sebagai manusia normal, kalau tidak ada tali sekse ini. Tetapi bagaimanakah pergaulan hidup di zaman sekarang? Masyarakat sekarang di dalam hal inipun, – kita belum membicarakan hal lain-lain! – tidak adil kepada perempuan. Perempuan di dalam hal inipun suatu makhluk yang tertindas. Perempuan bukan saja makhluk yang tertindas kemasyarakatannya, tetapi juga makhluk yang tertindas ke-sekse-annya. Masyarakat kapitalistis zaman sekarang adalah masyarakat, yang membuat pernikahan suatu hal yang sukar, sering kali pula suatu hal yang tak mungkin. Pencaharian nafkah, – struggle for life – di dalam masyarakat sekarang adalah begitu berat, sehingga banyak pemuda karena kekurangan nafkah tak berani kawin, dan tak dapat kawin. Perkawinan hanyalah menjadi privilegenya (hak-lebihnya) pemuda-pemuda yang ada kemampuan rezeki sahaja. Siapa yang belum cukup nafkah, ia musti tunggu sampai ada sedikit nafkah, sampai umur tiga puluh, kadang-kadang sampai umur empat puluh tahun. Pada waktu ke-sekse-an sedang sekeras-kerasnya, pada waktu ke-sekse-an itu menyala-nyala, berkobar-kobar sampai kepuncak-puncaknya jiwa, maka perkawinan buat sebagian dari kemanusiaan adalah suatu kesukaran, suatu hal yang tak mungkin. Tetapi, ... api yang menyala-nyala di dalam jiwa laki-laki dapat mencari jalan keluar – meliwati satu ”pintu belakang” yang hina -, menuju kepada perzinahan dengan sundal dan perbuatan-perbuatan lain-lain jang keji-keji. Dunia biasanya tidak akan menunjuk laki-laki yang demikian itu dengan jari tunjuk, dan berkata: cih, engkau telah berbuat dosa yang amat besar! Dunia akan anggap hal itu sebagai satu ”hal biasa”, yang ”boleh juga diampuni”. Tetapi bagi perempuan ”pintu belakang” ini tidak ada, atau lebih benar: tidak dapat dibuka, dengan tak (alhamdulillah) bertabrakan dengan moral, dengan tak berhantaman dengan kesusilaan, – dengan tak meninggalkan cap kehinaan di atas dahi perempuan itu buat selama-lamanya. Jari telunjuk masyarakat hanya menuding kepada perempuan saja, tidak menunjuk kepada laki-laki, tidak menunjuk kepada kedua fihak secara adil. Keseksean laki-laki setiap waktu dapat merebut haknya dengan leluasa, – kendati masyarakat tak memudahkan perkawinan -, tetapi keseksean perempuan terpaksa tertutup, dan membakar dan menghanguskan kalbu. Perempuan banyak yang menjadi ”terpelanting mizan” oleh karenanya, banyak yang menjadi putus asa oleh karenanya. Bunuh diri kadang-kadang menjadi ujungnya. Statistik Eropa menunjukkan, bahwa di kalangan kaum pemuda, antara umur 15 tahun dan 30 tahun, yakni waktu keseksean sedang sehebat-hebatnya mengamuk di kalbu manusia, lebih banyak perempuan yang bunuh diri, daripada kaum laki-laki. Jikalau diambil prosen dari semua pembunuhan diri, maka buat empat negeri di Eropa pada permulaan abad ke 20, statistik itu adalah begini:
 
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="130">Nama negeri</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="130">JermanDenemarkenSwissPerancisJerman Denemarken Swiss Perancis</td>
<td valign="top" width="95"> 5,3% 4,6% 3,3% 3,5%</td>
<td valign="top" width="113">10,7% 8,3% 6,7% 8,2%</td>
<td valign="top" width="113"> 20,2% 14,8% 21 % 14 %</td>
</tr>
</tbody>
</table>
 
 
Berat otak rata-rata:
 
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="207">Menurut penyelidikannya</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="207">BischoffBoydMarchandRetziusBischoff Boyd Marchand Retzius Grosser</td>
<td valign="top" width="142">1362 gram 1325 ”1399 ”1388 “1388 ”</td>
 
<td valign="top" width="180">1219 gram 1183 “1248 ”1252 ”1252 ”</td>
Grosser</td>
<td valign="top" width="142">1362 gram1325 ”1399 ”1388 “
 
1388 ”</td>
<td valign="top" width="180">1219 gram1183 “1248 ”1252 ”
 
1252 ”</td>
</tr>
</tbody>
</table>
 
Tuan barangkali akan membantah, bahwa jumlah perempuan-perempuan kenamaan itu belum banyak, dan bahwa di dalam masyarakat sekarang kebanyakannya kaum laki-lakilah yang memegang obor ilmu pengetahuan dan faIsafah dan politik. Benar sekali, tuan-tuan: Di dalam masyarakat sekarang! Benar sekali: di dalam masyarakat sekarang ini, di mana laki-laki mendapat lebih banyak kesempatan buat menggeladi akal-fikirannya, maka kaum laki-lakilah yang kebanyakan menduduki tempat-tempat kemegahan ilmu dan pengetahuan. Di dalam masyarakat sekarang ini, di mana kaum perempuan banyak yang masih dikurung, banyak yang tidak dikasih kesempatan maju ke muka di lapangan masyarakat, banyak yang baginya diharamkan ini dan diharamkan itu, maka tidak heran kita, bahwa kurang banyak kaum perempuan yang ilmu dan pengetahuannya membubung ke udara. Tapi ini tidak menjadi bukti bahwa dus kwalitas otak perempuan itu kurang dari kwalitas otak kaum lelaki, atau ketajaman otak perempuan kalah dengan ketajaman otak laki-laki. Kwalitasnya sama, ketajamannya sama, kemampuannya sama, hanya kesempatan bekerjanya yang tidak sama, kesempatan berkembangnya yang tidak sama. Maka oleh karena itu, justru dengan alasan kurang dikasihnya kesempatan oleh masyarakat sekarang kepada kaum perempuan, maka kita wajib berikhtiar membongkar ketidak-adilan masyarakat terhadap kepada kaum perempuan itu!
 
Bahkan terhadap fungsi kodrat dari kaum perempuan yang kita bicarakan tadi itu, yakni fungsi menjadi ibu, menerima benih anak, mengandung anak, melahirkan anak, menyusui anak, memelihara anak, – terhadap fungsi kodrat inipun dunia laki-laki masih kurang menghargakan kaum perempuan! Orang laki-laki membusungkan dadanjadadanya, seraya berkata-kita, kaum laki-laki kita maju ke padang peperangan, kita berani menghadapi bahaya- bahaya yang besar. ”Apakah yang perempuan perbuat?” Orang laki-laki mengagul-agulkan kelaki-lakiannya menghadapi maut, mengagul-agulkan jumlah jiwa laki-laki yang mati guna keperluan sejarah, seraya berkata: ”Bahaya apakah yang perempuan hadapi?” Orang lelaki yang demikian ini tidak mengetahui, bahwa dulu di zaman purbakala, tatkala hukum masyarakat belum seperti sekarang ini, ialah di dalam zaman ”hukum per-ibuan” alias matriatchat, – yang di dalam Bab III dan. IV akan saya terangkan panjang lebar -, kaum perempuan-lah yang mengemudi masyarakat, kaum perempuanlah yang kuasa, kaum perempuanlah yang mengepalai peperangan, kaum perempuanlah memanggul senjata, kaum perempuanlah mengorbankan jiwanya guna sejarah. Dan lagi ... apakah benar peperangan lebih berbahaya daripada melahirkan anak? Apakah benar peperangan minta lebih banyak korban daripada melahirkan anak? Tiap-tiap ibu dapat menerangkan, bahwa melahirkan anak itulah yang sangat berbahaya di sepanjang hidup seseorang manusia. Tiap-tiap ibu pernah menghadapi maut sedikitnya satu kali dalam hidupnya, yakni pada waktu melahirkan anak, sudahkah kita pernah berhadap-hadapan muka dengan maut itu, sudahkah kita pernah merasakan nafasnya maut yang dingin itu menyilir di muka kita?
 
Terutama di negeri-negeri yang belum besar usaha kedokteran, seperti di Eropa di zaman dulu, atau di Asia di zaman sekarang, tidak sedikit jumlah perempuan yang jatuh di atas padang kehormatan melahirkan anak. Dulu di negeri Pruisen saja, (perhatikanlah, belum Jerman seluruhnya) antara tahun 1816 dan 1876, pada waktu ilmu kedokteran sudah mulai subur, jumlah perempuan yang meninggal karena melahirkan anak adalah 321.791 orang, – yakni rata-rata 5.363 setahun-tahunnya! Jumlah ini di negeri 1nggeris antara tahun 1.847 dan 1.901 adalah 213.533, yakni, kendati waktu itu ilmu dan ikhtiar kedokteran telah maju pula, tak kurang dari 4.000 setahun tahunnya! ”Coba orang laki-laki musti menanggung sengsara seperti perempuan ini, maka barangkali segala apa diributkan untuk menolongnya!”, begitulah kata Profesor Herff. Di Eropa, jumlah-jumlah itu sekian besarnya! Betapa pula di kampung-kampung dan di dusun-dusun kita, di mana dokter belum dikenal orang! Betapa pula keadaan di kalangan Sarinah! Maka benar sekali konklusi August Hebel, kalau ia mengatakan, bahwa di dalam sejarah manusia ini, kalau dijumlahkan, lebih banyak perempuan melepaskan jiwanya di atas padang kehormatan melahirkan bayi, dari pada laki-laki melepaskan jiwanya di atas padang kehormatan peperangan.
Begitulah perkataan Edward Carpenter. Moga-moga Allah melimpahkan rakhmad kepada semua ibu-ibu di dunia, yang semuanya, satu-persatu dilupakan orang. Moga-moga Allah limpahkan rakhmad kepada pembuat-pembuat kemanusiaan itu, kepada ini ”Bouwsters der Menschheid” yang semuanya tidak ada yang minta dibalas jasa, tidak ada yang minta dibalas budi. Dan moga-moga Allah bukakan mata kita semua, agar supaya kita lebih menghormati dan menghargai kaum perempuan itu!
 
Janganlah kaum laki-laki lupa, bahwa sifat-sifat yang kita dapatkan sekarang pada kaum perempuan itu, dan membuat kaum perempuan itu menjadi dinamakan ”kum lemah”, ”kaum bodo”, ”kaum singkat pikiran”, ”kum nerimo”, dan 1ain-1ain bukanlah sifat-sifat yang karena kodrat ada terlekat pada kaum perempuan, tetapi adalah buat sebagian besar hasilnya pengurungan dan perbudakan kaum perempuan yang turun-temurun, beratus tahun, beribu tahun. Di zaman dulu, sebagai saya katakan tadi, di zamannya matriarchat yang nanti di dalam Bab III dan IV akan saya terangkan lebih jelas, di zaman dulu itu sifat-sifat kelemahan itu tidak ada. Ilmu pegetahuan yang modern telah menetapkan pengaruh keadaan (milieu) di atas jasmani dan rohani manusia. Apa sebab kaum kuli dan tani badannya umumnya lebih besar dan kuat daripada kaum ”atasan”? Oleh karena milieu kuli adalah mengasih kesempatan kepada badan si kuli itu untuk menjadi besar dan menjadi kuat. Apa sebab perempuan-perempuan kuli lebih kuat dan besar dari perempuan kaum ”atasan”? Oleh karena milieu perempuan kuli adalah lain daripada milieu perempuan kaum atasan. Apa sebab bangsa-bangsa negeri dingin tabiatnya lebih dinamis, lebih giat, lebih ulet daripada bangsa-bangsa di negeri panas? Oleh karena milieu di negeri dingin memaksa kepada manusia supaya sangat giat di dalam struggle for life, sedang di negeri panas seperti misalnya di Indonesia sini manusia bisa hidup dengan setengah menganggur, – dengan tak berbaju, tak berumah, dengan tak usah banyak membanting tulang. H.H.Van Kol di dalam bukunya tentang negeri Nippon menerangkan, bahwa bangsa Nippon di zaman yang akhir-akhir ini adalah kurang cebol daripada dulu (kakinya menjadi lebih panjang dengan rata-rata 2&nbsp;cm!), sesudah orang Nippon itu banyak meniru milieu Eropah, yakni duduk di atas kursi.
 
2&nbsp;cm!), sesudah orang Nippon itu banyak meniru milieu Eropah, yakni duduk di atas kursi.
 
Maka begitu jugalah ada akibat milieu atas kaum perempuan. Dulu kaum perempuan tidak lemah-lemah badan seperti sekarang ini; dulu kaum perempuan sigap-sigap badan perawak-annya, jauh berbeda dengan badan-badan ramping dari misalnya puteri-puteri priyantun zaman sekarang.
Masyarakat itu hanyalah sehat, manakala ada perimbangan hak dan perimbangan perlakuan antara kaum laki-laki dan perempuan, yang sama tengahnya, sama beratnya, sama adilnya.
 
Saya bukan pencinta matriarchat, saya adalah pencinta patriarchat, bukan oleh karena saya seorang laki-laki, akan tetapi ialah karena kodrat alam menetapkan patriarchat lebih utama daripada matriarchat. Kodrat menetapkan hukum keturunan lebih selamat dengan hukum perbapaan, karena hanya dengan hukum keturunan menurut garis perbapaanlah, – di mana perempuan diperisterikan oleh satu orang laki-laki saja, dan tidak lebih -, orang dapat mengatakan dengan pasti: siapa ibunya, siapa bapaknya, – siapa yang mengandungnya, tetapi juga siapa yang menerimakan ia ke dalam kandungan itu. Tetapi di dalam hukum matriarchat, (yang menetapkan keturunan itu menurut garis '''p e r i b u a n'''), maka orang hanyalah dapat yakin siapa ibunya, tetapi tidak dapat yakin siapa bapaknya. Di dalam bab-bab berikut akan saya kupas hal ini lebih lanjut.
 
'''p e r i b u a n'''), maka orang hanyalah dapat yakin siapa ibunya, tetapi tidak dapat yakin siapa bapaknya. Di dalam bab-bab berikut akan saya kupas hal ini lebih lanjut.
 
Saya pencinta patriarchat, tetapi hendaklah patriarchat itu satu patriarchat yang adil, satu patriarchat yang tidak menindas kepada kaum perempuan, satu patriarchat yang tidak mengekses kepada kezaliman laki-laki di atas kaum perempuan. Satu patri-archat yang sebenarnya ”parental”. Saya yakin, bahwa agama-agama adalah dimaksudkan sebagai ”pengatur” patriarchat, pengkoreksi ekses-eksesnya patriarchat. Saya yakin, bahwa itu lah salah satu maksud agama, – tetapi apa yang kini telah terjadi? Lihatlah di masyarakat Nasrani. (Bukan agama Nasrani). Maksud agama didurhakai. Perempuan sesudah kawin, hampir hilang haknya sama sekali, dan perempuan menjadi pula barang dagangan persundalan. Dan lihatlah di masyarakat Islam. Maksud agama Islam, semangat agama Islam, yaitu melindungi kaum perempuan dari ekses-eksesnya patriarchat itu, kadang-kadang dilupakan orang, dipendam di bawah timbunan-timbunan tradisi-tradisi, adat-adat, pendapat-pendapat dari kaum-kaum kuno, sehingga kedudukan kaum perempuan yang mau dijunjung tinggi oleh Islam sejati itu kadang-kadang menjadi sama sekali satu kedudukan yang hampir tak ada ubahny daripada kedudukan seorang budak. Pendapat-pendapat dari setengah kaum yang demikian itu di beberapa kalangan menjadi suatu tradisi fikiran, satu kebiasaan fikiran. Firman-firman Tuhan yang untuk menentukan kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam sistim patriarchat itu, firman-firman ini lantas ditafsir-tafsirkan dengan kacamata tradisi fikiran itu. Firman-firman ini lantas dijadikan alat-alat buat menundukkan kaum perempuan di bawah lutut laki-laki, dijadikan alat-alat buat memperlakukan kaum perempuan itu sebagai makhluk-makhluk yang harus mengambing saja kepada ke Yang Dipertuan, kaum laki-laki. Maha bijaksanalah Allah dan Nabi yang menetapkan patriarchat sebagai sistim kemasyarakatan yang cocok dengan kodrat alam, tetapi maha piciklah sesuatu orang yang tak mengarti akan hikmat patriarchat itu, dan lantas membuat agama menjadi satu alat kezaliman dan penindasan!
 
'''==BAB III''': DARI GUA KE KOTA==
 
'''DARI GUA KE KOTA'''
 
Ilmu pengetahuan (wetenschap) sudah lama membantah pendapat setengah orang, bahwa adanya manusia di muka bumi ini barulah 6.000 tahun atau kurang lebih 7.600 tahun saja. Ilmu geologi, anthropologi, archeologi, histori dan praehistori menetapkan dengan bukti-bukti yang nyata, yang dapat diraba, bahwa manusia itu telah ratusan ribu tahun mendiami muka bumi ini: Sir Arthur Keith misalnya menghitung zaman manusia itu pada kurang lebih 800.000 atau 900.000 tahun. Setidak-tidaknya tak kurang dari 300.000 tahun (I.H.Jeans). Hanya saja harus diketahui, bahwa manusia purbakala itu belum begitu sempurna sebagai manusia zaman sekarang.
Maka dengan diadakannya hukum peribuan ini, serta hilangnya sifat nomade menjadi sifat ”perumahan yang tetap”, hilang pula sifat kelompok, dan menjadilah ia bersifat gens, – yakni menjadilah ia ”keluarga besar”. Perempuan dengan semua keluarganya tua-muda berdiam menjadi satu di satu tempat, – yang bukan keluarga tidak boleh berkumpul di situ, tapi berdiam menjadi gerombolan lain dengan keluarga-keluarganya sendiri pula. Di dalam gens yang demikian itu cara hidup adalah cara hidup sama-rata. Boleh dikatakan cara hidup mereka itu adalah cara hidup komunistis! Dr. F. Muller-Lyer, itu ahli masyarakat yang termasyhur, ada menceritakan dari hal gens pada tingkatan ini: ”Anggota-anggota pergabungan keluarga itu memiliki tanah sebagai milik bersama, mereka kerjakan tanah itu bersama-sama pula, dan mereka bagikan buah tanamannya itu di antara keluarga-keluarganya menurut keperluan masing-masing. Sering sekali mereka berdiam berkumpul di dalam rumah-rumah yang besar. Tiap-tiap anggota mempunyai hak yang sama atas ladang itu, dan menerima segala apa yang ia perlukan dari hasil pertanian-bersama itu. Pada hampir semua rakyat-rakyat pertanian yang bertingkat sederhana ini, adalah cara kerja komunistis itu cara-kerja yang asli”.
 
Keluarga (Jawa: somah) seperti yang kita kenal sekarang ini, – satu suami, satu isteri, anak, di dalam satu rumah, pahit-manis dipikul bersama-sama -, keluarga yang demikian itu belum dikenal orang di masa itu. Orang hidup dengan semua sanak-sanak-familinya menjadi satu gerombolan besar, satu persatuan darah yang besar, satu keluarga besar, – rukun dan rapat, mati-hidup bersama-sama, mengerjakan ladang bersama-sama, menentang musuh bersama-sama. Justru persekutuan dan kerukunan gens inilah menghambat terjadinya ”somah” itu. Sebab, oleh karena kini perempuan itu menjadi satu makhluk yang sangat berharga, – tidak seperti dulu di zaman kelompok -, maka gens tidak mau melepaskan dia pindah mengikuti suaminya kelain gens. (Suaminya perempuan itu lebih dari satu. Sebalikya, laki-lakipun isterinya lebih dari satu). Orang lelaki dari lain gens yang kawin dengan dia, tidak boleh membawa dia pindah kerumahnya, tetapi si laki itulah yang musti pindah ke rumah perempuannya itu, atau, kalau si laki itu tinggal di gens-nya sendiri, – ia datang di rumah isterinya itu hanya pada waktu ada keperluan saja. (Sisanya aturan begini sekarang misalnya masih ada di Minangkabau, begitu pula pada orang Indian di Amerika Utara, pada beberapa bangsa di Oceania, pada sebagian bangsa Neger, dll. Dulu aturan ini nyata benar ada pada bangsa Israil; sampai di zaman Yesus, orang masih menamakan beliau Isa Ibnu Maryam! Juga pada bangsa Mesir, Phunicia, Etruska, Lykia, Iberia, Inggeris, dll dulu berlaku aturan ini). Tuan mengerti, aturan yang demikian ini tentu tidak mengasih jalan kepada timbulnya satu ”persomahan” yang terdiri dari suami, isteri, dan anak-anak saja, yang seperti kita kenal di zaman kemudian. Tetapi kendati begitu, kedudukan perempuan di dalam gens itu adalah kedudukan yang sangat mulia sekali. Sudah barang tentu! Sebab yang berkumpul men-jadi satu di dalam gens itu, – laki-perempuan -, adalah keluarga-keluarga dari fihak perempuan. Meski seseorang perempuan sudah kawin dengan orang laki-laki dari lain gens pun, ia masih berkumpul dengan sanak-famili se gens, dan karenanya ia masih terus mendapat sokongan dari sanak-famili se gens itu. Tapi laki-laki tidak mendapat sokongan itu, laki-laki bertindak terhadap isterinya itu seperti ”orang sendirian”, sebagai individu. Orang perempuan jadi lebih kuasa daripadanya. Orang perempuan di waktu itu misalnya di Eropa disebutkan Frowa, – yang maknanya tuan puteri. (Ingatkan perkataan mevrouw, atau Frau). Malahan, seringkali, di tingkat yang kemudian, kalau gens-gens itu sudah bertalikan satu dengan lain meliputi satu daerah, dan pemerintahan sudah dijalankan oleh satu kepala atau satu raja -, maka ditetapkanlah bahwa kepala itu harus kepala puteri, rajanya raja puteri, pahlawannya pahlawan puteri, pemimpin rapat pemimpin-puteri. Maka bertambahlah hukum peribuan itu menjadi pemerintahan – ibu, – menjadi Matriarchat. Dari bangsa Indian Irokees misalnya, Lafitau menulis: ”Semua pemerintahan di negeri itu adalah di tangan perempuan: merekalah yang menguasai ladang-ladang dan hasil-hasil ladang itu, merekalah menjadi jiwa persidangan-persidangan majelis negeri, merekalah berkuasa atas perang atau damai, merekalah mengurus cukai, mengurus kekayaan suku, kepada merekalah orang serahkan orang-orang tawanan, merekalah menetapkan perkawinan-perkawinan, merekalah berkuasa atas anak-anak, dan menurut garis merekalah diambil keturunan”. Pada bangsa Indian Wyandot keadaan juga begitu, majelis pemerintahan mereka adalah terdiri dari 55 orang; anggota laki-laki dari majelis ini hanya 11 orang; tapi anggota perempuan ... 44 orang!
 
(Suaminya perempuan itu lebih dari satu. Sebalikya, laki-lakipun isterinya lebih dari satu). Orang lelaki dari lain gens yang kawin dengan dia, tidak boleh membawa dia pindah kerumahnya, tetapi si laki itulah yang musti pindah ke rumah perempuannja itu, atau, kalau si laki itu tinggal di gens-nya sendiri, – ia datang di rumah isterinya itu hanya pada waktu ada keperluan saja. (Sisanya aturan begini sekarang misalnya masih ada di Minangkabau, begitu pula pada orang Indian di Amerika Utara, pada beberapa bangsa di Oceania, pada sebagian bangsa Neger, dll. Dulu aturan ini nyata benar ada pada bangsa Israil; sampai di zaman Yesus, orang masih menamakan beliau Isa Ibnu Maryam! Juga pada bangsa Mesir, Phunicia, Etruska, Lykia, Iberia, Inggeris, dll dulu berlaku aturan ini). Tuan mengerti, aturan yang demikian ini tentu tidak mengasih jalan kepada timbulnya satu ”persomahan” yang terdiri dari suami, isteri, dan anak-anak saja, yang seperti kita kenal di zaman kemudian. Tetapi kendati begitu, kedudukan perempuan di dalam gens itu adalah kedudukan yang sangat mulia sekali. Sudah barang tentu! Sebab yang berkumpul men-jadi satu di dalam gens itu, – laki-perempuan -, adalah keluarga-keluarga dari fihak perempuan. Meski seseorang perempuan sudah kawin dengan orang laki-laki dari lain gens pun, ia masih berkumpul dengan sanak-famili se gens, dan karenanya ia masih terus mendapat sokongan dari sanak-famili se gens itu. Tapi laki-laki tidak mendapat sokongan itu, laki-laki bertindak terhadap isterinya itu seperti ”orang sendirian”, sebagai individu. Orang perempuan jadi lebih kuasa daripadanya. Orang perempuan di waktu itu misalnya di Eropa disebutkan Frowa, – yang maknanya tuan puteri. (Ingatkan perkataan mevrouw, atau Frau). Malahan, seringkali, di tingkat yang kemudian, kalau gens-gens itu sudah bertalikan satu dengan lain meliputi satu daerah, dan pemerintahan sudah dijalankan oleh satu kepala atau satu raja -, maka ditetapkanlah bahwa kepala itu harus kepala puteri, rajanya raja puteri, pahlawannya pahlawan puteri, pemimpin rapat pemimpin-puteri. Maka bertambahlah hukum peribuan itu menjadi pemerintahan – ibu, – menjadi Matriarchat. Dari bangsa Indian Irokees misalnya, Lafitau menulis: ”Semua pemerintahan di negeri itu adalah di tangan perempuan: merekalah yang menguasai ladang-ladang dan hasil-hasil ladang itu, merekalah menjadi jiwa persidangan-persidangan majelis negeri, merekalah berkuasa atas perang atau damai, merekalah mengurus cukai, mengurus kekayaan suku, kepada merekalah orang serahkan orang-orang tawanan, merekalah menetapkan perkawinan-perkawinan, merekalah berkuasa atas anak-anak, dan menurut garis merekalah diambil keturunan”. Pada bangsa Indian Wyandot keadaan juga begitu, majelis pemerintahan mereka adalah terdiri dari 55 orang; anggota laki-laki dari majelis ini hanya 11 orang; tapi anggota perempuan ... 44 orang!
 
Dan juga di dalam urusan agama kaum perempuan dijadikan pemimpin. Mrs. Ray Strachey menerangkan, bahwa justru di dalam urusan agamalah kaum perempuan di zaman dulu hampir selamanya diutamakan dari kaum laki-laki; perempuan dianggap lebih suci daripada kaum laki-laki. Di dalam kehidupan sehari-haripun orang lebih mencintai dewi-dewi daripada dewa-dewa. Agama Sumeria, agama Shinto, yang kedua-duanya agama tua sekali, sangat memuliakan perempuan. Pada banyak bangsa di lautan Teduh masih selalu perempuan yang mengepalai agama.
 
Sekianlah keadaan kaum perempuan di zaman hukum peribuan atau matriarchat itu. Di dalam bab IV hal ini akan saya terangkan lebih lebar. Di dalam bab II pun sudah saya ceritakan sedikit-sedikit tentang zaman peribuan ini. Di zaman itu kaum perempuan, karena kemerdekaannya, adalah besar-besar dan sigap-sigap badan, cerdas-cerdas dan tangkas-tangkas, berani-berani dan luas-luas penglihatan, – tidak seperti perempuan-perempuan di zaman sekarang, yang kecil-kecil dan takut-takut. Di zaman peribuan itu mereka bukan ”kaum lemah”, bukan ”kaum bodoh”, bukan ”kaum sempit pikiran”, bukan ”kaum penakut”. Di zaman itu perempuan bukan ”kaum dapur” saja, bukan ”bunga rumah tangga” saja. Mereka berkuasa, menduduki masyarakat, mengendali masyarakat, menguasai masyarakat. Malah kaum laki-lakilah yang di zaman itu dianggap sebagai kaum embel-embel semata-mata. Mereka hanya dianggap sebagai anasir ”pemacek”, – anasir ”pembuat turunan”. Mereka, kaum laki-laki itu, di zaman peribuan berkedudukan seperti semut laki atau lebah laki dalam masyarakat semut dan masyarakat lebah. Juga dalam masyarakat semut dan masyarakat lebah itu betina lebih penting daripada laki; juga di situ si laki hanya pemacek. Malahan di masyarakat semut dan lebah itu si laki dibunuh sesudah ia selesai mengerjakan pacekannya! Maka pantaslah orang menanya: Manakah kebenaran semua ”teori” yang mengatakan, bahwa sudah kodrat perempuan-perempuan. menjadi penunggu rumah tangga dan penunggu periuk-nasi saja?<aref>Perlu title=""diterangkan href="#_ftn1">*)di sini bahwa kedudukan yang baik dari perempuan di dalam zaman hukum peribuan itu ialah di dalam hukum peribuan yang karena perezekian, sebagai yang saya terangkan di atas ini. Tetapi ada pula hukum peribuan yang tidak karena perezekian, melainkan hanya buat mengurus keturunan saja. Maka di sini tidak selalu kedudukan perempuan itu baik. Teori Bachofen yang mengatakan, bahwa hukum peribuan selalu mengasih kedudukan mulia kepada perempuan, harus dianggap belum mutlak.</aref>
 
Tetapi ... zaman selalu berjalan, zaman selalu beralih. Datanglah phase (tingkat) ketiga di dalam sejarah peri-kemanusiaan itu, yang menggugurkan lagi kaum perempuan dari singgasananya. Kaum laki-laki yang dulu berburu dan mencari ikan itu, yang kadang-kadang berminggu-minggu meninggalkan kelompok atau gensnya buat berjuang di dalam rimba atau bersenang-senang di dalam rimba, kaum laki-laki itu lambat-laun makin lama makin meninggalkan cara pencarian hidup dengan berburu dan mencari ikan itu. Buat apa cape-cape lagi membahayakan diri di dalam perburuan, yang juga tidak selamanya berhasil baik itu, kalau ada sumber rezeki lain yang lebih menyenangkan? Tidakkah hasil pertanian telah mencukupi segala-gala keperluan hidup? Dulu, tatkala orang belum kenal pertanian, dulu orang terpaksa hidup di gunung-gunung dan di rimba-rimba yang banyak binatang-binatang dan sato hewannya. Kini orang meninggalkan rimba-rimba itu, meninggalkan tempat-tempat yang sukar dan sempit, kini orang mencari tanah-tanah datar dan tanah-tanah rata yang baik buat pertanian itu. Kini tanah yang subur dan yang berisi banyak zatlah yang orang perlukan, – meskipun tidak ada binatang sato khewan di situ. Kini ditanah yang bukan rimba dan bukan gunung itu perburuan itu menjadi sangat terdorong ke belakang. Lagipula, sudah lama pula orang laki-laki terbuka ingatannya buat menternakkan binatang sato khewan. Juga buat peternakan ini, bukan rimba dan gunung-gunung yang diperlukan, tetapi tanah rata yang banyak rumput. Karena peternakan inipun, maka laki-laki lantas banyak waktunya yang senggang, banyak waktunya yang tak terpakai, tidak seperti dulu, tatkala ia berhari-hari musti mengintai atau mengejar buruan. Maka lambat-laun laki-laki lantas ikut-ikut menjadi tani pula. Malahan lambat-laun laki-laki itu lantas ”memborong” pekerjaan pertanian, – perempuan disuruh tinggal di rumah saja, atau, kalau diajak ke ladang, hanya dipakai sebagai pembantunya saja. Maka lambat-laun merosotlah kedudukan perempuan sebagai produsen, lambat-laun lunturlah pamor wanita sebagai pemberi makan kepada semua keluarganya. Sebaliknya si laki-lakilah yang makin naik derajat, si laki-lakilah yang makin bertambah nama dan kekuasaannya. Sebab kini dialah yang bekerja di ladang, dialah yang menguasai ladang. Dialah kini produsen yang pertama, dialah kini pemberi-hidup.
Sungguh menggelikan! .
 
Tentang couvade ini, maka Paul Lafargue menulis dalam kitabnya tentang hukum peribuan: ”Manusia, makhluk yang paling kejam dan paling edan antara segala hewan, sering sekali membungkus keadaan-keadaan masyarakat yang penting dengan adat-adat kebiasaan yang paling menggelikan. Couvade adalah salah satu tipuan yang dijalankan oleh laki-laki, untuk mengusir wanita dari kedudukannya dan miliknjamiliknya. Fi’il bersalin adalah tadinya tanda hak lebih daripada wanita dalam famili tetapi laki-laki telah menirukan fi’il ini dengan cara yang amat menggeli-kan, untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dari dialah bayi itu mendapat hidupnya”.
 
Dari dia! Dari dia! Wanita tidak kuasa apa-apa, wanita sekadar alat!
Sebab di dalam masyarakat kapitalistis sekarang ini, sempurnanya pelayanan dua kewajiban ini adalah terlalu membebani kepadanya, terlalu berat bagi tenaganya satu orang, sehingga ia menjadi ”senewen” dan patah tulang belakang: Mau melepaskan kerja di dalam masyarakat tak dapat, sebab, itu berarti hilangnya sesuap nasi dan hilangnya kemerdekaan; mau melepaskan suami dan anak-anak tak mungkin, sebab, itu adalah bertentangan dengan kodrat dan keinginan jiwa. Begitulah gambarnya retak yang membelah jiwa-raga perempuan kaum bawahan menjadi dua belahan yang terombang-ambing satu sama lain.
 
