Citra Manusia Dalam Puisi Indonesia Modern 1920-1960/Bab 3

Citra Manusia Dalam Puisi Indonesia Modern 1920-1960  (1993) 
Tim Penyusun Citra Manusia Dalam Puisi Indonesia Modern 1920-1960
Bab III - Manusia dan Alam

BAB III

MANUSIA DAN ALAM

3.1 Pengantar

Hubungan manusia dengan alam adalah salah satu hal yang mendasar dalam kehidupan manusia. Manusia tidak dapat memisahkan dirinya dari alam. Laut, langit, bulan, matahari, hutan, desir angin, dan bunyi air sungai yang mengalir adalah sebagian dari alam yang melingkungi manusia. Bahkan, di metropolitan yang sarat dengan belantara beton pun, menatap bulan yang terselip di sela-sela pencakar langit akan mampu membangkitkan kenikmatan dan keharuan tersendiri di hati sanubari kita. Jelasnya, bagi manusia—teristimewa bagi penyair—alam adalah sumber inspirasi, sumber gairah hidup yang tak habis-habisnya ditimba.

Alam sebagai sumber inspirasi dan sumber gairah hidup yang tak habis-habisnya itu dalam kehidupan konkret, antara lain, tampak dalam penjelajahan manusia di bulan. Bulan, yang sekian abad yang lain tak tergapai dan hanya bertebaran dalam sajak-sajak sekian banyak penyair, kini merupakan benda angkasa luar yang terjangkau dan dijamah manusia. Ini menunjukkan dinamika manusia dalam memandang alam. Bulan, sebagai misal, yang semula hanya ada dalam bayangan angan manusia—karena jauhnya—kini semakin dekat dengan manusia karena perkembangan teknologi. Berdasarkan perkembangan dinamika manusia dalam memandang alam, kita dapatkan beberapa citra manusia dalam hubungannya dengan alam, yaitu manusia yang bersatu dengan alam, manusia yang menaklukkan atau mendayagunakan alam, manusia yang mensyukuri alam, dan manusia yang sekadar mengagumi kebesaran dan kedahsyatan alam (keindahan atau keganasannya).

Dalam kehidupan nyata, manusia yang bersatu dengan alam mungkin tampak dalam diri manusia yang berupaya untuk hidup selaras dengan alam. Manusia yang menaklukkan dan mendayagunakan alam adalah manusia yang memanfaatkan alam untuk kepentingan kehidupan manusia tanpa merusak alam, sedangkan manusia yang mensyukuri alam pada umumnya memandang bahwa alam adalah karunia sekaligus cerminan kebesaran Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemurah. Sementara itu, terdapat juga penggambaran citra manusia yang mengagumi kebesaran dan kedahsyatan alam.

Dapat dikatakan bahwa masalah hubungan antara manusia dan alam amat menarik perhatian para penyair Romantik. Hal ini sesuai dengan pendirian aliran Romantik yang bersemboyan "kembali ke alam". Oleh karena itu, dalam sajak-sajak para penyair Romantik banyak muncul citraan-citraan alam. Alam di tangan para penyair Romantik dianggap sebagai suatu organisme yang memiliki kehidupan sendiri sehingga mengalami suasana yang berubah-ubah seperti halnya manusia. Akibatnya ialah penyair Romantik menyamakan alam dengan manusia: lukisan alam, citran-citraan alam digunakan untuk menggambarkan dan mengungkapkan perasaan penyair.

Masalah hubungan manusia dengan alam banyak sekali terdapat dalam puisi Indonesia modern. Dari tahun 1920 hingga tahun 1960 penyair Indonesia yang mengungkap masalah hubungan manusia dengan alam antara lain Mozasa, M. Taslim Ali, J.E. Tatengkeng, Asmara Hadi, Hamidah, Sutan Takdir Alisjahbana, Maria Amin, Sanusi Pane, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Asrul Sani, Sitor Situmorang, dan Bahrum Rangkuti. Berikut ini beberapa citra manusia dalam hubungannya dengan alam yang terungkap dalam puisi Indonesia tahun 1920—1960, yang dalam tulisan ini berasal dari 23 sajak. (lihat lampiran 1)

3.2 Citra Manusia yang Bersatu dengan Alam

Dari 23 sajak yang mengemukakan masalah hubungan manusia dan alam terdapat 9 sajak yang mengungkapkan citra manusia yang bersatu dengan alam. Perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan manusia yang bersatu dengan alam adalah manusia yang menganggap dirinya merupakan bagian dari alam, yang berusaha menyelaraskan gerak dan lakunya dengan gerak dan laku alam.

Alam, lewat perubahan-perubahan yang ditampakkannya, bagaikan siklus: ada siang, ada malam, matahari terbit, dan matahari tenggelam. Manusia yang tinggal di dalam alam menerima gejala-gejala alam itu begitu saja, seperti terungkap dalam sajak "Biarkan Dia" A.M.Dg. Mijala:

Kalau matahari sudah terbenam
Gelap malam mulai menjelma
Jangan menyangka wahai teman
Dunia akan kiamat pula.

