SI PACUL : Sekarang (2 Desember 1945), “seandainya” kita sudah mempunyai Kalangan Rakyat Berjuang seperti sudah kita uraikan di atas. “Kalangan” itu seandainya pula sudah berdisiplin yang kuat kokoh. Semuanya rakyat yang berontak sudah terikat di bawah pimpinan atau pengaruhnya. Janganlah pula dilupakan beberapa perkara di bawah ini: Musuh kita Inggris-Belanda hakikatnya amat bertentangan. Dalam tentara Inggris dan Nica tak kurang adanya pertentangan. Sekutupun terbagi atas pro dan anti Indonesia Merdeka. Seluruh Asia dan Afrika yang dijajah memihak pada Republik Indonesia. Dunia proletar Internasioal tak menyukai Perang Dunia Ketiga. Akhirnya Soviet Rusia dan Tiongkok memperamati dan 100% menyetujui Republik Indonesia. Apakah syarat dan taktik strategi atau TIPU MUSLIHAT berjuang?

SI GODAM : Seperti dalam perjuangan, maka di atas segala-gala yang terpenting tentulah “keyakinan” dan kekuasaan menang.

DENMAS : Memang keyakinan dan kehendak itu adalah uap kereta dan listrik buat mesin, ialah satu kodrat pendorong. Tetapi di luar Rakyat Murba apalagi di antara kaum intelek masih banyak yang sangsi atas kemenangan. Alasan mereka tentulah sebab kekurangan senjata. Kekurangan ini, kekurangan itu!

SI PACUL : Yang sangsi itu mestinya ada di dalam semua perjuangan. Tetapi Rakyat Murba tidak main hitung semacam itu. Ada atau tak ada pimpinan, mereka terus gempur Inggris-Nica yang ceroboh dan yang mulai bertindak melucuti senjata prajurit Indonesia.

SI TOKE : Memang maksud Inggris-Belanda sekarang sudah lebih terang! Keterangan dari Perdana Menteri Inggris bahwa Pemerintah Inggris cuma mengakui Hindia-Belanda sudah cukup terang.

SI PACUL : Semua tindakan Inggris-Nica sendiri sudah lebih terang buat mereka yang “mau” mengerti. Tetapi buat mereka yang tak mau mengerti karena dalam hati sanubarinya sudah terpendam “kemauan buat kompromi”, apapun juga bukti tentang maksud Inggris-Belanda yang sebenarnya tak akan dimengerti oleh mereka. Mereka mau kompromi dengan Inggris-Belanda, bermusyawarah dengan Inggris-Belanda, sedangkan “musuh” masih dalam negara kita. Barangkali nanti debat mendebat dalam permusyawaratan, pilih memilih wakil buat Dewan ini dan itu, pendeknya rebut merebut kursi, pangkat, dan gaji. Sedangkan musuh masih “dalam” Negara!

SI GODAM : Asal kalangan berjuang selalu berdiri di tengah-tengah Rakyat Murba dan memimpin Rakyat Murba dengan keyakinan dan kemauan menang dan perhatikan semua syarat dan taktik berjuang, kita bisa dengan tenang menyerahkan hari depan Republik Indonesia kepada Sang Waktu.

SI TOKE : Apakah pula syarat itu, Dam?

SI GODAM : Banyak juga. Tetapi terutama yang mesti dilakukan: 1. Pegang ini tiap-tiap menyerang. Artinya siasat menyeranglah yang kita utamakan. 2. Cari gelang rantai pertahanan musuh yang lemah. Putuskan rantai itu. Kepunglah masing-masing putusan itu dan hancurleburkan. 3. Selalu hitung lebih dahulu: kekuatan pertahanan musuh dan kekuatan kita menyerbu. 4. Selalu bisa memilih mana yang baik: menjalankan muslihat menyerang dari depan atau dari samping atau mengepung. Gempurlah rombongan kecil-kecil! Seranglah sekonyong-konyong. 5. Selalu ada persiapan menggempur mata-mata musuh (tetapi jangan berlaku tidak adil atau kejam karena terburu nafsu). Periksalah dengan seksama.

SI TOKE : Apa yang “jangan” dilakukan? Engkau sudah bilang apa yang “mesti” dilakukan?

SI GODAM :

1. Jangan lupa bahwa kita bukan melawan tentara. Senjata kita terutama politik, ekonomi dan gerilya.

2. Jangan lupa mendengungkan ke dalam dan ke luar negeri bahwa Republik Merdeka adalah 100% hak kita dan Inggris-Belanda tak berhak mencampuri urusan rakyat Indonesia. Satu persen pun tidak!