Bagaimanakah retak perempuan kaum atasan? Juga di sini ia kini telah banyak menjabat pekerjaan masyarakat. Juga di sini ia telah banyak bekerja di luar rumah tangga. Juga di sinipun ia, selain memikirkan kerja di masyarakat itu, h a r u s juga memikirkan kerja sebagai isteri dan sebagai ibu. Tetapi manakala dua pekerjaan ini di kalangan kaum buruh mendatangkan ”senewen”, maka di kalangan atasan hanyalah mendatangkan ”rasa kurang puas” sahaja. Sebab perempuan atasan itu di rumahtangganya cukup mendapat bantuan, bantuan alat-alat teknik sebagai gas dan listrik, bantuan harta yang dapat membeli semua keperluan, dan bantuan pelayan-pelayan yang tinggal memerintah saja. Ketidakpuasan yang ia rasakan itu bukan ketidakpuasan karena ”patahnya tulang belakang”, tetapi adalah ketidakpuasan t e r g a n g g u n y a w a k t u untuk menumpahkan cinta kasih kepada suami dan terutama sekali kepada anak-anak, sebagai panggilan jiwanya dan panggilan kodratnjakodratnya. Kerja di masyarakat itu menjadi satu halangan baginya buat kesempurnaan kehidupan laki-isteri anak, satu rintangan bagi k e h i d u p a n l a k i – i s t e r i yang sempurna dan bahagia.
 
Dan bukan saja rintangan bagi kesempurnaan kehidupan laki-isteri manakala kehidupan itu s u d a h a d a , – artinya: manakala s u d a h hidup berlaki-isteri, s u d a h ada suami, s u d a h ada anak -, tetapi bagi banyak kaum perempuan atasan kehidupan laki-isteri inipun satu hal yang susah didapatnya. Bagi banyak kaum atasan, sebagai tadi sudah saya katakan, mendapat suami masih satu teka teki, – sehingga timbul peristiwa ”gadis-tua” dan ”make-up movement”. Maka oleh karena itu, kini, sebagai reaksi atas keadaan yang demikian itu, bukan lagi kerja di dalam masyarakatlah yang menjadi tujuan dan cita-cita, tetapi kehidupan laki-isteri y a n g b a h a g i a . Bersuami, beranak, berumah tangga bahagia, itulah kini idam-idaman yang pertama, keinginan jiwa yang paling tinggi. Kini timbul satu aliran baru di kalangan kaum perempuan atasan itu, yang mengatakan, bahwa feminisme tak cukup untuk mendatangkan kebahagiaan. Kini timbul aliran n e o – f e m i n i s m e , feminisme baru, yang menganggap pekerjaan masyarakat itu ”nomor dua”, tetapi perkawinan, menjadi ibu, memimpin keuarga nomor satu.
Kecuali perkecualian di zamannya matriarchat itu, maka benar sekali perkataan Bebel ini. Mungkin-kah datang satu waktu, di mana ia akan hidup merdeka kembali? Ataukah sudah memang ”kodrat” perempuan, hidup di bawah telapak laki-laki?
 
==BAB IV: MATRIARCHAT DAN PATRIARCHAT==
'''BAB IV'''
 
'''MATRIARCHAT DAN PATRIARCHAT'''
 
Satu kali perempuan berkedudukan mulia, yakni di zaman berkembangnya matriarchat. Adakah ini berarti, bahwa kita, untuk kemuliaan perempuan itu musti mengharap diadakan kembali sistim matriarchat itu?
Maka oleh karena itu, tak dapat matriarchat itu datang kembali, kalau kedudukan perempuan sebagai produsen masya-rakat tidak menjadi terpenting lagi seperti dulu. Mungkinkah ini? Mungkinkah zaman pertanian cara dulu balik kembali? Atau mungkinkah datang lagi satu sistim produksi masyarakat, yang kaum perempuan saja menjadi pokoknya? Pembaca boleh mengharapkan segala hal, boleh memasang cita-cita yang setinggi langit, tetapi jangan mengharapkan arah evolusi masya-rakat berbalik kembali. Pembaca boleh mengharapkan susunan masyarakat yang lebih baik, kedudukan manusia yang lebih layak, penghargaan kepada manusia satu sama lain yang lebih adil, tetapi janganlah pembaca mengharapkan jarum masyarakat diputarkan mundur. Sebab harapan yang demikian itu adalah harapan yang mustahil, harapan yang kosong. Masyarakat tak dapat diharap balik kembali kepada tingkat yang terdahulu, – tiap-tiap fase yang telah diliwati oleh perjalanan masyarakat, sudahlah termasuk ke dalam alamnya ”kemarin”. Pertanian kini bukan alam orang perempuan saja, dan fase pertanian itupun sebagai fase kemasyarakatan sudah terbenam di dalam kabutnya ”zaman dahulu”. Kini fase masyarakat adalah fase kepaberikan, fase permesinan, fase industrialisme. Tidak dapat fase industrial-isme ini lenyap lagi untuk balik kembali kepada fase pertanian, dan tidak dapat pula di dalam industrialisme ini perempuan saja yang memegang kendali produksi! Perempuan dan laki-laki, laki-laki dan perempuan, kedua-duanya menjadi produsen di dalam industrialisme itu. Maka oleh karena itu, juga di dalam masyarakat sekarang ini matriarchat tak dapat datang kembali.
 
Saudara barangkali bertanya, tidakkah di Minangkabau kini ada matriarchat? Pembaca, di Minangkabau sekarang sudah tidak ada lagi matriarchat, yang ada hanyalah restan-restan dari hukum peribuan saja, yang makin lama makin lapuk. Hak keturunan menurut garis peribuan masih ada di situ, perkawinan eksogam (mencari suami dimustikan dari suku lain, tidak boleh dari suku sendiri) masih diadatkan di situ, ''hak harta pusaka tetap tinggal di dalam lingkungan ibu'' masih ditegakkan di situ, tetapi matriarchat sudah lama lenyap, sejak pemerintahan Bunda Kandung di Pagar Ruyung. Yang masih ada hanyalah runtuhan-runtuhan saja dari hukum peribuan, sebagaimana runtuhan-runtuhan ini juga terdapat pula di beberapa daerah di luar Minangkabau di daerah-daerah Lampung, daerah-daerah Bengkulu, di daerah Batanghari, di Aceh, di Mentawai, di Enggano, di Belu, di Waihala, di Sulawesi Selatan, dll, – dan di luar Indonesia pada beberapa suku Indian di Amerika Utara, di kepulauan Mariana, di beberapa bagian kepulauan Philipina, di Oceania, di beberapa daerah Neger, dll. Perhatikan pembaca, restan-restan hukum peribuan ini (kecuali di Minangkabau) hanyalah terdapat pada bangsa-bangsa yang masih sangat terbelakang saja, dan tidak pada bangsa-bangsa yang sudah cerdas dan tinggi evolusinya serta kulturnya! Maka sebenarnya hukum peribuan di Minangkabau itu adalah r e s t a n – r e s t a n dari Minangkabau tingkat rendah, dan bukan milik Minangkabau tingkat sekarang. Siapa mau memelihara hukum peribuan itu di Minangkabau sekarang ini, dia adalah memelihara restan-restan Minangkabau tingkat rendah, memelihara sisa-sisa bangkai periode kultur yang telah silam. Dia dapat kita bandingkan dengan orang yang menghiaskan bunga melati di sekeliling muka gadis cantik yang sudah mati: Cantik, merindukan, memilukan, menggoyangkan jiwa, tetapi – mati!
 
''hak harta pusaka tetap tinggal di dalam lingkungan ibu'' masih ditegakkan di situ, tetapi matriarchat sudah lama lenyap, sejak pemerintahan Bunda Kandung di Pagar Ruyung. Yang masih ada hanyalah runtuhan-runtuhan saja dari hukum peribuan, sebagaimana runtuhan-runtuhan ini juga terdapat pula di beberapa daerah di luar Minangkabau di daerah-daerah Lampung, daerah-daerah Bengkulu, di daerah Batanghari, di Aceh, di Mentawai, di Enggano, di Belu, di Waihala, di Sulawesi Selatan, dll, – dan di luar Indonesia pada beberapa suku Indian di Amerika Utara, di kepulauan Mariana, di beberapa bagian kepulauan Philipina, di Oceania, di beberapa daerah Neger, dll. Perhatikan pembaca, restan-restan hukum peribuan ini (kecuali di Minangkabau) hanyalah terdapat pada bangsa-bangsa yang masih sangat terbelakang saja, dan tidak pada bangsa-bangsa yang sudah cerdas dan tinggi evolusinya serta kulturnya! Maka sebenarnya hukum peribuan di Minangkabau itu adalah r e s t a n – r e s t a n dari Minangkabau tingkat rendah, dan bukan milik Minangkabau tingkat sekarang. Siapa mau memelihara hukum peribuan itu di Minangkabau sekarang ini, dia adalah memelihara restan-restan Minangkabau tingkat rendah, memelihara sisa-sisa bangkai periode kultur yang telah silam. Dia dapat kita bandingkan dengan orang yang menghiaskan bunga melati di sekeliling muka gadis cantik yang sudah mati: Cantik, merindukan, memilukan, menggoyangkan jiwa, tetapi – mati!
 
Memang tak dapat dibantah, bahwa hukum peribuan itu adalah hukumnya masa yang telah silam. Lihatlah, di dalam kitab agama bahagian yang tua-tua saja terdapat hukum peribuan itu, bukan di dalam kitab agama yang dari zaman yang kemudian: di dalam Perjanjian Lama, Genesis 2,24 ada tertulis: ”Maka oleh karena itu, orang laki-laki akan meninggalkan bapa-nya dan ibunya, dan bergantung kepada isterinya, dan mereka akan menjadi satu daging”. Benar kalimat ini terdapat juga di Perjanjian Baru (misalnya Mattheus 19,5 dan Markus 10, 7), dan diartikan sebagai kesetiaan laki-laki kepada isterinya, tetapi asal-asalnya nyatalah dari kitab Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Lama pula, Numeri 32,41 ada diceritakan hal yang berikut: Yair mempunyai bapa yang asalnya dari suku Yuda, tetapi ibunya Yair adalah dari suku Manasse, maka dengan nyata Yair di situ disebutkan ”ibnu Manasse”, dan mendapat warisan dari suku Manasse itu. Begitu pula di dalam Nehemia 7,63: Di sini anak-anak seorang pendeta yang beristerikan seorang perempuan dari suku Barzillai, dinamakan anak-anak Barzillai, jadi menurut nama suku ibunya. Tidakkah, sebagai di muka saya sebutkan juga, Nabi 1sa masih disebutkan Isa Ibnu Maryam?
Di manakah di negeri tumpah darah kita ini, kecuali Minangkabau, masih ada sisa-sisa hukum peribuan? Pertama, boleh dikatakan semua daerah-daerah yang berdekatan dengan Minangkabau itu masih memakai hukum peribuan bagian-bagian dari keresidenan Bengkulu, bagian-bagian dari Jambi, bagian-bagian dari Palembang. Sudah barang tentu semuanya itu tidak murni lagi, tidak asli hukum peribuan lagi, melainkan sudah tercampur bawur dengan hukum-hukum lain, terutama sekali tercampur dengan syariat Islam. Sebagaimana di Minangkabau hukum peribuan bukan asli hukum peribuan lagi, maka begitu juga di daerah-daerah ini hukum peribuan bukan asli hukum-peribuan lagi. Hanya kadang-kadang saya heran melihat ”uletnya” hukum peribuan itu, seakan-akan syariat Islam tak mudah melenyapkannya. Di negeri Aceh, misalnya, yang penduduknya begitu teguhnya memeluk agama Islam, masih ada sisa-sisa hukum peribuan yang belum lenyap! Di situ masih ada daerah-daerah yang perempuan, sesudah nikah, masih tetap saja menjadi ”haknya” rumah orang tuanya, sedang suaminya, kalau ia tidak ikut diam di rumah isterinya itu, datang kepadanya hanya kalau ada keperluan saja. Anak-anak dari perkawinannya itu tetap di rumah ibunya, ”gampung” anak-anak itu adalah -”gampung” ibunya! Adat hukum peribuan inilah yang di daerah Semendo dan lain-lain daerah di Sumatera Selatan menjadi dasar perka-winan ”ambil anak” atau ”cambur sumbai” di tanah Lampung. Di situ si suami memutuskan pertaliannya dengan bapa ibu sendiri, dan menjadi ”anaknya” mertuanya, berdiam di rumah mertuanya, bekerja pada pekerjaan mertuanya. Ia ”ikut” kepada isterinya, ia menyerahkan anak-anaknya kepada isteri-nya, ia hanyalah bertindak sebagai ”jantan” bagi isterinya, anak-anaknya menjadi ahli waris isterinya. Terutama sekali kalau orang hanya mempunyai anak-anak perempuan saja, (jadi tiada anak laki-laki), maka selalu perkawinan ”cambur-sumbai” ini yang dipilih. Dengan begitu si anak perempuan itu meneruskan keturunan dan harta miliknya famili, atau dengan perkataan adat; buat ”tunggu jurai”, buat “menegakkan jurai”. Malahan di daerah Semendo anak perempuan yang tertua t e t a p menjadi penunggu dan penegak jurai itu, meski ia mempunyai saudara laki-laki atau tidak mempunyai saudara laki-laki. Suaminya wajib ikut kepadanya. Anak-anaknyalah yang meneruskan jurai, dan bukan anak saudaranya yang laki-laki. Pendek kata, di daerah-daerah Sumatera Tengah dan sebagian dari Sumatera Selatan, masih nyata ada sisa-sisa hukum peribuan, begitu pula di Batanghari atas, di Kerinci, dan tempat-lain-lain.
 
Di pulau Mentawai masih ada sisa adat hukum peribuan yang berupa ”hetaerisme” (lihat di muka) antara ”gadis-gadis” dengan pemuda-pemuda laki-laki, sebelum perkawinan. Di pulau Mentawai itu sama sekali bukan satu kedurhakaan, kalau seorang ”gadis” sebelum ia mempunyai suami sudah mempunyai anak, dan pemuda Mentawai tidak pula kecewa hatinya kalau perempuan yang ia kawin itu sudah mempunyai anak! Begitu pula keadaan di pulau Enggano. Anak-anak di luar atau di dalam perkawinan, tetap menjadi hak ibunya. Di Borneo Barat, di Sintang, di pulau Timur (Belu, Waihala) masih ada adat, yang seorang suami d i w a j i b k a n berdiam di rumah isterinya, dan di Sulawesi Selatan ada adat ”mapuwoawo” yang menentukan, bahwa anak yang tertua dan yang ketiga ditentukan menjadi hak ibunya, sedang bapa hanya mendapat hak atas anak yang kedua atau keempat saya. Malah bukan saja hukum peribuan ada sisa-sisanya di situ, tetapi juga ada matriarchat: dulu sering-sering di Sulawesi Selatan orang perempuan dijadikan raja. Di Keo, yaitu di satu daerah Flores, ”gadis-gadis” selalu bergaul bebas dengan laki-laki, dan ”gadis-gadis” yang paling ”jempol” memuaskan hati laki-laki, merekalah yang nanti paling besar harapan buat lekas mendapat suami.
 
”gadis-gadis” selalu bergaul bebas dengan laki-laki, dan ”gadis-gadis” yang paling ”jempol” memuaskan hati laki-laki, merekalah yang nanti paling besar harapan buat lekas mendapat suami.
 
Maka nyatalah dengan bukti-bukti dari daerah-daerah primitif dari negeri sendiri itu, bahwa hukum peribuan adalah hukum primitif, hukum sesuatu rakyat yang b e 1 u m t i n g g i t i n g k a t k e m a j u a n n y a . Hukum yang masih primitif itu tak mungkin baik buat masyarakat modern, dan pantas diganti dengan hukum yang lebih sesuai dengan masyarakat modern!
Dan masih ada lagi satu hal penting dalam ceritera Yakub.
 
Menurut Injil, Yakub mendapat Rachel dan Lea itu dengan jalan m e m b e l i n y a dari bapanya: baik Rachel maupun Lea ia beli dengan menjual tenaganya, kepada Laban, masing-masing tujuh tahun lamanya. Maka kita di sini menginjak satu sifat penting dari patriarchat pula: p e r e m p u a n m i l i k y a n g h a r u s d i b e l i. Inilah yang di dalam salah satu bab di muka sudah pula saya terangkan: kawin beli, perkawinan dengan jalan membeli, perkawinan dengan menganggap perempuan itu sebagai satu b e n d a p e r d a g a n g a n. Orang Yunani di zaman dulu menyebutkan wanita-wanitanya ”alphesiboiai”, yang artinya: menghasilkan sapi, berharga sapi, boleh ditukarkan dengan sapi! Ya, perempuan satu benda perdagangan, yang, kalau sudah dibayar harganya, dapat diperlakukan semau-maunya, oleh yang membelinya itu. Ia boleh dipandang sebagai benda perhiasan rumah, boleh disimpan dan disembunyikan rapat-rapat, boleh disuruh bekerja mati-matian seperti budak-belian, boleh dijual lagi, boleh dibunuh, boleh diwariskan kepada ahli-waris bersama benda yang lain-lain. Ia boleh dihidupi atau tidak dihidupi, boleh dimanusiakan atau tidak. dimanusiakan. Di zaman Rumawi dahulu, menurut keterangan Engels adalah satu kebiasaan, bahwa perempuan itu, beserta semua famili, sebelum suaminjasuaminya mati, sudah ditentukan dengan testamen kepada siapakah ia nanti akan diwariskan kalau suaminya mati. Ya, ia memang benda belaka, milik ia punjapunya suami! Kalau ia dibunuh oleh suaminya itu, maka i t u p u n h a k suaminya. (Engels). Sampai di abad kelimabelas di Jerman dan di negeri Belanda menurut keterangan Murner perempuan masih ”disuguhkan” kepada tetamu, sebagai orang menyuguh-kan sepotong kuih. ”Het is in Nederland het gebruik, wanneer de man een gast heeft, dat hij hem zijn vrouw op goed geloof toevertrouwt”. Atau mungkinkah ini sisa ”ibu umum” daripada hukum peribuan?
 
Dan kalau laki-laki tidak mempunyai cukup syarat untuk membeli perempuan itu? Tidak cukup harta benda, atau tidak mau membeli dengan tenaga buruh seperti Yakub kepada Laban? Sudah saya terangkan di muka: zaman dulu zaman ”mentah-mentahan”. Kalau tidak dapat d i b e l i perempuan itu, maka tiada keberatan moral sama sekali, jika perempuan itu dicuri, dirampok mentah-mentahan.
Memang tak dapat disangkal, bahwa persundalan itu bukan sekadar akibat ”kebejatan moral” saja, bukan sekedar satu akibat dari nafsu birahi perempuan-perempuan liar, tetapi ialah satu keadaan yang tidak boleh tidak p a s t i lahir karena salahnya susunan masyarakat dan s a l a h n y a a n g g a p a n t e r h a d a p h a r g a p e r e m p u a n.
 
Ia adalah satu ”buatan masyarakat” (perkataan Engels), sebagai patriarchat sendiripun satu buatan masyarakat. ”Ia adalah suatu buatan masyarakat seperti yang lain-lain; ia melanjutkan adanya kebebasan seksuil, – untuk kepentingan kaum lelaki”. Ia tak dapat lenyap, kalau susunan masyarakat yang salah itu tidak lenyap dan anggapan salah terhadap perempuan itu tidak dibongkar. la, menurut perkataan Marx, tetap mengikuti peri-kemanusiaan ”sebagai satu bayangan”, sampai ke alamnya ”peradaban” sekalipun. Dan ia sebaliknya juga akan membangunkan satu ”buatan masyarakat” yang lain lagi, yang juga tak dapat lenyap di zaman sekarang ini: ia membangunkan Figurnya i s t e r i y a n g m e n d u r h a k a i s u a m i, karena s u a m i m e n d u r h a k a i i s t e r i.
 
Figurnya i s t e r i y a n g m e n d u r h a k a i s u a m i, karena s u a m i m e n d u r h a k a i i s t e r i.
 
Laki-laki pergi bercinta dengan sundal di luar rumahtangga, isteripun yang ditinggalkan di rumah itu menerima percintaan-nya orang dari luar rumah tangga. Laki-laki tidak setia, perempuan tidak setia pula.
Persundalan adalah satu buatan masyarakat, tetapi pendurhakaan suamipun adalah satu buatan masyarakat. Walaupun dilarang keras, diancam dengan hukuman berat, diperangi dengan wet dan penjara, ia tidak dapat ditindas dan dihilangkan.
 
Itulah sebabnya, maka meskipun patriarchat itu pertama-tama dan terutama sekali diadakan untuk ”memastikan turunan”, toh sampai sekarang, kendati penjagaan wet, kendati ancaman neraka yang bagaimanapun juga ”siapa bapa” masih tetap satu soal ” k e p e r c a y a a n ” saja, dan bukan satu hal yang dapat dijamin kepastiannya. Satu hal ”kepercayaan”, dan bukan satu hal k e n y a t a a n. Satu hal k i r a – k i r a, dan bukan satu hal k e p a s t i a n. Sehingga kitab hukum Code Napoleonpun, yang menjadi contoh bagi banyak kitab-kitab hukum di Eropa, (antara lain-lain juga menjadi contoh hukum Nederland), di dalam artikel 312 ada menulis: ”L’enfant concu pendant le mariage a pour pere le mari”. – “Anak yang dihamilkan di dalam persuami-istrian, yang d i a n g g a p menjadi bapanya ialah sang suami”. Dengan jitu dan jenaka sekali Engels membubuhi komentar atas artikel 312 Code Napoleon ini:
 
” k e p e r c a y a a n ” saja, dan bukan satu hal yang dapat dijamin kepastiannya. Satu hal ”kepercayaan”, dan bukan satu hal k e n y a t a a n. Satu hal k i r a – k i r a, dan bukan satu hal k e p a s t i a n. Sehingga kitab hukum Code Napoleonpun, yang menjadi contoh bagi banyak kitab-kitab hukum di Eropa, (antara lain-lain juga menjadi contoh hukum Nederland), di dalam artikel 312 ada menulis: ”L’enfant concu pendant le mariage a pour pere le mari”. – “Anak yang dihamilkan di dalam persuami-istrian, yang d i a n g g a p menjadi bapanya ialah sang suami”. Dengan jitu dan jenaka sekali Engels membubuhi komentar atas artikel 312 Code Napoleon ini:
 
I n i l a h h a s i l y a n g p a l i n g b a r u d a r i t i g a r i b u t a h u n p e r s u a m i – i s t e r i a n s a t u ! ...
Ia musti bangun pagi-pagi, masuk tidur jauh malam, supaya rumah tangga selalu beres. Adat kita dari zaman dulu ialah bahwa bayi perempuan yang baru lahir, harus diletakkan tiga hari lamanya di atas tanah. Dari adat kita ini ternyata, bahwa laki-laki tinggi seperti langit, dan perempuan rendah seperti tanah”.
 
Pada waktu orang perempuan Nippon menikah, ia harus memakai pakaian yang berwarna putih, sebab bagi orang Nippon warna putih adalah warnanjawarnanya maut. Simbolik ini berarti, bahwa pada waktu ia menikah, ia telah mati bagi kehendak-kehendak dan keinginan-keinginan sendiri. Orang tuanyapun pada waktu itu membakar api, – membakar api seperti pada waktu kematian salah seorang keluarganya. Ia tinggal hidup bagi Dia yang Satu itu saja, – tinggal hidup bagi Sang Suami.
 
Ia tidak boleh berkata apa-apa, kalau suaminya jauh-jauh malam belum pulang dari pelesir. Ia musti menunggu dengan sabar, memasang telinga dengan teliti, supaya, kalau ia, mendengar jejak kaki suaminya di tangga, ia segera dapat membukakan pintu dan menghormatnya dengan menekukkan lutut. Ia tak boleh berkata apa-apa, kalaupun sang suami itu membawa sundal ke dalam rumah. Ia malahan tak boleh berkata apa-apa, kalau sang suami memerintahkan kepadanya, membereskan tempat tidur buat suaminya dan sundal itu, atau menyediakan sake hangat di sebelah tempat tidur itu, meskipun ia mengetahui bahwa sake itu ialah buat menguatkan nafsu-birahinya sang suami itu. Ia tak boleh berkata apa-apa, kalau ia kemudian disuruh menutup pintu bilik, disuruh menunggu duduk di muka pintu itu, kalau-kalau nanti sang suami memanggil kepadanya dengan tepokan tangan, – meminta ini atau itu buat kesenang-annya dengan sundal itu.
Jepang adalah satu paradox, antara kemodernan dan kekolotan. Tetapi kekolotan fahamnya tentang wanita, tidak memegang record. Record kekolotan adalah dipegang oleh sebagian dari umat yang namanya telah beragama Islam. Bukan sesuai dengan kehendak Islam, tetapi, bertentangan dengan kehendak Islam!
 
==BAB V: WANITA BERGERAK==
<hr size="1" width="33%" />
 
<a title="" href="#_ftnref1">*)</a> Perlu diterangkan di sini bahwa kedudukan yang baik dari perempuan di dalam zaman hukum peribuan itu ialah di dalam hukum peribuan yang karena perezekian, sebagai yang saya terangkan di atas ini. Tetapi ada pula hukum peribuan yang tidak karena perezekian, melainkan hanya buat mengurus keturunan saja. Maka di sini tidak selalu kedudukan perempuan itu baik. Teori Bachofen yang mengatakan, bahwa hukum peribuan selalu mengasih kedudukan mulia kepada perempuan, harus dianggap belum mutlak.
 
'''BAB V'''
 
'''WANITA BERGERAK'''
 
Keadaan wanita yang ditindas oleh fihak laki-laki itu akhir-nya, tidak boleh tidak, niscaya membangunkan dan membangkit-kan satu pergerakan yang berusaha meniadakan segala tindasan-tindasan itu. Itu memang sudah hukum alam. Tetapi adalah hukum alam juga, bahwa kesedaran dan kegiatan sesuatu pergerakan bertingkat-tingkat.
Baru d i d a 1 a m Revolusi Amerika dan Perancis itulah buat pertama kali ada aksi fihak wanita yang tersusun, yang boleh diberi gelar ”pergerakan wanita”. Baru d i d a l a m Revolusi itulah kaum wanita Barat secara tersusun menuntut hak-haknya sebagai manusia, sebagai anggauta masyarakat, sebagai warga Negara, memprotes kezaliman atas diri mereka sebagai sekse dan sebagai warga negara wanita.
 
S e b e l u m Revolusi-Revolusi itu, belum adalah gerakan itu. Hanya di kalangan kaum perempuan b a n g s a w a n dan h a r t a w a n adalah semacam ”kerajinan”, semacam ”kegiatan”, yang saya namakan ” t i n g k a t a n k e s a t u ” daripada pergerakan wanita. Sebenarnya perkataan p e r g e r a k a n wanita buat tingkatan kesatu inipun kurang tepat, sebab ”kerajinan” atau ”kegiatan” itu sama sekali bukan pergerakan, – apalagi gerakan! ”Kerajinan” dan ”kegiatan” itu hanyalah satu ”onder-onsje” (pertemuan antara kawan-kawan) belaka, ... – satu ”kelangenan” (J.) Bukan satu ”aksi”, bukan satu perlawanan tersusun”, bukan satu ”gelombang kesedaran”. Ia hanyalah satu ”kesukaan”, satu ”pengisi waktu nganggur”. Ia terutama sekali dikerjakan oleh wanita-wanita bangsawan dan hartawan yang jemu dengan terlalu banyaknya waktu menganggur.
 
” t i n g k a t a n k e s a t u ” daripada pergerakan wanita. Sebenarnya perkataan p e r g e r a k a n wanita buat tingkatan kesatu inipun kurang tepat, sebab ”kerajinan” atau ”kegiatan” itu sama sekali bukan pergerakan, – apalagi gerakan! ”Kerajinan” dan ”kegiatan” itu hanyalah satu ”onder-onsje” (pertemuan antara kawan-kawan) belaka, ... – satu ”kelangenan” (J.) Bukan satu ”aksi”, bukan satu perlawanan tersusun”, bukan satu ”gelombang kesedaran”. Ia hanyalah satu ”kesukaan”, satu ”pengisi waktu nganggur”. Ia terutama sekali dikerjakan oleh wanita-wanita bangsawan dan hartawan yang jemu dengan terlalu banyaknya waktu menganggur.
 
Ada gunanya ”kegiatan” semacam itu saya namakan satu t i n g k a t k e s a t u daripada p e r g e r a k a n wanita!
Tingkatan kesatu ini ialah tingkatan perserikatan-perserikatan, – club-club -, yang anggotanya rata-rata dari kalangan kaum wanita atasan, dan yang tujuannya serta usaha-nya ialah memperhatikan k e r u m a h t a n g g a a n. Ilmu masak, ilmu menjahit, ilmu memelihara anak, ilmu bergaul, ilmu kecantikan, ilmu estetik, serta prakteknya, – hal-hal yang semacam itu yang men-jadi lapangan usahanya. Club-club itu ”menyempurnakan” wanita sebagai isteri dan sebagai ibu. ”Menyempurnakan” anggota-anggotanya untuk cakap memegang rumah tangga, cakap menerima tamu, cakap mem-berahikan suami, cakap menjadi ibu. Perbandingan hak antara laki-laki dan perempuan t i d a k disinggungnya, ekses-ekses patriarchat t i d a k ditentangnya. Kegiatan mereka ialah justru untuk menyempurna-kan diri mereka d i d a 1 a m ekses-ekses patriarchat itu.
 
Suami tetap diakuinya sebagai Yang Dipertuan, Yang Maha Kuasa, usaha mereka ialah – justru menyempurnakan diri mereka u n t u k m e n y e n a n g k a n hati Yang Dipertuan, Yang Maha Kuasa itu. Mereka kadang-kadang mendirikan sekolahan-sekolahan buat gadis-gadis, dan sifatnya sekolahan-sekolahan itu tak banyak bedanya dengan ”sekolah-sekolah rumah-tangga” di zaman sekarang, – hanya lebih ”mondaine”, lebih ”mriyantun”. Mereka merasa diri mereka setingkat lebih tinggi daripada perempuan-perempuan yang kurang mahir di dalam ilmu ”keperempuanan”. Mereka mendidik gadis-gadis, supaya nantinya ”laku” di kalangan kaum pemuda bangsawan dan hartawan, untuk dikawin, dan menjadi ”grande dame”. Usaha mereka ialah untuk menyempurnakan dan menyediakan wanita buat perjodohan, buat sang suami yang harus dipuja, buat ”Sang Junjungan” yang harus ditaati. Promotor-promotor mereka, – yang paling terkenal ialah M a d a m e d e M a i n t e n o n di Perancis, dan A. H. F r a n c k e di Jerman -, promotor-promotor mereka tidak membangunkan semangat kesadaran yang lebih berarti, tidak menunjukkan jalan kepada kaum wanita untuk menjadi manusia yang lebih berisi. Kodrat alam m e n e t a p k a n perempuan di bawah laki-laki, – sempurnakanlah perempuan itu untuk lebih sempurna mengabdi laki-laki! ”Kelebihan” laki-laki itu diakui, dihormati, ditaati. Manakala nasib perempuan kurang menye-nangkan, itu menurut pemimpin-pemimpin wanita tingkatan kesatu itu b u k a n disebabkan tidak adilnya perbandingan hak antara perempuan dan laki-laki, tetapi melulu disebabkan si-perempuan itu sendiri kurang sempurna menjalankan keperem-puannya. Oleh karena itu: Sempurnakanlah dirimu! Sempurna-kanlah kecantikanmu, sempurnakanlah kecakapanmu berumah- tangga, sempurna-kanlah kepandaianmu meladeni suami, maka dengan sendirinjasendirinya k e d u d u k a n m u sebagai wanita akan lebih berharga dan lebih menyenangkan!
 
Begitulah, dengan singkat, gambarnya ”tingkatan kesatu”. Tepat dan jitu sekali perkataan Henriette Roland Holst, bahwa usaha dan ikhtiar wanita dalam tingkatan ini pada hakekatnya ialah ” o m d e n m a n t e b e k o r e n ”: – ”buat memikat hati laki-laki”. Tingkatan ini sering saya namakan ” T i n g k a t a n k e p e r e m p u a n a n ”.
 
Mudah difahamkan, bahwa ”tingkatan keperempuanan” itu hanya dapat manarik perhatian kaum wanita a t a s a n saja, dan tidak diikuti oleh kaum wanita kalangan rakyat jelata. Begitu pula mudah difahamkan, bahwa pergerakan semacam itu tidak dapat memuaskan buat selama-lamanya. Maka oleh karena itu, segeralah sesudahnya mode tingkatan ini surut, di dunia Barat lantas timbul satu tingkatan lain, – t i n g k a t a n y a n g k e d u a -, yang bukan lagi satu tingkatan ”om den man te bekoren”, melainkan satu tingkatan yang dengan sedar membantah kelebihan hak kaum laki-laki. Tingkatan ini, bukan lagi satu tingkatan yang hendak ”menyempurnakan” kaum perempuan buat kesempurnaan pengabdian kepada kaum laki-laki, tetapi satu tingkatan yang dengan sadar menuntut p e r s a m a a n h a k , p e r s a m a a n d e r a j a t dengan kaum laki-laki. Perempuan-perempuan dari tingkatan ini sadar, bahwa perempuan di hampir segala lapangan tidak dikasih jalan oleh kaum laki-laki, sehingga oleh karena itu hampir semua hal kemasyarakatan menjadi monopoli kaum laki-laki. Mereka merasa tidak adil, bahwa perempuan di lapangan masyarakat tidak dibolehkan berlomba-lomba dengan kaum laki-laki. Tidak dibolehkan masuk kantor, tidak dibolehkan masuk sekolah tinggi, tidak dibolehkan ikut politik, tidak dibolehkan menjadi anggota parlemen, tidak dibolehkan menjadi hakim, dan lain-lain sebagainya. Maka membanteras ketidak-adilan ini, membanteras tidak samanya hak dan derajat antara perempuan dan laki-laki, menuntut adanya persamaan hak dan persamaan derajat itu, – itulah pokok-tujuannya tingkatan kedua itu.
 
