Tjerita Si Umbut Muda diterjemahkan oleh Tulis Sutan Sati
Dihinakan

3. DIHINAKAN

Apa gunanja siput lagi,
siput 'lah berangkai-rangkai.
Apa gunanja hidup lagi,
hidup 'kan betjermin bangkai.

'Lah turun ibu si Umbut — berdjalan berhati iba — berbalik berhati risau — pulang dengan hati rusuh. 'Lah serentang perdjalanan — 'lah dua rentang perdjalanan — tjukup tiga rentang pandjang — hampirlah dekat akan tiba — tibalah dia tengah halaman — lalu naik rumah sekali. Bertanja si Umbut Muda: „O ibu udjarku, ibu! bagaimana rundingan ibu — bagaimana djawab nan ibu bawa?

Tarap diambil hari sendja,
dibelah-belah dengan kapak.
Harap rasa akan ada,
tjemas rasa akan tidak.”

Mendjawab ibu si Umbut: „O bujung, anakku bujung!

Sikudjur di Dangung-Dangung,
djatuh sedahan selaranja.
Belum diandjur, 'lah tersandung,
'alamat badan 'kan binasa.

Berkata si Umbut Muda: „O ibu, ja ibuku! katakan benar oleh ibu — kabarkan benar semuanja — apakah kata nan diterima — apakah kata si Gelang Banjak — supaja senang hati hamba. Apa benar nan dienggankan — maka djadi demikian benar?”

„O bujung, dengarkan bujung!” katanja ibu si Umbut. „Lamun setahun dua ini—dia belum akan ber-djundjungan—belum ia akan bersuami—belum terniat hendak berkawan — ia akan meranda sadja. Begitu benar buah katanja — begitu benar buah tuturnja. O bujung, anakku kandung — sungguhpun begitu nan bersua — dengarkan pula kata bunda:

Anak buaja gulung tenun,
masuk kuala Inderapura.
Apakah daja untung belum,
nantikan sadja ketikanja.

Kota Sabak menghadap Tiku,
Tiku menghadap Kotatengah.
Sedang tidak sabar dahulu,
nantikan sadja gerak Allah.

Tak djarak bengkudu lagi,
belum pandan akan bergagang.
Tidaklah niat itu lagi,
belum badan akan tergemang.[1]

usah hati diperusuh — usah hati diperisau — usah bujung tjemas lagi.”

Mendjawab si Umbut Muda: „Benar pula kata ibu — tetapi sedikit jang merasa — jang merasa dihati hamba — patua djua dari ibu: melangkah tak sedang selangkah — berkata tak sedang sepatah — jang sekali diduakan — dua ditjukupkan tiga — tjukup tiga kata putus. Begitu djua jang biasa — begitu djua jang terpakai. Pergilah ibu sekali lagi — minta benar kata putus — djangan terasa-rasa — rasa djuga!”

Mendengar kata demikian — hilang 'akal ibu si Umbut; 'lah sesak rasa kira-kira:

Terketak terketun-ketun,
selempada didalam lubang.
Tertegak tertegun-tegun,
bitjara dibadan seorang.

Rumah gedang sembilan ruang,
puteri duduk diserambi.
Alang sakitnja bertenggang seorang,
bagai menentang langit tinggi.

Akan pergi diri 'lah malu — ta'kan pergi bak mana pula. Karena sajang pada anak — berdjalan djua nan djadi. 'Lah serentang perdjalanan — 'lah dua rentang perdjalanan — tjukup tiga rentang pandjang — hampir dekat akan tiba — tibalah ia dihalaman — dihalaman rumah si Gelang. Mengimbau ibu si Umbut: „O upik Puteri Gelang Banjak, adakah dirumah 'kau kini?”

Menindjau si Gelang Banjak — 'lah tampak ibu si Umbut — berkata si Gelang Banjak:

„Tjempedak tengah halaman,
didjolok dengan empu kaki.
Djangan lama tegak dihalaman,
itu tjibuk basuhlah kaki!”