3. Jangan lupa bahwa walaupun dunia internasional membiarkan kota Indonesia dibom atom, desa dan gunung Indonesia cukup banyak buat perlindungan kita. Bumi cukup kaya buat hidup tak dengan kota. Tetapi Inggris-Belanda dengan tentara modern tergantung sebagian besar pada kota modern di Indonesia.

4. Jangan lupa bahwa Inggris, Nica, Gurkha, dan Jepang selalu kalah kalau berada jauh dari armada yang membantu dengan meriam dan kapal terbangnya. Jangan lupa contoh Magelang. Jangan putus asa kalau kalah di pantai. Di gunung pasti menang, kalau mau menang. Jadi jangan hilang akal kalau sebentar terpaksa meninggalkan kota. Jangan lupa menggempur kembali ke kota, apalagi dalam gelap dan hujan. Sekarang Jendral hujan sudah memanggil.

5. Jangan lupa bahwa Inggris-Nica dan pengkhianat di sampingnya tak bisa hidup tak dengan air, makanan, sayur, daging, dan pertolongan rakyat Indonesia. Jangan lupa bahwa setiap jam setiap hari tentara Inggris- Amerika terhalang maksudnya, jutaan rupiah ongkos yang mesti dipakainya dan dipikulkannya ke bahu rakyat yang sudah miskin melarat itu.

6. Jangan lupa bahwa kesabaran rakyat Inggris, Belanda, dan rakyat dunia lain yang ingin damai, ingin barang bahan Indonesia itu, ingin karet, minyak tanah, timah, gula, kina itu ada batasnya. Rakyat dunia itu tidak bisa selamanya membiarkan Inggris dan Belanda mengacau di Indonesia, bagian bumi yang penting buat perdagangan dan lalu lintas itu.

7. Dalam menjalankan taktik greliya dan kalau perlu taktik bumi hangus dan terendam, janganlah menyerang dari depan kalau musuh terkumpul dan bersenjata lengkap. Singkirkanlah peperangan tentara menghadapi tentara. Janganlah lupa bahwa Rakyat Murba mendapat senjata baru yang cocok buat taktik gerilya, ialah GRANAT TANGAN yang sekarang ada bertimbuntimbun. Jangan lupa bahwa granat tangan dan bambu runcing berkali-kali mengacau-balaukan dan mempontang- pantingkan gabungan Inggris, Nica, Gurkha, dan Jepang. Jangan lupa bahwa Bukit Barisan Indonesia dari Aceh ke Lampung, dari Banten ke Banyuwangi terus ke Timor, di Malaka, Kalimantan dan Sulawesi selama ini menunggu-nunggu putera Indonesia yang pahlawan-perwira buat bersembunyi sebagai pahlawan hutan Indonesia. Sang macan.... menghancurleburkan penjahat manapun juga di abad ke 20 ini.

SI PACUL : Tepat Dam...... Bukit Barisan yang sebagai macan, dengan taktik macan menunggu-nunggu penjajah buat diterkam dirobek-robek. Naik semangatnya Dam!

SI TOKE : Aku pun begitu Dam! Tadi sesudah mendengar kabar kekalahan kita di Surabaya terharu betul hatiku. Hampir percaya kepada kaum pengeluh. Ah, kita kekurangan ini, kekurangan itu, kita akan kalah! “Kasihan sama Rakyat”. Tetapi sekarang aku yakin Bukit Barisan kitalah benteng kita yang terakhir.

MR. APAL : Ingat sama Fabius, ahli mundur! Dia adalah seorang pahlawan Romawi melawan tentara Punisia yang kuat, di bawah pimpinan Jendral Punisia yang gagah perwira yang cerdik sekali. Tetapi akhirnya dengan taktik teratur Romawi menang juga.

DENMAS : Memang mesti dicamkan juga pada rakyat, bahwa tentara yang berperang itu tidak semestinya maju saja. Ingatkan pula bahwa senjata kita bukanlah senjata api semata- mata. Senjata kita juga berada dalam ekonomi dan politik. Malah Jendral Hujanpun satu senjata kita.

SI PACUL : Ya! Sebenarnya kita sedikit salah di Surabaya terhadap rakyat kita.

SI TOKE : Apa salahnya Cul ?