”om den man te bekoren”, melainkan satu tingkatan yang dengan sedar membantah kelebihan hak kaum laki-laki. Tingkatan ini, bukan lagi satu tingkatan yang hendak ”menyempurnakan” kaum perempuan buat kesempurnaan pengabdian kepada kaum laki-laki, tetapi satu tingkatan yang dengan sadar menuntut p e r s a m a a n h a k , p e r s a m a a n d e r a j a t dengan kaum laki-laki. Perempuan-perempuan dari tingkatan ini sadar, bahwa perempuan di hampir segala lapangan tidak dikasih jalan oleh kaum laki-laki, sehingga oleh karena itu hampir semua hal kemasyarakatan menjadi monopoli kaum laki-laki. Mereka merasa tidak adil, bahwa perempuan di lapangan masyarakat tidak dibolehkan berlomba-lomba dengan kaum laki-laki. Tidak dibolehkan masuk kantor, tidak dibolehkan masuk sekolah tinggi, tidak dibolehkan ikut politik, tidak dibolehkan menjadi anggota parlemen, tidak dibolehkan menjadi hakim, dan lain-lain sebagainya. Maka membanteras ketidak-adilan ini, membanteras tidak samanya hak dan derajat antara perempuan dan laki-laki, menuntut adanya persamaan hak dan persamaan derajat itu, – itulah pokok-tujuannya tingkatan kedua itu.
 
Apakah pada hakekatnya sebab-sebab timbulnya tingkatan ini? Sebagaimana telah saya uraikan di fasal-fasal yang terdahulu, maka pada hakekatnya p e r o b a h a n d a l a m m a s y a t a k a t l a h yang menjadi asal segala perobahan-perobahan ideologi. Sebagaimana perobahan dalam proses produksi merobah anggapan-anggapan di dalam masyarakat itu, merobah moral, merobah adat, merobah isme-isme, maka perobahan dalam proses produksi itu juga merobah ideologi-ideologi perempuan tentang caranya mencari perbaikan nasib. Dulu mereka mengira, bahwa nasib mereka itu dapat diperbaiki dengan jalan menyempurnakan keperempuanannya, – ”om den man te bekoren”! -, dengan menambah kecakapan bersolek, memasak, memegang rumah-tangga, memelihara anak, kejuitaan dalam pergaulan, – dulu mereka mengira, bahwa keburukan nasib mereka itu melulu hanya akibat daripada k e k u r a n g a n k e k u r a n g a n p a d a d i r i m e r e k a s e n d i r i s a j a, – kini mereka berganti kepada anggapan, bahwa sebagian besar daripada keburukan nasib itu ialah akibat daripada k e t i a d a a n h a k – h a k p e r e m p u a n d i d a 1 a m m a s y a r a k a t y a n g s e k a r a n g.
Baik kaum perempuan proletar, maupun kaum perempuan kelas pertengahan dan kelas atasan, merasa bahwa harus diadakan aksi membanteras ketiadaan hak itu. Dan walaupun pada hakekatnya ketidaksenangan di golongan-golongan perempuan atasan dan bawahan ini berlainan sifat yang satu dari yang lain, – lihatlah perbedaan akibat industrialisme kepada kaum perempuan atasan dan kepada kaum perempuan bawahan, di Bab III -, maka di atas lapangan ketiadaan hak itu mereka menemui satu sama lain. Terutama sekali kaum perempuan pertengahan dan atasan, yang sudah tentu lebih cerdas daripada perempuan bawahan, siang-siang telah mulai dengan aksi semacam itu.
 
Sebelum silamnya abad kedelapan belas, mereka sudah mulai bergerak. Yang paling dahulu ialah kaum perempuan Amerika. Di bawah pimpinan M e r c y O t i s W a r e n (dan juga A b i g a i l S m i t h A d a m s ), mereka berjoang. Di dalam tahun 1776, tatkala Amerika telah terlepas dari Inggeris dan hendak menyusun Undang-Undang Dasar sendiri, mereka menuntut supaya hak perempuan diakui pula. Mereka menuntut supaya perempuan dibolehkan ikut memilih anggota parlemen dan ikut menjadi anggauta parlemen; supaya perempuan dibolehkan memasuki semua macam sekolahan; supaya Undang-undang yang sedang disusun itu benar-benar satu Undang-undang Dasar yang demokratis antara laki-laki dan perempuan.
 
A d a m s ), mereka berjoang. Di dalam tahun 1776, tatkala Amerika telah terlepas dari Inggeris dan hendak menyusun Undang-Undang Dasar sendiri, mereka menuntut supaya hak perempuan diakui pula. Mereka menuntut supaya perempuan dibolehkan ikut memilih anggota parlemen dan ikut menjadi anggauta parlemen; supaya perempuan dibolehkan memasuki semua macam sekolahan; supaya Undang-undang yang sedang disusun itu benar-benar satu Undang-undang Dasar yang demokratis antara laki-laki dan perempuan.
 
Aksi perempuan Amerika ini berpengaruh besar atas ideologi kaum perempuan di Eropah. Terutama sekali di Perancis dan Inggeris sambutan hangat sekali. Di dalam Revolusi Perancis yang besar itu, yang meledaknya memang sesudah Revolusi Amerika, mulai bergeraklah perempuan Perancis menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki.
 
M a d a m e R o 1 a n d (pemimpin kaum perempuan atasan), O l y m p e d e G o u g e s, R o s e L a c o m b e, T h e r o i g n e d e M e r i c o u r t, (pemimpin-pemimpin kaum perempuan bawahan), membakar hati pengikut-pengikutnya. Dengan gagah-berani, tidak takut maut, mereka menuntut persamaan hak itu. Dengan gagah berani mereka organisatoris mendirikan p e r s e r i k a t a n – p e r s e r i k a t a n w a n i t a, barangkali organisasi-organisasi wanita yang pertama di dalam sejarah kemanusiaan! -, yang anggotanya bukan berjumlah puluhan atau ratusan orang, tetapi ribuan orang! Boleh dikatakan merekalah yang mula-mula benar-benar mengorganisir a k s i p e r l a w a n a n w a n i t a , mengorganisir g e r a k a n p e r l a w a n a n w a n i t a, yang tidak lagi meminta-minta. Korban yang mereka berikan susah dicari taranya di dalam sejarah wanita. Ratusan dari mereka memberikan darahnya dan memberikan jiwanya. Pemimpin mereka yang ulung, Olympe de Gouges, singa betina Revolusi Perancis, bersama dengan mereka dipenggal batang-lehernya oleh fihak laki-laki, di bawah guilyotin. Pengorbanan-pengorbanan mereka itu membuktikan elan revolusioner yang maha-hebat di pihak wanita, tetapi pengorbanan-pengorbanan itu membuktikan pula, bahwa pada waktu itu fihak laki-laki mati-matian pula t i d a k m a u memberikan persamaan hak kepada kaum wanita, – mati-matian t i d a k m a u melepaskan kedudukan laki-laki d i a t a s kaum wanita.
M a d a m e R o 1 a n d (pemimpin kaum perempuan atasan),
 
Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Emerson bahwa ”tiada korban yang tersia-sia”, maka pengorbanan-pengorbanan kaum wanita Perancis itu pun tidak tersia-sia. Pengorbanan mereka itu malah pantas tercatat dengan aksara emas bukan saja di dalam kitab sejarah perjoangan wanita, tetapi juga di dalam kitab sejarah evolusi kemanusiaan. Bukan hilang percuma pengorbanan-pengorbanan itu, terbuang hilang dalam kabutnya sejarah, tetapi api semangatnya mencetus ke dalam kalbu ideologinya perempuan-perempuan di negeri lain. Malah belum pula Revolusi Perancis itu berakhir, sudahlah pekik perjoangan Madame Roland dan Olympe de Gouges itu disambut oleh M a r y W o l l s t o n e c r a f t di negeri Inggeris, yang dalam tahun 1792 menerbitkan bukunya yang bernam ”Vindication of the Rights of Woman” (”Pembelaan hak-hak kaum wanita”). Dengan Mary Wollstonecraft mulailah kaum perempuan Inggeris memasuki gelanggang perjoangan menuntut hak-hak wanita.
O l y m p e d e G o u g e s, R o s e L a c o m b e, T h e r o i g n e d e M e r i c o u r t, (pemimpin-pemimpin kaum perempuan bawahan), membakar hati pengikut-pengikutnya. Dengan gagah-berani, tidak takut maut, mereka menuntut persamaan hak itu. Dengan gagah berani mereka organisatoris mendirikan p e r s e r i k a t a n – p e r s e r i k a t a n w a n i t a, barangkali organisasi-organisasi wanita yang pertama di dalam sejarah kemanusiaan! -, yang anggotanya bukan berjumlah puluhan atau ratusan orang, tetapi ribuan orang! Boleh dikatakan merekalah yang mula-mula benar-benar mengorganisir a k s i p e r l a w a n a n w a n i t a , mengorganisir g e r a k a n p e r l a w a n a n w a n i t a, yang tidak lagi meminta-minta. Korban yang mereka berikan susah dicari taranya di dalam sejarah wanita. Ratusan dari mereka memberikan darahnya dan memberikan jiwanya. Pemimpin mereka yang ulung, Olympe de Gouges, singa betina Revolusi Perancis, bersama dengan mereka dipenggal batang-lehernya oleh fihak laki-laki, di bawah guilyotin. Pengorbanan-pengorbanan mereka itu membuktikan elan revolusioner yang maha-hebat di pihak wanita, tetapi pengorbanan-pengorbanan itu membuktikan pula, bahwa pada waktu itu fihak laki-laki mati-matian pula t i d a k m a u memberikan persamaan hak kepada kaum wanita, – mati-matian t i d a k m a u melepaskan kedudukan laki-laki d i a t a s kaum wanita.
 
Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Emerson bahwa ”tiada korban yang tersia-sia”, maka pengorbanan-pengorbanan kaum wanita Perancis itu pun tidak tersia-sia. Pengorbanan mereka itu malah pantas tercatat dengan aksara emas bukan saja di dalam kitab sejarah perjoangan wanita, tetapi juga di dalam kitab sejarah evolusi kemanusiaan. Bukan hilang percuma pengorbanan-pengorbanan itu, terbuang hilang dalam kabutnya sejarah, tetapi api semangatnya mencetus ke dalam kalbu ideologinya perempuan-perempuan di negeri lain. Malah belum pula Revolusi Perancis itu berakhir, sudahlah pekik perjoangan Madame Roland dan Olympe de Gouges itu disambut oleh
 
M a r y W o l l s t o n e c r a f t di negeri Inggeris, yang dalam tahun 1792 menerbitkan bukunya yang bernam ”Vindication of the Rights of Woman” (”Pembelaan hak-hak kaum wanita”). Dengan Mary Wollstonecraft mulailah kaum perempuan Inggeris memasuki gelanggang perjoangan menuntut hak-hak wanita.
 
Dan faham-faham yang disebarkan oleh pemimpin-pemimpin wanita yang saya sebut namanya itu, – dibantu oleh sokongan beberapa orang pemimpin laki-laki seperti misalnya C o n d o r c e t di Perancis -, faham-faham mereka itu menjadi tetap tuntutan seluruh pergerakan perempuan ”tingkatan kedua” di pelbagai negara, sampai kepada silamnya abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh. Umumnya tingkatan kedua ini terkenal dengan nama pergerakan f e m i n i s m e. Persamaan hak dengan kaum laki-laki, dan terutama sekali hak memasuki segala macam pekerjaan masyarakat, persamaan hak itulah menjadi pokok tuntutannya. Dan oleh karena tuntutan hak memasuki segala macam pekerjaan itu terutama sekali datang dari golongan wanita a t a s a n dan p e r t e n g a h a n, maka pergerakan feminisme itu terutama sekali adalah satu pergerakan ”kasta pertengahan” pula, – satu pergerakan burjuis, dan bukan satu pergerakan yang pengikutnya kebanyakan dari kalangan rakyat-jelata.
Maka inilah menjadi sebab, yang kaum perempuan bawahan itu akhirnya tidak puas dengan tuntutan-tuntutan feminisme s a j a.
 
Ya, benar, juga mereka, kaum perempuan bawahan, hendak merebut persamaan hak dengan laki-laki, juga mereka hendak merebut hak memilih dan dipilih buat parlemen atau dewan-dewan lain, juga mereka hendak merebut hak memasuki semua macam pekerjaan di masyarakat yang sekarang masih banyak dimonopoli oleh laki-laki itu. Tidakkah, menurut perkataan salah seorang pemimpin mereka yang amat besar, C 1 a r a Z e t k i n, mereka itu yuridis dan politis merupakan satu ” v i j f d e s t a n d ” dalam masyarakat zaman sekarang? Satu ”vijfde stand”, yang lebih rendah lagi derajatnya daripada ”vierde stand”nya kaum proletar laki-laki? Karena itu memang, memang harus direbut persamaan hak dengan kaum laki-laki itu! Tetapi perempuan- perempuan bawahan itu sedar bahwa tuntutan-tuntutan feminisme s a j a belum mencukupi.
 
” v i j f d e s t a n d ” dalam masyarakat zaman sekarang? Satu ”vijfde stand”, yang lebih rendah lagi derajatnya daripada ”vierde stand”nya kaum proletar laki-laki? Karena itu memang, memang harus direbut persamaan hak dengan kaum laki-laki itu! Tetapi perempuan- perempuan bawahan itu sedar bahwa tuntutan-tuntutan feminisme s a j a belum mencukupi.
 
Yang sebenarnya perlu bukanlah h a n y a persamaan hak dengan laki-laki s a j a, tetapi – p e r o b a h a n s u s u n a n m a s y a r a k a t s a m a s e k a l i. Apakah telah mencukupi persamaan hak s a j a, kalau s e l u r u h susunan masyarakat penuh dengan ketidak-adilan? Kalau perempuan d a n laki-laki, d u a – d u a n y a !, sebagai kelas, tertindas dan terhisap? Henriette Roland Holst di dalam satu pidato yang berapi-api berkata:
Tetapi tingkat yang pertama, – tingkat ”menyempurnakan keperempuanan”, yang di dalam pidato-pidato kadang-kadang saya namakan tingkat ”main puteri-puterian” -, tidak akan saya uraikan lebih lanjut, oleh karena kurang penting. Dan ... di Indonesia sini kita sudah sering melihat contoh-contoh tingkatan ini. Siapa belum?
 
Marilah saya jelaskan tingkat yang kedua. Sebagai saya terangkan tadi, buaian tingkat ini ialah di Amerika, yang pada waktu itu sedang di dalam perjoangan menyusun kemerdekaan-nya. Tiap-tiap perjoangan kemerdekaan mengalami pergolakan ideologi. Wanita Amerika ikut-serta di dalam pergolakan ideologi itu. Saya telah katakan bahwa M e r c y 0 t i s W a r r e n lah pemimpin mereka. Ia adalah saudaranya James Otis, salah seorang pemimpin kemerdekaan nasional Amerika pada waktu itu. Mercy Otis Warren mengumpulkan semua pemimpin-pemimpin wanita Amerika di dalam salonnya. Ia lebih radikal dari pada banyak pemimpin-pemimpin laki-laki, – lebih laju, lebih konsekwen. Ia telah menuntut kemerdekaan-penuh bagi Amerika, sebelum George Washington sendiri setuju dengan kemerdekaan penuh itu! Ia sering bertukar fikiran dengan Thomas Jefferson, perancang naskah pernyataan kemerdekaan Amerika dan naskah yang termasyhur ini memang terang mengandung buah-buah fikirannya.
 
M e r c y 0 t i s W a r r e n lah pemimpin mereka. Ia adalah saudaranya James Otis, salah seorang pemimpin kemerdekaan nasional Amerika pada waktu itu. Mercy Otis Warren mengumpulkan semua pemimpin-pemimpin wanita Amerika di dalam salonnya. Ia lebih radikal dari pada banyak pemimpin-pemimpin laki-laki, – lebih laju, lebih konsekwen. Ia telah menuntut kemerdekaan-penuh bagi Amerika, sebelum George Washington sendiri setuju dengan kemerdekaan penuh itu! Ia sering bertukar fikiran dengan Thomas Jefferson, perancang naskah pernyataan kemerdekaan Amerika dan naskah yang termasyhur ini memang terang mengandung buah-buah fikirannya.
 
Tetapi Mercy bukan hanya seorang pemimpin kemerdekaan nasional saja. Ia adalah pula seorang pemimpin sosial. Seorang pemimpin sekse. Dengan kawan sefahamnya Abigail Smith Adams, – yang suaminya menjadi Presiden Amerika yang kedua -, ia mengkampiuni perjoangan persamaan hak antara sekse laki-laki dan sekse wanita. Mereka berdualah yang mula-mula sekali di dalam sejarah menuntut persamaan hak itu. Di dalam tahun 1776, lebih dari 170 tahun yang lalu, pada waktu Kongres seluruh Amerika (Continental Congress) menyusun Undang-undang Dasar Negara Amerika, maka Abigail Smith Adams menulis surat kepada suaminya, yang berbunyi: ”Kalau Undang-undang Dasar baru itu tidak memperhatikan benar-benar kepada kaum wanita, maka kami kaum wanita telah memutuskan akan memberontak kepadanya, dan kami merasa tidak wajib taat kepada hukum-hukum yang tidak mengasih kepada kami hak-suara dan hak perwakilan guna membela kepentingan-kepentingan kami”. Dan bukan saja ia menuntut hak suara dan hak perwakilan bagi kaum wanita, – ia juga menuntut terbukanya pintu gerbang semua sekolah bagi kaum wanita. ”Satu Negara, yang mau menjelmakan pahlawan-pahlawan ahli-ahli negara dan ahli-ahli faIsafah, haruslah mempunyai ibu-ibu yang cerdas di tempat-tempat yang terkemuka”, demikianlah bunyi pembelaannya.
Sudahkah, sebelum itu, wanita Perancis memikir-mikirkan tentang perbaikan nasib kaumnya? Sudah sedikit-sedikit. Tetapi baru sesudah mendapat cetusan api semangat dari Amerika itulah – wanita Perancis menyala-nyala dan berkobar-kobar jiwanya. Orang-orang wanita, yang tadinya hanya pasif saja di dalam proses ideologi Revolusi Perancis, lantas menjadi tenaga-tenaga aktif yang ikut mendidihkan kancah perjoangan manusia merebut hak-hak manusia yang lebih adil. Di dalam tahun 1786 telah didirikan semacam sekolah menengah parukelir (Lyceum) oleh Markies de Condorcet dan Montosquieu, dan Lyceum ini segera menjadi pusat kecerdasan puteri-puteri hartawan Perancis yang pertama. Dengan ini sebenarnya telah diakui bahwa wanita juga mempunyai hak atas kecerdasan dan kemajuan. Tetapi hak-hak p o l i t i k masih dianggap haram baginya, masih dianggap ”tabu” bagi wanita. Hak-hak politik masih dianggap satu monopoli utama bagi laki-laki saja.
 
Dan monopoli ini akhirnya digempur! Pada waktu Revolusi mendirikan Majelis Perwakilan Rakyat, – Majelis Nasional -, yang anggotanya hanjahanya terdiri dari orang laki-laki saja, – pada waktu itu kaum wanita segeralah mengadakan aksi dengan menyebarkan surat-surat sebaran, brosur-brosur, surat-surat tuntutan supaya wanita juga diberi hak untuk menjadi anggota Majelis Perwakilan itu. .
 
Tetapi janganpun hak-hak politik yang demikian jauhnya! Hak memasuki sekolah-sekolah umum sajapun tak diberikan oleh fihak laki-laki kepada wanita! Tuntutan-tuntutan wanita yang dengan kata berapi-api dimuatkan dalam surat-surat-sebaran, brosur-brosur dan surat-surat tuntutan itu, ditolak mentah-mentahan oleh Majelis Nasional 1791. Terutama sekali Talleyrand menentangnya mati-matian. Apa yang ia kata? Kaum pemuda laki-laki harus dididik menjadi warga negara yang sanggup memikul segala hak dan beban warga negara, harus digembleng. menjadi tiang-tiang negara dan tiang-tiang masyarakat yang teguh dan kuat, – tetapi wanita ”oleh alam” telah diperuntukkan untuk duduk di rumah-tangga, di tengah anak-anak. Tiap-tiap pelanggaran atas ”hukum alam” ini nanti menjadi sumber kerusakan, tiap-tiap perkosaan kepada hukum alam ini nanti niscaya mendatangkan bencana. Oleh karena itu, maka gadis-gadis jangan dididik sama dengan pemuda-pemuda, jangan diizinkan mereka memasuki sekolah-sekolah umum kalau sudah berumur delapan tahun! Maka sesuai dengan anjuran Talleyrand itu Majelis Nasional mengambil putusan, bahwa anak-anak perempuan hanya diizinkan memasuki sekolah-sekolah umum kalau mereka belum berumur delapan tahun!
Pada tanggal 6 Oktober 1789 berkumpullah 8000 orang wanita jelata di muka Gedung Kota di Paris menuntut diberi roti untuk mengisi perutnya yang lapar. Roti! Roti!
 
Dan tatkala tuntutan minta roti ini ditolak, pergilah mereka berarak-arak ke Versailles, – ke istana Raja. Minta roti di sana! Roti! Gegap gempitalah arak-arakan ini! Siapakah itu, orang perempuan cantik, muda remaja, yang berkuda mengepalai arak-arakan ini? Dia adalah T h e r o i g n e d e M e r i c o u r t, bekas sundal, yang telah terbuka fikirannya, dan yang sekarang menjadi pemimpin wanita. Dan siapakah itu, pemimpin wanita yang berjalan di tengah-tengah arak-arakan 8000 wanita itu, sambil mengaju-ajukan anak buahnya? Dia adalah R o s e L a c o m b e, nama yang terkenal di dalam sejarah perjoangan. Dan apakah benar 8000 orang wanita ini semuanya sundal, semuanya perempuan jalang? Memang demikian tuduhan kaum atasan. Tetapi Jean Jaures, pemimpin besar bangsa Perancis yang termasyhur itu, historikus yang kenamaan, membantahnya dengan tegas dan mutlak. Mereka bukan perempuan-perempuan yang haus darah, bukan pula perempuan sundal, demikianlah katanya. Mereka perempuan-perempuan miskin dari golongan kaum buruh. Mereka di Versailles terpaksa diizinkan masuk ke dalam gedung Madjelis Nasional, dan dari sini, bersama-sama dengan ratusan laki-laki yang mengikutinya dan dengan wakil-wakil Majelis Nasional, mereka pergi kemuka istana Raja.
 
T h e r o i g n e d e M e r i c o u r t, bekas sundal, yang telah terbuka fikirannya, dan yang sekarang menjadi pemimpin wanita. Dan siapakah itu, pemimpin wanita yang berjalan di tengah-tengah arak-arakan 8000 wanita itu, sambil mengaju-ajukan anak buahnya? Dia adalah R o s e L a c o m b e, nama yang terkenal di dalam sejarah perjoangan. Dan apakah benar 8000 orang wanita ini semuanya sundal, semuanja perempuan jalang? Memang demikian tuduhan kaum atasan. Tetapi Jean Jaures, pemimpin besar bangsa Perancis yang termasyhur itu, historikus yang kenamaan, membantahnya dengan tegas dan mutlak. Mereka bukan perempuan-perempuan yang haus darah, bukan pula perempuan sundal, demikianlah katanya. Mereka perempuan-perempuan miskin dari golongan kaum buruh. Mereka di Versailles terpaksa diizinkan masuk ke dalam gedung Madjelis Nasional, dan dari sini, bersama-sama dengan ratusan laki-laki yang mengikutinya dan dengan wakil-wakil Majelis Nasional, mereka pergi kemuka istana Raja.
 
Di sana, tampillah L o u i s e C h a b l y ke muka, terus menghadap Raja, dan menjadi juru bicara wanita-wanita tadi semuanya. Ia mengemukakan kesengsaraan wanita jelata, kemiskinannya yang tidak berhingga, ketidaksenangannya atas segala keadaan, Keinginannya mendapat perbaikan. Raja mendengarkannya dengan hati yang gelisah. Ia kalang-kabut di dalam batinnya. Ia bingung, ia tidak tahu apa yang harus dikata. Ia ... goyang. Maka Ketua Majelis Nasional, yang ikut serta pula pada saat itu, mengambil kesempatan baik daripada keadaan ini, untuk mendesak kepada Raja supaya Raja suka menandatangani naskah ”Hak-hak Manusia”, yang rancangannya memang telah ia bawa.
 
Alangkah bingungnya Raja pada saat itu! Belum pula ”kerewelan wanita” ini habis, sudahlah ia didesak oleh Ketua Majelis Nasional untuk menandatangani naskah yang lebih hebat. Rasa hati kecilnjakecilnya memberontak, keangkuhan tradisinya marah dan benci, kemuliaan mahkotanya merasa terancam, sebab menandatangani naskah itu berarti menandatangani vonis mati kepada hak raja yang tak terbatas. Menandatangani naskah itu berarti membunuh kerajaan mutlak. Tetapi ... di luar istana berdiri ribuan rakyat jelata, dengan wanita 8000 orang tadi di bagian yang muka, ... menunggu, meskipun hujan sedang turun dengan hebatnya, ..: menunggu, telah berjam-jam lamanya, .... menunggu, ... dengan muka yang seram. Kejengkelan dan dendam hati terbaca di mata mereka itu! Apa yang Raja hendak perbuat kini?
 
Akhirnya, apa boleh buat, ia tandatangani naskah itu!
Dialah yang mengumpulkan banyak pemimpin-pemimpin laki-laki di dalam salonnya, meyakinkan mereka dengan faham-faham baru, yang sangat berpengaruh atas prosesnya ideologi Revolusi.
 
Dan kita jumpai di dalam kitab sejarah itu satu nama yang lain, – satu bintang yang amat gilang-gemilang, yaitu nama O l y m p e d e G o u g e s. Dialah yang benar-benar berhak disebutkan singa-betinanya Revolusi. Alangkah tangkasnya, alangkah gagah beraninya, alangkah ”hebatnya” wanita ini! Manakala Madame Roland seorang pemimpin wanita dari kalangan atasan, maka Olympe de Gouges adalah pendekar dari kalangan bawahan. Dan manakala Madame Roland mempengaruhi Revolusi dengan kecerdasannya, dengan faham-fahamnya, dengan tidak berjoang aktif sebagai organisator atau pendekar perserikatan, maka Olympe de Gouges adalah organisator wanita dan agitator – wanita yang penuh aksi, organisator wanita dan agitator wanita yang pertama di dalam sejarah pergerakan revolusioner. Olympe de Gouges selalu di tengah-tengah massa. Pidato-pidatonya memetir, kata-katanya menyala-nyala, berapi-api, mengobarkan semangat, puluhan ribu wanita, menyambar dan membakar hangus alasan-alasan fihak laki-laki yang hendak menolak wanita dari pekerjaan masyarakat dan negara. Majelis Nasional sering tercengang kalau membaca tulisan-tulisannya yang tegas dan hebat, malah sering seperti terpukau kalau dihantam olehnya dengan alasan-alasan yang tajam dan terus menuju ke dalam jiwa.
Dan kita jumpai di dalam kitab sejarah itu satu nama yang lain, – satu bintang yang amat gilang-gemilang, yaitu nama O l y m p e d e
 
G o u g e s. Dialah yang benar-benar berhak disebutkan singa-betinanya Revolusi. Alangkah tangkasnya, alangkah gagah beraninya, alangkah ”hebatnya” wanita ini! Manakala Madame Roland seorang pemimpin wanita dari kalangan atasan, maka Olympe de Gouges adalah pendekar dari kalangan bawahan. Dan manakala Madame Roland mempengaruhi Revolusi dengan kecerdasannya, dengan faham-fahamnya, dengan tidak berjoang aktif sebagai organisator atau pendekar perserikatan, maka Olympe de Gouges adalah organisator wanita dan agitator – wanita yang penuh aksi, organisator wanita dan agitator wanita yang pertama di dalam sejarah pergerakan revolusioner. Olympe de Gouges selalu di tengah-tengah massa. Pidato-pidatonya memetir, kata-katanya menyala-nyala, berapi-api, mengobarkan semangat, puluhan ribu wanita, menyambar dan membakar hangus alasan-alasan fihak laki-laki yang hendak menolak wanita dari pekerjaan masyarakat dan negara. Majelis Nasional sering tercengang kalau membaca tulisan-tulisannya yang tegas dan hebat, malah sering seperti terpukau kalau dihantam olehnya dengan alasan-alasan yang tajam dan terus menuju ke dalam jiwa.
 
Kekecewaan Olympe de Gouges atas ”Hak-hak Manusia” yang semata-mata hanya hak-hak orang laki-laki saja itu, bukan kepalang! Segera sesudah ”Keterangan Hak-hak Manusia” itu diumumkan dan disambut dengan kegembiraan gegap-gempita di seluruh Perancis, maka ia mengeluarkan satu manifes, yang ia beri nama ”Keterangan Hak-haknya W a n i t a ”. Tajam dan pedas protes Olympe atas ketidakadilan yang termaktub dalam ”Keterangan Hak-hak Manusia” itu: ”Wanita dilahirkan dalam kemerdekaan, dan sederajat dengan orang laki-laki. Tujuan tiap-tiap masyarakat hukum ialah: kemerdekaan, kemajuan, keamanan, menentang kepada tindasan ... Tetapi sampai sekarang, wanita dipersempit jalannya untuk mengerjakan hal-hal yang karena kodrat memang haknya semata-mata. Natie yang menjadi dasar sendi negara, terdiri dari orang laki-laki dan orang perempuan. Hukum-hukum negara haruslah gambarnya kemauan yang timbul dari persatuan ini. Sebagaimana halnya dengan warga negara laki-laki, maka warga negara wanitapun harus, dengan jalan persoonlijk atau dengan jalan wakil-wakil yang mereka pilih sendiri, ikut serta pada pembuatan hukum-hukum negara itu. Hukum-hukum ini harus bersifat sama rata buat semua orang. Oleh karena itu, maka semua warga negara baik laki-laki maupun perempuan, masing-masing menurut kecakapannya sendiri-sendiri, harus diperbolehkan masuk dalam jabatan-jabatan umum dan pekerjaan-pekerjaan umum. Hanya kecakapan dan kepandaian sajalah yang boleh dipakai menjadi ukuran. W a n i t a b e r h a k m e n a i k i t i a n g p e n g g a n t u n g a n, i a h a r u s b e r h a k p u l a m e n a i k i m i m b a r. Tetapi hak-hak wanita inipun harus dipergunakan untuk kesejahteraan umum, tidak untuk keuntungan wanita saja ... Perempuan, sebagai juga laki-laki, ikut urun kepada kekayaan negara. Oleh karena itu, ia juga mempunyai hak yang sama dengan laki-laki, untuk meminta perhitungan daripada cara memakainya kekayaan negara itu. Sesuatu peraturan negara tidak syah, kalau tidak di-buat oleh jumlah terbanyak daripada semua orang-orang yang menjadi natie ... Bangunlah, hai kaum wanita! Obornya kebenar-an sudah memecahkan awan-awannya kebutaan dan kezaliman! Kapankah kamu sadar? Bersatulah! Taruhlah di hadapan kekuatan kezaliman itu kekuatan kecerdas-an dan keadilan! Dan segera kamu akan melihat, bahwa laki-laki tidak lagi akan duduk di samping kakimu sebagai penyembah asmara, tetapi, – dengan berbesar hati membahagikan hak-hak perikemanusiaan yang abadi itu sama-rata denganmu -, akan berjalan denganmu setindak dan selangkah, serta berjabatan tangan!” .
Olympe de Gouges. Alangkah hebatnya perempuan ini!
 
Bagaimanakah pendapat sejarah tentang dia? Kaum yang tidak setuju kepada emansipasi wanita, mengatakan bahwa ia adalah seorang perempuan lacur, seorang sundal, seorang wanita yang karena gendamnya asmara, telah meninggalkan halamannya kesopanan. ”Karena ia sendiri merdeka bergaul dengan orang-orang laki-laki, maka ia mau menyamaratakan perempuan dengan laki-laki”, demikianlah salah satu pendapat kaum itu. Ah, barangkali benar juga, bahwa ia tidak selamanya ”suci”. Barangkali benar juga, bahwa ia memang sering tenggelam di dalam air putarnya asmara. Tetapi, ya Tuhan, siapa dapat membantah; bahwa ia adalah kampiun hebat daripada hak-hak wanita? Jasanya yang mahabesar dan gilang-gemilang ialah, b a h w a i a a d a l a h o r a n g y a n g p e r t a m a – t a m a m e n g o r g a n i s i r p e r g e r a k a n w a n i t a, p e r t a m a – t a m a m e n d i r i k a n s e r i k a t – s e r i k a t p o l i t i k w a n i t a , p e r t a m a – t a m a <brm />e m b u a t t e n a g a – t e r s u s u n d a r i o r a n g – o r a n g w a n i t a m e n j a d i s a t u f a k t o r a k t i f d i d a l a m p r o s e s p o l i t i k.
m e m b u a t t e n a g a – t e r s u s u n d a r i o r a n g – o r a n g w a n i t a m e n j a d i s a t u f a k t o r a k t i f d i d a l a m p r o s e s p o l i t i k.
 
Mercy Otis Warren dan Abigail Smith Adams barangkali lebih dahulu mengeluarkan ide, tetapi Olympe de Gouges adalah yang pertama-tama m e n g o r g a n i s i r t u n t u t a n n y a i t u i d e !
 
Ia telah mati. Dengan muka tersenyum ia telah menjalani hukuman mati itu. Tetapi di dalam tahun 1793 itu, tidak matilah pergerakan yang ia telah bangunkan dan bangkitkan. Di bawah pimpinan R o s e L a c o m b e dan pemimpin-pemimpin wanita lain, perjoangannya dijalankan terus. Aksi menuntut persamaan hak dan aksi memprotes teror tetap bergelora dengan hebatnya Serangan-serangan kepada kaum laki-laki tetap berjalan sebagai cambukan yang amat pedih. Wanita kini ternyata menentang kaum laki-laki. Aksi wanita itu dirasakan oleh kaum laki-laki sebagai satu tentangan kepada ”kodrat alam”. Sebab, hak kelebihan laki-laki itu katanya adalah memang pemberian ”kodrat”, – berasal dari ”kodrat”. Aksi wanita ini dus adalah aksi yang memberontak kepada ”kodrat”. Dan tidakkah aksi mereka yang terlalu menentang adanya pemerintahan teror membahaya-kan pula kepada Revolusi? Bersifat Kontra Revolusi?
 