Esok siang kan terbit pula
Matahari di sebelah Timur

itu ada suatu tanda
Dunia akan kembali makmur.
....

(Pujangga Baru, VIII, No. 9, Maret 1941)

Larik-larik di atas memperlihatkan citra manusia yang pasrah dalam kuasa alam, manusia yang menyatu dengan alam. Manusia yang pasrah dalam menghadapi isyarat alam—apa pun isyarat alam itu—juga terungkap dalam sajak "Kepada Mural" M. Taslim Ali:

....
Karena takhyul
Peninggalan masa,
Yang masih bercabul
Di zaman dewasa,

Menghantukan dikau jadi pembawa,
Dari tanda malapetaka.

....

Karena itu
Mulailah kembali
Bernyanyi berlagu
Menghiburkan hati,

Susah tak susah hiraukan,
Nasib tergenggam di tangan Tuhan.

(Pujangga Baru, No. 9, Maret 1941, Th. VIII)

Dalam larik-larik di atas tampak bahwa kicau mural dianggap sebagai isyarat alam menjelang datangnya malapetaka. Padahal, sesungguhnya—menurut penyair—apa yang terjadi dalam alam itu adalah sepenuhnya kuasa Tuhan dan kicau mural itu sendiri pun sebenarya bagian dari kehidupan alam. Oleh karena itu, dalam sajak di atas tersirat bahwa apa pun isyarat alam itu harus dihadapi dengan kepasrahan. Dengan demikian, kepasrahan dalam sajak "Kepada Mural" lahir karena keyakinan bahwa nasib manusia itu berada di tangan Tuhan.

Sikap pasrah itu juga menggiring manusia untuk menyadari bahwa manusia hanyalah sebagian dari alam sehingga manusia hanya mampu menanti dan menerima apa yang akan terjadi dalam dunia ini, seperti dinyatakan larik-larik sajak "Di Kaki Gunung" Mozasa:

....

Di sini sunyi alam selalu
tempat burung terbang berkibar
tempat dunia tabah menunggu
menanti hidup kan romok mekar.

Di sini sunyi alam selalu
di sini rindu menampung sinar ...

(Pujangga Baru, No. 10, Th. IV, April 1937)

Bila dalam ketiga sajak tersebut tadi kebersatuan manusia dengan alam ditandai dengan kepasrahan dalam menerima dan menghadapi gejala dan isyarat alam, sajak-sajak berikut mengungkapkan keterkaitan dan ketergantungan manusia pada alam sebagai wujud menyatunya manusia dengan alam. Misalnya, sajak Asmara Hadi, "Selamat Tinggal Priangan". Sajak ini berkisah tentang keterpautan hati si aku lirik pada tanah kelahirannya, Priangan. Bukit dan gunung yang hijau berkilau, sawah yang bersusun-susun, alam yang indah, semua itu melekat di hati si aku lirik. Namun, tempat lain memanggilnya meninggalkan tanah kecintaannya, seperti terungkap di bait pertama:

Taman sari, tanah Priangan
Sekarang ini berpisah kita
Karena api hampir berjalan
Selamat tinggal alam jelita,
Negeri lain datang meminta,

Engkau kan hanya tinggal kenangan,
Tempat, di mana mendapat cinta
Akan selalu terangan-angan.

(Pujangga Baru, No. 12. Juni 1934, Th. I)
Sajak "Selamat Tinggal Priangan" Asmara Hadi mengungkapkan keterpautan batin si aku lirik dengan alam karena keindahan alam yang mempesonanya. Sajak berikut ini, "Nelayan Sangihe", karya J.E. Tatengkeng, berkisah tentang keterpautan batin si aku lirik pada alam lingkungannya karena sadar bahwa alam itu sesuatu yang besar dan menafkahinya:

....

O, kumengerti,
Kulihat di sana setitik api!
Itukah menarik matamu ke tepi,
Mengharu hati?

O, kulihat tali,
Yang tak terpandang oleh mata,
Menghubung hati,
Kalbu nelayan di laut bercinta ...

(Rindu Dendam, 1934)

Sajak yang hampir serupa dengan sajak J.E. Tatengkeng, "Nelayan Sangihe", adalah sajak Mozasa, "Harapanku": seorang petani miskin yang berbesar hati melihat bulir-bulir padi menghampar di depan matanya, seperti terungkap berikut ini.

....

Berapa bahagia diriku kini!
Segala kecantikan alam rantau huma
teruntuk buatku seorang,
seorang peladang papa.

....

(Pujangga Baru, Th. II, No. 4, Oktober 1934)

Dari larik-larik di atas tampak bahwa si aku lirik mensyukuri keindahan dan kebesaran alam yang menafkahinya. Kemiskinan, kepapaan tidak lagi menjadi masalah baginya. Karunia alam yang mengalir padanya terasa sebagai suatu nikmat. Dengan demikian, di sini kita temukan citra manusia yang lebur dengan alam dan yang pasrah dalam kekuasaan alam karena meyakini bahwa alam itu menghidupinya.