'Lah naik ibu si Umbut; 'lah sebentar tengah rumah — 'lah dua bentar antaranja — berpantun si Gelang Banjak:

„Berbuah belimbing basi,
berbuah berputik pula.
Bertuah pintu ditepi,
sudah pergi berbalik pula.”

Mendjawab ibu si Umbtut:

„Kain kurik, kain Djawa,
didjahit belum ditjutji.
Maka hamba berbalik pula,
rundingan belum putus lagi.

O kakak ibu si Gelang, dengarkan benar oleh kakak:

Bertanggan berbalik pula.
berdulang berkalang hulu.
Maka hamba berbalik pula,
mengulang kata nan dahulu.”

Berkata ibu si Gelang:

„Sedjak semula hamba latakkan,
tidak diletak dalam padi,
diletak djua dipematang.
Sedjak semula hamba katakan,
tidak diletak dalam hati,
diletak djua dibelakang.

Dirimba tidak bertjapa,
tumbuh dilurah tepi pantai.
Pada hamba tidak mengapa,
tinggal di orang nan 'kan memakai.

Terhadap kepada rundingan itu — djangan dihalakan pada hamba, kakak berundinglah dengan si Gelang — si Gelang nan akan memutuskan.”

Berkata ibu si Umbut: „O upik Puteri Gelang Banjak — upik djawablah kata hamba:

Esa tali dua tidjakkan,
djala putus bawa berenang,
djangan beraga-raga djua.
Esa djadi, dua tidakkan,
kata putus badan 'nak senang,
djangan terasa-rasa djua!”

Berkata si Gelang Banjak: „O ibu dengarkan ibu:

Tuak djua kata hamba,
nira djua kata ibu.
Tidak djua kata hamba,
ia djua kata ibu.

Dengarkan benar oleh ibu — dengarkan benar habis habis — hamba katakan kata hati — hamba beri kata putus. Kononlah tuan Umbut Muda — siang tak mendjadi angan-angan — malam tak mendjadi buah mimpi. Sungguhpun elok tuan Umbut — tahulah hamba akan eloknja — elok karena kain bersalang[2], litjin karena minjak berminta. Djika gedang tuan Umbut — tahulah hamba akan gedangnja—gedang karena tebu lingkaran. Djika kaja tuan Umbut — tahulah hamba akan kajanja, — kaja karena emas pembawa — emas pembawa dari ajahnja — akan gelang kaki hamba takkan sampai. Kononlah tuan Umbut Muda — usah disebut dua kali — tjukuplah sekali ini. Djika tergeser hamba empelas — djika tertangguk hamba kiraikan — djika terbawa hamba antarkan — djika diulang-ulang djua — meremang buku tengkuk hamba. . . .

Kononlah ibu si Umbut — mendengar kata demikian — hati gatal mata digaruk — berdjalan dengan hati iba —berdjalan dengan hati rusuh — berdjalan terentak-entak — berdjalan tertegun-tegun.

Kepundung kulitnja manis,
putjuk sibia-bia tinggi.
Berundung-undung menangis,
apalah kira-kira kini.

Sampai serentang perdjalanan — berhenti ibu si Umbut — duduk bermenung tengah djalan — peluh sudah menganak sungai — mengalir ketulang punggung. Dipikir-pikir dalam hati — dipatut-patut dengan 'akal — terkira pula jang merusuh. Apalah jang dirusuhkannja — apalah jang dirisaukannja?

„Djika datang usul dan siasat — kalau datang tanja dengan sudi — dari si bujung Umbut Muda — apalah akan djawab hamba — apalah akan kata hamba — apalah akan tenggang hamba?” katanja ibu si Umbut. „Kalau dikatakan semuanja — djika diberitakan habis-habis — takut 'kan ia marah nanti; suratan hamba gerangan nan malang — untung hamba gerangan nan buruk. Benarlah bagai pantun orang:

Sikudjur dilingkar tedung,
urat dahan djadi berbisa.
Belum diandjur'lah tersandung,
'alamat badan kan binasa.

