Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam

Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
ranjang padang putih tiada batas
sepilah panggil-panggilan
antara aku dan mereka jang bertolak
Aku bukan lagi sicilik tidak tahu jalan
dihadapan berpuluh lorong dan gang
menimbang:
ini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan “pas bebas”
Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
Ranjang padang putih tiada batas
Sepilah paggil-panggilan
Antara aku dan mereka jang bertolak
juga ibuku jang berjandi
tidak meninggalkan sekoci.

Lihatlah cinta jingga luntur:
Dan aku yang pilih
Tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur
Rumah tersembunyi dalam cemara rindang tinggi
Pada jendela kaca tiada bajang datang mengambang
Gundu, gasing, kuda-kudaan, kapal-kapalan dijaman kanak,
Lihatlah cinta jingga luntur:
Kalau datang nanti topan ajaib
menggulingkan gundu, memutarkan gasing
memacu kuda-kudaan, menghembus kapal-kapalan
aku sudah lebih dulu kaku


PD-icon.svg Karya ini berada pada domain publik di Indonesia karena penciptanya telah meninggal dunia lebih dari 70 tahun yang lalu atau dipublikasikan pertama kali lebih dari 50 tahun yang lalu. Masa berlaku hak cipta atas karya ini telah berakhir. (Bab IX UU No. 28 Tahun 2014) Flag of Indonesia.svg