L a c o m b e dan pemimpin-pemimpin wanita lain, perjoangannya dijalankan terus. Aksi menuntut persamaan hak dan aksi memprotes teror tetap bergelora dengan hebatnya Serangan-serangan kepada kaum laki-laki tetap berjalan sebagai cambukan yang amat pedih. Wanita kini ternyata menentang kaum laki-laki. Aksi wanita itu dirasakan oleh kaum laki-laki sebagai satu tentangan kepada ”kodrat alam”. Sebab, hak kelebihan laki-laki itu katanya adalah memang pemberian ”kodrat”, – berasal dari ”kodrat”. Aksi wanita ini dus adalah aksi yang memberontak kepada ”kodrat”. Dan tidakkah aksi mereka yang terlalu menentang adanya pemerintahan teror membahaya-kan pula kepada Revolusi? Bersifat Kontra Revolusi?
 
Maka oleh karena itu, segeralah diusulkan oleh ”Komisi Keamanan Umum” kepada Majelis Nasional supaya semua perserikatan-perserikatan wanita, tidak perduli partai apapun, dan tidak perduli nama apapun, dilarang dan dibubarkan saja. Buat apa wanita dibiarkan saja berserikat, berkumpul, berpidato, beraksi, dengan nyata-nyata, menentang kepada ”kodrat alam” dan nyata-nyata mendurhakai Revolusi? Anggota Komisi Keamanan Umum yang bernama A m a r, yang memajukan usul itu dihadapan Majelis Nasional, menyanyikan lagu yang terkenal lama: Perempuan tidak boleh ikut campur dalam urusan pemerintahan, dan tidak boleh diberi hak-hak politik, oleh karena perempuan tak mungkin mempunyai kecakapan yang perlu buat pekerjaan-pekerjaan semacam itu. ”Mampukah perempuan mengerjakan pekerjaan yang berfaedah tetapi maha sukar ini? Tidak! Sebab mereka telah diwajibkan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penting yang telah diberikan oleh kodrat alam kepadanya. Laki-laki atau perempuan, mereka masing-masing telah diberi pekerjaan yang sesuai dengan kodratnya. Kemampuan-kemampuan mereka terbatas oleh batas-batas yang tak dapat mereka liwati, oleh karena kodrat alam sendiri telah menentukan batas-batas itu bagi manusia. Adakah kesopanan mengizinkan, bahwa perempuan tampil di muka umum, bertukar fikiran dengan kaum laki-laki, dan terang-terangan dihadapan khalayak membicarakan soal-soal yang daripadanya tergantung keselamatan republik? Pada umumnya wanita tidak mampu berfikir tinggi, dan tidak mampu mempertimbangkan soal-soal dengan cara yang sungguh-sungguh dan mendalam”...
Sudah barang tentu fihak wanita masih terus melanjutkan protesnya. Dengan ulet mereka masih terus mencari jalan untuk mendengung-dengungkan suaranya. Surat-surat sebaran, pamflet -pamflet masih terus beterbangan ke kanan-kiri. Majelis Nasional makin menjadi keras, makin reaksioner, makin anti-wanita. Kini Majelis Nasional pun mengambil putusan melarang wanita hadir dalam rapat-rapat umum a p a s a j a. Dan sebagai gong Majelis Nasional mengeluarkan wet, bahwa wanita dilarang bergerombolan lebih dari lima orang. Wanita-wanita yang bercakap-cakap dalam gerombolan lebih dari lima orang, akan ditangkap, dilemparkan dalam penjara ...
 
Dengan ini, pada zahirnya, menanglah reaksi di atas wanita Perancis. Tetapi tidak demikian pada batinnya: ”Man totet den Geist nicht”, – ”Batin tak dapat dibunuh”, demikianlah salah satu ucapan Freiligrath. Sebagai faham, sebagai ”isme”, sebagai ”ide”, teruslah tuntutan emansipasi wanita itu hidup. Organisasi dapat dihancurkan, gerak organisasi itu dapat dimatikan, tetapi semangat organisasi itu berjalan terus. Di kemudian hari ia akan menjelma lagi, akan meledak lagi, dalam pergerakan wanita yang lebih modern. Malah sedari mula lahirnya, semangat itu telah dapat menangkap hatinya beberapa orang cendekiawan laki-laki, sebagai mitsalnya M a r k i e s d e C o n d o r c e t. Di dalam tulisan-tulisan mereka cendekiawan-cendekiawan laki-laki ini membela sungguh-sungguh tuntutan-tuntutan wanita itu. Di dalam tahun 1789, empat tahun sebelum kepala Olympe de Gouges jatuh terpenggal oleh algojo, Condorcet telah menggemparkan dunia intelektuil karena tulisannya di dalam majalah ”Journal de la Societe” yang menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Alasan-alasannya cukup jitu; Revolusi bersemboyan ”egalite”, bersemboyan ”persamaan”, tetapi semboyan ini didurhakai karena mengecualikan separoh kemanusiaan daripada pekerjaan membuat hukum. Revolusi bersemboyan egalite, bersemboyan persamaan, tetapi revolusi tidak mengakui bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak-hak yang sama. Orang laki-laki berkata bahwa perempuan jangan diberi hak warga negara karena tubuhnya tak memboleh-kannya – misalnya kalau perempuan sedang hamil – tetapi orang laki-laki toh juga tidak selamanya dalam kesehatan? Orang berkata bahwa perempuan tidak banyak yang berpengetahuan tinggi, tetapi hak-hak warga negara itu toh juga tidak diberikan kepada orang-orang laki-laki yang berpengetahuan tinggi saja? Jikalau pengetahuan tinggi dijadikan syarat, maka apakah sebabnya hak-hak warga negara diberikan kepada masyarakat laki-laki umum, dan tidak kepada orang-orang laki-laki yang berpengetahuan tinggi saja? Jikalau orang khawatir kepada pengaruh wanita atas laki-laki, maka pengaruhnya yang ”rahasia” toh tentu lebih besar daripada pengaruhnya di muka umum? Mengapa ”pengaruh rahasia” ini tidak ditakuti, sedang pengaruh di muka umum di-takuti? Orang khawatir bahwa wanita akan mengabaikan urusan rumah-tangga dan pemeliharaan anak bilamana mereka diberi hak-hak warga negara, tetapi mengapa orang tidak khawatir bahwa laki-laki mengabaikan pekerjaannya sehari-hari padahal mereka diberi hak-hak warga negara? Ini alasan-alasan yang kosong selalu dipakai, kata Condorcet, karena alasan-alasan yang berisi, memang tidak ada. Dengan alasan-alasan yang kosong pula orang membelenggu perdagangan dan kerajinan, orang benarkan perbudakan bangsa Neger sampai ke zaman sekarang, orang isi penuh penjara Bastille, orang pergunakan bangku-bangku penyiksaan. Soal dikasih tidaknya wanita hak-hak warga negara, tidak boleh dibicarakan dengan alasan-alasan yang kosong dan kalimat-kalimat yang melompong, atau dengan banyolan-banyolan yang rendah-rendah. Soal persamaan hak antara laki-laki dan laki-lakipun dulu dipertengkarkan dengan pidato-pidato yang muluk-muluk dan dengan banyolan-banyolan yang tiada harga. Tidak seorangpun mengemukakan alasan-alasan yang tepat. ”Maka saya kira, tentang soal persamaan hak antara laki-laki dan wanita, keadaan tidak berbeda daripada demikian juga”, demikian Condorcet menyudahi tulisannya.
Dengan ini, pada zahirnya, menanglah reaksi di atas wanita Perancis. Tetapi tidak demikian pada batinnya: ”Man totet den Geist nicht”, – ”Batin tak dapat dibunuh”, demikianlah salah satu ucapan Freiligrath. Sebagai faham, sebagai ”isme”, sebagai ”ide”, teruslah tuntutan emansipasi wanita itu hidup. Organisasi dapat dihancurkan, gerak organisasi itu dapat dimatikan, tetapi semangat organisasi itu berjalan terus. Di kemudian hari ia akan menjelma lagi, akan meledak lagi, dalam pergerakan wanita yang lebih modern. Malah sedari mula lahirnya, semangat itu telah dapat menangkap hatinya beberapa orang cendekiawan laki-laki, sebagai mitsalnya M a r k i e s d e
 
Tulisan ini menjadi termasyhur. Bukan di Perancis saja ia dibaca orang, tetapi di Inggeris pun banyak orang memperhati-kannya. Pada waktu itu di Inggeris adalah seorang orang perempuan yang tinggi pengetahuannya dan keras kemauannya, yang juga amat merasakan ketidakadilan perbudakan wanita. Namanya ialah M a r y W o l l s t o n e c r a f t. Sejak dari mudanya ia telah besar minatnya kepada pendidikan anak-anak gadis. Ia menulis risalah tentang pendidikan gadis itu, dan kemudian menyalin beberapa kitab buat mencari nafkah hidup. Ia bersahabat dengan penerbit tulisan-tulisannya yang bernama Johnson, seorang-orang yang amat bersimpati kepada Revolusi Perancis. Ia bersahabat pula dengan Thomas Paine, seorang-orang yang amat termasyhur karena pernah ikut membantu perang kemerdekaan Amerika dan pernah ikut serta pula dalam pertempuran menjatuhkan Bastille. Dengan demikian, maka ia siang-siang telah belajar mencintai ideologi-ideologi Perang Kemerdekaan Amerika dan Revolusi Perancis. Tuntutan-tuntutan yang dikemukakan oleh Mercy Otis Warren dan Abigail Smith Adams, tulisan-tulisan yang mengalir dari pena Condorcet, pekik-pekik perjoangan yang memetir dari mulut Olympe de Gouges, semuanya berkumpul menjadi gelora jiwa di dalam kalbunya. Di dalam tahun 1792 gemparlah kaum kolot Inggeris karena terbitnya kitab Mary Wollstonecraft yang bernama ”Vindication of the Rights of Woman”.
C o n d o r c e t. Di dalam tulisan-tulisan mereka cendekiawan-cendekiawan laki-laki ini membela sungguh-sungguh tuntutan-tuntutan wanita itu. Di dalam tahun 1789, empat tahun sebelum kepala Olympe de Gouges jatuh terpenggal oleh algojo, Condorcet telah menggemparkan dunia intelektuil karena tulisannya di dalam majalah ”Journal de la Societe” yang menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Alasan-alasannya cukup jitu; Revolusi bersemboyan ”egalite”, bersemboyan ”persamaan”, tetapi semboyan ini didurhakai karena mengecualikan separoh kemanusiaan daripada pekerjaan membuat hukum. Revolusi bersemboyan egalite, bersemboyan persamaan, tetapi revolusi tidak mengakui bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak-hak yang sama. Orang laki-laki berkata bahwa perempuan jangan diberi hak warga negara karena tubuhnya tak memboleh-kannya – misalnya kalau perempuan sedang hamil – tetapi orang laki-laki toh juga tidak selamanya dalam kesehatan? Orang berkata bahwa perempuan tidak banyak yang berpengetahuan tinggi, tetapi hak-hak warga negara itu toh juga tidak diberikan kepada orang-orang laki-laki yang berpengetahuan tinggi saja? Jikalau pengetahuan tinggi dijadikan syarat, maka apakah sebabnya hak-hak warga negara diberikan kepada masyarakat laki-laki umum, dan tidak kepada orang-orang laki-laki yang berpengetahuan tinggi saja? Jikalau orang khawatir kepada pengaruh wanita atas laki-laki, maka pengaruhnya yang ”rahasia” toh tentu lebih besar daripada pengaruhnya di muka umum? Mengapa ”pengaruh rahasia” ini tidak ditakuti, sedang pengaruh di muka umum di-takuti? Orang khawatir bahwa wanita akan mengabaikan urusan rumah-tangga dan pemeliharaan anak bilamana mereka diberi hak-hak warga negara, tetapi mengapa orang tidak khawatir bahwa laki-laki mengabaikan pekerjaannya sehari-hari padahal mereka diberi hak-hak warga negara? Ini alasan-alasan yang kosong selalu dipakai, kata Condorcet, karena alasan-alasan yang berisi, memang tidak ada. Dengan alasan-alasan yang kosong pula orang membelenggu perdagangan dan kerajinan, orang benarkan perbudakan bangsa Neger sampai ke zaman sekarang, orang isi penuh penjara Bastille, orang pergunakan bangku-bangku penyiksaan. Soal dikasih tidaknya wanita hak-hak warga negara, tidak boleh dibicarakan dengan alasan-alasan yang kosong dan kalimat-kalimat yang melompong, atau dengan banyolan-banyolan yang rendah-rendah. Soal persamaan hak antara laki-laki dan laki-lakipun dulu dipertengkarkan dengan pidato-pidato yang muluk-muluk dan dengan banyolan-banyolan yang tiada harga. Tidak seorangpun mengemukakan alasan-alasan yang tepat. ”Maka saya kira, tentang soal persamaan hak antara laki-laki dan wanita, keadaan tidak berbeda daripada demikian juga”, demikian Condorcet menyudahi tulisannya.
 
Tulisan ini menjadi termasyhur. Bukan di Perancis saja ia dibaca orang, tetapi di Inggeris pun banyak orang memperhati-kannya. Pada waktu itu di Inggeris adalah seorang orang perempuan yang tinggi pengetahuannya dan keras kemauannya, yang juga amat merasakan ketidakadilan perbudakan wanita. Namanya ialah M a r y
 
W o l l s t o n e c r a f t. Sejak dari mudanya ia telah besar minatnya kepada pendidikan anak-anak gadis. Ia menulis risalah tentang pendidikan gadis itu, dan kemudian menyalin beberapa kitab buat mencari nafkah hidup. Ia bersahabat dengan penerbit tulisan-tulisannya yang bernama Johnson, seorang-orang yang amat bersimpati kepada Revolusi Perancis. Ia bersahabat pula dengan Thomas Paine, seorang-orang yang amat termasyhur karena pernah ikut membantu perang kemerdekaan Amerika dan pernah ikut serta pula dalam pertempuran menjatuhkan Bastille. Dengan demikian, maka ia siang-siang telah belajar mencintai ideologi-ideologi Perang Kemerdekaan Amerika dan Revolusi Perancis. Tuntutan-tuntutan yang dikemukakan oleh Mercy Otis Warren dan Abigail Smith Adams, tulisan-tulisan yang mengalir dari pena Condorcet, pekik-pekik perjoangan yang memetir dari mulut Olympe de Gouges, semuanya berkumpul menjadi gelora jiwa di dalam kalbunya. Di dalam tahun 1792 gemparlah kaum kolot Inggeris karena terbitnya kitab Mary Wollstonecraft yang bernama ”Vindication of the Rights of Woman”.
 
Bukan main kitab ini menggoncangkan fikiran umum. Dengan sekaligus nama penulisnya menjadi terkenal di mana-mana. Bukan saja di negeri Inggeris. Di luar negeri pun orang membaca kitab itu dengan penuh minat. Malah orang menerbitkan salinannya dalam bahasa Perancis dan bahasa Jerman. Di mana-mana ia disambut oleh kaum wanita sebagai obor penunjuk jalan.
Iapun wanita pertama, – barangkali manusia pertama -, yang j u s t r u u n t u k m e n j a g a k e s u s i l a a n, menuntut supaya pendidikan pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi jangan dipisahkan dalam sekolah sendiri-sendiri. Ia menuntut k o – e d u k a s i, satu cara pendidikan pemuda-pemudi bersama-sama, yang sampai sekarangpun masih menjadi pertikaian faham. Dan iapun wanita pertama, yang menuntut supaya wanita diberi latihan o 1 a h – r a g a. Sebab hanya wanita yang sehatlah dapat melahirkan anak-anak yang sehat. Hanya rakyat yang sehatlah dapat menjadi bangsa yang kuat. Hanya bilamana wanita sehat badannya dan sehat batinnya, maka wanita dapat memenuhi ”panggilan alam” dengan sebaik-baiknya. Justru s u p a y a wanita dapat memenuhi panggilan alam yang keramat itu, justru s u p a y a ia dapat bertindak sebagai Ibu yang sejati, yang dari haribaannya akan lahir generasi baru yang sehat badaniah dan rohaniah, justru karena itulah wanita harus diberi hak-hak yang sama dengan laki-laki, dijadikan ”warga negara merdeka” sebagai laki-laki, ditempatkan di samping laki-laki dan tidak di belakang laki-laki.
 
Sebagai saya katakan tadi, bukan main kitab Mary Wollstonecraft itu menggoncangkan fikiran umum. la dibicara-kan orang di Inggeris, di Perancis, di Jerman, di negeri-negeri lain. la segera dijadikan bulan-bulanan serangan kaum laki-laki yang tidak setuju kepadanya. la, sebagai Olympe de Gouges, dinamakan sundal, dinamakan perempuan yang telah meleset dari rilnya, digambarkan dalam karikatur sebagai orang-banci yang jelek yang tidak tentu laki-laki tidak tentu perempuan. Padahal ia adalah seorang perempuan yang manis, dan halus budi, seorang perempuan yang dalam arti yang sebaik-baiknya adalah seorang Wanita yang Utama. Tetapi memang sudah kebiasaan sejarah juga, bahwa sesuatu orang yang mengeluarkan faham baru, dicerca, diejek, dimaki, ditertawakan, dihina, mungkin dihukum. Mary Wollstonecraft tidak sampai mendapat nasib disiksa atau dihukum, tetapi aksi yang menentang kepadanya dengan cara yang curang dan tidak adil, toh hebat pula. Kendatipun begitu, faham-faham modern yang ia ajarkan itu, tak urung makin lama makin banyak pengikutnya juga. Justru di negeri Inggerislah kelak tempatnya pergerakan emansipasi wanita yang paling hebat. Justru di negeri Inggeris itu nanti lahirnya pergerakan wanita, yang kita kenali dengan nama pergerakan feminisme. Justru di negeri Inggeris berkobarnya aksi wanita ” s u f f r a g e t t e ”, yang terutama sekali menuntut hak perwakilan bagi kaum perempuan.<ref>(Suffragium = hak-bersuara, hak-perwakilan).</ref>
 
(Suffragium = hak-bersuara, hak-perwakilan).
 
Di Jermaniapun faham menuntut persamaan hak bagi wanita itu tumbuh. Hampir berbarengan dengan terbitnya kitab Mary Wollstonecraft di Inggeris, terbitlah di Jermania kitab tulisan Theodor von Hippel
 
Di Jermaniapun faham menuntut persamaan hak bagi wanita itu tumbuh. Hampir berbarengan dengan terbitnya kitab Mary Wollstonecraft di Inggeris, terbitlah di Jermania kitab tulisan Theodor von Hippel ”Ueber die biirgerliche Verbesserung der Weiber”, – yang artinya:
 
”Tentang memperbaiki kedudukan wanita sebagai warganegara”.
Apa sebabnya kesunyian ini? Sebabnya ialah, bahwa perbandingan-perbandingan sosial ekonomis di dalam masyarakat, sebagai yang saya uraikan di dalam bab III, memang belum membuat masak semua syarat-syarat untuk bergeloranya pergerakan emansipasi itu. Ide, teori, faham, pokok pikiran emansipasi itu telah lahir lebih dahulu, tetapi perjoangan untuk menjelmakan idee, teori, faham, serta pokok fikiran itu masih menunggu panggilan. perbandingan-perbandingan sosial ekonomis yang akan menggerakkan perjoangan itu. Idee memang selalu mendahului pergerakan. Misalnya ide atau faham sosialisme pun telah lahir dan di teorikan dalam kitab-kitab di zamannya Fourier, Proudhon, Marx dan Engels, tetapi pergerakan sosialisme barulah berkobar betul-betul sesudah kapitalisme modern memekar dan menghebat pada akhir abad kesembilan belas. Ide dan faham fascisme telah menelur dalam kitab-kitab Machiavelli dan Nietzsche, tetapi pergerakan fasisme barulah mengamuk betul-betul sesudah kapitalisme itu ”im Niedergang” dan memerlukan pembelaan yang tak kenal kasihan. Maka demikian juga halnya dengan pergerakan emansipasi wanita. Badan nyonya-nyonya Otis Warren dan Smith Adams telah lama menjadi debu, Olympe de Gouges dan Condorcet telah lama pulang kerakhmatullah, Wollstonecraft – dan von Hippel telah lama masuk ke alam barzah, – barulah, pada permulaan bagian kedua daripada abad kesembilan belas, pergerakan emansipasi subur dan menggelora.
 
Sudah barang tentu terutama sekali mula-mula di Amerika dan di Inggeris. Apa sebab justru mula-mula di dua negeri itu? Oleh sebab di Amerika dan di Inggerislah perbandingan-perbandingan sosial ekonomis lebih dulu menjadi masak untuk melahirkan pergerakan emansipasi itu: Termasuknya barang-barang buatan paberik dalam rumah-tangga, membuat kaum wanita dari golongan pertengahan dan atasan banyak menganggur. Hidup-nya terserang penyakit kesal karena menganggur. Hidupnya menjadi kosong. Mereka ingin bekerja, ingin ”hidup”. Mereka lantas bergerak, menuntut ”hak untuk bekerja” dan hak-hak politik yang sama dengan kaum laki-laki.<ref>(Lihatlah uraian dalam bab III).</ref>
 
(Lihatlah uraian dalam bab III).
 
Di dalam tahun 1851 di Inggeris diadakan satu rapat besar oleh kaum wanita atasan untuk menuntut hak perwakilan (buat wanita atasan saja!), dan diambilnya satu mosi yang mereka kirimkan ke Majelis Rendah. Di dalam tahun 1866 mereka itu mempersembahkan satu surat permohonan lagi kepada pemerintah dengan 1499 tandatangan, juga untuk meminta hak perwakilan. Baru setahun kemudian daripada itu, jadi dalam tahun 1867, parlemen mulai membicarakan hak perwakilan wanita itu. Tetapi putusannya ialah menolak hak perwakilan wanita itu, dengan 196 suara lawan 73 suara. Suara yang terbanyak berpendapat bahwa wanita tak perlu dan tak harus ikut politik! Tempat wanita ialah di rumah tangga, di samping buaian anak!
Tetapi fihak wanita tidak putus asa. Mereka beraksi terus. Demonstrasi-demonstrasi, rapat-rapat besar, surat-surat khabar, pamflet-pamflet diadakan. Opini publik terus dikocok. Akhirnya perhatian khalayak itu mulai ada yang condong juga kepada tuntutan wanita. Pemimpin-pemimpin wanita Inggeris di waktu itu memang tangkas-tangkas. Mereka umumnya gagah berani, pandai benar berpidato, cakap menyusun organisasi. Tetapi reaksi kaum laki-lakipun bukan kepalang. Sebagai tembok yang amat tinggi, reaksi laki-laki itu masih menghalang-halangi berhasilnya aksi wanita.
 
Sampai silamnya abad kesembilan belas aksinya kaum feminis Inggeris itu tetap sia-sia, atau lebih tegas: hasilnya belum sepadan dengan energie yang telah dikeluarkan. Benar sebagian dari tuntutannya, yaitu ”hak untuk melakukan sesuatu pekerjaan di masyarakat”, telah diluluskan, benar mereka telah diizinkan masuk bekerja di beberapa cabang pekerjaan, benar mereka telah dibolehkan mengunjungi sekolah tinggi, tetapi tuntutannya yang terpenting – hak perwakilan – belumlah terkabul. Padahal hak perwakilan ini amat penting sekali untuk mendapat persamaan hak di semua lapangan, ekonomis, yuridis, sosial! Karena itu, aksi kaum feminis itupun tidak menjadi kendor, sebaliknya malah menghebat, mengeras, menyengit. Tidak ada satu negeri di Eropah, sesudah Revolusi Perancis, yang aksi feminis begitu sengit seperti di Inggeris. Mereka tak berhenti-henti mengadakan demonstrasi-demonstrasi umum yang gegap-gempita, melawan perintah-perintah polisi, sehingga diseret di muka hakim, dilemparkan ke dalam penjara. Di dalam penjara itupun mereka beraksi terus dengan mengadakan pemogokan makan. Pemogokan-pemogokan makan ini meng-goncangkan opini publik di seluruh dunia, menggetarkan perasaan-perasaan pro dan kontra sehebat-hebatnya. Terutama sekali partai feminis yang bernama ”Women’s social and political Union” – lebih terkenal lagi dengan nama partai s u f f r a g e t t e s -, sangat tajam dalam ucapan-ucapannya dan tindakan-tindakannya. Partai suffragettes inilah yang paling sering bertabrakan dengan polisi, paling banyak pemimpinnya diseret di muka hakim, paling banyak mengalami hukuman penjara. Nama-nama E m m e l i n e P a n k h u r s t, dan tiga anak-puterinya: C h r i s t a b e l P a n k h u r s t, S y l v i a P a n k h u r s t , A d e l e P a n k h u r s t, serta pula M r s. F a w c e t t dan M r s. D e s p a r d, tidak asing lagi bagi khalayak umum dan ... hakim kriminil. Emmeline Pankhurst pernah dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, karena mencoba membakar rumah menteri Lloyd George, yang menolak tuntutan-tuntutan kaum suffragettes itu!
 
P a n k h u r s t , A d e l e P a n k h u r s t, serta pula M r s. F a w c e t t dan M r s. D e s p a r d, tidak asing lagi bagi khalayak umum dan ... hakim kriminil. Emmeline Pankhurst pernah dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, karena mencoba membakar rumah menteri Lloyd
 
George, yang menolak tuntutan-tuntutan kaum suffragettes itu!
 
Dengarkanlah cerita Dr. Aletta Jacobs (seorang feminis Belanda) tatkala menceriterakan pergerakan feminis suffragette itu: ”Pada hari Sabtu 9 Pebruari 1907 diadakan satu arak-arakan besar, tetapi tenang, oleh beribu-ribu wanita dari segala lapisan masyarakat. Wanita-wanita dari lapisan yang berdekatan dengan keluarga raja, dari lapisan yang berdekatan dengan pemerintah, – wanita-wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk pekerjaan sosial -, wanita-wanita ini berjalan bersama-sama dengan wanita-wanita yang seumur hidupnya bekerja berat serta menderita kemiskinan. Tenang dan tenteram, dengan tidak merusak keamanan, wanita-wanita ini berjalan melalui jalan-jalan London yang berlumpur, dengan memikul tulisan-tulisan yang menunjukkan kepada pemerintah, bahwa wanita-wanita dari tingkatan masyarakat yang paling tinggi sampai tingkatan masyarakat yang paling rendah semuanya menuntut adanya hak perwakilan ... Sesudah arak-arakan ini berakhir, maka pada hari Rebo 13 Pebruari 1907 diadakan pula arak-arakan oleh ”Women’s social and political Union” yang lebih terkenal dengan nama suffragettes. Di bawah pimpinan Nyonya Despard yang tua tetapi angker itu, 800 wanita menuju kegedung parlemen, untuk menyerahkan kepada pemerintah satu resolusi yang menuntut hak perwakilan wanita. Di dalam perkelahian yang terjadi karena arak-arakan ini, banyak sekali perempuan yang luka. Dan 57 perempuan ditangkap oleh polisi. Itu malam, banyak sekali surat-surat khabar besar keluar hingga tiga kali, dengan nomor-nomor ekstra. Dari hal itu dapat kita kenangkan, betapa hebatnya kejadian itu”.
Kepicikan sikap kaum laki-laki yang demikian itu sudah barang tentu amat menyakitkan hatinya wanita Amerika. Perempuan harus tetap bodoh, dianggap tak pantas masuk masyarakat, dianggap tak pantas mengunjungi sekolah-sekolah tinggi? Padahal belum hilang sama sekali terhapus namanya Mercy Otis Warren dan Abigail Smith Adams!
 
Dan tatkala Amerika tengge1am di dalam kekejiannya kezaliman memperbudak orang-orang Neger, tidakkah seorang-orang wanita yang ikut membangkitkan rasa kemanusiaan bangsa, yakni H a r r i e t B e e c h e r S t o w e dengan bukunya yang termasyhur ”Uncle Tom’s Cabin”. Jauh daripada satu buku biasa yang berisi satu ”cerita sentimentil”, maka Uncle Tom’s Cabin adalah menunjukkan kecakapan penulisnya untuk membela satu pendirian dalam perjoangan faham yang sedang berkobar di waktu itu. Pro atau anti perbudakan?
 
B e e c h e r S t o w e dengan bukunya yang termasyhur
 
”Uncle Tom’s Cabin”. Jauh daripada satu buku biasa yang berisi satu ”cerita sentimentil”, maka Uncle Tom’s Cabin adalah menunjukkan kecakapan penulisnya untuk membela satu pendirian dalam perjoangan faham yang sedang berkobar di waktu itu. Pro atau anti perbudakan?
 
Pro atau anti kerja bebas? Uncle Tom’s Cabin disalin dalam berpuluh bahasa, faham-faham yang terkandung di dalamnya mengharukan orang di tiap-tiap pelosok di Amerika dan di Eropa. Dan itu pada waktu dunia belum mengenal banyak surat khabar, belum mengenal gambar hidup, belum mengenal radio! Nyata penulisnya bukan seorang biasa.
Dan walaupun pada mula-mulanya tidak ada hubungan antara aksi-aksi wanita itu di pelbagai negeri, – tiap-tiap negeri mempunyai aksi wanita sendiri-sendiri -, maka akhirnya tumbuhlah rasa perlu kepada hubungan internasional. Bukan saja hubungan internasional yang berupa pekerjaan bersama inter-nasional, tetapi lambat-laun dirasakanlah pula perlunya ada perserikatan internasional. Di dalam tahun 1888 di Amerika didirikan satu ”Dewan Wanita Nasional”. Negeri-negeri lain segera menyusul. Di dalam tahun 1893 Dewan-dewan wanita nasional telah dapat digabungkan menjadi satu ”Dewan Wanita Internasional” dengan mempunyai 50 cabang yang tersebar di beberapa negara.
 
Sering sekali orang namakan Dewan Wanita Intrnasional ini I n d u k V o l k e n b o n d , karena ia amat mengutamakan sekali persaudaraan internasional. Tetapi ia jauh daripada radikal. Misalnya perserikatan-perserikatan wanita filantropis pun boleh masuk menjadi anggotanya. Lebih radikal daripada Dewan Wanita Internasional ini, lebih militan, lebih politis, lebih ”feministis” ialah satu gabungan lain yang bernama ”International Alliance for Women Suffrage and Equal Citizenship” – “Serikat internasional buat hak perwakilan wanita dan persamaan hak warga negara”.
Sering sekali orang namakan Dewan Wanita Intrnasional ini I n d u k
 
V o l k e n b o n d , karena ia amat mengutamakan sekali persaudaraan internasional. Tetapi ia jauh daripada radikal. Misalnya perserikatan-perserikatan wanita filantropis pun boleh masuk menjadi anggotanya. Lebih radikal daripada Dewan Wanita Internasional ini, lebih militan, lebih politis, lebih ”feministis” ialah satu gabungan lain yang bernama ”International Alliance for Women Suffrage and Equal Citizenship” – “Serikat internasional buat hak perwakilan wanita dan persamaan hak warga negara”.
 
Alliance ini di dalam tahun 1904 mengadakan Kongresnya yang pertama di kota Berlin.
Tetapi ... hak pemilihan yang dituntut oleh Alliance itu, -. hak pemilihan yang bagaimanakah? Hak pemilihan umumkah? Yaitu yang memberi hak pemilihan kepada tiap-tiap orang perempuan dewasa, dengan tidak membeda-bedakan antara kaya dan miskin, antara terpelajar dan tidak terpelajar, antara bangsa-wan dan rakyat jelata? Ataukah hak pemilihan terbatas, yang diberikan hanya kepada wanita-wanita yang memenuhi syarat-syarat minimum tentang kekayaan, kecerdasan, keturunan?
 
Sudah di dalam Kongresnya di Berlin, Alliance t i d a k mau menjelaskan hal ini, dan di dalam Kongres-kongresnya yang kemudianpun tidak. Tetapi prakteknya di pelbagai negara menunjukkan sifat burgerlijk itu senyata-nyatanjanyatanya. Di Norwegia misalnya, Alliance terang-terangan telah puas dengan hak-pemilihan terbatas yang tercapai dalam tahun 1907, di Belgia orang menganjurkan hak pemilihan terbatas buat perempuan guna menambah kekuatan reaksi menentang kenaikannya partai-partai proletar, di Jermania pemimpin-pemimpin Alliance mengepalai satu gerakan buat meminta hak pemilihan terbatas di haminte berdasar jumlah pajak buat wanita!
 
Memang nyata gerakan feminis adalah b u r g e r l i j k. Lihatlah misalnya Kongres Besar Alliance itu di Amsterdam 1908. Indah gemerlapan pakaian utusan-utusan yang menghadlirinya, yang datang dari berpuluh-puluh negeri; indah dan gemerlapan perhiasan ruangan Kongres, dengan karangan-karangan bunga dan bendera-bendera dari putuhan negara; ”indah” dan ”gemerlapan” pula susunan kalimat pidato-pidato yang diucapkan. Presidente Kongres, Nyonya C. Chapman Catt dari Amerika, membuka Kongres itu dengan satu pidato, dalam mana ia memuji tercapainya hak pemilihim wanita di Norwegia 1907 sebagai satu kemenangan gilang-gemilang yang telah memuaskan. Ia tidak jelaskan, bahwa hak pemilihan yang tercapai di Norwegia itu ialah hak pemilihan buat wanita atasan semata-mata. Seorang utusan yang hadlir, yaitu utusan wanita Rusia yang bernama Golowine, berkali-kali minta diberi kesempatan bicara, tetapi selalu ditolak permintaannya. Akhirnya ia diberi kesempatan berpidato ... 5 menit. Di dalam pidato lima menit itu Golowine menuntut hak pemilihan umum, dan bahwa hak pemilihan hanyalah satu dari pada alat-alat saja untuk men-capai susunan masyarakat yang sosialistis. Sambutan atas pidato yang singkat itu, ialah bahwa ia ... tidak mendapat sambutan sama sekali. Di dalam perslah Kongrespun pidato ini sama sekali tidak disebut-sebut! ...
Ia menghendaki ”penyaringan”; ia menghendaki seleksi. Sedangkan perempuan dianggap kurang cerdas, kurang sedar, kurang ulet, kurang mampu berfikir secara prinsipiil, kurang tenang, mudah terpengaruh oleh sentimen, mudah mendatangkan kekacauan dan keributan!
 