Ja Allah, ja Rasulu'llah — bagaimanalah untung hamba ini? Setampan inilah anakku — segombang inilah rupanja — rantjak ada patutpun ada — tumbuh tjatjat berhadapan — orang tidak menenggang awak. Mengapalah begitu benar — gerak Allah gerangan ini.”

Lah sebentar ia bermenung — lah dua bentar ia bermenung — 'lah sabar rupanja hati — 'lah diperbulat kira-kira — berdjalan ibu si Umbut. Dekat makin 'kan hampir — hampir dekat 'kan tiba — tibalah ia tengah halaman — lalu naik sekali. Si Umbut sedang bermenung — sedang melentur-lentur djari — sedang mengerat-ngerat kuku. Bertanja si Umbut Muda:

O ibu, udjarku ibu — bagaimana kata nan didjawab — bagaimana rundingan jang dibawa ?

Tarab diambil hari sendja,
dibelah-belah dengan kapak.
Harap rasa akan ada,
tjemas rasa akan tidak.

Tjoba katakanlah oleh ibu — kabarkan benar oleh ibu: usah ibu sembunjikan — jang benar-benar sadja katakan — supaja senang hati hamba.”

Berkata ibu si Umbut: „O bujung, anakku, bujung — dengarkan benar oleh bujung; djika itu nan engkau tanjakan — djika itu nan engkau siasat — begini udjar si Gelang: „Jang setahun dua ini — belum hamba 'kan berdjunjungan — belum hamba 'kan bersuami — belum berniat hendak berlaki — hamba akan meranda sadja.”

Mendjawab si Umbut Muda: „Mata ibu mengapa bengkak — mata ibu mengapa sembab — rupa ibu mengapa muram — hati apa hati ibu? Hati pelepah malah gerangan — djantung apa djantung ibu? djantung pisang malah agaknja. Tidak nan benar ibu katakan — berdusta ibu malah kiranja.”

Mendengar anak sudah marah — melihat anak sudah berang — dibenarkannja djua nan djadi: „O bujung, anakku bujung — dengarkan benar oleh bujung — 'nak hamba katakan habis-habis — 'nak hamba katakan kata benar — lebih tidak kurangpun tidak. Begitu udjar si Gelang: „Kononlah tuan Umbut Muda — siang tak djadi angan-angan — malam tak djadi buah mimpi. Biarpun elok tuan Umbut — tahulah hamba akan eloknja — elok karena kain bersalang, litjin karena minjak meminta. — Djika gedang tuan Umbut — tahulah hamba akan gedangnja — gedang karena tebu lingkaran. Kalau kaja tuan Umbut Muda — tahulah hamba akan kajanja — kaja karena emas pembawa — emas pembawa dari ajahnja; 'kan gelang kakiku takkan sampai. Kononlah tuan Umbut Muda — usah disebut dua kali — sedanglah sekali ini. Djika tergeser kuempelas — djika tertangguk kukiraikan — djika terbawa kuantarkan — usah diulang-ulang djuga — meremang bulu tengkuk hamba!” Begitu benar bunji katanja — kata puteri Gelang Banjak.”

Mendengar kata demikian — 'lah marah si Umbut Muda — marahnja bukan alang-kepalang — berangnja bukan olah-olah — mengempas-empasksn tangan — meletjut-letjutkan badan — memukul-mukulkan kaki. Disabarkan tidak tersabarkan — dibudjuk tidak terbudjuk; 'lah hilang 'akal ibunja. Berkata ibu si Umbut: „Itu djua jang kusegankan — itu djua jang kuenggankan akan mengatakan semuanja — akan mengabarkan nan sungguh; sudah berdetak djua hatiku — telah terkenang djua olehku — bahasa akan djadi begini — bahasa akan serupa ini.”

  1. 'Tjemas dan ngeri.
  2. Salang=Pindjam.