SI PACUL : Sebenarnya kita mesti bagikan kain kepada rakyat ketika kita sudah sita kain bertimbun-timbun. Rakyat kita butuh kain! Kain itu adalah hasil kemenangan rakyat Surabaya yang berjuang merebut kembali hak miliknya. Pada saat itu juga mestinya rakyat yang ditelanjangi Jepang itu ditutupi badannya. Satu muslihat buat melaksanakan siasat kemakmuran dan mempertinggi semangat pemberontak!

SI TOKE : Baiklah hal itu menjadi pelajaran di hari depan. Lekas PENUHI KEBUTUHAN RAKYAT di mana saja. Jangan ditunggu-tunggu lagi! Rakyat sudah kebosanan JANJI!!

MR. APAL : Sekarang rasanya sudah cukup kita rundingkan apa siasat dan taktik yang perlunya dijalankan berjuang. Tentu masih ada ketinggalan di sana-sini. Tetapi saya pikir baiklah Godam membikin satu pidato di depan kami, satu pidato sebagai contoh buat seorang propagandis di depan umum. Kami mau pakai sendiri.

SI GODAM : Saudara sekalian tahu, bahwa sesungguhnya aku bukan ahli pidato.

SI TOKE : Tak perlu kita caranya melaksanakan pidato itu, cara itu tidak penting buat Rakyat Murba yang sedang berjuang mati-matian. Yang penting ialah “ISI” pidato itu.

SI PACUL : Silakan Godam!

DENMAS : Aku seorang ningrat, Dam. Engkau berasal dari kelas benggolan, bekas stoker, bekas masinis. Tetapi dalam semua perundingan kita engkau perlihatkan kecerdasan, keberanian, dan kejujuran. Kuangkat pecisku di depan kecakapanmu, Dam. Aku mengaku muridmu, Dam.

MR. APAL : Aku seorang bertitel meester, Dam. Dunia intelek di zaman Belanda mengakui tingginya pengetahuanku, Dam. Mr. ialah pengakuan yang tertinggi tentang pengetahuan dalam hal undang-undang. Engkau seorang keluaran sekolah rendah saja. Tetapi engkau seorang “self-made-man” yang jaya. Contoh di segenap sejarah manusia cukup banyak kau ketahui! Contoh yang membuktikan bahwa “genie” itu tak selamanya keluaran sekolah tinggi. Aku tak malu, Dam, mengakui ketangkasanmu dalam berpikir dan bersoal jawab. Aku sudah mendapat pengakuan atas pengetahuanku. Tetapi sekarang aku insaf bahwa dalam masa pancaroba ini aku tak sanggup menyelami jiwa Rakyat Murba, menyusun menggerakkan tenaga Murba, yang diserahkannya pada pimpinan perjuangan itu. Berdirilah Dam, buat kami, buat contoh, buat MURBA, yang bergelora semangatnya, sesudahnya kami sendiri bertahun-tahun sudah membangunkannya ialah semangat MERDEKA. Apabila sekarang mereka melaksanakan apa yang kami kaum intelek sendiri, bangunkan dan muliakan itu, kami kaum intelek terutama saya sendiri sebagai intelek tidak berdiri di tengah rakyat, memimpin atau membantu, maka saya sendiri rasa bahwa kaum intelek tidak jujur terhadap rakyat dan dirinya sendiri. Dan kalau rakyat Murba sekarang sebagai akibatnya propaganda puluhan tahun di mana-mana tiada “dipimpin” dan dibiarkan dirobek-robek oleh pelornya Inggris- Nica-Gurkha-Jepang, maka hal itu, aku Mr. Apal, anggap sebagai satu pengkhianatan si sejarah Indonesia yang terpenting.

SI PACUL : Silakan Dam!

