- IV -

PENGORBANAN CINTA KASIH

Khautul Kulub memenuhi janjinya.

Setiap malam bila sudah selesai serba sesuatunya maka Ganim bin Ayub datanglah ke kamar Khatul Kulub yang menamakan dirinya Kulbi. Ia seakan-akan merasa seorang asing dalam rumahnya sendiri. Disana ia dipermuliakan sebagai seorang tetamu paling terhormat di Bagdad.

Khautul Kulub menyanyi, menari dan ber kisah-kisah dengan Ganim. Sebagai tak puas-puasnya. Dan setiap ia keluar dari kamar gadis itu Ganim merasa sesuatu yang menikam-nikam hulu hati dan jantungnya. Sebuah perasaan yang belum dapat diberi nama. Namun sebagai sudah dijanjikan Ganim berbuat tak lebih dari itu. Ia masih merasa kuatir dan sangsi untuk mendekati Khautul Kulub lebih dekat.

Hari berganti hari. Hari berganti dengan minggu dan sudah hampir satu bulan mereka berbuat demikian. Tetapi sesuatu akan berkembang dan berubah juga sesuai dengan suasana.

Pada suatu malam setelah usai acara mereka pada malam itu Ganim masih duduk di tempatnya, belum terniat olehnya untuk kembali ke kamarnya sebagaimana lazimnya. Ia seakan-akan tak rela meninggalkan gadis itu dan ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.

Khautul Kulub datang mendekatinya dan memperhatikan Ganim beberapa saat lamanya.

"Tampaknya tuan gelisah malam ini," ujarnya dengan suara merdu dan mempesona. "Apakah perniagaan tuan merugi atau ada kesulitan di pasar?"

"Semua berjalan lancar Kulbi,...." semua barang dagangan yang saya bawa dari Damsyik sudah terjual habis semuanya dengan harga yang baik. Dan saudagar-saudagar itu sudah membelinya dengan tunai pula. Ruang perbendaharaaanku sudah penuh dengan uang. Saya tak tahu lagi berapa banyaknya uang itu. Tetapi walau bagaimana juga engkaulah yang berhak atas semua uang itu Kulbi. Bagi saya tak ada gunanya semua uang itu kalau apa yang saya dambakan, saya inginkan masih jauh ter katung-katung dilangit tinggi......."

"Heran," jawab Khautul Kulub dengan senyumannya yang khas. "Masih adakah yang tidak tuan dapat dengan uang sebanyak itu?"

"Ya, memang ada Kulbi, yaitu cinta kasih...."

"Cinta kasih?"

"Yaa!" Mata Ganim giring gemiring menahan gejolak dalam dadanya.

"Saya menaruh cinta, menaruh satu perasaan yang tak dapat saya beri nama dan kelihatan orang yang saya tuju masih acuh tak acuh belaka dan barangkali memandang saya tak ubahnya ibarat benda yang tak berguna dan tak ber harga satu dirham pun."

Maka Ganim pun menangis ter sedu sedan sebagai seoang anak kecil kehilangan mainannya. Dipegangnya tangan gadis itu, digenggamnya penuh arti.

Setelah semua agak reda Khautul menatap wajah Ganim dengan tatapan yang mempunyai seribu makna.

"Saya maklum dan mengerti kemana tujuan semua kata-kata tuan," ujarnya, "baiklah! Barangkali sudah sampai waktunya saya harus berterus terang kepada tuan......."

Gadis itu menarik nafas panjang kemudian berkata lagi:

"Tuan tak usah ragu-ragu dan sangsi-sangsi. Tuan tidaklah bertepuk sebelah tangan. Sebagaimana rasa cinta kasih yang bersemi dalam dada tuan maka dalam dada orang yang tuan cintai dan kasihi itu lebih hebat lagi ombak gelombangnya.....Semenjak saya bertatapan mata dengan tuan di waktu tuan membuaka tutup peti itu maka tutup hati saya sudah terbuka pula dan menyimpan semua perasaan tuan dalam kalbu saya."

Beberapa saat mereka saling berpelukan dan bertangisan saking terharu.

"Tetapi ada sesuatu yang masih memisahkan antara kita. Bila dinding pemisah itu sudah tiada maka dapatlah kita mempertalikan kita sebagaimana layaknya."

"Apakah dinding pemisah itu? Tidak dapatkah kita hancurkan umpamanya kita pergunakan semua uang yang ada itu?"

"Dia tidak dapat dihancurkan dengan uang berapa saja banyaknya, tuan. Dinding itu mesti dipecahkan dengan peri kebijaksanaan, akal yang sehat dan diplomasi yang licin....."

Ganim melongo tak mengerti. Masih penuh teka teki.

"Baiklah saya berterus terang supaya jangan lama tuan berada dalam keadaan tak menentu dan tak tentu ujung pangkalnya......"

