Seri Pahlawan: Abdul Moeis/Bab 6

PENDERITAAN ABDUL MOEIS SEMASA PERANG KEMERDEKAAN

Selama masa pendudukan Jepang, nama Abdul Moeis tidak banyak terdengar. Tetapi ia masih tetap berusaha membela kepentingan rakyat kecil. Dalam masa itu ia bekerja sebagai pengacara.

Alangkah gembiranya hati Abdul Moeis ketika mendengar kabar, bahwa Indonesia sudah merdeka. Orang tua yang sudah berumur 62 tahun itu, melonjak kegirangan. Ia bersyukur kepada Tuhan. Cita-cita bangsanya sudah tercapai. Perjuangan mereka tidak sia-sia.

Semangat muda Abdul Moeis hidup kembali. Ia bertekad untuk menyumbangkan tenaganya untuk mengisi kemerdekaan.

Tetapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Negara yang baru berdiri itu menghadapi ancaman dari pihak lain. Belanda berusaha merebut Indonesia kembali. Maka perang pun tak dapat dihindarkan. Kalau pada masa yang lalu perjuangan ditujukan untuk memperoleh kemerdekaan, maka sekarang perjuangan ditujukan untuk mempertahankan kemerdekaan. Abdul Moeis membentuk Persatuan Perjuangan Priangan yang berkedudukan di Wanaraja. Melalui organisasi itu ia turut membantu perjuangan membela kemerdekaan.

Dalam tahun 1946 Abdul Moeis menerima surat dari Presiden Sukarno. Isinya, ia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Pengangkatan itu diterimanya dengan rasa haru. Rupanya ia masih dihargai orang. Pimpinan negara masih mengharapkan buah pikirannya.

Tetapi apa yang terjadi kemudian, sungguh-sungguh menyakitkan hatinya. Pelantikannya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung dibatalkan. Ia tidak mengerti apa sebabnya. Tetapi kemudian diketahuinya bahwa ada orang yang mengirimkan surat fitnahan kepada Presiden. Dalam surat itu dikatakan bahwa Abdul Moeis pemah bekerja sama dengan Pemerintah Belanda pada masa akhir pembuangannya. Perasaan Abdul Moeis sangat tersinggung. Tetapi ia bertawakal kepada Tuhan. Tuhanlah yang tahu bagaimana pendiriannya selama ini.

Dalam masa Perang Kemerdekaan pengaruh Abdul Moeis di daerah Jawa Barat masih besar. Karena itu ia selalu dicari oleh lawan-lawannya. Belanda mencari untuk menangkapnya. Kartosuwiryo mencari untuk mengajaknya masuk Darul Islam (DI). Darul Islam adalah gerombolan pemberontak yang tidak mau mengakui Republik Indonesia.

Kedua pihak itu tidak disukai oleh Abdul Moeis. Terhadap Belanda sudah dari dulu ia benci. Darul Islam tidak sesuai dengan cita-citanya. Untuk menghindarkan diri dari incaran mereka, Abdul Moeis mengungsi ke mana-mana. Kepada Kartosuwiryo dipesankannya bahwa ia akan tetap membela Republik Indonesia. Ia mengatakan pula bahwa cara yang ditempuh Kartosuwiryo itu salah. Cara itu tidak sesuai dengan Pancasila. Diperingatkannya pula bahwa gerakan Kartosuwiryo itu pasti akan hancur.

Akibat pendiriannya yang tegas itu, rumahnya dibakar habis oleh Belanda. Harta benda, yang dengan susah payah dikumpulkannya, sudah tandas. Ia sedih melihat kejadian itu, namun semuanya diserahkannya kepada Tuhan.


Hilanglah semua milik yang telah dikumpulkan dengan susah payah.