Tetapi akhirnya, lama-kelamaan datang pula perobahan dalam kekolotan kaum laki-laki ini. Terutama sekali kalangan serikat-sekerja kaum laki-laki itu mulai mengerti, bahwa j u s t r u k a l a u wanita itu tidak dididik dalam semangat pergerakan dan tidak diajak serta dalam pergerakan, mereka akan tetap menjadi ancaman memerosotkan upah. Jangan tinggalkan kaum perempuan! Justru kalau ditinggalkan, mereka karena kebodohannya akan selalu bersedia menjadi pangganti buruh laki-laki dengan upah yang lebih rendah, – menjadi ”onderkruipster” kalau buruh laki-laki mengadakan pemogokan. Justru kalau sang isteri tidak dibawa dalam kesedaran, maka ia akan selalu mengomel kalau sang suami malam-malam pergi ke rapat atau ke pekerjaan partai, menggerutu kalau dari uang belanjabelanya diambil sebagian kecil buat membayar kontribusi atau abonemen koran. Satu-satunya jalan untuk menghilangkan ancaman ekonomis yang datang dari rendahnya upah wanita, dan ancaman psikhologis dalam perhubungan suami isteri, ialah menyadarkan wanita itu tentang gunanya perjoangan, dan membawa mereka serta di dalam perjoangan.
 
Dan wanitapun segera sedar. Kesedaran inilah yang membuat dunia manusia pada silamnya abad kesembilanbelas mengalamkan satu pergerakan laki perempuan yang hebat, sebagai yang belum dialamkannya dalam seluruh sejarahnya yang terdahulu. Kesedaran inilah yang membawa ”soal-wanita” itu ke atas satu tingkat yang lebih tinggi, satu tingkat yang mengenai soal masyarakat seumumnya, yang tidak hanya memfikirkan dan memperjoangkan kedudukan w a n i t a s a j a, tetapi memikirkan dan memperjoangkan kedudukan wanita s e b a g a i s a t u b a g i a n d a r i k e m a n u s i a a n y a n g b e r b a h a g i a s e l u r u h n y a. Kesedaran ini membuat wanita berjoang t i d a k s e b a g a i s e k s e, tetapi s e b a g a i s a t u b a g i a n d a r i p a d a s a t u k e l a s.
”Karena pekerjaannya di dalam perusahaan itu, maka wanita proletar dalam arti ekonomis sudahlah dipersamakan dengan laki-laki dari kelasnya. Tetapi persamaan ini berarti, bahwa ia, sebagai juga proletar laki-laki, – hanya saja lebih hebat dari dia -, dihisap oleh si kapitalis. Maka oleh karena itu, perjoangan kaum wanita proletar itu bukan satu perjoangan menentang kaum laki-laki dari kelasnya sendiri, tetapi satu perjoangan b e r s a m a – s a m a kaum laki-laki dari kelasnya sendiri, melawan kelas kaum modal. Tujuan yang dekat daripada perjoangan ini ialah menghambat dan membendung penghisapan kapitalis. Tujuan yang akhir ialah pemerintahan kaum proletar, dengan maksud menghapuskan sama sekali pemerintahan kelas, dan penjelmaan-nya satu pergaulan hidup sosialistis”.
 
Demikianlah bunyi resolusi Kongres di Gotha 1896. Itu tidak berarti, bahwa kongres-kongres sosialis yang terdahulu tidak membicarakan soal wanita. Tidak. Malah di dalam Kong-res di Eisenach; di dalam tahun 1869, soal itu dibicarakan pula. Tetapi kejernihan faham, kejernihan analise, pada kongres-kongres yang terdahulu itu behun terdapat. Boleh dikatakan kejernihan itu barulah tumbuh sesudah terbit kitab A u g u s t B e b e l: ” D i e F r a u u n d d e r S o z i a l i s m u s ”, – ”Wanita dan Sosialisme”. Kitab ini saya anggap salah satu kitab soal wanita yang fundamentil. Tetapi alangkah banyaknya dulu rintangan-rintangan yang menghalangi tersebarnya kitab ini! Bebel menerbitkan kitabnya itu dalam tahun 1879, setahun sesudah Graf Otto von Bismarck, perdana menteri Jerman, mengeluarkan Undang-undang Sosialis yang amat zalim. Undang-undang Sosialis ini melarang semua perserikatan-perserikatan sosialis, melarang rapat-rapatnya, membungkem propagandis-propagandisnya, membeslah kitab-kitab dan majalah-majalahnya. Sudah barang tentu kitab Bebel itu tak mungkin dibaca terang-terangan di Jermania.
 
S o z i a l i s m u s ”, – ”Wanita dan Sosialisme”. Kitab ini saya anggap salah satu kitab soal wanita yang fundamentil. Tetapi alangkah banyaknya dulu rintangan-rintangan yang menghalangi tersebarnya kitab ini! Bebel menerbitkan kitabnya itu dalam tahun 1879, setahun sesudah Graf Otto von Bismarck, perdana menteri Jerman, mengeluarkan Undang-undang Sosialis yang amat zalim. Undang-undang Sosialis ini melarang semua perserikatan-perserikatan sosialis, melarang rapat-rapatnya, membungkem propagandis-propagandisnya, membeslah kitab-kitab dan majalah-majalahnya. Sudah barang tentu kitab Bebel itu tak mungkin dibaca terang-terangan di Jermania.
 
Tetapi pergerakan sosialis di bawah tanah adalah demikian hebatnya, sehingga kitab Bebel yang tebal itu selama ada Undang-undang Sosialis mengalami cetakan ... 8 kali? Dan berkat aksi di bawah tanah yang semakin menghebat itu, yang membuat Undang-undang Sosialis menjadi secarik kertas saja, maka akhirnya di dalam tahun 1890 wet itu ditarik kembali. Baru sesudah itu, pergerakan kaum proletar di Jermania dapat beraksi lagi terang-terangan, berserikat, bersidang, berkonferensi, berkongres. Di dalam Kongresnya di Gotha tadi itulah diambil resolusi tentang soal wanita yang definitif.
Dan wanita hanyalah ekonomis merdeka, di dalam pergaulan hidup yang sosialistis.
 
Sesudah Undang-undang sosialis dihapuskan, dalam tahun 1890, pergerakan wanita jelata di Jermania berjalan pesat. En toh sebenarnya belum semua rintangan terangkat! Sebab kendatipun undang-undang sosialis telah hapus, masih banyaklah negara-negara di Jermania yang masih melarang orang perempuan campur tangan dalam politik. Larangan-larangan ini harus digempur lebih dahulu. Di dalam tahun 1891 di tiap-tiap kota di Jermania didirikan oleh kaum wanita ”komisi-komisi penyedar”, – komisi-komisi agitasi -, yang pekerjaannya ialah menyemangatkan kaum wanita untuk berjoang. Di dalam tahun itu juga diterbitkan majalah ”Die Arbeiterin” di bawah pimpinan E m m a I h r e r, yang kemudian diteruskan oleh C l a r a Z e t k i n dengan nama baru ”Die Gleischheit”.
 
I h r e r, yang kemudian diteruskan oleh C l a r a Z e t k i n dengan nama baru ”Die Gleischheit”.
 
Sangat giatlah komisi-komisi penyedar itu, dan hebat pula propaganda di dalam ”Die Gleichheit”. Tetapi hebat pula reaksi dari fihak pemerintah. Sebab fihak pemerintah itu mengerti, bahwa kini pergerakan kaum buruh itu, dengan ikut sertanya kaum wanita, benar-benar berpusat dalam j a n t u n g n y a m a s s a. Dulu faham-faham revolusioner hanyalah berputar dalam otak kaum buruh laki-laki saja, di dalam rapat-rapat, di dalam lepau-lepau minuman keras, di dalam dok-dok dan bengkel-bengkel. Tetapi kini faham-faham yang berbahaya itu berhinggap pula dalam otaknya kaum wanita, masuk di dalam rumah tangga, bersemayam di dalam jantungnya somah, bersarang di dalam jantungnya keluarga! Di dalam tahun 1895 pemerintah membubarkan semua komisi-komisi penyedar itu, pemimpin-pemimpinnya ditangkap, diseret dimuka hakim dilemparkan ke dalam penjara. Tetapi bukan matinya pergerakan wanita jelata yang ia capai, melainkan justru tambah berkobar-nya pergerakan kaum buruh seluruhnya. Agitasi menyala-nyala. Di mana-mana diadakan protest meeting, menuntut perluasan hak bersidang dan berserikat.
Juga semua tuntutan-tuntutan wanita yang lain-lain, sepertinya tuntuan bekerja 8 jam sehari dengan mendapat perei pada hari Sabtu petang dan hari Minggu, tuntutan pengurangan jam bekerja pada waktu hamil dan beberapa hari perei pada waktu bersalin, tuntutan jaminan bagi wanita yang mengandung dan lain-lain sebagainya lagi, – tuntutan-tuntutan itu tak mungkin dikemukakan dengan leluasa, selama hak-hak politik belum leluasa pula. Maka oleh karena itulah pergerakan wanita tingkat ketiga ini sangat giat pula menuntut h a k p e m i l i h a n, – tidak kalah giatnya dengan kaum feminis atau suffragette, malahan barangkali lebih berkobar-kobar semangatnya, lebih tandes dan sengit desakannya, lebih ridla berkorbannya. Perbedaannya dengan kaum feminis dan suffragette ialah, bahwa kaum feminis dan suffragette itu menganggap hak perwakilan itu sebagai tujuan yang terakhir, sedang wanita sosialis menganggapnya hanya sebagai salah satu alat semata-mata di dalam perjoangan menuju pergaulan hidup baru yang berke-sejahteraan sosial.
 
Alangkah bagusnya kesedaran politik mereka pada waktu itu! Sendiri mereka belum mendapat hak pemilihan, sendiri mereka belum boleh ikut memilih anggota-anggota parlemen, tetapi mereka selalu ikut membantu menghebatkan tiap-tiap kampanye pemilihan dari kawan-kawannya yang laki-laki. Dalam tiap-tiap rapat pemilihan mereka ikut berpidato, dalam tiap-tiap sidang mereka menganjurkan kepada hadlirin dengan semangat yang menyala-nyala, supaya rakyat jelata jangan memilih kandidat-kandidat lain melainkan kandidat-kandidat sosialis. Sebab mereka mengerti, kandidat-kandidat sosialis itu akan membela cita-cita mereka pula; tambahnya jumlah anggota sosialis di dalam parlemen akan menyegerakan terkabulnya tuntutan-tuntutan politik wanita pula. Pemimpin-pemimpin wanita sosialis sebagai L o u i s e Z i e t z , R o s a L u x e m b u r g , E m m a I h r e r , pada waktu kampanye pemilihan yang demikian itu, berpidatolah tiap-tiap hari beberapa kali, pergi dari satu kota ke kota lain, dari satu gedung rapat ke gedung lain. Dan tiap-tiap nomor majalah ”Die Gleichheit” memuat artikel C l a r a Z e t k i n yang membantu keras pula kepada kampanye pemilihan itu.
 
Z i e t z , R o s a L u x e m b u r g , E m m a I h r e r , pada waktu kampanye pemilihan yang demikian itu, berpidatolah tiap-tiap hari beberapa kali, pergi dari satu kota ke kota lain, dari satu gedung rapat ke gedung lain. Dan tiap-tiap nomor majalah ”Die Gleichheit” memuat artikel C l a r a Z e t k i n yang membantu keras pula kepada kampanye pemilihan itu.
 
Maka hasilnya kampanye-kampanye itu, selalu amat memuaskan. Jumlah anggota sosialis dalam parlemen selalu naik, selalu bertambah. Crescendo! Jumlah anggota sosialis dalam tahun 1903, bertambah dalam kampanye pemilihan tahun 1907. Jumlah anggota sosialis 1907, bertambah dalam kampanye 1912. Di dalam tahun 1912 itu, 110 kursi parlemen dapat direbut oleh wakil-wakil kaum proletar! Dan itu semua berkat b a n t u a n n y a k a u m w a n i t a. Mengenai kemenangan tahun 1912 itu, Louise Zietz menulis, bahwa dalam kampanye tahun itu tidak kurang dari 50 orang agitator wanita tiap-tiap hari tidak berhenti-henti berpidato di dalam rapat-rapat, dan bahwa puluhan ribu wanita pula ikut serta dalam pekerjaan lain seperti menyiarkan surat-surat sebaran, memanggil orang-orang, mengorganisir gerombolan-gerombolan penyemangat, menjaga keamanan, dsb.
 
Sebaliknya, kaum laki-lakipun membantu keras kepada tuntutan-tuntutan wanita. Di dalam Kongres Sosialis Inter-nasional di Amsterdam tahun 1904, diterima dengan hampir suara bulat satu resolusi yang berbunyi:
 
Amsterdam tahun 1904, diterima dengan hampir suara bulat satu resolusi yang berbunyi:
 
”Bij den strijd, welke het proletariaat voor de verovering van het algemeen, gelijk, geheim en direct kiesrecht in staat en gemeente voert, moeten de socialistische partijen het v r o u w e n k i e s r e c h t in de wetgevende lichamen voorstaan, in de propaganda principieel vasthouden, en er met allen nadruk voor opkomen”.
”Kongres menyambut dengan kegembiraan yang besar konferensi wanita internasional yang pertama, dan menyatakan setuju dengan pendapatnya tentang hak pemilihan bagi wanita. Partai-partai sosialis dari semua negeri wajib berjoang dengan giat untuk adanya hak pemilihan bagi wanita itu ... Kongres mengakui, bahwa ia tidak dapat menentukan satu waktu yang pasti bagi sesuatu negeri, buat mengadakan gerakan hak pemilihan itu. Tetapi ia menyatakan, bahwa jika gerakan yang demikian itu diadakan di sesuatu negeri, maka gerakan itu harus mutlak dijalankan di atas dasar perjoangan sosialistis, artinya – buat menuntut hak pemilihim umum bagi laki-laki dan perempuan”.
 
Dengan ini, maka datanglah periode baru bagi pergerakan wanita tingkat ketiga. Kini ia bukan lagi pergerakan wanita di beberapa negeri yang organisatoris terpisah satu sama lain, kini ia telah menjadi satu organisasi internasional, yang dipimpin dari satu pusat. Clara Zetkin duduk dalam pusat itu, dan ”Die Gleichheit” menjadi terompet internasional. Clara Zetkin pula yang di dalam Kongres Wanita Internasional ke 2, di Kopenhagen 1910, menganjurkan adanya H a r i W a n i t a I n t e r n a s i o n a l b u a t h a k P e m i l i h a n yang maksudnya ialah bahwa pada tiap-tiap tahun, di tiap-tiap negeri, di tiap-tiap kota besar, pada hari yang telah ditentukan itu serempak diadakan demonstrasi-demonstrasi besar-besaran untuk menuntut hak perwakilan wanita. Di Berlin 1911, hari-wanita internasional itu menjadi satu demonstrasi besar yang maha hebat. Tidak mengherankan! Sebab Berlin adalah kota milyunan, dan Berlin adalah kotanya Clara Zetkin, Rosa Luxemburg, Louise Zietz, Kiithe Duncker, dan lain-lain kampiun wanita lagi! Pengetahuan mereka, ketangkasan mereka, kedinamisan mereka, keberanian mereka, keuletan mereka, dan terutama sekali kecakapan organisatoris mereka, tidak kalah dengan gembong-gembong pemimpin laki-laki. Manakala nama-nama August Bebel, Wilhelm Liebknecht, Jean Jaures, Junes Guesde, Karl Kautsky, Wladimir Iliitsch Lenin disebut orang dengan hormat dan kagum di dunia internasional, maka nama-nama pemimpin wanita yang saya sebutkan di muka tadipun disebut orang dengan kagum di dunia internasional. Belum pernah pergerakan politik wanita (juga tidak pergerakan feminis) mempunyai bintang-bintang pemimpin sebagai pergerakan tingkat ketiga di dalam periode yang saya ceriterakan ini. Dan bintang-bintang ini bukan saja memimpin golongan dalam bangsanya sendiri serta di negerinya sendiri, mereka juga selalu pergi ke sana-sini memimpin wanita jelata di berpuluh-puluh negara. Mereka adalah pemimpin-pemimpin di atas gelanggang internasional, dengan pengaruh internasional, nama inter-nasional, kemasyhuran intenasional. Terutama sekali bilamana diadakan Kongres-Kongres Internasional atau Hari-Hari Wanita Internasional, maka udara politik di seluruh Eropa menggeletar dengan suara mereka, nama mereka dicetak dengan aksara besar di surat-surat khabar dari London sampai ke Petersburg.
Dengan ini, maka datanglah periode baru bagi pergerakan wanita tingkat ketiga. Kini ia bukan lagi pergerakan wanita di beberapa negeri yang organisatoris terpisah satu sama lain, kini ia telah menjadi satu organisasi internasional, yang dipimpin dari satu pusat. Clara Zetkin duduk dalam pusat itu, dan ”Die Gleichheit” menjadi terompet internasional. Clara Zetkin pula yang di dalam Kongres Wanita Internasional ke 2, di Kopenhagen 1910, menganjurkan adanya
 
H a r i W a n i t a I n t e r n a s i o n a l b u a t h a k P e m i l i h a n yang maksudnya ialah bahwa pada tiap-tiap tahun, di tiap-tiap negeri, di tiap-tiap kota besar, pada hari yang telah ditentukan itu serempak diadakan demonstrasi-demonstrasi besar-besaran untuk menuntut hak perwakilan wanita. Di Berlin 1911, hari-wanita internasional itu menjadi satu demonstrasi besar yang maha hebat. Tidak mengherankan! Sebab Berlin adalah kota milyunan, dan Berlin adalah kotanya Clara Zetkin, Rosa Luxemburg, Louise Zietz, Kiithe Duncker, dan lain-lain kampiun wanita lagi! Pengetahuan mereka, ketangkasan mereka, kedinamisan mereka, keberanian mereka, keuletan mereka, dan terutama sekali kecakapan organisatoris mereka, tidak kalah dengan gembong-gembong pemimpin laki-laki. Manakala nama-nama August Bebel, Wilhelm Liebknecht, Jean Jaures, Junes Guesde, Karl Kautsky, Wladimir Iliitsch Lenin disebut orang dengan hormat dan kagum di dunia internasional, maka nama-nama pemimpin wanita yang saya sebutkan di muka tadipun disebut orang dengan kagum di dunia internasional. Belum pernah pergerakan politik wanita (juga tidak pergerakan feminis) mempunyai bintang-bintang pemimpin sebagai pergerakan tingkat ketiga di dalam periode yang saya ceriterakan ini. Dan bintang-bintang ini bukan saja memimpin golongan dalam bangsanya sendiri serta di negerinya sendiri, mereka juga selalu pergi ke sana-sini memimpin wanita jelata di berpuluh-puluh negara. Mereka adalah pemimpin-pemimpin di atas gelanggang internasional, dengan pengaruh internasional, nama inter-nasional, kemasyhuran intenasional. Terutama sekali bilamana diadakan Kongres-Kongres Internasional atau Hari-Hari Wanita Internasional, maka udara politik di seluruh Eropa menggeletar dengan suara mereka, nama mereka dicetak dengan aksara besar di surat-surat khabar dari London sampai ke Petersburg.
 
Sudah saya sebutkan buat Jermania saja nama-nama C l a r a Z e t k i n, R o s a L u x e m b u r g, L o u i s e Z i e t z, E m m a I h r e r dan
 
K a t h e D u n c k e r, maka di angkasa Austria cemerlanglah bintangnya A d e l h e i d P o p p, T h e r e s e S c h l e s i n g e r dan E m m y F r e u t l d 1 i c h, di angkasa Italia bintang A n n a
 
K u l i s h o f f, A n g e l i c a B a 1 a b a n o f f, di angkasa negeri-negeri Skandinavia bintang M a r g a r e t h a S t r o m,
 
K a t a D e l s t r o m, N i n a B a n g, di angkasa Finlandia bintang
 
H i l j a P a r s i n n e n, di angkasa Inggeris bintang D o r a
 
M o n t e f i o r e dan M a r g a r e t B o n d f i e l d , di angkasa Rusia bintang V e r a F i g n e r, V e r a S a s s u l i t s c h, A l e x a n d r a
 
K o l l o n t a y, N a d e s h d a K r u p s k a y a dan
 
Sudah saya sebutkan buat Jermania saja nama-nama C l a r a Z e t k i n, R o s a L u x e m b u r g, L o u i s e Z i e t z, E m m a I h r e r dan K a t h e D u n c k e r, maka di angkasa Austria cemerlanglah bintangnya A d e l h e i d P o p p, T h e r e s e S c h l e s i n g e r dan E m m y F r e u t l d 1 i c h, di angkasa Italia bintang A n n a K u l i s h o f f, A n g e l i c a B a 1 a b a n o f f, di angkasa negeri-negeri Skandinavia bintang M a r g a r e t h a S t r o m, K a t a D e l s t r o m, N i n a B a n g, di angkasa Finlandia bintang H i l j a P a r s i n n e n, di angkasa Inggeris bintang D o r a M o n t e f i o r e dan M a r g a r e t B o n d f i e l d , di angkasa Rusia bintang V e r a F i g n e r, V e r a S a s s u l i t s c h, A l e x a n d r a K o l l o n t a y, N a d e s h d a K r u p s k a y a dan K a t h a r i n a B r e c h k o f s k a y a, di angkasa negeri Belanda bintang H e n r i e t t e R o l a n d H o l s t – v a n d e r S c h a l k.
K a t h a r i n a B r e c h k o f s k a y a, di angkasa negeri Belanda bintang H e n r i e t t e R o l a n d H o l s t – v a n d e r S c h a l k.
 
Di bawah pimpinan mereka ini, kesedaran kaum wanita jelata menjadilah kesedaran yang begitu prinsipiil, begitu radikal, sehingga dari fihak pemimpin laki-laki sosialis sendiri (yang reformistis) kadang-kadang terdengar suara yang khawatir kalau-kalau radikalisme wanita itu nanti merugikan kepada keselamatan partai. Demikian suara Scheidemann di Jermania, demikian suara Plechanov di Rusia, demikian suara Troelstra di negeri Belanda. Tetapi pemimpin-pemimpin laki-laki ini lupa, bahwa wanita itu, yang di dalam perjoangannya tidak mengenal tuntutan-tuntutan kecil reformistis yang mengenai hal-hal sehari-hari sepertinya urusan pajak atau urusan rumah sakit buruh, tetapi hanya mengenal urusan besar, yakni hendak merobah a n g g a p a n – k o l o t yang telah berurat-berakar ratusan tahun, tidak boleh tidak mesti berfikir dan bertindak prinsipiil dan radikal, mesti berjiwa prinsipiil dan radikal!
Bagaimana juga, tidak dapat dimungkiri, bahwa misalnya hasil besar yang dicapai dalam kampanye pemilihan tahun 1912 yang dapat merebut 110 kursi Reichstag itu, buat sebagian yang tidak kecil ialah karena bantuannya kaum w a n i t a. Dan oleh karena itu, tidak mengherankan juga, bahwa kaum wanita itu selalu memperingatkan kepada kaum laki-laki, kadang-kadang mengeritik pedas kepada kaum laki-laki, supaya mereka jangan menyimpang sedikitpun dari jalan yang prinsipiil, tetapi hendak-nya lebih tegas, lebih keras, lebih tandas, lebih mutlak menuntut hak pemilihan umum bagi wanita.
 
Ya, kemenangan-kemenangan memang kadang-kadang membuat semangat menjadi ”puas” dan lantas mendjadi kendor. Kita sering melihat di dalam sejarah perjoangan partai-partai, bahwa partai-partai yang tadinya sengit dan radikal, sesudah mendapat kedudukan kuat dalam parlemen, lantas ”melempem”, lantas kurang prinsipill dan kurang radikal. Demikianlah misal-nya dengan S.D.A.P. di negeri Belanda, dan S.P.D. di Jermania. S.D.A.P. yang masih kecil, berlipat-lipat ganda radikalnya dari-pada S.D.A.P. yang menguasai seperempat parlemen. Dulu S.P.D. hebat jiwanya dan berkobar-kobar semangatnya, dulu ia berjoang dengan idealisme yang berseri-seri, tetapi sesudah ia dalam tahun 1912 dapat merebut kursi 110 di dalam Reichstag (dengan bantuan wanita!), maka ia mulai mendjadi ”puas”.
 
(dengan bantuan wanita!), maka ia mulai mendjadi ”puas”.
 
Penyakit kemelempeman menjangkit kepadanya, kuman-kuman kelemahan batin masuk dalam tubuhnya dengan berangsur-angsur.
Pada permulaan tahun 1914, Rosa Luxemburg dengan ketajaman otaknya yang luar biasa itu telah meramalkan, bahwa tidak lama lagi niscaya akan pecah peperangan dunia yang maha dahsyat, dan bahwa partai buruh Jermania, karena telah terjangkit penyakit kelemahan batin, kemelempeman, reformisme, oportunisme, posibilisme, dsb. niscaya akan pecah berantakan dalam peperangan itu. Alangkah tepatnya ramalan Rosa Luxemburg, pemimpin wanita itu! Sebagai angin prahara yang mengamuk, sebagai taufan badai yang maha dahsyat, benar-benar datanglah peperangan dunia itu dalam bulan Agustus 1914, dan benar-benar juga terpecah-belah berantakan-lah partai sosialis Jermania, sebagai satu partai yang tak tahan uji! Sebagian besar dari anggota-anggotanya mengkhianati ideologi-nya yang sediakala, dan mengamini saja ucapan-ucapan fihak reaksioner yang menyetujui dan menyokong peperangan itu. Hanya satu bagian kecil saja tetap berpendirian prinsipiil dengan tidak mau membenarkan dan tidak mau memberi bantuan kepada peperangan imperialistis itu. Bagian yang tersebut belakangan ini memisahkan diri dari partai; mereka ada yang mendirikan partai baru yang bernama U.S.P.D., dan ada yang masuk dalam barisan satu partai baru yang lain pula, yang bernama S p a r t a k u s b u n d.
 
Dan kaum wanita? Alangkah sulitnya kedudukan pergerakan wanita dalam taufan prahara peperangan itu! Keadaan bahaya, keadaan dalam masa perang, dengan sekaligus menghentikan kegiatan terbuka daripada aksi hak pemilihan, dan perhubungan internasional yang dipeliharanya sejak tahun 1907 itu boleh dikatakan menjadi terputus sama sekali. Meskipun Clara Zetkin dengan keberanian yang amat besar bekerja bagaimana juga kerasnya, supaya dengan jalan majalah ”Die Gleichheit” perhubungan internasional tetap terpelihara sedapat mungkin, maka kesulitan-kesulitan yang dihadapinya sering sekali tak dapat dikalahkan. Hanya semangat dan keyakinan – hanya hati – dapat tetap terpelihara di dalam lingkungan yang dapat dicapai oleh Die Gleichheit itu. Kaum laki-laki Jermania sebagian besar menjadi mabuk peperangan, kaum sosialis Jermania pun sebagian besar menyetujui anggaran belanjabelanya peperangan, tetapi kaum wanita jelata, dengan Clara Zetkin dan Rosa Luxemburg sebagai pemuka-pemukanya, tetap setia kepada pendirian prinsipiil yang semula-mula; peperangan ini adalah kapitalisme, kapitalisme adalah peperangan. Khianat kepada sosialisme, siapa yang menyetujui peperangan ini!
 
Dan bukan saja mereka tidak menyetujui peperangan 1914 -1918 yang imperialistis itu. Dengan macam-macam jalan, mereka juga menyelundupi keadaan dalam masa perang itu, menjalankan aksi rahasia menentang peperangan, menentang kemabukan yang mengorbankan persaudaraan proletar interna-sional kepada kepentingan kaum kapitalis dan imperialis. Dan di dalam aksi menentang peperangan dan kemabukan peperangan itu, maka tak lupa pula tetap menyalakan obor tuntutan hak pemilihan! Die Gleichheit terus-menerus mereka terbitkan, terus-menerus mereka kirimkan ke segala pelosok di mana dapat. Tetapi alangkah besarnya kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, alangkah sempitnya kemungkinan-kemungkinan yang masih terbuka! Sensur amat keras, perkhabaran-perkhabaran dari koresponden-korespondennya banyak sekali yang ditahan, nomor-nomor yang telah siap tercetak kadang-kadang dibeslah oleh militer sebelum dapat disiarkan. Dan sebagai puncak dari semua kesulitan wanita ini, pada permulaan tahun 1917 Clara Zetkin dilepas sebagai redaktrise Die Gleichheit. Sebab,
 
Dan bukan saja mereka tidak menyetujui peperangan 1914 -1918 yang imperialistis itu. Dengan macam-macam jalan, mereka juga menyelundupi keadaan dalam masa perang itu, menjalankan aksi rahasia menentang peperangan, menentang kemabukan yang mengorbankan persaudaraan proletar interna-sional kepada kepentingan kaum kapitalis dan imperialis. Dan di dalam aksi menentang peperangan dan kemabukan peperangan itu, maka tak lupa pula tetap menyalakan obor tuntutan hak pemilihan! Die Gleichheit terus-menerus mereka terbitkan, terus-menerus mereka kirimkan ke segala pelosok di mana dapat. Tetapi alangkah besarnya kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, alangkah sempitnya kemungkinan-kemungkinan yang masih terbuka! Sensur amat keras, perkhabaran-perkhabaran dari koresponden-korespondennya banyak sekali yang ditahan, nomor-nomor yang telah siap tercetak kadang-kadang dibeslah oleh militer sebelum dapat disiarkan. Dan sebagai puncak dari semua kesulitan wanita ini, pada permulaan tahun 1917 Clara Zetkin dilepas sebagai redaktrise Die Gleichheit. Sebab, Die Gleichheit adalah miliknya S.P.D. Dan S.P.D. adalah pro peperangan; dan Clara Zetkin sudah keluar dari S.P.D. dan anti peperangan; dus tak layak dia tetap mengemudikan Die Gleichheit!
Die Gleichheit adalah miliknya S.P.D. Dan S.P.D. adalah pro peperangan; dan Clara Zetkin sudah keluar dari S.P.D. dan anti peperangan; dus tak layak dia tetap mengemudikan Die Gleichheit!
 
Tetapi Clara Zetkin tidak lantas memangku tangan. Permulaan tahun 1917 ia kehilangan Die Gleichheit, Juni 1917 ia telah muncul lagi di dalam ”lembaran wanita” daripada surat-khabar Leipziger Volkszeitung. Di sini ia meneruskan propa-gandanya buat sosialisme dan hak perwakilan wanita. Dan di sini pun ia tetap setia kepada azas, tetap prinsipiil, tetap radikal. Di sini ia tetap melawan faham-faham yang menyimpang, faham-faham yang ”nyeleweng”, seperti misalnya faham Dr. Quark dari S.P.D., yang menganjurkan supaya wanita jelata dalam aksinya mengejar hak perwakilan bekerja bersama-sama dengan kaum feminis. Bagaimana dapat bekerja bersama-sama dengan kaum feminis, demikianlah Clara Zetkin, kalau d a s a r n y a , a z a s n y a aksi hak pemilihan wanita jelata dan aksi hak pemilihan feminis b e r t e n t a n g a n satu sama lain? Kaum feminis menuntut hak pemilihan buat k e l a s n y a. Mereka menuntut hak pemilihan itu supaya kelasnya bertambah kursinya di dalam parlemen, bertambah kuat di dalam parlemen, untuk menentang aksi kaum proletar yang makin lama makin mendesak. Bekerja bersama-sama dengan kaum feminis, berarti memperkuat kedudukan musuh yang hendak menikam dada kita sendiri.
Nama Clara Zetkin pun pantas kita hormati setinggi-tingginya.
 
Bukan hanya buat berkata-kata, kalau orang menama-kan dia ”Ibu Revolusi Proletar”. Sampai kepada mengamuknya Hitler di Jermania, tatkala semua partai kaum buruh dibubarkan, majalah-majalahnya dan surat khabarnya dilarang terbit, pemimpin-pemimpinnya yang dapat ditangkap dilemparkan dalam konsentrasi kamp atau didrel mati mentah-mentahan, partai-partai lain di-anschluss, ia masih terus berjoang untuk kepentingan sosial-isme. Salah satu sidang Reichstag merdeka yang terakhir, dialah yang membukanya: pada waktu itu ia telah berusia 80 tahun, satu usia yang manusia biasa kebanyakannya sudah rapuh dan sudah tiada tenaga semangat.
Bukan hanya buat berkata-kata, kalau orang menama-kan dia
 
”Ibu Revolusi Proletar”. Sampai kepada mengamuknya Hitler di Jermania, tatkala semua partai kaum buruh dibubarkan, majalah-majalahnya dan surat khabarnya dilarang terbit, pemimpin-pemimpinnya yang dapat ditangkap dilemparkan dalam konsentrasi kamp atau didrel mati mentah-mentahan, partai-partai lain di-anschluss, ia masih terus berjoang untuk kepentingan sosial-isme. Salah satu sidang Reichstag merdeka yang terakhir, dialah yang membukanya: pada waktu itu ia telah berusia 80 tahun, satu usia yang manusia biasa kebanyakannya sudah rapuh dan sudah tiada tenaga semangat.
 