SI GODAM : Saudara dan saudara! Tiga minggu yang lampau Inggris menuduh kita rakyat Surabaya membunuh seorang opsirnya. Dia tidak mau mengadakan pemeriksaan atas benar tidaknya pembunuhan itu. Dia tidak mau tahu apakah matinya opsir itu disebabkan tembakan dalam pertempuran kacau balau atau oleh pelor serdadunya sendiri yang menembak rakyat Indonesia. Bahkan dia tiada mau tahu apakah opsir itu benar mati apa tidak. Pihak Indonesia tiada mendapatkan opsir itu hidup, luka, atau mati di tempat pertempuran itu dilakukan. Pihak Indonesia siap sedia mau mengadakan pemeriksaan yang seksama. Tetapi tidak sekali ini saja Inggris pintar mencari alasan. Sudah kita ketahui bahwa pada hari itu Inggris sudah mempunyai rencana yang pasti dan beres. Rencana itu ialah menduduki Surabaya bersama serdadu Nica yang sudah tiba dari luar negeri. Ada atau tidaknya kesalahan Indonesia tuduhan mesti dikemukakan. Benar tidaknya tuduhan itu tuntutan mesti dilakukan. Inggris, Saudara, menuntut supaya rakyat dan tentara Republik Indonesia dilucuti senjatanya. Rakyat dan tentara Republik Merdeka mesti bertekuk lutut menyerahkan semua senjata. Cuma rakyat satu negara yang mau melepaskan hak kemerdekaannya, yang mau dihina dan diperlakukan sebagai budak belian, yang sanggup memenuhi tuntutan Inggris itu. Inggris bukannya diserahi oleh Sekutu melucuti senjata rakyat Indonesia, melainkan melucuti tentara Jepang. Seandainya diserahi perlucutan itu, Indonesia tak perlu dan hina sekali kalau ia membenarkan tuntutan Inggris itu. Tuntutan itu berlawanan dengan kedaulatan Rakyat Merdeka. Rakyat Indonesia sejak tanggal 17 Agustus ialah suatu negara merdeka. 70 juta rakyat Indonesia menyetujui dan ternyata menyokong kemerdekaan itu dengan harta benda serta jiwa raganya. Patutkah rakyat suatu negara merdeka dilucuti senjatanya? Satu syarat pertama negara merdeka ialah kemerdekaan kemauan dan kesanggupan negara itu mempertahankan kemerdekaannya. Hilanglah kemerdekaannya kalau rakyat itu tiada bersenjata lagi. Maksud Inggris bukanlah melucuti senjata Jepang, melainkan melucuti senjata rakyat Indonesia. Rakyat yang tiada bersenjata itu akan mudah digertak, diinjak-injak, atau disembelih oleh Nica yang disiapkan oleh imperialisme Inggris sebagai penjajah Indonesia. Apabila pemerintah Nica sudah teguh tegap kembali menjajah Indonesia ini, maka Inggris berharap akan mendapat kembali kebun, tambang, pabrik, dan tokonya. Inilah maksud Inggris yang sebenarnya. Betapapun Inggris menyangkal tuduhan kita dan dunia lain bahwa bermaksud mengembalikan Indonesia ke derajat suatu jajahan, semua bukti menyaksikan hasrat Inggris itu. Lagipula semua Inggris di Asia dan Afrika menyaksikan kebohongan, kelicikan, dan kebuasan Inggris dalam hal jajah menjajah. Suara imperialisme Inggris adalah suara perempuan lacur. Perkataannya tak boleh dipercaya. Musnahlah kemerdekaan Indonesia kalau alasannya atau anjurannya didengarkan. Selama tentara Inggris berada di Indonesia janjinya mesti dianggap sebagai tipu muslihat belaka. Tetapi rakyat Surabaya tiada mendengarkan tujuan dan alasan wakil imperialisme Inggris itu. Rakyat Surabaya yang bukan juris itu mengerti sungguh akan haknya satu Rakyat Merdeka. Rakyat Surabaya pegang senjata di tangannya. Dengan senjata di tangannya dia akan pertahankan kemerdekaannya. Itulah sifat jantan! Itulah sifat yang cerdik berdasarkan keinsyafan akan hak sendiri, kewajiban sendiri, dan kehormatan akan diri sendiri. Barangsiapa yang tak menjalankan sifat itu dia tidak mau merdeka, dia tidak mempunyai kehormatan atas dirinya sendiri. Dia itu adalah orang budak, atau agen Nica yang bersembunyi. Dalam hakikatnya dia adalah seorang pengkhianat. Ada yang mengeluh, kita tiada bisa melawan tank raksasa, melawan kapal perang dan kapal terbang Inggris. Saya jawab, bukankah sudah tiga minggu kita menahan hujan pelor? Berapakah kerugian yang diperoleh musuh dalam tiga minggu itu? Apakah kemenangan yang diperolehnya dalam