"Dengan demikian kita dapat bersiap-siap menghadapi tantangan atau apa saja yang mungkin timbul sehingga kemudian kita keluar dari masalah ini dengan dua kemungkinan: hidup atau mati." sambung Khautul Kulub. "Semoga hati tuan tetap kuat dan iman tuan tetap kokoh sesudah mendapat kenyataan ini....."

Khautul Kulub lalu membuka kalung berbentung hati yang senantiasa bermain-main menghiasi leher dan dadanya yang indah. Kalung itu diberikannya kepada Ganim yang disambutnya dengan penuh tanda tanya.

"Engkau mau saya mengganti kalung ini dengan yang lebih mahal dan lebih indah? AKan saya carikan tak peduli berapa harganya...." sabut Ganim. Khautul Kulub tersenyum.

"Bukan itu maksudnya," jawabnya. Khautul Kulub menekan sebuah tombol kecil pada mainan kalung yang berbentuk hati itu dan terbukalah kalung itu. Ia memperlihatkan kepada Ganim sebuah tulisan yang terukir dibalik permatanya. Setelah diperhatikan dengan saksama tulisan yang halus dan penuh artistik itu Ganim lalu membacanya : -Patik untuk tuanku dan tuanku untuk patik.-

"Apa artinya ini?" tanya Ganim dengan heran. Khutul Kulub tersenyum sedih.

"Tuan ketahuilah wahai Ganim yang paling kucintai dibawah kolong langit ini, siapa saya yang sebenarnya......" Dia menarik nafas kemudian meneruskan perkataannya:

"Nama saya yang sebenarnya ialah Khautul Kulub. Semenjak kecil saya dipelihara dalam istana Khalifah sampai menjadi remaja sebagai sekarang ini. Khalifah sudah memutuskan bahwa setelah saya besar dan dewasa saya akan menjadi salah seorang gundik beliau.

Pada waktu ini Khalifah sedang dalam perjalanan ke daerah-daerah pemerintahannya. Dan setelah beliau pulang ketika itulah Khalifah akan menikahi saya untuk menjadi salah seornag gundiknya. Ya, apa boleh buat sekalipun dalam perbandingan usia tidak sepadan lagi, tetapi karena beliau manusia yang menghitam putihkan negeri ini kita tak dapat apa-apa.

Namun Permaisuri beliau Puteri Zubaedah menaruh iri dan cemburu juga kepada saya. Begitulah pada suatu malam, saya diperdayakan diundang ke majlis permaisuri. Disana saya diberi sejenis bius yang menyebabkan saya tak ubahnya sebagai orang mati dalam tempoh tertentu. Dan sekian lama saya akan siuman kembali dan berada dalam keadaan biasa. Rupanya saya dimasukkan kedalam sebuah peti mati dikuburkan. Dan Tuhan mengirim tuan untuk mengeluarkan saya dari kuburan itu, dan seterusnya tentu sudah tuan ketahui...."

Baru saja mendengar penjelasan dari gadis itu dengan serta merta Ganim bersimpuh didepan Khatul Kulub dan menyampaikan dengan esak tangisnya:

"Ampunilah saya tuan,- ampuni saya kalau selama tuan tinggal disini ada kata-kata atau tingkah laku saya salah terhadap tuan, barulah saya tahu dan sadar bahwa saya sebagai seekor tikus hendak merampas makanan seekor singa ......"

Khautul Kulub mengangkat tubuh Ganim.

"Semuanya itu tidak perlu, tuan. Walau bagaimana saya akan tetap mencintai tuan. Hanya kita akan berusaha bagaimana caranya agar sang singa melepaskan ayapannya dan bebas menjadi santapan sang tikus. Dan usaha ini tidak dapat dengan kekuatan uang. Hanya bantuan Tuhan saja yang kita mohonkan. Tuhan yang lebih Maha berkuasa untuk melumpuhkan sang singa.

Mungkin tak lama lagi beliau akan kembali dan kita akan bersiap-siap dengan cara kita pula. Untuk melarikan diri mustahil. Kemana saja daerah kerajaan ini berada dibawah kekuasaannya. Bahkan bila beliau sudah pulang dengan mudah ia akan mengetahui tempat ini. Karena Khalifah mempunyai Badan Penyelidik yang terkenal licin dan cerdik, seekor semut bila bersembunyi dan mampu juga dicarinya.....

Baiklah kita tunggu perkembangan selanjutnya dan kita ber upaya untuk mengatasinya...."

Ganim bin Ayub setelah mendengar siapa sebenarnya gadis yang berlindung dirumahnya tidaklah surut dari gelora cintanya malahan menjadi berlipat ganda dari yang biasanya. Gadis itu semakin tinggi dalam penilaiannya......

.////.