Di dalam pidato pembukaannya, lbu Revolusi ini menghantamkan serangannya kepada kaum Nazi. Atas anjuran kawan-kawannya, ia melolos-kan diri dari Jermania ke Rusia, agar tidak menjadi mangsa kezaliman Hitler. Akhirnya, ia dipanggil pulang kerakhmatullah, dalam usia yang amat tinggi.
Sungguh sayang saya tak dapat menceriterakan lebih panjang lebar tentang usaha di Rusia itu. Tetapi ”teori” pergerakan wanita tingkat ketiga, – di Jermania lah terutama asal mula tem-patnya. Teori itulah yang saya berikan kepada pembaca. Rusia adalah terutama sekali tempat usaha. Usaha di sana memang hebat, dan ... betapa mengharukan hati kita kadang-kadang! Siapakah tidak pernah mendengar tentang penderitaan Maria Spiridonova, atau penderitaan Vera Figner? Dan usaha-usaha di negeri-negeri lainpun saya tak dapat ceritakan kepada pembaca. Nasehat saya kepada pembaca cuma satu: bacalah, carilah buku-buku, bacalah sebanyak-banyak mungkin, untuk menambah pengetahuan!
 
Sekarang, marilah saya bubuhkan beberapa ucapan-ucapan pemimpin-pemimpin wanita, untuk menjadi sekedar bunga-rampai dalam kitab ini. Dengarkanlah kritikan pedas yang keluar dari mulut E m i l i a M a r a b i n i di Roma terhadap kepada pemimpin-pemimpin sosialis laki-laki, yang dalam teori memeluk sosialisme, tetapi dalam prakteknya masih bersikap kolot terhadap kepada wanita:
 
M a r a b i n i di Roma terhadap kepada pemimpin-pemimpin sosialis laki-laki, yang dalam teori memeluk sosialisme, tetapi dalam prakteknya masih bersikap kolot terhadap kepada wanita:
 
”Menggelikan hanyalah mereka, yang dengan mulutnya mengatakan begini, dengan perbuatannya berbuat begitu.
”Satu kebahagiaan yang besar, satu kesenangan yang meresap ke dalam jiwa, ialah mengabdi kepada rakyat, yang demikian lamanya, bertahun-tahun seperti tiada hingga, tersiksa di bawah telapak perbudakan.
 
Pujian Tuan saya terima dengan segala rasa kekecilan diri, dan saya bawakannya kepada azas-azas yang kita abdii, azas-azas perjoangan buat kaum pekerja dan buat persaudaraan internasiona1. Bukan untuk saya, tetapi atas nama Tuan-Tuan ... Saya dapat menderita banyak, saya tidak takut sakit atau kemelaratan ... Tidak tahukah Tuan-Tuan, bahwa saya ini termasuk golongan orang-orang yang tersenyum di kayu salib? Saya akan tertawa di dalam penjara. Sebab orang menderita buat satu cita-cita, dan cita-cita itu adalah begitu indah, begitu luhur, sehingga semua perasaan-perasaan yang mengenai diri sendiri lenyap oleh karenanjakarenanya.”
 
Dan perhatikanlah ucapan pahlawan wanita Rusia yang lain, yang juga termasuk golongan Manusia Besar: V e r a F i g n e r. Sudahkah Tuan pernah membaca kitabny ”Nacht over Rusland”? Sebagai Maria Spiridonova, iapun berpuluh-puluh tahun meringkuk dalam penjara Czaar. Iapun tak kenal goyang fikiran, tak kenal bimbang di dalam perjoangan. Di dalam satu rapat yang besar ia pernah berkata:
Tetapi inipun tidak boleh berarti, bahwa boleh diharapkan pergerakan feminis itu akan ”mlungsungi” sama sekali menjadi pergerakan tingkat ketiga. Sama sekali tidak! Sebab dasar kemasyarakatan pergerakan feminis itu ialah k e l a s a t a s a n, dan pergerakan feminis itu akhirnya tak dapat bersifat lain daripada mengerjakan tugas yang diberikan oleh sejarah pada k e l a s a t a s a n. Yang mereka dapat kompromisi niscaya tidak lebih daripada kompromis-kompromis kecil yang tidak mengubah kepada garis-garis besar tugas sejarah kelas atasan. Tidak!, politik mencoba mempengaruhi pergerakan feminis itu tidak boleh berarti mengharap-harapkan kerbau menjadi harimau, atau harimau menjadi gajah. Ia hanyalah harus berarti, bahwa massa harus dijaga jangan sampai ia terlalu menjadi korban kenaikannya wanita borjuasi. Yang paling penting ialah t e t a p: mendidik wanita massa, menyedarkan wanita massa, mengorganisir wanita massa, memparatkan wanita massa, meng-gerakkan wanita massa. Itu dan itu sajalah tetap alif-ba-ta-nya pergerakan wanita tingkat ketiga!
 
Pergerakan feminis nyata tidak mampu memerdekakan wanita sama sekali. Tuntutan persamaan hak semata-mata, nyata masih meninggalkan satu soal yang belum selesai: b a g a i m a n a k a h m e n g h i l a n g k a n p e r t e n t a n g a n a n t a r a p e k e r j a a n m a s y a r a k a t d a n p a n g g i l a n j i w a s e b a g a i i s t e r i d a n i b u ? B a g a i m a n a k a h m e n g h i l a n g k a n ” s c h e u r , d i e d o o r h a a r w e z e n g a a t ” ?
 
” s c h e u r , d i e d o o r h a a r w e z e n g a a t ” ?
 
Sesuai dengan tuntutan emansipasi, maka wanita atasan sekarang sengaja keluar dari kurungan pingitan, keluar bersekolah, belajar sesuatu ” b e r o e p ”, belajar menjadi juru-rawat, menjadi guru, menjadi juru-ketik atau juru-tulis atau komis, menjadi dokter atau insinyur atau adpokat, – tetapi kelak, kalau mereka sudah menjabat pekerjaan itu, ... datanglah lagi-lagi u j i a n – j i w a yang amat sulit: mereka harus m e m i l i h antara pekerjaan itu dan ... hidup bersuami! Lagi-lagi datanglah bagi tiap-tiap orang wanita yang telah terlepas dari pingitan dan telah menjabat sesuatu pekerjaan yang umum satu saat yang ia terpaksa memilih antara pekerjaan itu dan panggilan kodrat alam. Mana yang harus dipilih? Mana yang harus dilebih beratkan?: pekerjaannyakah, – atau bersuamikah? Terus bekerjakah, – atau kembali ke dalam kurungan rumah tangga tetapi mempunyai kekasih, mempunyai laki-laki, mempunyai anak? Buat apa tadinya membuang uang dan tempoh begitu banyak buat spesial bersekolah menjadi juru-rawat atau guru atau dokter atau adpokat, kalau akhirnya semua kepandaian itu toh musti dikesampingkan, karena alam akhirnya toh menuntut bagiannya pula?
Pembaca masih ingat, apa yang menyebabkan retak dalam jiwa wanita yang mengerjakan pekerjaan masyarakat. Pertama ialah oleh karena di dalam sistim kapitalisme pekerjaan masyarakat itu laksana meremukkan jasmani dan rohani; duabelas jam, tigabelas, empatbelas jam tiap-tiap hari kadang-kadang wanita harus bekerja di dalam paberik atau perusahaan, dan itupun dalam keadaan pekerjaan yang amat berat dan tidak sehat. Kedua, – kalau wanita, di dalam keadaan jasmani dan rohani yang telah amat letih itu, sore-sore atau malam-malam pulang di rumah, maka ia harus bekerja lagi amat berat di rumah tangga, mengerjakan seribusatu pekerjaan rumah tangga tetek-bengek yang tidak ringan, yang diwajibkan kepadanya oleh cinta dan keibuan. Memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menjelumat baju, memelihara anak, menyediakan sarapan buat besok pagi dan lain sebagainya, masih harus ia kerjakan, sehingga kebahagiaan cinta dan keibuan menjadi amat terganggu oleh karenanya. Sebagai yang saya katakan di muka, maka wanita di dalam sistim kapitalisme itu amat berkeluh-kesah memikul beban yang dobel, – bebannya kerja berat sebagai produsen masyarakat, dan bebannya kerja berat sebagai produsen rumah tangga. Yang satu tidak membahagiakan yang lain, yang satu malah memelaratkan kepada yang lain. Tetapi k e d u a – d u a n y a harus dikerjakan, k e d u a – d u a n y a harus ditunaikan, – t i d a k d a p a t salah satu dari dua itu dilepaskan, dengan tidak mengkhianati kepada a t a u panggilan kemasyarakatan, a t a u panggilan alam. Dan walaupun retak yang begini itu terutama sekali mengenai wanita bawahan, – di kalangan wanita atasanpun pada pokoknya ia ada. Karenanya, maka satu-satunya k e m e n a n g a n ialah: satu pergaulan hidup baru, yang melenyapkan retak itu, menghapuskan pertentangan antara panggilan masyarakat dan panggilan alam, mensintesekan pekerjaan masyarakat dan cinta dan keibuan itu dalam satu sintese yang berbahagia raya.
 
Apa, apa yang menyukarkan Sarinah untuk masuk secara b a h a g i a ke dalam pekerjaan masyarakat, – yang ia toh masukinya juga karena hasrat kemerdekaan dan karena paksa-annya tuntutan perut? I a l a h, b a h w a r u m a h t a n g g a t e r l a l u b e r s i f a t ” p e r u s a h a a n s e n d i r i ”. Pekerjaan-pekerjaan untuk keperluan rumah tangga itu terlalu terlingkung dalam lingkungannya somah. lnilah yang seperti merantai Sarinah kepada kewajiban-kewajiban tetek-bengek dalam rumah tangga, yang beratnya telah hampir mematahkan tulang belakang. lnilah yang menghebatkan pertentangan antara cinta dan keibuan dan pekerjaan masyarakat, menghebatkan retak dalam jiwanya. Maka pertentangan dan retak itu dus hanya dapat dilenyapkan, kalau, antara lain-lain, Sarinah dapat kita m e r d e k a k a n dari kewajiban-kewajiban rumah-tangga yang tetek bengek itu, – dapat kita merdekakan dari kewajiban-kewajiban rumah tangga yang ia harus pikul s e n d i r i sebagai akibat sifat rumah tangga yang terlalu bersifat perusahaan sendiri. Pertentangan dan retak itu hanya dapat kita lenyapkan, kalau kita p e c a h k a n sifat rumah-tangga yang terlalu bersifat perusaha-an sendiri itu, – O p e r k a n sebagian besar dari pekerjaan-pekerjaan rumah tangga itu kepada u m u m, kepada m a s y a r a k a t.
 
” p e r u s a h a a n s e n d i r i ”. Pekerjaan-pekerjaan untuk keperluan rumah tangga itu terlalu terlingkung dalam lingkungannya somah. lnilah yang seperti merantai Sarinah kepada kewajiban-kewajiban tetek-bengek dalam rumah tangga, yang beratnya telah hampir mematahkan tulang belakang. lnilah yang menghebatkan pertentangan antara cinta dan keibuan dan pekerjaan masyarakat, menghebatkan retak dalam jiwanya. Maka pertentangan dan retak itu dus hanya dapat dilenyapkan, kalau, antara lain-lain, Sarinah dapat kita m e r d e k a k a n dari kewajiban-kewajiban rumah-tangga yang tetek bengek itu, – dapat kita merdekakan dari kewajiban-kewajiban rumah tangga yang ia harus pikul s e n d i r i sebagai akibat sifat rumah tangga yang terlalu bersifat perusahaan sendiri. Pertentangan dan retak itu hanya dapat kita lenyapkan, kalau kita p e c a h k a n sifat rumah-tangga yang terlalu bersifat perusaha-an sendiri itu, – O p e r k a n sebagian besar dari pekerjaan-pekerjaan rumah tangga itu kepada u m u m, kepada m a s y a r a k a t.
 
Artinya: S e b a g i a n b e s a r d a r i p a d a p e k e r j a a n – p e k e r j a a n r u m a h – t a n g g a i t u, k i t a a n g k a t k a n d a r i l i n g k u n g a n k e l u a r g a, d a n k i t a m a s u k – k a n k e d a l a m t a n g g u n g a n n ya K o l e k t i v i t a s !
Mungkinkah ini? lni mungkin!
 
Bahkan hal ini sekarang sedang berjalan berangsur-angsur! Berkat jalannya evolusi masyarakat, maka pengoperan sebagian kewajiban-kewajiban rumah tangga kepada masyarakat itu bukan lagi satu cita-cita kosong, bukan lagi satu utopi, tetapi mulai menjadi satu kejadian, satu realitas. Lihatlah!: Di zaman dulu, semua pekerjaan untuk keperluan rumah tangga dilakukan di dalam rumah tangga, dan menjadi tanggungannya Sarinah sendiri sama sekali. Tetapi di zaman sekarang sudah banyak berangsur-angsur pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan oleh perusahaan-perusahaan partikelir d i l u a r rumah-tangga, atau kepada perusahaan-perusahaan kolektif. Di zaman sekarang telah berangsur-angsur berkurang sifat rumah tangga sebagai perusahaan milik sendiri. Makanan sudah banyak yang dimasak di luar rumah, lauk-pauk dibeli dari ideran atau di kedai, pakaian dijahit oleh tukang penjahit atau langsung dibeli telah jadi dari toko, pendidikan anak-anak dilakukan kolektif, pemeliharaan orang sakit dikerjakan di rumah-sakit, penerangan terdapat dari sentral elektris, pemberian air ditanggung oleh dinas water-leiding, pembuangan sampah diselenggarakan oleh haminte, dan demikian sebagainya lagi. Pendek kata, banyak sekali bagian-bagian kerja rumah tangga yang dulu sama sekali menjadi tanggungan wanita di rumah, sekarang dikerjakan oleh orang lain di luar rumah itu, (secara perusahaan, bahkan banyak yang secara kapitalistis), atau – dan ini penting! – dikerjakan oleh ”umum” secara kolektivitis dengan berupa n e g a r a, h a m i n t e, atau k o p e r a s i. Jadi: tendenz evolusi masyarakat ialah: berangsur-angsur mengoper fungsi-fungsi keluarga serumah kepada ”umum”, kepada masyarakat. Negara, atau haminte, atau koperasi akan bertambah mengoper makin banyak fungsi-fungsi itu, sesuai dengan bertambahnya sifat negara menjadi negara rakyat, haminte menjadi haminte rakyat, koperasi menjadi koperasi rakyat. lni amat meringankan tanggungan Sarinah di rumah! Perusahaan-perusahaan partikelir masih mencari untung-besar merogoh kantong Sarinah, tetapi pengoperan fungsi-fungsi oleh badan-badan kolektivistis sebagai negara, haminte, atau koperasi itu, membawa k e b a h a g i a a n kepadanya. Tidak lagi ia, kalau ia sore-sore sudah pulang dari bekerja di paberik atau di perusahaan, di rumah lantas masih terpaksa lagi membanting tulang, mengulurkan tenaga, memeras keringat.
 
(secara perusahaan, bahkan banyak yang secara kapitalistis), atau – dan ini penting! – dikerjakan oleh ”umum” secara kolektivitis dengan berupa n e g a r a, h a m i n t e, atau k o p e r a s i. Jadi: tendenz evolusi masyarakat ialah: berangsur-angsur mengoper fungsi-fungsi keluarga serumah kepada ”umum”, kepada masyarakat. Negara, atau haminte, atau koperasi akan bertambah mengoper makin banyak fungsi-fungsi itu, sesuai dengan bertambahnya sifat negara menjadi negara rakyat, haminte menjadi haminte rakyat, koperasi menjadi koperasi rakyat. lni amat meringankan tanggungan Sarinah di rumah! Perusahaan-perusahaan partikelir masih mencari untung-besar merogoh kantong Sarinah, tetapi pengoperan fungsi-fungsi oleh badan-badan kolektivistis sebagai negara, haminte, atau koperasi itu, membawa k e b a h a g i a a n kepadanya. Tidak lagi ia, kalau ia sore-sore sudah pulang dari bekerja di paberik atau di perusahaan, di rumah lantas masih terpaksa lagi membanting tulang, mengulurkan tenaga, memeras keringat.
 
Tidak lagi ia harus berkeluh-kesah di rumah sampai jauh-jauh malam. Tidak lagi badannya masih terasa letih dan payah, kalau ia besok paginya bangun dari tempat tidurnya. Dan kebahagiaan ini mencapai puncaknya yang tertinggi di dalam m a s y a r a k a t k e s e j a h t e r a a n s o s i a l, di dalam m a s y a r a k a t s o s i a l i s. Di sana ia mencapai ”bekroningnya” yang gilang-gemilang! Tidak lagi Sarinah dirogoh kantongnya bilamana mengoperkan fungsi-fungsi kerumah tanggaannya kepada tenaga lain di luar rumah tangga. Dengan kontribusi yang ringan, atau dengan cuma-cuma sama sekali, fungsi-fungsi itu dioper oleh koperasi, oleh haminte, oleh negara. Sepulang dari pekerjaan masyarakat, ia cukup waktu untuk beristirahat, cukup waktu untuk berkasih-kasihan dengan suami dan anak-anak. Cukup waktu untuk mendengarkan lagu-lagu merdu dari radio, cukup waktu untuk menambah pengetahuannya di kursus-kursus atau di rapat-rapat. Tidak lagi ia harus membikin bersih lampu minyak tanah, lampu listrik telah menyala dengan memutar kenop di dinding. Tidak lagi ia harus memasang api, dapur elektris kecil-kecilan telah menganga dengan memutar kenopnya pula.
Mungkinkah Indonesia menjadi Sarang Besar yang demikian itu?
 
==BAB VI: SARINAH DALAM PERJOANGAN REPUBLIK INDONESIA==
'''========================='''
 
Siapa yang memperhatikan benar-benar tingkat-tingkat pergerakan wanita sebagai yang saya gambarkan di muka tadi, akan dapat menentukan tepat pergerakan wanita Indonesia di derajat mana: Terutama sekali di zaman sebelum pecahnya perang Pasifik sebagian besar daripada pergerakan wanita Indonesia barulah menduduki tingkatan yang kesatu, – tingkat main puteri-puterian – yang telah dianggap basi di negeri lain berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan sebagian kecil menduduki tingkat yang kedua, yang di negeri lain pun telah menjadi tingkat yang telah lalu. Di zaman kolonial Belanda, maka hasil yang dicapai oleh pergerakan wanita Indonesia itu sungguh amat kecil: di dalam tahun 1941 diadakan hak pemilihan buat haminte yang sangat sekali terbatas, dan itu pun dengan aturan ... ”vrije aangifte”. Hasil ini amat kecil, jika dibandingkan dengan hasil hak pemilihan yang dicapai oleh wanita di negeri lain. Apakah ini mengherankan? Sudah tentu tidak! Sebab pemerintah Belanda adalah pemerintah Belanda, dan aksi wanita di Indonesia, jikalau dibandingkan dengan aksi suffragette di Inggeris misalnya, atau aksi Panitia-panitia Penyedar di Jermania, adalah laksana kucing dibandingkan dengan harimau. Manakala wanita Indonesia mengira, bahwa mereka dengan pergerakannya itu dulu telah ikut-serta secara ”hebat” di dalam perjoangan evolusi kemanusiaan, baiklah mereka mencerminkan pergerakan mereka itu dalam kaca benggala pergerakan wanita di negeri lain. Alangkah kecil nampaknya! Alangkah jauh terbelakangnya! Alangkah tiada adanya ideologi sosial yang berkobar-kobar di dalam dadanya.
BAB VI
 
SARINAH DALAM PERJOANGAN
 
REPUBLIK INDONESIA
 
Siapa yang memperhatikan benar-benar tingkat-tingkat pergerakan wanita sebagai yang saya gambarkan di muka tadi, akan dapat menentukan tepat pergerakan wanita Indonesia di derajat mana: Terutama sekali di zaman sebelum pecahnya perang Pasifik sebagian besar daripada pergerakan wanita Indonesia barulah menduduki tingkatan yang kesatu, – tingkat main puteri-puterian – yang telah dianggap basi di negeri lain berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan sebagian kecil menduduki tingkat yang kedua, yang di negeri lain pun telah menjadi tingkat yang telah lalu. Di zaman kolonial
 
Belanda, maka hasil yang dicapai oleh pergerakan wanita Indonesia itu sungguh amat kecil: di dalam tahun 1941 diadakan hak pemilihan buat haminte yang sangat sekali terbatas, dan itu pun dengan aturan ...
 
”vrije aangifte”. Hasil ini amat kecil, jika dibandingkan dengan hasil hak pemilihan yang dicapai oleh wanita di negeri lain. Apakah ini mengherankan? Sudah tentu tidak! Sebab pemerintah Belanda adalah pemerintah Belanda, dan aksi wanita di Indonesia, jikalau dibandingkan dengan aksi suffragette di Inggeris misalnya, atau aksi Panitia-panitia Penyedar di Jermania, adalah laksana kucing dibandingkan dengan harimau. Manakala wanita Indonesia mengira, bahwa mereka dengan pergerakannya itu dulu telah ikut-serta secara ”hebat” di dalam perjoangan evolusi kemanusiaan, baiklah mereka mencerminkan pergerakan mereka itu dalam kaca benggala pergerakan wanita di negeri lain. Alangkah kecil nampaknya! Alangkah jauh terbelakangnya! Alangkah tiada adanya ideologi sosial yang berkobar-kobar di dalam dadanya.
 
Sekarang kita telah merdeka. Kita telah mempunyai Negara.
Semuanya mengamalkan cinta tanah air, malahan barangkali semuanya mengejar Indonesia Merdeka. Tetapi jikalau kita selidiki satu-persatu partai-partai itu, – sejak dari Budi Utomo, sampai ke Sarekat Dagang Islam, sampai ke Sarekat Islam, sampai ke Nationaal Indische Partij, sampai ke Partai Komunis Indonesia, sampai ke Sarekat Rakyat, sampai ke Parindra, sampai ke Partai Nasional Indonesia dan partai lain-lain – timbullah pertanyaan: dapatkah partai-partai itu dalam b e n t u k n y a y a n g d u l u i t u membawa rakyat Indonesia kepada k e m e r d e k a a n yang kekal dan abadi?
 
Inilah satu pertanyaan penting, yang harus dijawab, oleh karena jawabannya itu mengandung pengajaran buat perjoangan kita selanjutnya. Dan jawaban itu dengan jujur dan tegas haruslah berbunyi: P a r t a i – p a r t a i i t u d i d a 1 a m be n t u k d a n p o l i t i k n y a y a n g d u l u i t u t i d a k d a p a t m e m b a w a r a k y a t I n d o n e s i a k e p a d a k e m e r d e k a a n y a n g k e k a l d a n a b a d i !
 
I n d o n e s i a k e p a d a k e m e r d e k a a n y a n g k e k a l d a n a b a d i !
 
Oleh karena apa? Oleh karena partai-partai itu semuanya satu-persatu menderita kekurangan-kekurangan! Ambillah misalnya Budi Utomo. Jikalau umpamanya Budi Utomo hendak meng-ikhtiarkan Indonesia Merdeka, – dapatkah ia berhasil? Dengan apa? Dengan anggota-anggotanya yang tidak banyak itu, dan hampir semuanya bekerja kepada jabatan-jabatan pemerintahan asing? Dengan mencoba m e y a k i n k a n pihak Belanda, bahwa penjajahan tidak adil, dan kemerdekaan adil? Percobaan yang demikian itu akan sama sia-sianya dengan mendudukkan setetes air di punggung seekor itik! Atau ambillah Parindra. Jikalau umpamanya Parindra merobah Indonesia Rayanya dengan Indonesia Merdeka, dan berjoang untuk Indonesia Merdeka, dapatkah ia berhasil? Dia tidak dapat berhasil, oleh karena ia tidak mempunyai pengikut massa dan tidak cukup revolusioner.
 
Pernah dulu saya katakan di dalam satu karangan, bahwa ”seribu dewa dari kayangan tak dapat membuat Parindra menjadi partai yang revolusioner” oleh karena b u m i n y a Parindra memang bukan kaum yang revolusioner, melainkan kaum pertengahan yang belum revolusioner. Atau, pembaca barangkali melayang-kan fikiran kepada Sarekat Islam, yang dulu terkenal sebagai satu partai rakyat yang terbesar, yang anggotanya pernah satu setengah milyun orang, yang pemimpinnya pernah ditakuti Belanda sebagai ”de aanstaande Koning der Javanen”? Saya pernah duduk di tengah-tengah kancah Sarekat Islam itu. Enam tahun lamanya saya pernah berdiam di bawah satu atap dengan pemimpinnya yang utama itu. Tetapi justru karena itu, saya mengetahui kekurangan-kekurangannya Sarekat Islam. Sarekat Islam adalah satu partai yang massal, tetapi ia bukan partainya massa. Programnya kurang tegas. Banyak kaum tani menjadi anggotanya, tetapi ada pula tuan tanah, banyak pula saudagar-saudagar dan pedagang pertengahan, pegawai-pegawai pemerintah Belanda, bangsawan yang ternama. Ia tidak tegas menentang imperialisme dan tidak menuntut kemerdekaan mutlak; kapitalisme yang ia perangi ialah, – demikian tertulis di dalam programnya – , hanjahanya ”zondig kapitalisme” belaka. Akibat daripada melayani kepentingan-kepentingan yang bertentangan satu sama lain itu tadilah, logis membawa Sarekat Islam kepada perpecahan: Tjokro c.s. – Semaun c.s. Dengan segala hormat kepada almarhum Tjokroaminoto yang saya cintai, saya berkata: Sarekat Islam tidak mungkin membawa kita kepada kemerdekaan! Dan partainya Semaun c.s. yang justru memisah-kan diri dari Sarekat Islam, karena kekurangan-kekurangan Sarekat Islam itu – bagaimanakah dengan Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Rakyatnya? Tidakkah mereka akan dapat mencapai Indonesia Merdeka? Sebab tidakkah mereka revolusioner? dan tidakkah mereka berhubungan rapat dengan massa? Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Rakyat, di dalam bentuknya dan politik-nya yang dulu, tak dapat mencapai Indonesia Merdeka, oleh karena mereka justru tidak ”tepat” politiknya itu, yaitu membuat satu kesalahan fundamentil dalam mengira bahwa kini sudah datang waktunya untuk revolusi sosial. Dan Partai Nasional Indonesia pun, partai saya sendiri dulu, di dalam bentuknya dan politiknya yang dulu, tak akan dapat mencapai Indonesia Merdeka, oleh karena ia terlalu memandang perjoangan rakyat Indonesia itu sebagai satu perjoangan nasional t e r s e n d i r i, dan kurang memperhatikan kedudukan perjoangan rakyat Indonesia itu sebagai satu bagian daripada satu Revolusi Besar Internasional.
 
Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Rakyatnya? Tidakkah mereka akan dapat mencapai Indonesia Merdeka? Sebab tidakkah mereka revolusioner? dan tidakkah mereka berhubungan rapat dengan massa? Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Rakyat, di dalam bentuknya dan politik-nya yang dulu, tak dapat mencapai Indonesia Merdeka, oleh karena mereka justru tidak ”tepat” politiknya itu, yaitu membuat satu kesalahan fundamentil dalam mengira bahwa kini sudah datang waktunya untuk revolusi sosial. Dan Partai Nasional Indonesia pun, partai saya sendiri dulu, di dalam bentuknya dan politiknya yang dulu, tak akan dapat mencapai Indonesia Merdeka, oleh karena ia terlalu memandang perjoangan rakyat Indonesia itu sebagai satu perjoangan nasional t e r s e n d i r i, dan kurang memperhatikan kedudukan perjoangan rakyat Indonesia itu sebagai satu bagian daripada satu Revolusi Besar Internasional.
 
Lihat – alangkah pentingnya pengalaman-pengalaman yang saya sebutkan di atas itu. Kita sekarang telah merdeka, kita sekarang telah mempunyai Republik, tetapi manakala kita tidak memperhatikan pengalaman-pengalamannya sejarah dan tidak memberi bentuk dan politik yang benar kepada perjoangan kita, – tidak menjalankan perjoangan kita itu dengan sifat yang benar dan pada tempat yang benar -, maka kemerdekaan itu mungkin terbang ke awang-awang. Maha Besar dan Maha Terpujilah Tuhan Rabbulalamin, bahwa rakyat Indonesia telah merdeka, tetapi untuk m e m i l i k i k e m e r d e k a a n i t u b u a t s e l a m a – l a m a n y a dan mengisinya dengan k e s e j a h t e r a a n s o s i a l, – untuk itu perlulah penglihatan yang tepat dan usaha-usaha yang tepat pula. Mencapai kemerdekaan alhamdulillah sudah, memiliki terus kemerdekaan itu kini menjadi tugas.
Dan jikalau nanti imperialisme Belanda telah remuk-redam atau hampir remuk-redam, maka itu adalah satu s i t u a s i r e v o l u s i o n e r. Satu situasi revolusioner yang akan menjadi satu a n a s i r – o b y e k t i f yang baik untuk melepaskan Indonesia dari cengkereman imperialisme Belanda itu. Manakala kita tidak cukup kekuatan untuk melepaskan diri kita dari cengkeraman imperialisme itu semasa ia masih segar bugar, maka haruslah kita menunggu kesempatan dan mempergunakan kesempatan yang ia berada di dalam keadaan lemah atau remuk. Tetapi untuk dapat mempergunakan kesempatan itu, k i t a s e n d i r i h a r u s k u a t. Kita harus menyusun a n a s i r s u b y e k t i f untuk dapat mempergunakan kesempatan itu: kita harus menyusun tenaga-tenaga kita, menebalkan tekad kita, melatih ketangkasan kita, menggembleng barisan-barisan kita, mengkongkritkan kemauan nasional kita.
 
Di samping situasi revolusioner yang obyektif yang berupa lemahnya atau remuk-nya imperialisme Belanda itu, harus dibangunkan (dan kita bangunkan) situasi revolusioner yang subyektif yang berupa penghebatan serta konkretisasi kemauan revolusioner dan tenaga revolusioner kita. Dan situasi revolusioner yang subyektif itu nanti harus kita gempurkan sehebat-hebatnya pada waktu situasi revolusioner yang obyektif sedang masak semasak-masaknya. Dan pada saat dua situasi revolusioner ini bertemu satu sama lain laksana cetusan antara dua poolnya lading elektris yang bertrilyun-trilyun volt, pada saat itu gugurlah dengan suara gemuruh yang terdengar dari ujung dunia yang satu sampai ke ujung dunia yang lain, kerajaan Belanda di dunia Timur.
Di samping situasi revolusioner yang obyektif yang berupa lemahnya atau remuk-nya imperialisme Belanda itu, harus dibangunkan
 
(dan kita bangunkan) situasi revolusioner yang subyektif yang berupa penghebatan serta konkretisasi kemauan revolusioner dan tenaga revolusioner kita. Dan situasi revolusioner yang subyektif itu nanti harus kita gempurkan sehebat-hebatnya pada waktu situasi revolusioner yang obyektif sedang masak semasak-masaknya. Dan pada saat dua situasi revolusioner ini bertemu satu sama lain laksana cetusan antara dua poolnya lading elektris yang bertrilyun-trilyun volt, pada saat itu gugurlah dengan suara gemuruh yang terdengar dari ujung dunia yang satu sampai ke ujung dunia yang lain, kerajaan Belanda di dunia Timur.
 
Pada saat itulah Banteng Indonesia akan meraung:
Sosialisme kah kalau wanita di rumah lampunya lampu minyak kelapa atau lampu biji jarak, meniup-niup api di dapur tiap-tiap kali ia hendak menanak nasi, memintal dan menenun sendiri tiap-tiap jengkal bahan baju anaknya atau suaminya karena memang tidak ada paberik tenun yang menenun tekstil?
 
Sosialisme berarti adanya paberik yang kolektif. Adanya industrialisme yang kolektif. Adanya produksi yang kolektif. Adanya distribusi yang kolektif. AdanjaAdanya pendidikan yang kolektif. Sosialisme berarti adanya banyak otomobil, adanya radio, adanya telepon, adanya telegrap, adanya kereta api, adanya kapal udara, adanya aspal, adanya water leiding, adanya listrik, adanya gambar hidup, adanya buku-buku, adanya perpustakaan, adanya ilmu tabib, adanya aspirin, adanya sekolah rendah, adanya sekolah tinggi, adanya traktor, adanya irigasi, dll, s e m u a n y a s e c a r a m e m p u n y a i j u m l a h m i n i m u m, dan semuanya, (saya pinjam perkataan Bakounin, walaupun ia orang anarchist) ”di dalam suasana kolektivitas”. Alat-alat teknik, dan terutama sekali s e m a n g a t g o t o n g – r o y o n g y a n g t e l a h m a s a k, itulah soko-gurunya pergaulan hidup sosialistis. Sosialisme adalah kecukupan pelbagai kebutuhan dengan pertolongan m o d e r n i s m e yang telah d i k o l e k t i v i s a s i k a n. Sosialisme adalah ”keenakan hidup yang pantas” Kecukupan pelbagai kebutuhan itu, adanya ”keenakan hidup yang pantas” itu, hanyalah mungkin dengan adanya dan dipergunakannya ”secara sosial” a l a t – a l a t t e k n i k.
 
”di dalam suasana kolektivitas”. Alat-alat teknik, dan terutama sekali s e m a n g a t g o t o n g – r o y o n g y a n g t e l a h m a s a k, itulah soko-gurunya pergaulan hidup sosialistis. Sosialisme adalah kecukupan pelbagai kebutuhan dengan pertolongan m o d e r n i s m e yang telah d i k o l e k t i v i s a s i k a n. Sosialisme adalah ”keenakan hidup yang pantas” Kecukupan pelbagai kebutuhan itu, adanya
 
”keenakan hidup yang pantas” itu, hanyalah mungkin dengan adanya dan dipergunakannya ”secara sosial” a l a t – a l a t t e k n i k.
 