tiga minggu itu? Bisakah Inggris-Belanda mengurusi pabrik, toko, atau kebun di tempat yang didudukinya? Selama dia tidak bisa mencari untung dengan menghisap keringat dan darah rakyat Indonesia, selama itulah perampasan sejengkal atau dua jengkal tanah itu satu kesulitan bagi dirinya sendiri. Tanah yang dirampas itu mesti dipertahankan siang dan malam terhadap serangan rakyat dan tentara Indonesia. Ongkos mempertahankan sehari demi sehari bertimbun-timbun. Sehari demi sehari Inggris-Nica akan merasai tajamnya senjata rakyat Indonesia yang tak kurang tajam dari senjata biasa. Senjata ekonomi, di samping penyerbuan secara gerilya yang tak putus-putusnya, bukanlah senjata yang bisa diabaikan begitu saja, walaupun Inggris lengkap bersenjata. Seandainya Inggris-Nica bisa merebut semua kota-kota di pesisir ini belum berarti mereka menang! Masih jauh jalan yang mesti mereka tempuh. Selama rakyat Indonesia bersatu, berdisiplin, dan insyaf akan muslihat yang harus dijalankan serta yakin akan kebenaran sendiri serta kesalahan musuh, selamanya Inggris-Nica masih dalam tingkat permulaan. Di Magelang di mana kekuatan armada tak berlaku, di sana Inggris dikalahkan. Dikalahkan, Saudara! Apakah artinya kalau tentara yang paling modern di dunia, tentara yang sudah mendapat ujian di medan perang modern, dikalahkan, diusir, atau dimusnahkan oleh rakyat dan tentara Indonesia yang tak beropsir, tak bersenjata, dan tak berlatih cukup? Kepada prajurit Indonesia aku tak perlu insyafkan atau tanyakan kejadian Magelang yang maha penting buat sejarah Indonesia ini! Kepada pengeluh, pengesah, pengecut, kepada yang sangsi akan kekuatan rakyat Indonesia, sangsi dengan segala yang berhubungan dan berbau Indonesia, saya mau tanyakan sekali lagi artinya kemenangan Magelang itu. Saya tambah pula tidak di Magelang saja rakyat Indonesia dan tentara Indonesia menang berperang dengan tentara Inggris-Nica. Di semua tempat, di mana pasukan berhadapan dengan pasukan, di sana Indonesia yang menang. Tak ada kecualinya. Orang Inggris-Nica belum pernah menang sama orang Indonesia. Yang menang cuma senjata luar biasa seperti meriam kapal perang yang menembak dari jauh di tengah laut, atau kapal terbang yang tinggi sekali terbangnya. Apalagi kelak di benteng kita yang paling akhir, yakni di pegunungan yang membujur di semua kepulauan Indonesia, di sana Inggris-Nica akan berjumpa perjuangan yang sesungguhnya. Di sana meriam armada takkan berdaya. Di pegunungan itu bom kapal terbangnya takkan berarti. Di pegunungan tentara Indonesia akan menunggu, seperti harimau menunggu musuh di tempat dan tempat yang menguntungkan bagi dirinya sendiri dan mencelakakan musuhnya. Dari gunung gerilya Indonesia dengan tak putus-putusnya akan menyerbu ke kota-kota, seandainya semua kota bisa diduduki Inggris-Nica, yakni kalau Inggris- Nica bisa menduduki kota yang hangus dan dikeringkan air minum dan makanannya. Di kota hangus Inggris-Nica menderita serangan gerilya di hari malam dan kekuarangan makan di hari siang. Siapakah di antara Saudara yang percaya Inggris-Nica bisa satu tahun saja duduk di kota neraka semacam itu? Duduk siang malam dalam bahaya dan kekurangan makan, tidur, dan ke plesiran? Di telinganya terdengar pula ocehan dan sumpah dunia? Saudara-saudara! Diplomasi kita bukan diplomasi bertekuk lutut. Diplomasi yang patah hati, diplomasi setengah atau tiga perempat jalan. Diplomasi kita menghendaki kemerdekaan 100% sempurna. Kita tidak akan berhenti selama kemerdekaan sempurna itu belum tercapai. Kita bisa tahan karena sudah bisa melarat, karena bumi, iklim, memihak pula pada kita. Kita percaya kita bisa mencapai kemerdekaan sempurna itu kalau kita cukup sabar, cukup tahan! Cukup percaya akan hak dan kebenaran diri sendiri. Percaya akan kesalahan Inggris-Nica. Akhirnya percaya akan keadilan manusia di dunia ini. Dunia sedang mengamati kita! Dunia ikut menimbang siapa yang benar siapa yang salah. Dunia ikut menimbang dan memperhatikan Indonesia kacau dan dikacaukan. Suara umum di dunia besok atau lusa akan memihak kepada yang berhak dan menuduh serta menghukum mereka yang mengcaukan serta berdosa. Kita menunggu sambil berjuang sampai si penjajah itu musnah atau berangkat meninggalkan pesisir kita. Sampai suara umum di dunia menyalahkan si penjajah. Saudara jangan lupa bahwa Indonesia selain penting buat lalu-lintas, penting pula buat pembangunan ekonomi di dunia yang rusak ini. Bahan dari Indonesia dibutuhkan buat semua negara beradab di dunia. Kemauan dunia beradab buat perdamaian, kebencian proletar Indonesia, kebencian rakyat jajahan terhadap imperialisme dan persetujuannya dengan kemerdekaan, inilah semua perkara yang memihak kepada Rakyat Indonesia Berjuang. Inilah diplomasi kita! Diplomasi berjuang! Dengan begitu membangunkan rasa kebenaran dan keadilan di dunia dalam dan luar Indonesia. Dengan begitu membelah dua kaum imperialisme dengan kaum pendamai. Bukan diplomasi kompromis, diplomasi bertekuk lutut. Karena diplomasi bertekuk lutut itu membimbangkan proletar dunia dan rakyat jajahan. Diplomasi bertekuk lutut itu membencikan rakyat beradab di dunia, yang insyaf akan hak kemerdekaan suatu bangsa dan hormat kepada rakyat lain yang membela kehormatannya sendiri. Si lemah, si sangsi, si pesimis, seperti si pengkhianat memang banyak alasannya. “Oh,” katanya, “kasihan sama rakyat, yang mesti berkorban!” Bukankah Inggris-Nica yang menyebabkan korban itu? Bukankah imperialisme yang selalu siap sedia mengorbankan puluhan juta manusia buat menjalankan politiknya? Di zaman manakah, di negara manakah “kemerdekaan” itu diperoleh dan dipertahankan dengan berdiplomasi dari gedung besar, bukan dengan pengorbanan puluhan malah sering jutaan manusia? Lagipula apa artinya “senjata” Indonesia sekarang mengorbankan 2 atau 3 juta rakyatnya buat kemerdekaan 68 juta sisanya? Bukankah keamanan (!) dan ketentraman di bawah Jepang saja sudah menuntut korban 3 sampai 4 juta jiwa manusia? Jika Indonesia sekarang takut mengorbankan 1 atau 2 juta rakyatnya (“seandainya” perlu pengorbanan begitu banyak dalam perjuangan, yang tidak dikehendaki oleh rakyat Indonesia sendiri itu), kelak 70 juta orang Indonesia akan dikorbankan selama-lamanya buat budak dalam kebun, pabrik, dan tambang bangsa asing. Bukan Indonesia saja yang berkorban dalam perjuangannya mempertahankan kemerdekaan sebagai hak mutlak dan hak alamnya itu, juga si pemerkosa kemerdekaan kita itu mesti berkorban! Juga mereka perlu mengorbankan harta bendanya, jiwanya, dan waktunya. Akhirnya yang tak boleh Saudara lupakan adalah bahwa Inggris-Belanda sehari demi sehari mengorbankan namanya sebagai negara beradab. Sekali dunia beradab mengutuki tindakan mereka terhadap satu bangsa yang salahnya cuma karena ia mempertahankan haknya, pada saat itulah kemenangan berada di tangan Indonesia. Indonesia akan terus berjuang sampai saat itu tiba. Sampai si ceroboh, si penjajah bertekuk lutut. Muslihat Rakyat Indonesia ialah berjuang lama, menyingkiri semua yang bersifat terburu nafsu, bersifat tergesa-gesa, bersifat fanatik, dan bersifat perjudian. Dengan hati tenang-tegap seperti baja, otak teduh berputar, dan akhirnya dengan kemauan dan keyakinan kokoh-kuat, Rakyat Indonesia menunggu sampai fajar kemerdekaan itu menyingsing! Kalau kita para prajurit kemerdekaan ini gagal dalam perjuangannya, maka ini tidak berarti kita gagal karena salah dasar atau salah muslihat. Kalau kita kelak gagal maka kegagalan itu mesti dicari pada kurang teguhnya organisasi, lemahnya disiplin, serta kurangnya kecerdasan, kecerdikan, dan kecakapan. Semua kekurangan bisa dan mesti kita singkirkan dari sekarang juga! Tetapi di atas segala-galanya yang tiada boleh kurang, yang mesti diperkokoh sekarang ini dan terus diperkokoh di hari depan ialah persatuan. Jauhilah curiga mencurigai dan tuduh menuduh dengan tak ada alasan cukup. PERSATUAN DAN DISIPLIN! DISIPLIN DAN PERSATUAN! SEKIANLAH!!