Satu masyarakat yang belum dapat memenuhi syarat-syarat teknik itu sampai kepada sedikitnya satu t i n g k a t m i n i m u m y a n g t e r t e n t u, tak mungkin mampu menjelmakan sosialisme!
Negara Indonesia dalam bahaya. Memang bahaya ini adalah satu fase, satu tingkat, dalam usaha kita mendirikan negara yang merdeka. Justru oleh karena proklamasi kemerdekaan kita satu kejadian yang t i d a k konstitusionil, justru oleh karena tindakan kita memerdekakan Indonesia itu satu tindakan yang revolusioner, maka tidak boleh tidak Negara Indonesia harus melalui satu fase ”dalam bahaya”. Tidakkah tadi telah saya sitirkan ucapan, bahwa tak pernah sesuatu kelas dengan sukarela melepaskan kedudukannya yang berlebih? Pekerjaan kita mendirikan negara belum selesai, Revolusi Nasional kita belum berakhir. Revolusi Nasional kita malah sedang menggelora-menggeloranya! Pekerjaan mendirikan negara itu sedikitnya harus selesai lebib dahulu, sebelum kita dapat memasuki fase sosialisme.
 
Bangsa Indonesia sedang di dalam Revolusi. Tetapi Revolusi bukanlah sekedar satu ”kejadian” belaka. Revolusi adalah satu p r o s e s. Puluhan tahun, kadang-kadang, berjalannya proses itu. Revolusi Perancis berjalan delapan puluh tahun, Revolusi Rusia empat puluh tahun, Revolusi Tiongkok sampai sekarang pun belum selesai. Revolusi kita pun tentu akan memakan waktu bertahun-tahun, kalau tidak berpuluh-puluh tahun juga. Pasang naik dan pasang surut akan kita alami berganti-ganti, pasang naik dan pasang surut itulah yang dinamakan i r a m a Revolusi! Tetapi geloranya samudra tidak berhenti, gelora samudra berjalan terus. Sejarah berjalan terus, dan klimaks sejarah (atau ”inspirasi yang menghamuk” daripada sejarah) yang bernama Revolusi itu pun berjalan terus, melalui beberapa fase.
 
(atau ”inspirasi yang menghamuk” daripada sejarah) yang bernama Revolusi itu pun berjalan terus, melalui beberapa fase.
 
Revolusi adalah ”hamuknya” tenaga-tenaga masyarakat, tetapi tenaga-tenaga itu bukan hanya tenaga-tenaga yang menghantam, menggempur, menghancurleburkan saja, – tenaga-tenaga itu ada pula yang menyusun, membina, membangun. Revolusi bukan hanya proses yang destruktif, ia juga satu tenaga besar yang konstruktif. Keadaan-keadaan dalam masyarakat yang telah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan-kebutuhan baru, ia hantam, ia matikan, ia hancurleburkan, – keadaan-keadaan baru yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan baru ia bangunkan. Dan di dalam tiap-tiap fase Revolusi, maka tenaga-tenaga destruktif dan konstruktif itu bekerja serempak, bekerja s i m u l t a n.
Sekali lagi, alangkah banyaknya, sukarnya, dan hebatnya anasir-anasir Revolusi Nasional yang harus kita tunaikan.
 
Alangkah banyaknya isi yang harus kit ”isikan” dalam kata-kata ” d e s t r u k s i ” dan ” k o n s t r u k s i ” yang simultan berlaku dalam tiap-tiap Revolusi, dus juga dalam Revolusi Nasional kita itu, sebelum dapat kita memasuki fase Revolusi yang kemudian!
 
” d e s t r u k s i ” dan ” k o n s t r u k s i ” yang simultan berlaku dalam tiap-tiap Revolusi, dus juga dalam Revolusi Nasional kita itu, sebelum dapat kita memasuki fase Revolusi yang kemudian!
 
Dan bukan saja Revolusi Nasional ini harus selesai untuk memenuhi syarat-syarat d a l a m atau i n n e r l i j k e v o o r w a a r d e n untuk memungkinkan Revolusi Sasial, bukan saja Revolusi Nasional ini historis organis adalah satu cincin dalam satu proses masyarakat yang panjang laksana rantai – ia adalah pula satu usaha perlawanan untuk menentang bahaya yang datang dari l u a r. Seluruh dunia Timur sejak satu abad ini terkepung oleh raksasa-raksasa imperialisme dan kapitalisme, bahkan banyak yang telah dihinggapi dan diodal-adil perutnya oleh raksasa-raksasa itu, dan sebagai satu usaha perlawanan, maka bangsa-bangsa Asia berjoang mati-matian memerdekakan diri, dan di sana-sini berusaha habis-habisan untuk mendirikan negara-negara nasional. India berusaha untuk menjadi negara nasional (sementara gagal, karena berdirinya Pakistan), Tiongkok berusaha untuk menjadi negara nasional (sementara gagal pula), Indonesia berusaha untuk menjadi negara nasional. Philipina, Tiongkok, Siam, Indonesia, Indo-Cina, Burma, India, Afganistan, Iran, seluruh jazirah Arab, Mesir, semua itu masing-masing harus merdeka, untuk memungkinkan mereka menentang dengan efektif dan mengeliminir dengan efektif segala eksploatasi yang datang dari luar.
Tidak! Pembaca kenal nasib Siam, dan kenal nasib Iran, misalnya. Tetapi kemerdekaan politik itu adalah syarat mutlak untuk m e m u n g k i n k a n sesuatu bangsa menentang dengan tenaga maksimum segala eksploatasi dari luar. Karena itulah, maka Revolusi Nasional kita ini bukan saja satu fase yang seharusnya ada dalam pertumbuhan masyarakat kita d i d a l a m pagar, ia juga satu langkah pertahanan yang seharusnya ada untuk penolak bahaya yang datang dari l u a r a n.
 
Malah tegas, kita bukan hanya sekedar hendak merdeka, kita tegas berjoang mendirikan Negara N a s i o n a l. Kita bukan cuma menghendaki Jawa Merdeka (100 %), Sumatera Merdeka (100 %), Kalimantan Merdeka (100 %), Sulawesi Merdeka (100 %), Kepulauan Sunda Kecil Merdeka (100%), Maluku Merdeka (100%), tidak, kita menghendaki berdirinya Satu Negara Seluruh Indonesia (unitaristis atau federalistis) yang teguh kuat.
 
(unitaristis atau federalistis) yang teguh kuat.
 
Kita menghendaki Negara Nasional.
”Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan ”Gemeinschaft”- nya dan perasaan orangnya. ”l’ame et le desir”. Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu. Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan.
 
Allah s.w.t. membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana ”kesatuan-kesatuan” itu. Seorang anak kecilpun, jikalau ia melihat peta dunia, ia dapat menunjukkan, bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau di antara dua lautan yang besar. Lautan Pasifik dan Lautan Hindia, dan di antara dua benua, yaitu benua Asia dan benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmaheira, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan ... Natie Indonesia, bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah 70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi satu, satu, sekali lagi satu! ... Ke sinilah kita semua harus menuju: mendirikan satu N a t i o n a l e S t a a t, di atas kesatuan bumi Indonesia dari Ujung Sumatera sampai ke Papua”.
 
N a t i o n a l e S t a a t, di atas kesatuan bumi Indonesia dari Ujung Sumatera sampai ke Papua”.
 
”Seluruh Rakjat Indonesia, baik di daerah Republik, maupun di luar daerah Republik, seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Papua, seluruh Rakyat Indonesia yang merantau di manca negara, s a y a p a n g g i l k a m u, untuk meneruskan perjoangan kita mempertahankan Republik sebagai pelopor daripada perjoangan seluruh bangsa Indonesia, sebagai lambang kemenangan Revolusi Indonesia terhadap imperialisme Belanda. Yakinlah, saudara-saudara di luar Jawa dan Sumatera dan Madura, – dengan hilangnya Republik akan hilang pula dibasmi oleh Belanda pergerakan kemerdekaan di luar Republik. Kita yang 70.000.000 jiwa ini, kita bangsa yang satu. Dan kita bangsa yang satu ini mempunjai cita-cita bangsa, mempunyai cita-cita kebangsaan bersama-sama: Ialah, supaya bangsa yang satu ini hidup sebagai bangsa yang merdeka, tersusun di dalam satu Negara yang merdeka, bernaung di bawah satu Bendera Sang Merah Putih yang merdeka. Empat puluh tahun hampir, kita bersama-sama berjoang, bersama-sama menderita, bersama-sama berkorban, untuk mencapai cita-cita kebangsaan kita itu.
Tetapi, apakah Negara Nasional Indonesia itu akan berupa Negara Kesatuan yang benar-benar Kesatuan (unitaristis), atau akan berupa Negara Kesatuan yang bersifat Negara Gabungan, itu akan membukti sendiri di hari kemudian. Segala sesuatu akan berlaku secara p r o s e s, dan proses itu berlaku menuruti geraknya faktor-faktor obyektif di daerah-daerah Indonesia masing-masing. Tetapi nyata sudah, bahwa untuk menjadi ”padang-usaha” industrialisme, seluruh daerah Indonesia harus e k o n o m i s menjadi satu, dan supaya ekonomis menjadi satu, maka seluruh daerah Indonesia itu p o l i t i s harus menjadi satu pula. Atau lebih benar: Kalau ekonomis menjadi satu, maka politis juga menjadi satu. Menilik syarat-syarat yang diperlukan untuk industrialisme, maka industrialisme itu tidak dapat berkembang di atas daerah ekonomis di Indonesia sepulau demi sepulau.
 
Seluruh Kepulauan Indonesia membutuhkan diri satu sama lain, seluruh kepulauan Indonesia barulah dapat menjadi satu dasar ekonomis yang kuat bagi industrialisme, jika ber-gandengan ekonomis satu sama lain, isi mengisi satu sama lain, bantu-membantu satu sama lain. Dari manakah misalnya Jawa dapat memperoleh besi dan batu bara jika tidak dari pulau lain, dan dari manakah Kalimantan dapat memperoleh tenaga manusia jika tidak dari Jawa? Tidak! Buat membangunkan industrialisme yang luas, tidak ada satu pulau di Indonesia yang dapat berdiri sendiri! Jikalau di Indonesia akan tumbuh industrialisme yang kuat, – dan garis evolusi masyarakat p a s t i menuju ke situ, dan buat melaksanakan sosialismepun dibutuhkan satu minimum industrialisme, sebagai saya terangkan tadi – , jikalau akan tumbuh di sini industrialisme yang kuat, maka Indonesia ekonomis harus menjadi satu, dan jikalau Indonesia ekonomis h a r u s menjadi satu, maka Indonesia politispun p a s t i menjadi satu. lni adalah satu kepastian, satu keharusan sosial-ekonomis dan sosial-politis, – bukan lagi satu pengelamunan, atau satu cita-cita semata-mata, atau satu romantik. Dan bukan pula yang orang namakan ”imperialisme Jawa” atau ”imperial-isme Sumatera” atau ”imperialisme Republik”! Alangkah piciknya orang yang menuduh Republik ”imperialistis” (hendak ”mencaplok” Indonesia Timur, atau ”meng-anschluss” Borneo Barat), oleh karena Republik bercita-citakan persatuan Indonesia! Persatuan Indonesia kelak, ekonomis dan politis, adalah nul hubungannya dengan sesuatu nafsu imperialisme, sama dengan persatuannya Pruisen dan Beieren dalarn negara Jer-mania, atau persatuannya Texas dan California dalam negara Amerika, juga nul hubungannya dengan sesuatu nafsu imperialisme. Persatuan Indonesia itu ditentukan oleh garis-garis sosial ekonomis. Malah bukan saja i n d u s t r i a l i s m e yang membutuhkan persatuan. Indonesia itu, p e r d a g a n g a n yang memperdagangkan hasil industrialisme itu, (dus satu anasir daripada industrialisme itu), itupun membutuhkan persatuan Indonesia itu. Kaum perdagangan Indonesia sudah tentu ingin mempunjai ”pasar sendiri” yang seluas-luasnya dan sesentausa-sentausanya, ingin mempunjai ”home market” sendiri yang tidak dikuasai oleh persaingan asing. Dan ”pasar sendiri” untuk hasil-hasil dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan lain sebagainya itu ialah kepulauan Indonesia, s e l u r u h kepulauan Indonesia. Karena itulah maka perdagangan Indonesia, yang kelak dilahirkan oleh industrialisme Indonesia itu, membutuhkan dan tentu ikut melaksanakan Negara Indonesia itu. lni adalah satu macam nasionalisme, – ”nasionalisme perdagangan”, kalau Tuan mau – , tetapi satu nasionalisme yang benar pula, satu nasional-isme yang halal. Memang menurut salah seorang pemimpin Marxist yang besar ”pasarlah sekolah di mana borjuasi belajar nasionalismenya pertama-tama”, – ” t h e m a r k e t i s t h e f i r s t s c h o o l i n w h i c h t h e b o u r g e o i s i e l e a r n s i t s n a t i o n a l i s m”.
 
” t h e m a r k e t i s t h e f i r s t s c h o o l i n w h i c h t h e b o u r g e o i s i e l e a r n s i t s n a t i o n a l i s m”.
 
Orang-orang yang kukuh mau mengadakan negara-negara tersendiri di masing-masing pulau atau di masing-masing daerah, sungguh harus kita ibai. Mereka atau tidak berpengetahuan tentang tendenz evolusi masyarakat, a t a u sengaja menjadi alat durhaka imperialisme semata-mata yang selalu menjalankan politik memecah-belah. Tetapi tendenz evolusi masyarakat itu tidak dapat dipengaruhi oleh orang-orang semacam itu, yang usahanya bertentangan dengan gerak anasir-anasir obyektif dalam masyarakat itu. Masyarakat berjalan terus menurut hukum-hukum evolusinya sendiri. Terus! Negara Nasional Indonesia pasti berdiri.
 
Ya, Negara Nasional Indonesia pasti berdiri. N e g a r a N a s i o n a l I n d o n e s i a i t u i a l a h p r o y e k s i p o l i t i k d a r i p a d a h a s r a t e k o n o m i d a r i p a d a m a s y a r a k a t I n d o n e s i a. Ia adalah ujung Revolusi Nasional kita, yang awalnya ialah terdirinya Republik. Ia belum tercapai, Revolusi Nasional kita memang belum selesai. Segenap Nasionalisme kita akan berkobar terus dan membinasa membangun terus, sampai Negara Nasional itu tercapai. Apakah yang dinamakan Nasionalisme kita itu? Segala macam rasa yang hebat dan mulia menjadi anasir Nasionalisme kita itu! Rasa cinta tanah-air yang indah dan permai, rasa cinta bangsa sendiri dan bahasa sendiri, rasa cinta kebudayaan yang telah menjadi irama jiwa sehari-hari, rasa cinta sejarah dahulu yang gilang-gemilang dan rasa ingin membangun sejarah baru yang gilang-gemilang pula, rasa cinta kepada kemerdekaan dan rasa benci kepada penjajahan, rasa ingin hidup sejahtera dan tak mau hidup terhisap, rasa bukan lagi orang Jawa atau orang Sumatera atau orang Sulawesi, tetapi orang bangsa Indonesia saja, – semua rasa-rasa itu mendidih menggelora di dalam satu kancah, menyala-nyala berkobar-kobar di dalam satu kawah yang bernama kancah dan kawahnya Nasionalisme Indonesia.
Ya, Negara Nasional Indonesia pasti berdiri. N e g a r a N a s i o n a l
 
I n d o n e s i a i t u i a l a h p r o y e k s i p o l i t i k d a r i p a d a h a s r a t e k o n o m i d a r i p a d a m a s y a r a k a t I n d o n e s i a. Ia adalah ujung Revolusi Nasional kita, yang awalnya ialah terdirinya Republik. Ia belum tercapai, Revolusi Nasional kita memang belum selesai. Segenap Nasionalisme kita akan berkobar terus dan membinasa membangun terus, sampai Negara Nasional itu tercapai. Apakah yang dinamakan Nasionalisme kita itu? Segala macam rasa yang hebat dan mulia menjadi anasir Nasionalisme kita itu! Rasa cinta tanah-air yang indah dan permai, rasa cinta bangsa sendiri dan bahasa sendiri, rasa cinta kebudayaan yang telah menjadi irama jiwa sehari-hari, rasa cinta sejarah dahulu yang gilang-gemilang dan rasa ingin membangun sejarah baru yang gilang-gemilang pula, rasa cinta kepada kemerdekaan dan rasa benci kepada penjajahan, rasa ingin hidup sejahtera dan tak mau hidup terhisap, rasa bukan lagi orang Jawa atau orang Sumatera atau orang Sulawesi, tetapi orang bangsa Indonesia saja, – semua rasa-rasa itu mendidih menggelora di dalam satu kancah, menyala-nyala berkobar-kobar di dalam satu kawah yang bernama kancah dan kawahnya Nasionalisme Indonesia.
 
Nasionalisme Indonesia itu mempunyai sumber-sumber, mempunyai ”penghidup-penghidup”, dan penghidup-penghidup-nya itu ialah tenaga-tenaga masyarakat (s o c i a l e k r a c h t e n) yang hebat dan kuasa, dinamis dan revolusioner, – tidak tertahan oleh tenaga apapun juga, meski tenaga imperialisme yang bersenjatakan tentara dan armada sekalipun.
Di dalam pasal-pasa1 itu dibuat p e r m u l a a n daripada usaha membanteras kapitalisme. Pasal-pasal itu adalah pasal-pasal yang mengatur p e r m u l a a n daripada usaha menyelenggarakan sosialisme. Undang-undang Dasar kita adalah undang-undang dasar satu Negara yang sifatnya di tengah-tengah kapitalisme dan sosialisme, undang-undang dasar satu Negara yang benar dengan kakinya masih berdiri di bumi yang burgerlijk, tetapi di dalam kandungannya telah hamil dengan kandungan masyarakat sosialisme, undang-undang dasarnya satu Negara dus yang tidak ”diam”, tidak ”statis”, melainkan d i n a m i s , yaitu bergerak menuju ke susunan baru, berjoang menuju ke susunan baru. Negara kita adalah satu ”negara peralihan”, satu negara yang dengan sedar memperjoangkan peralihan, – satu negara yang r e v o l u s i o n e r.
 
Memang segenap jiwanya adalah jiwa yang revolusioner. Nasionalismenya adalah nasionalisme yang revolusioner, nasionalisme yang sekarangpun telah dengan langsung mengemukakan perhubungannya dengan kemanusiaan, – nasionalisme yang biasa saya namakan socio-nasionalisme. Demokrasinya adalah demokrasi yang revolusioner, demokrasi rakyat sepenuh-penuhnya yang sedar akan kekurangan-kekurangannya demokrasi politik a l a Barat, dan oleh karenanya berusaha menjelmakan demokrasi politik dan ekonomi, (yang hanya sempurna dalam alam sosialisme), – demokrasi yang biasa saya namakan socio-demokrasi. Ketuhanannya bukan ketuhanan dari satu agama saja, tetapi ketuhanan yang memberi tempat kepada semua orang yang ber-Tuhan. Jiwa revolusioner ini, – terutama sekali socio-nasionalismenya dan socio-demokrasinya – adalah terang satu ”pembawaan” daripada sifat peralihan (sifat t r a n s i s i) daripada Negara kita itu, terang satu ”jembatan” antara ideologi-ideologi burgerlijk dan ideologi-ideologi sosialis.
 
(yang hanya sempurna dalam alam sosialisme), – demokrasi yang biasa saya namakan socio-demokrasi. Ketuhanannya bukan ketuhanan dari satu agama saja, tetapi ketuhanan yang memberi tempat kepada semua orang yang ber-Tuhan. Jiwa revolusioner ini, – terutama sekali socio-nasionalismenya dan socio-demokrasinya – adalah terang satu ”pembawaan” daripada sifat peralihan (sifat t r a n s i s i) daripada Negara kita itu, terang satu ”jembatan” antara ideologi-ideologi burgerlijk dan ideologi-ideologi sosialis.
 
Menjadi nyatalah: Negara Nasional yang kita dirikan, bukan negara burgerlijk, bukan pula negara sosialis. Revolusi Nasional yang kita jalankan, bukan revolusi burgerlijk, bukan pula revolusi sosialis. Bukan burgerlijk, oleh karena kita telah meliwati fase burgerlijk; bukan sosialis, oleh karena kita belum sampai kepada fase sosialis.
Apakah yang dinamakan ”golongan-golongan rakyat yang revolusioner” itu? la bukan hanya golongan proletar saja, bukan hanya golongan buruh! Bukan pula ia hanya golongan yang galib dinamakan ”kaum jembel”. la adalah golongan-golongan yang berjoang sesuai dengan kemajuan dalam perjalanan evolusi masyarakat, bukan menentangnya, bukan menahannya, – golongan-golongan yang berjoang mati-matian menghancur –leburka ”orde” yang lama dan mempercepatkan datangnya ”orde” yang baru, sesuai dengan tendenz-tendenz dalam evolusinya masyarakat itu. Tak perduli dari lapisan mana golongan-golongan itu! Tak perduli dari lapisan proletar, tak perduli dari lapisan tani, tak perduli dari lapisan pedagang, tak perduli dari lapisan pemuda terpelajar, tak perduli dari lapisan ningrat, tak perduli dari lapisan mana, – tetapi lapisan atau golongan yang berjoang menghancur-leburkan orde yang lama dan mempercepat datangnya orde yang baru sesuai dengan tendenz evolusi masyarakat, – dia adalah revolusioner. lni bukan satu definisi yang terlalu royal dengan sebutan revolusioner. Ini satu definisi tentang arti revolusioner yang meski kaum komunis sekalipun membenarkannya. Misalnya Stalin di dalam bukunya tentang ”Soal-soal Leninisme” mengemukakan definisi yang malah lebih ”royal” lagi:
 
”Untuk bernama revolusioner, maka sesuatu gerakan nasional tidak perlu terdiri dari golongan-golongan proletar, tidak perlu mempunyai program republikein, tidak perlu mempunyai dasar demokratis. Perjoangannya Amir Afghanistan untuk kemerdekaan negerinya, obyektif adalah satu perjoangan r e v o l u s i o n e r, meskipun Amir itu dan juga opsir-opsirnya berpendirian pada azas monarchisme (kerajaan); sebab perjoangannya melemahkan, mengalutkan, menggali imperial-isme, sedang perjoangan kaum-kaum demokrat, ”sosialis”, ”revolusioner” dan republikein seperti Kerensky dan Tseretelli, Renaudel dan Scheidemann, Tchernov dan Dan, Henderson dan Clynes selama peperangan imperialis itu ialah satu perdjoangan r e a k s i o n e r, sebab hasilnya ialah menggemukkan imperialisme, memperkuat imperialisme, memenangkan imperialisme itu. Demikian pula, maka perjoangannya kaum dagang dan kaum terpelajar borjuis di Mesir untuk mencapai kemer-dekaan Mesir itu adalah satu perjoangan yang obyektif r e v o l u s i o n e r, meskipun asalnya dan sifatnya pemimpin-pemimpin pergerakan nasional di sana itu ialah borjuis, dan meskipun mereka menentang sosialisme; sedang perjoangan pemerintah buruh Inggeris untuk menetapkan Mesir di bawah perwalian Inggeris ialah satu perjoangan r e a k s i o n e r, meskipun anggota-anggota pemerintah itu berasal dari kalangan kaum buruh, bersifat orang-orang dari kalangan kaum buruh, dan meskipun mereka katanya berkeyakinan sosialisme. Demikian pula, maka pergerakan nasional dalam negeri-negeri penjajahan dan taklukan yang besar seperti India dan Tiongkok, tidak kurang berarti satu pukulan langsung kepada imperialisme, dan karenanya berarti satu pergerakan r e v o l u s i o n e r, meskipun ia menentang azas-azasnya demokrasi formil”. Demikianlah Stalin!
 
Clynes selama peperangan imperialis itu ialah satu perdjoangan r e a k s i o n e r, sebab hasilnya ialah menggemukkan imperialisme, memperkuat imperialisme, memenangkan imperialisme itu. Demikian pula, maka perjoangannya kaum dagang dan kaum terpelajar borjuis di Mesir untuk mencapai kemer-dekaan Mesir itu adalah satu perjoangan yang obyektif r e v o l u s i o n e r, meskipun asalnya dan sifatnya pemimpin-pemimpin pergerakan nasional di sana itu ialah borjuis, dan meskipun mereka menentang sosialisme; sedang perjoangan pemerintah buruh Inggeris untuk menetapkan Mesir di bawah perwalian Inggeris ialah satu perjoangan r e a k s i o n e r, meskipun anggota-anggota pemerintah itu berasal dari kalangan kaum buruh, bersifat orang-orang dari kalangan kaum buruh, dan meskipun mereka katanya berkeyakinan sosialisme. Demikian pula, maka pergerakan nasional dalam negeri-negeri penjajahan dan taklukan yang besar seperti India dan Tiongkok, tidak kurang berarti satu pukulan langsung kepada imperialisme, dan karenanya berarti satu pergerakan r e v o l u s i o n e r, meskipun ia menentang azas-azasnya demokrasi formil”. Demikianlah Stalin!
 
Jadi, menurut definisinya itu, tiap-tiap pergerakan yang menghantam, melemahkan, menggempur imperialisme adalah pergerakan revolusioner. Artinya: jangan mengukur pergerakan-pergerakan nasional itu dengan ukurannya keproletaran, kerepublikan, atau demokrasi formil. Satu-satunya ukuran yang harus dipakai ialah hasil, akibat pergerakan-pergerakan itu: memperkuatkah kepada imperialisme, atau melemahkankah kepada imperialisme? Yang memperkuat imperialisme adalah reaksioner; yang melemahkan imperialisme adalah revolusioner!
Saya bukan saja mengemukakan bagian yang destruktif, saya mengemukakan juga bagian yang konstruktif, yang membina, membangun. Yang berjalan serempak, simultan, dengan bagian destruktif itu. Yang harus pula kita gelora-gelorakan, kita hebat-hebatkan, agar supaya Revolusi kita lekas selesai. Bagian itu ialah bagian membangun Negara Nasional.
 
Maka di dalam bagian membangun Negara Nasional ini, j u g a semua golongan dapat bersatu. Ningrat, kromo, intelek, proletar, pedagang, ulama, pegawai, – semuanya dapat berdiri di satu barisan, semuanya dapat menjadi penjelma dan peng-gembleng Negara Nasional. Dan oleh karena, b a i k bagian destruktif, m a u p u n bagian konstruktif daripada Revolusi Nasional, dapat menjadi padang persatuannya semua golongan dan semua lapisan, oleh karena, b a i k di dalam bagian destruktif, maupun di bagian konstruktif, semua kegembiraan, semua semangat perjoangan, semua keridlaan berkorban dari semua golongan dan semua lapisan dapat menggelora bersama-sama menjadi satu simfoni yang maha hebat, oleh karena itulah maka saya selalu berseru: persatuan! persatuan! sekali lagi persatuan! dan haruslah kita mengerti, bahwa Revolusi kita ini barulah dapat bertenaga m a k s i m u m, bilamana ia benar-benar bersifat Revolusi N a s i o n a l !
 
Revolusi N a s i o n a l !
 
Revolusinya B a n g s a ! B u k a n r e v o l u s i n y a s e s u a t u k e l a s ! Alangkah seringnya perkataan ”bangsa” itu dipermainkan! Sering sekali ia dipergunakan sebagai kedok untuk menutupi kepentingan sesuatu golongan atau sesuatu kelas. Kadang-kadang kaum ningrat mengadakan pergerakan untuk kepentingannya sendiri, – ditutupilah kepentingan sendiri itu dengan menamakan pergerakannya itu pergerakan ”bangsa”. Kadang-kadang kaum pedagang mengadakan pergerakan untuk kepentingannya sendiri, pergerakannya itupun dinamakan pergerakan ”bangsa”. Kadang-kadang kaum inteleklah yang mengadakan pergerakan untuk kepentingannya sendiri, – lagi-lagi dikeluarkanlah dengan muka angker perkataan ”bangsa”.
Tetapi Revolusi kita ini (harus) benar-benar satu Revolusi Kebangsaan, benar-benar satu Revolusi B a n g s a. Sebab umumnya kita telah mengerti, bahwa hanya bilamana semua golongan, semua lapisan, ya semua alam ideologi dalam bangsa kita bertemu menjadi satu di dalam Revolusi kita itu, berjoang dan bergotong-royong menjadi satu, merupakan satu gelombang badai maha hebat yang menggempur-hancur benteng-benteng imperialisme dan menggembleng berdirinya Negara Nasional, hanya bilamana demikianlah, maka tenaganya Revolusi kita menjadi maksimum. Semua golongan dan lapisan dan alam faham itu satu persatunya ”revolusioner”, – revolusioner oleh karena akibat perjoangannya ialah melemahkan kepada imperialisme, revolusioner oleh karena perjoangannya meng-hantam imperialisme, menghancur-leburkan orde yang lama dan mempercepat datangnya orde yang baru yang berupa kemerdekaan nasional.
 
Ya, seluruh B a n g s a Indonesia adalah revolusioner, seluruh B a n g s a Indonesia ber-Revolusi. Sifat ”keseluruhan” ini memang sifat hampir semua Revolusi di negeri-negeri j a j a h a n atau s e t e n g a h j a j a h a n. Pertentangan kelas tidak menghebat di dalam perjoangan rakyat-rakjat jajahan yang berjoang merebut kemerdekaan.
Ya, seluruh B a n g s a Indonesia adalah revolusioner, seluruh
 
B a n g s a Indonesia ber-Revolusi. Sifat ”keseluruhan” ini memang sifat hampir semua Revolusi di negeri-negeri j a j a h a n atau s e t e n g a h j a j a h a n. Pertentangan kelas tidak menghebat di dalam perjoangan rakyat-rakjat jajahan yang berjoang merebut kemerdekaan.
 
Yang menonjol ke muka ialah sifatnya k e b a n g s a a n, sifatnya n a s i o n a l. Dengan tepat hal ini pernah dikatakan pula oleh Henriette Roland Holst:
Tetapi alangkah pentingnya Republik Indonesia yang kecil ini! Alangkah pentingnya N e g a r a Republik Indonesia yang kecil ini!
 
Biar dia masih ”kecil”, – dengan dia di dalam tangan kita, kita merasa menggenggam satu senjata yang amat hebat. Musuh kita gempur dengan dia, pengkhianat-pengkhianat dari dalam kita lemahkan dengan dia, segenap tenaga rakyat kita susun dengan dia. Dia adalah alat perjoangan kita, alat Revolusi kita. Destruktif dan konstruktif kita sekarang berjoang dengan dia sebagai senjata. Dan kita akan terus berjoang dengan dia sebagai senjata, sampai tujuan kita, yaitu ”Republik Indonesia yang Besar”, tercapai. Biarpun dia sekarang agak lebih kecil daripada dua tahun yang lalu, – lebih kecil oleh karena musuh menduduki sebagian dari daerahnya -, dia akan kita genggam makin keras di dalam tangan kita, dan akan terus kita perguna-kan sebagai senjata kita yang paling hebat. Biar dia umpamanya ”tinggal selebar payung” sekalipun, – kita akan terus berjoang dengan dia sebagai senjata!
 
kecil daripada dua tahun yang lalu, – lebih kecil oleh karena musuh menduduki sebagian dari daerahnya -, dia akan kita genggam makin keras di dalam tangan kita, dan akan terus kita perguna-kan sebagai senjata kita yang paling hebat. Biar dia umpamanya ”tinggal selebar payung” sekalipun, – kita akan terus berjoang dengan dia sebagai senjata!
 
N e g a r a a d a l a h m e m a n g a l a t – s e n j a t a.
Sekarang alat kekuasaan kita ialah Negara! Negara memang bukan sekadar satu hal ”kerukunan” belaka, negara adalah satu a 1 a t – k e k u a s a a n, satu o r g a n i s a s i k e k u a s a a n. Alat kekuasaan kita sekarang ialah Negara Republik Indonesia. Dengan Republik Indonesia ini, sebagai alat kekuasaan, kita sepuluh kali, seratus kali lebih kuasa daripada dulu. Dengan Republik ini sebagai alat kekuasaan di pihak kita, musuh benar-benar berhadapan dengan kenyataan ”kekuasaan kontra kekuasaan”. Kekuasaan yang lebih kuasa, – itulah yang akan menang. Kekuasaan hanya dapat dipatahkan dengan kekuasaan pula yang lebih kuasa. Itulah sebabnya, maka musuh sekarang mencoba mematahkan alat kekuasaan kita itu tidak lagi dengan ”diplomasi”, tetapi dengan kekusaan segenap angkatan perangnya. Manakala mulut manusia tidak berdaya, maka mulut meriam harus bicara! Segenap tank-tanknya yang dari baja, kapal-kapal udaranya, armadanya, bomnya, meriamnya, – semua itu digempurkan olehnya laksana sambaran geledek kepada Negara kita, untuk mencoba meremuk-redamkan alat kekuasaan kita (Negara) itu.
 
Tetapi, Insya Allah, – ia tidak mudah akan berhasil. Kita seratus kali lebih kuat daripada dahulu. Sebab senjata kita sekarang ialah justru N e g a r a, – N e g a r a (yang sebagai penjelmaan Revolusi Nasional yang meliputi semua golongan dan lapisan) dengannya kita dapat membangkitkan sehebat-hebatnya s e m u a tenaga perjoangan dan tenaga pertahanan di dalam tubuh dan jiwanya Bangsa. Boleh dikatakan, dengan alat Negara itu, tiap-tiap orang Indonesia, tiap-tiap batu di Indonesia kita dapat kerahkan untuk berjoang. Angkatan Perang, – aparat kekuasaan Negara -, di dalam perang kemerdekaan ini kita gempurkan sehebat-hebatnya kepada musuh, dan seluruh rakyat laki-laki perempuan pula, dikerahkan oleh Negara untuk berjoang serta. Musuh yang mempergunakan aparat kekuasaan itu, – tentaranya – dan h a n y a dapat mempergunakan aparat kekuasaannya itu saja! – musuh bukan saja berhadapan dengan aparat kekuasaan kita, ia berhadapan p u l a dengan perkembangan kekuasaan seluruh rakyat, perkembangan kekuasaan yang totaliter.
Tetapi, Insya Allah, – ia tidak mudah akan berhasil. Kita seratus kali lebih kuat daripada dahulu. Sebab senjata kita sekarang ialah justru
 
N e g a r a, – N e g a r a (yang sebagai penjelmaan Revolusi Nasional yang meliputi semua golongan dan lapisan) dengannya kita dapat membangkitkan sehebat-hebatnja s e m u a tenaga perjoangan dan tenaga pertahanan di dalam tubuh dan jiwanja Bangsa. Boleh dikatakan, dengan alat Negara itu, tiap-tiap orang Indonesia, tiap-tiap batu di Indonesia kita dapat kerahkan untuk berjoang. Angkatan Perang, – aparat kekuasaan Negara -, di dalam perang kemerdekaan ini kita gempurkan sehebat-hebatnya kepada musuh, dan seluruh rakyat laki-laki perempuan pula, dikerahkan oleh Negara untuk berjoang serta. Musuh yang mempergunakan aparat kekuasaan itu, – tentaranya – dan h a n y a dapat mempergunakan aparat kekuasaannya itu saja! – musuh bukan saja berhadapan dengan aparat kekuasaan kita, ia berhadapan p u l a dengan perkembangan kekuasaan seluruh rakyat, perkembangan kekuasaan yang totaliter.
 
Senjata kita hadapi dengan senjata, p l u s perlawanan rakyat yang totaliter!
B e r k a t a d a n y a N e g a r a, m a k a k i t a d a p a t b e r j o a n g s e c a r a t o t a l i t e r ; m a k a m u s u h t i d a k a k a n m e n a n g , t e t a p i k i t a y a n g a k a n m e n a n g !
 
Kita yang akan menang! Dan kita ini akan menang, bukan hanya oleh karena kita dengan alat Negara dapat mengerahkan pertahanan di dalam yang totaliter, – kita pun akan menang oleh karena pertahanan di luar telah bangkit secara hebat. Indonesia tidak lagi Indonesia dari zaman dahulu. Ia tidak lagi berdiri sendiri. Ia sudah satu kali buat selama-lamanya terhubungkan dengan dunia luaran. Memang demikianlah, kata saya di muka tadi, berjalannya dialektik dalam alam industrialisme; di satu fihak berdirinya negara-negara nasional, di lain fihak terhapusnya negara-negara-nasiona1, di lain fihak terhapusnjaterhapusnya batas-batas nasional. Bangsa-bangsa mendirikan kebangsaannya sendiri-sendiri tetapi serempak dengan itu, tenaga-tenaga imperial-ismepun menjadi satu, dan tenaga-tenaga anti-imperialisme pun menjadi satu. Ofensifnya imperialisme kepada kemerdekaan kita sekarang ini, sebenarnya bukan hanya ofensifnya imperialisme Belanda kepada kemerdekaan Indonesia saja, tetapi adalah s e b a g i a n d a r i p a d a o f e n s i f u m u m yang dilakukan oleh imperialisme internasional di mana-mana.
 
Di Indonesia, di Vietnam, di Tiongkok, di Balkan, dan di lain-lain tempat lagi (dengan cara-cara yang ditentukan oleh tempat dan keadaan), imperialisme internasional itu serentak sedang dalam ofensif, tetapi tenaga-tenaga anti imperialisme di seluruh duniapun serentak sedang mengadakan perlawanan bersama yang sekuat-kuatnya. Serangan yang dilakukan oleh angkatan perang Belanda kepada kemerdekaan kita itu, dirasakan oleh segenap golongan-golongan anti imperialisme sedunia sebagai bangkitnya reaksi imperialisme internasional yang membahayakan juga kepada mereka. Itulah sebabnya, maka kita dibela oleh mereka, dibantu oleh mereka, atau sedikit-dikitnya mendapat simpati dari mereka.
 
Dan pada waktu mereka memberi simpati kepada kita atau membela kita itu, mereka tidak menanya-nanya apakah kemerdekaan kita itu ”bikinan Jepang atau tidak”, tidak pula mengukur-ukur perjoangan kita itu dengan ukurannya demokrasi formil. Benar, Republik kita memang bukan bikinan Jepang, azas kita memang Pancasila yang lebih demokratis daripada demokrasi biasa, tetapi golongan-golongan anti imperialis sedunia yang membantu dan membela kita itu tidak menanya-nanya hal ”bikinan Jepang”, tidak mengemukakan ukuran demokrasi formil. Apa sebab? O l e h k a r e n a m e r e k a m e n g e t a h u i b a h w a p e r j o a n g a n k i t a a d a l a h s a t u b a g i a n d a r i P e r j o a n g a n B e s a r d i s e l u r u h d u n i a m e n e n t a n g i m p e r i a l i s m e ; s a t u p e r j o a n g a n y a n g h a s i l a k i b a t n y a i a l a h m e l e m a h k a n i m p e r i a l i s m e ; s a t u p e r j o a n g a n y a n g r e v o l u s i o n e r.
 
Dan k i t a p u n, dalam simpati kita kepada perjoangan kemerdekaan rakyat-rakyat Mesir, Vietnam, Birma, Palestina, Korea, India dan lain-lainnya, t i d a k harus mengukur-ukur perjoangan mereka itu dengan ukurannya demokrasi formil. Kita tidak harus menanya apakah Gandhi benar-benar demokrat, tidak harus menggugat bahwa Mufti Jeruzalem dulu pernah minta pertolongan kepada Hitler, tidak harus menyelidik apakah pergerakan Mesir itu sebenarnya tidak bersifat burgerlijk. Kita harus hargai pergerakan mereka itu sebagai cincin-cincin dalam rantai perlawanan anti imperialis, rantai penggembleng kemerdekaan-kemerdekaan nasional. Kemenangan mereka adalah kekalahan imperialisme internasional, kekalahan imperialisme internasional adalah keuntungan kita; itulah sebabnya kita harus bersimpati kepada mereka; itulah sebabnya kita harus bersedia membantu kepada mereka, sebagaimana merekapun bersedia membantu kepada kita. Mereka dan kita, seluruh pergerakan anti imperialis sedunia dan kita, adalah sama-sama revolusioner. Mereka revolusioner, kitapun revolusioner!
P e r j o a n g a n B e s a r d i s e l u r u h d u n i a m e n e n t a n g i m p e r i a l i s m e ; s a t u p e r j o a n g a n y a n g h a s i l a k i b a t n y a i a l a h m e l e m a h k a n i m p e r i a l i s m e ; s a t u p e r j o a n g a n y a n g r e v o l u s i o n e r.
 
Dan k i t a p u n, dalam simpati kita kepada perjoangan kemerdekaan rakyat-rakyat Mesir, Vietnam, Birma, Palestina, Korea, India dan lain-lainnya, t i d a k harus mengukur-ukur perjoangan mereka itu dengan ukurannja demokrasi formil. Kita tidak harus menanya apakah Gandhi benar-benar demokrat, tidak harus menggugat bahwa Mufti Jeruzalem dulu pernah minta pertolongan kepada Hitler, tidak harus menyelidik apakah pergerakan Mesir itu sebenarnya tidak bersifat burgerlijk. Kita harus hargai pergerakan mereka itu sebagai cincin-cincin dalam rantai perlawanan anti imperialis, rantai penggembleng kemerdekaan-kemerdekaan nasional. Kemenangan mereka adalah kekalahan imperialisme internasional, kekalahan imperialisme internasional adalah keuntungan kita; itulah sebabnya kita harus bersimpati kepada mereka; itulah sebabnya kita harus bersedia membantu kepada mereka, sebagaimana merekapun bersedia membantu kepada kita. Mereka dan kita, seluruh pergerakan anti imperialis sedunia dan kita, adalah sama-sama revolusioner. Mereka revolusioner, kitapun revolusioner!
 
Maka dengan ini nyatalah dan tegaslah, bahwa perjoangan kemerdekaan sesuatu rakyat jajahan atau setengah jajahan janganlah ditinjau dalam ”keadaannya sendiri”, tetapi harus ditinjau dalam hubungan sedunia. Jangan ditinjau terlepas dari hubungan itu, tetapi harus ditinjau dalam hubungan itu: H a r u s d i t i n j a u d i a t a s g e l a n g g a n g p e r j o a n g a n a n t i i m p e r i a l i s s e d u n i a.
Kapitalisme internasional dihidupi imperialisme internasional, imperialisme internasional berakibat perlawanan kepada imperialisme internasional; perjoangan kemerdekaan rakyat jajahan atau setengah jajahan melemahkan imperialisme internasional, lemahnya imperalisme internasional melemahkan kapitalisme internasional; t i a p – t i a p perjoangan kemerdekaan rakyat jajahan atau setengah jajahan adalah d u s revolusioner, dan pantas dibantu, harus dibantu, wajib dibantu oleh semua tenaga-tenaga anti kapitalis di seluruh dunia. Golongan-golongan yang membenarkan dan membantu perjoangan kemerdekaan rakyat-rakyat jajahan atau setengah jajahan, mereka adalah pula golongan-golongan yang revolusioner. Sebaliknya, golongan-golongan apapun, yang tidak membantu, tidak m e m b e n a r k a n perjoangan kemerdekaan sesuatu bangsa jajahan atau setengah jajahan, meski dengan memakai alasan-alasan demokrasi formil, meski ia menamakan diri ”progresif”, atau ”demokrat”, atau ”sosialis” -, ia adalah r e a k s i o n e r. Ia pada hakekatnya mempertahankan imperialisme, ia dus mempertahankan kapitalisme. Ia terang reaksioner, dan kalau ia ”sosialis”, maka ia ”sosialis” yang terang-terang mendurhakai sosialisme!
 
Tetapi Alhamdulillah, tidak semua ”sosialis” adalah pendurhaka sosialisme, tidak semua kaum ”progresif” adalah iblis berpakaian dewa. Perjoangan kita dengan senjata Negara itu dibenarkan, diberi simpati, dibantu, dibela oleh golongan-golongan yang benar-benar progresif di seluruh dunia. Di Australia mereka membela, di Rusia dan di Eropa Timur, di seluruh Asia, di banyak tempat di Amerika dan Eropa Barat, – ya, di negeri Belanda sendiripun ada golongan-golongan sosialis (bukan dari Partij van den Arbeid!) yang membela kita. Apa sebab golongan-golongan ini membela kita? Mereka yakin akan kebenaran ajaran Marx yang berbunyi:
 
Marx yang berbunyi:
 
” E e n v o l k d a t e e n a n d e r v o l k o n d e r d r u k t , k a n n i e t v r i j z i j n ”.
Terutama sekali para pemimpin, para penunjuk jalan, para pemegang obor, harus memahami ilmu itu. Dapatkah orang memimpin dengan baik, – menunjukkan jalan kepada rakyat, mengkobar-kobarkan semangat rakyat, mengerahkan tenaga-bekerja dan tenaga perjoangan rakyat, mencapai hasil yang sebesar-besarnya dengan mengorbankan korban yang sesedikit-sedikitnya -, bila orang tidak tahu jalan-jalan apa yang harus dilalui, cara-cara apa yang harus dipakai, tujuan-tujuan apa yang harus dituju? Dapatkah orang memimpin dengan baik, bila tidak dengan tuntunan i l m u ? Dapatkah orang memimpin dengan baik, bila sendiri tidak tahu jalan?
 
Dan angan-angan sosialisme serta ilmu sosialisme itu tidak hanya ”baik” buat pemimpin saja, rakyat jelata pula (sedapat mungkin) harus memahaminya. Berilah kursus sebanyak-banjaknya dan sepopuler-populernya kepada rakyat jelata itu. Tetapi terutama sekali a n g a n – a n g a n sosialisme harus dinyala-nyalakan di kalangan rakyat jelata itu, dikobar-kobarkan dalam jiwa mereka, a n g a n – a n g a n sosialisme harus menjadi Bintang Bimashaktinya perjoangan mereka. Mereka harus insyaf akan a r t i m e r e k a dalam perjoangan dan dalam proses produksi sekarang dan proses produksi yang akan datang, mereka harus mengerti, bahwa dunia sosialisme adalah d u n i a m e r e k a ”, dan bahwa dus perjoangan Nasional sekarang ini (yang menuju kepada sosialisme) harus buat sebagian besar terpikul oleh semangat m e r e k a, keringat m e r e k a, korbanan m e r e k a, darah dan daging m e r e k a. lni berarti: Rakyat jelata harus dibuat sedar akan a r t i – g o l o n g a n n y a s e n d i r i. Mereka harus dibuat z e l f – b e w u s t, – harus dibuat s e l f – c o n s c i o u s.
Dan angan-angan sosialisme serta ilmu sosialisme itu tidak hanya
 
Mereka harus diinsyafkan harga kelasnya, – harus dibuat c l a s s – c o n s c i o u s. Mereka harus diinsyafkan, bahwa hanya dalam masyarakat sosialismelah mereka dapat sejahtera, tetapi juga, bahwa masyarakat sosialisme itu tidak dapat tercapai jika tidak dengan tenaga mereka. Mereka harus mengerti, bahwa mereka lah soko-gurunya hari yang akan datang. Mereka harus mengerti bahwa tingkatan Nasional ini ialah t i n g k a t a n – m u t l a k ke arah Revolusi Sosialisme, – artinya, bahwa mereka dalam tingkatan sekarang ini harus mengutamakan ” k e n a s i o n a l a n ” – boleh berkesadaran kelas, tetapi t i d a k boleh mengobarkan perjoangan kelas! – bekerja bersama-sama dengan semua golongan dan lapisan yang menghendaki kemerdekaan nasional, – tetapi juga jangan diperdulikan oleh sesuatu golongan yang lain untuk kepentingan golongan yang lain itu.
”baik” buat pemimpin saja, rakyat jelata pula (sedapat mungkin) harus memahaminya. Berilah kursus sebanyak-banjaknya dan sepopuler-populernya kepada rakyat jelata itu. Tetapi terutama sekali a n g a n – a n g a n sosialisme harus dinyala-nyalakan di kalangan rakyat jelata itu, dikobar-kobarkan dalam jiwa mereka, a n g a n – a n g a n sosialisme harus menjadi Bintang Bimashaktinya perjoangan mereka. Mereka harus insyaf akan a r t i m e r e k a dalam perjoangan dan dalam proses produksi sekarang dan proses produksi yang akan datang, mereka harus mengerti, bahwa dunia sosialisme adalah d u n i a m e r e k a ”, dan bahwa dus perjoangan Nasional sekarang ini (yang menuju kepada sosialisme) harus buat sebagian besar terpikul oleh semangat m e r e k a, keringat m e r e k a, korbanan m e r e k a, darah dan daging m e r e k a. lni berarti: Rakyat jelata harus dibuat sedar akan a r t i – g o l o n g a n n y a s e n d i r i. Mereka harus dibuat z e l f – b e w u s t, – harus dibuat s e l f – c o n s c i o u s.
 
Mereka harus diinsyafkan harga kelasnya, – harus dibuat c l a s s – c o n s c i o u s. Mereka harus diinsyafkan, bahwa hanya dalam masyarakat sosialismelah mereka dapat sejahtera, tetapi juga, bahwa masyarakat sosialisme itu tidak dapat tercapai jika tidak dengan tenaga mereka. Mereka harus mengerti, bahwa mereka lah soko-gurunya hari yang akan datang. Mereka harus mengerti bahwa tingkatan Nasional ini ialah t i n g k a t a n – m u t l a k ke arah Revolusi Sosialisme, – artinya, bahwa mereka dalam tingkatan sekarang ini harus mengutamakan
 
” k e n a s i o n a l a n ” – boleh berkesadaran kelas, tetapi t i d a k boleh mengobarkan perjoangan kelas! – bekerja bersama-sama dengan semua golongan dan lapisan yang menghendaki kemerdekaan nasional, – tetapi juga jangan diperdulikan oleh sesuatu golongan yang lain untuk kepentingan golongan yang lain itu.
 
Mengetahui arti golongan sendiri dan tidak mau diper-kudakan untuk kepentingan golongan lain, – itulah makna perkataan sadar akan diri sendiri dan berkesadaran kelas.
Ini sungguh bukan satu kejahatan. Ini bukan mengadu-dombakan golongan dengan golongan, ini bukan (dan jangan!) menghidup-hidupkan perjoangan kelas. lni bukan memecah-belah bangsa.
 
Salahlah mengkobarkan perjoangan kelas di dalam Revolusi Nasional! Saya selalu mengatakan, bahwa semua golongan dan lapisan di dalam Revolusi Nasional ini harus bekerja bersama-sama menyusun satu P e r s a t u a n N a s i o n a l y a n g k u a t, menghantam dan menggempur imperialisme. Saya tetap berkata: bersatulah, bekerjalah bersama-sama, bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh! Tetapi bekerja bersama-sama itu t i d a k b e r a r t i, b a h w a s a t u g o l o n g a n b o l e h m e m p e r k u d a k a n g o l o n g a n y a n g l a i n. Membuat rakyat jelata sadar akan diri sendiri hanya berarti, bahwa rakyat jelata harus diberi pengertian tentang t u g a s b e r s e j a r a h golongan rakyat jelata itu sendiri. Mereka, rakyat jelata, adalah b a s i s s o s i a l perjoangan kita. Hanya dengan rakyat jelata yang sadar akan diri sendiri, kita dapat memobilisir segenap tenaga-tenaga potensiil yang ada di kalangan mereka. Hanya dengan rakyat jelata yang sadar akan diri sendiri Revolusi kita dapat berjalan pesat, dapat bersifat Revolusi yang p r o g r e s i f , yang menuju kepada t i n g k a t a n s o s i a l y a n g l e b i h t i n g g i. Hanya dengan rakyat jelata yang sadar akan diri sendiri, Revolusi kita dapat bersifat Revolusi yang revolusioner, dan bukan Revolusi yang dipengaruhi oleh anasir-anasir kontra-revolusioner.
Salahlah mengkobarkan perjoangan kelas di dalam Revolusi Nasional! Saya selalu mengatakan, bahwa semua golongan dan lapisan di dalam Revolusi Nasional ini harus bekerja bersama-sama menyusun satu
 
P e r s a t u a n N a s i o n a l y a n g k u a t, menghantam dan menggempur imperialisme. Saya tetap berkata: bersatulah, bekerjalah bersama-sama, bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh! Tetapi bekerja bersama-sama itu t i d a k b e r a r t i, b a h w a s a t u g o l o n g a n b o l e h m e m p e r k u d a k a n g o l o n g a n y a n g l a i n. Membuat rakyat jelata sadar akan diri sendiri hanya berarti, bahwa rakyat jelata harus diberi pengertian tentang t u g a s b e r s e j a r a h golongan rakyat jelata itu sendiri. Mereka, rakyat jelata, adalah b a s i s s o s i a l perjoangan kita. Hanya dengan rakyat jelata yang sadar akan diri sendiri, kita dapat memobilisir segenap tenaga-tenaga potensiil yang ada di kalangan mereka. Hanya dengan rakyat jelata yang sadar akan diri sendiri Revolusi kita dapat berjalan pesat, dapat bersifat Revolusi yang p r o g r e s i f , yang menuju kepada t i n g k a t a n s o s i a l y a n g l e b i h t i n g g i. Hanya dengan rakyat jelata yang sadar akan diri sendiri, Revolusi kita dapat bersifat Revolusi yang revolusioner, dan bukan Revolusi yang dipengaruhi oleh anasir-anasir kontra-revolusioner.
 
Alangkah sering ditakuti orang, perkataan ”kesadaran diri” ini, jika ditinjau dari sudut kenasionalan! Sering orang berkata: ”Jaga persatuan bangsa, jaga persatuan semua golongan, – jangan massa dibuat sadar akan diri sendiri”. Atau: ”Buatlah masing-masing golongan melupakan kepentingan golongan sendiri, hilangkanlah kesedaran golongan, buatlah semua golongan hanya ingat kepada kepentingan Bangsa saja!”. Demikianlah sering sekali diucapkan orang. Terutama, sekali golongan-golongan yang b u k a n golongan rakyat jelata sangat fanatik mencintai ”kebijaksanaan” semacam ini! Apa sebab? Oleh karena golongan-golongan itu sendiri memang ”tidak membuat dirinya sendiri berkesadaran diri”! Althans pada zahirnya! Pada batinnya, sudah barang tentu mereka membela kepentingan golongan sendiri, tetapi mereka (untuk pembelaan kepentingan mereka itu) m e m b u t u h k a n bantuannya seluruh Bangsa, m e m b u t u h k a n tenaganya dan simpatinya semua golongan dalam lingkungan Bangsa. Oleh karena itu, maka mereka lantas pura-pura tidak sadar akan diri sendiri, pura-pura tidak mementingkan golongan sendiri, – dan mengharap supaya lain-lain golongan (terutama sekali golongan rakyat jelata) s u n g g u h – s u n g g u h tidak sadar akan diri sendiri, dan hanya ingat kepada kepentingan Bangsa saja. Lama-kelamaanpun mereka sendiri lantas s e p e r t i sama sekali ”nasional”.
Agak panjang uraian saya tentang beberapa soal yang mengenai perjongan Republik kita. Pokok-pokoknya ialah:
 
Bahwa fase perjoangan kita sekarang ini ialah fasenya Revolusi Nasional. Dharma kita di dalam fase ini ialah menyusun Kemerdekaan Nasional, d a n m e n g i s i K e m e r d e k a a n N a s i o n a l i t u d e n g a n s y a r a t – s y a r a t j i w a d a n s y a r a t – s y a r a t m a t e r i i l, a g a r s u p a y a K e m e r d e k a a n N a s i o n a l i t u d a p a t m e n j a d i b a t u – l o n c a t a n k e p a d a K e m e r d e k a a n S o s i a l d i k e m u d i a n h a r i.
 
K e m e r d e k a a n S o s i a l d i k e m u d i a n h a r i.
 
– ”Penuhilah sepenuh-penuhnya segala syarat Revolusi Nasional, perkuatkanlah Negara, – sekali lagi perkuatkanlah Negara -, susunlah persatuan Nasional, kejar dan capailah Negara Nasional yang meliputi seluruh Indonesia dan yang berdaulat seratus prosen! Isilah Revolusi Nasional ini dengan a n g a n – a n g a n sosialisme dan dengan s y a r a t – s y a r a t yang diperlukan untuk penyelenggaraan sosialisme itu: buatlah tehnik kita dan ekonomi kita berkembang, buatlah semangat kita semangat gotong-royong, didiklah rakyat jelata kita menjadi rakyat jelata yang benar-benar sadar akan diri sendiri tetapi jangan sekali-kali mengadakan perjoangan kelas, carilah hubungan rapat dengan segenap tenaga progresif di seluruh dunia!”, demikianlah sari-patinya anjuran-anjuran yang saya anggap penting.
Dan bagaimanakah rol wanita dalam revolusi-revolusi Rusia yang kemudian?
 
Trotzky menceriterakan tentang Revolusi Maret 1917 (di Rusia dinamakan Revolusi F e b r u a r i):
 
(di Rusia dinamakan Revolusi F e b r u a r i):
 
”Adpokat-adpokat dan jurnalis-jurnalis daripada kelas-kelas yang terhantam oleh Revolusi ini tidak sedikit menghamburkan tinta untuk membuktikan, bahwa dalam bulan Februari itu sebenarnya telah terjadi satu pemberontakan w a n i t a, yang kemudian dilimpahi oleh pemberontakan serdadu”. T e t a p i k e a d a a n p a d a z a h i r n y a m e m a n g s e b e n a r n y a b e g i t u! Sebab Trotzky sendiri mengatakan juga: ”Kenyataan tetaplah, bahwa revolusi Februari itu mulainya ialah dari bawah, dan inisiatifnya datanglah secara spontan dari bagian proletar yang paling tertindas dan paling tertekan, yaitu kaum buruh tenun w a n i t a, sedangkan di antara mereka itu banyak juga isteri-isteri serdadu ... Kurang lebih sembilan puluh ribu kaum buruh wanita mogok pada hari itu. Semangat perjoangan meletus dengan berbentuk demonstrasi-demonstrasi, rapat-rapat umum dan perkelahian-perkelahian dengan polisi ... Sejumlah besar wanita-wanita, malahan bukan semuanya wanita kaum buruh, berarak-arak ke balai kota dengan maksud meminta roti ...
Sebagai akibat larangan itu terjadilah mula-mula perkelahian-perkelahian di paberik-paberik Putilow, yang kemudian menjalar menjadi satu rapat-raksasa, satu revolusi.
 
H a r i p e r t a m a d a r i r e v o l u s i, – i t u l a h H a r i W a n i t a , h a r i I n t e r n a s i o n a l k a u m b u r u h w a n i t a. Hormat kepada wanita! Hormat kepada Internasionale!
 
W a n i t a , h a r i I n t e r n a s i o n a l k a u m b u r u h w a n i t a. Hormat kepada wanita! Hormat kepada Internasionale!
 
W a n i t a l a h y a n g p a l i n g d u l u k e l u a r k e j a l a n – j a l a n P e t r o g r a d p a d a h a r i m e r e k a i t u.
Kita, – artinya pemimpin-pemimpin wanita d a n pemimpin l a k i – l a k i pula!
 
Sebab, terhadap kepada soal wanita ini, – soal wanita dalam segala seluk-beluknya -, sebenarnya pihak l a k i – l a k i masih harus rnengadakan pendidikan pada d i r i s e n d i r i dengan cara yang sehebat-hebatnya. Dalam, ya amat dalam dilihatnya orang laki-laki, sekalipun laki-laki yang mulutnya selalu mengkernak-kernikkan ”persamaan hak antara laki-laki dan perempuan” atau yang selalu mendengung-dengungkan ”sosialisme” – sama rasa sama rata”, seringkali masihlah ber-semayam Sang Hantu “Aku Laki-laki, Tuannya wanita”, Sang Hantu ”wanita blasteran dewi dan si tolol”!
 
Tuannya wanita”, Sang Hantu ”wanita blasteran dewi dan si tolol”!
 
Sampai di kalangan-kalangan sosialis-sosialis kiri, malahan di kalangan-kalangan komunis, penyakit “patriarchat” ini belum juga sembuh. Bacalah sekali lagi misalnya keluhan Emilia Marabini yang saya sitir di muka itu. Atau bacalah ucapan Lenin di bawah ini:
Itu sama sekali tergantung dari sifatnya kalangan yang mengemukakan soal itu. Memang masyarakat kita terdiri dari kalangan-kalangan yang o b y e k t i f masih hidup di atas salah satu daripada tiga ”tingkat” itu: Ada golongan atasan, ada golongan buruh dan tani, ada golongan yang terkungkung oleh faham-faham agama yang masih kolot. Tetapi di dalam permusyawaratan-permusyawaratan yang demikian itu, saya selalu hanya memberi petunjuk g a r i s – g a r i s b e s a r saja, dan selalu saya peringatkan bahwa soal wanita hanyalah dapat diselesaikan oleh wanita sendiri. Terutama sekali di dalam prakteknya pemecahan soal-soal cabang, soal-soal ranting, – siapa yang dapat menolong wanita jika wanita sendiri tidak memecahkannya? Tidak berusaha, tidak bertindak, tidak beraksi, tidak pula mencari jalan?
 
Saya sefaham dengan V i v e k a n a n d a yang selalu, jikalau ditanya oleh orang laki-laki tentang soal-soal kecil urusan wanita (soal-soal yang tidak prinsipiil) lantas menjawab:
 
”Apakah aku ini seorang wanita, maka engkau selalu menanyakan hal-hal yang semacam itu kepadaku? ... Engkau itu apa, maka engkau mengira dapat memecahkan soal-soal wanita? Apa engkau itu Tuhan Allah, maka engkau mau menguasai tiap-tiap janda dan tiap-tiap perempuan? H a n d s o f f ! Mereka akan mampu menyelesaikan soal-soalnya sendiri!”
(soal-soal yang tidak prinsipiil) lantas menjawab:
 
”Apakah aku ini seorang wanita, maka engkau selalu menanyakan hal-hal yang semacam itu kepadaku? ... Engkau itu apa, maka engkau mengira dapat memecahkan soal-soal wanita? Apa engkau itu
 
Tuhan Allah, maka engkau mau menguasai tiap-tiap janda dan tiap-tiap perempuan? H a n d s o f f ! Mereka akan mampu menyelesaikan soal-soalnya sendiri!”
 
Ya, wanita sendiri harus bertindak, wanita sendiri harus berjoang! Tetapi ini tidak berarti, bahwa wanita harus berusaha terpisah sama sekali dari fihak laki-laki. Tidak, untuk kepentingan wanita pula, wanita harus menjadi roda hebat dalam Revolusi Nasional; wanita di dalam Revolusi kita ini harus bersatu aksi dengan laki-laki, dan wanitapun harus bersatu aksi dengan wanita pula. Jangan terpecah belah, jangan bersaing-saingan! Jangan ada yang memeluk tangan!
Di dalam Revolusi Nasional kita ini semua golongan harus didinamisir, dan semua golongan itu harus diarahkan ke satu tujuan pula, – jangan ada dua golongan, walau yang sekecil-kecilnyapun, yang bertabrakan satu sama lain. Oleh karena itulah, maka sejak dari tahun 1928 saya menganjurkan kepada wanita Indonesia untuk m e m b o r o n g k e t i g a – t i g a t i n g k a t a n i t u d i d a l a m s a t u g e l o m b a n g y a n g m a h a s a k t i, m e m b o r o n g t i n g k a t k e s a t u + t i n g k a t k e d u a + t i n g k a t k e t i g a i t u ( y a n g d i d a l a m m a s y a r a k a t k i t a o b y e k t i f t e n t u a d a ) d i d a l a m s a t u s i n t e s e p r o g r a m p e r j o a n g a n w a n i t a, y a n g b e r s a m a – s a m a d e n g a n l a k i – l a k i ( t i d a k a n t i l a k i – l a k i ) b e t u l – b e t u l m e n g g e g a p g e m p i t a k a n t e n a g a n a s i o n a l. Dan sekarang di dalam Revolusi Nasional kita ini, lebih-lebih lagi saya mendengungkan kepada wanita Indonesia, supaya pemimpin-pemimpinnya cakap menyusun s i n t e s e – p r o g r a m y a n g d e m i k i a n i t u, dan dengannya menyadarkan, membangkitkan, menggelorakan s e l u r u h wanita Indonesia dari s e l u r u h lapisan, menjadi roda hebat atau sayap hebat daripada Revolusi Nasional kita ini, – Revolusi Nasional Totaliter -, dengan isi-isi sebagai yang saya uraikan panjang-lebar di muka tadi.
 
Jikalau umpamanya di Indonesia ini ada bermacam-macam perserikatan-perserikatan wanita atau partai-partai wanita, – entah dari tingkat kesatukah, atau feminiskah, atau neo-feminis-kah, atau sosialiskah, – jadikanlah perserikatan-perserikatan atau partai-partai wanita itu sedapat mungkin berfederasi atau beraksi bersama, menjadi satu gelombang maha besar yang di bawah panji-panjinya sintese program itu menggelombang ke satu arah, ke arah benteng penjajahan, yang harus diremuk-redamkan bersama-sama, dihantam hancur-lebur bersama-sama. Buatlah Revolusi Indonesia ini betul-betul Revolusi N a s i o n a l, Revolusi Nasional yang Totaliter!
 
N a s i o n a l, Revolusi Nasional yang Totaliter!
 
Revolusi Nasional yang Totaliter, dengari isi-isi sebagai yang saya uraikan itu, sebagai pembuka pintu kepada masyarakat sosialisme, – satu-satunya masyarakat yang dapat memberikan kebahagiaan kepada wanita!
Demikianlah Bebel! Saya teruskan pesanan Bebel itu kepada kamu, wanita-wanita Indonesia. Malah saya tambah lagi: bandingkanlah zaman Bebel itu dengan zaman kita sekarang ini! Bebel bicara dalam zaman yang meski ada Undang-undang Sosialis sekalipun, masih bernama a m a n jika dibandingkan dengan zaman kita sekarang ini. Kita, kita sekarang ini berada dalam zaman perjoangan yang sepuluh, seratus kali lebih gegap-gempita daripada zamannya Bebel itu. Kita sekarang ini dalam bahaya, Negara kita dalam bahaya, meriam, bom dan dinamit menggeledek dan mengguntur di angkasa, ribuan rakyat dan prajurit kita mati bergelimpangan, kota-kota kita menjadi puing, desa-desa kita menjadi lautan api, bumi Republik menjadi laksana menggempa, – segenap tenaga pertahanan kita kerahkan habis-habisan untuk mempertahankan Republik kita yang diserang itu. Sungguh seratus kali lebih genting keadaan kita jika dibandingkan dengan keadaan perjoangan sosialis di Jermania itu! Manakala Bebel menegaskan bahwa tiada seorangpun boleh ketinggalan, – betapa pula dengan kita sekarang ini? Ibaratnya, bukan saja manusia yang harus kita kerahkan, tetapi juga segala isi alam ini, yang berupa apapun, harus kita gugahkan, bangkit-kan, mobilisasikan untuk membela Negara yang hendak dihancurkan musuh itu. Di Jermania adalah dulu itu perjoangan di bawah ancaman Undang-undang Sosialis, tetapi di sini perjoangan adalah perjoangan membela hidup terhadap serangan kontra-revolusi yang sedang memuntahkan peluru dan memuntahkan api, sedang mengamuk, membinasa, membunuh, membakar! Tidak seorangpun boleh ketinggalan dalam perjoangan yang semacam itu!
 
Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan nanti jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional.
 
Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional.
 
Jangan ketinggalan di dalam Revolusi Nasional ini dari awal sampai akhirnya, dan jangan ketinggalan pula nanti di dalam usaha menyusun masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan-sosial.
 
Di dalam masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial itulah engkau nanti menjadi wanita yang bahagia, wanita yang Merdeka!
 
&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;&mdash;–
3.325

suntingan