Kerinduan pada kehidupan yang sederhana, yang alami, yang bertumpu pada harapan-harapan yang sederhana dan dalam gerak hidup yang tidak tergesa terbayang dalam sajak Sitor Situmorang "Senja di Desa":

Senja di desa-desa
Antara kampung-kampung
dan matahari dijunjung
gadis-gadis remaja:
periuk bundar-bundar
tanah liat terbakar
tempaan tukang tua
matahari senja.

Antara sumber air
dan gerbang perkampungan
terlena jalan pasir
pulang dari pancuran ...
gadis-gadis remaja:
Bulan di kepalanya.

(Dalam Sajak, 1955)

Dalam sajak di atas penyair melukiskan suasana senja hari di pedesaan pegunungan. Matahari senja yang akan tenggelam ke balik bukit terasa begitu rendah sehingga gadis-gadis yang akan mandi dan mengambil air di pancuran dengan menjunjung tempayan di kepala seolah-olah ikut menjunjung matahari dengan semburan warna-warni pelangi senja. Mereka melihat keindahan panorama senja karena mereka begitu menyatu dengan alam. Dilukiskan dalam sajak itu, antara gerbang kampung dan sumber air terdapat jalan pasir. Itulah jalan yang mereka lalui sehari-hari untuk mandi dan mengambil air. Dalam lukisan gadis-gadis turun ke pancuran dan kembali ke rumah masing-masing sambil menjunjung tempayan yang telah berisi air itu terasa gambaran gerak yang tidak tergesa. Jalan pasir yang mereka lalui 'terlena' sebagaimana para gadis itu tak lebih panjang bayangan hari depannya dari jalan pasir yang terbentang antara gerbang kampung dan pancuran: 'gadis-gadis remaja:/Bulan di kepalanya'. Dengan demikian, tuntutan hidup mereka masih sederhana: nanti setelah mereka berumah tangga tempayan itu masih setia di kepalanya. Itulah kebahagiaan hidup yang mereka nantikan, mendapatkan suami yang dapat membahagiakannya. Jadi, dalam sajak Sitor ini kita temukan citra manusia yang demikian dekat, akrab, dan menyatu dengan alam.

Ramadhan K.H. dalam sajaknya "Tanah Kelahiran 1" mengungkapkan bahwa keindahan tanah kelahiran baru terasa ketika manusia berada jauh di tanah asing. Kerinduan untuk menghirup udara segar pegunungan, menikmati kemilau embun pagi di pucuk-pucuk daun, jalan setapak yang berkelok, terasa memenuhi dada dan mengundang rasa keindahan tersendiri. Penyair mengungkapkannya demikian.

TANAH KELAHIRAN 1


Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohonan pina,
tembang menggema di dua kaki,
Burangrang - Tangkubanprahu.

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun
Membelit tangga di tanah merah
dikenal gadis-gadis dari bukit.

Nyanyikan kentang sudah digali,
kenakan kebaya merah ke pewayangan.

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di hati gadis menurun.

(Priangan si Jelita, 1965)

Dalam sajak itu, penyair melukiskan kemurnian suasana lingkungan tanah Priangan. Suara suling yang sayup menyusup ke gundukan pohon-pohon pina dalam tingkahan tembang, sedangkan di kejauhan terpancang kukuh Gunung Burangrang dan Tangkubanprahu. Udara segar pagi hari, embun di pucuk daun berkilauan ditimpa sinar matahari pagi bagaikan zamrut. Di lereng bukit tampak membelit jalan tanah liat yang memerah yang sangat diakrabi oleh gadis-gadis yang bekerja di ladang. Suasana permai yang damai itulah yang menggerakkan penyair untuk mengungkapkannya dalam sajak itu.

Kirdjomuljo dalam sajaknya "Di Tepi Desa" juga mengungkapkan suasana alam pedesaan yang tenteram, yang bunyi tabuhan kesenian daerahnya terdengar sampai ke kejauhan. Bunyi-bunyian dan nyanyian itu demikian mempesona si aku lirik sehingga menjadi kenangan yang tak terlupakan, seperti dilukiskan penyair dalam sajaknya yang dikutip berikut ini.

DI TEPI DESA


Nyanyian itu membersit
di antara dahan
membuntuti orang jalan
mendahului jalan pulang

Kakinya satu-satu membekas di tanah
membuat lukisan hati
serupa puisi mendesak-desak
gugur jariku satu-satu
melekat di ujung langkah

Begitu di desa asing
segenap peristiwa
melekat hening
tak mau lepas
tak mau tinggal

(Romansa Perjalanan, 1979)

Nyanyian khas daerah itu amat berkesan di hati si aku lirik dan mewarnai semua peristiwa yang dialaminya selama di daerah itu. Hal itu menunjukkan adanya kesan mendalam yang dialami si aku lirik, yang telah membangkitkan rasa keindahan dan kecintaan terhadap tradisi desa yang disinggahinya itu. Jadi, di sini kita temukan citra manusia yang akrab dengan alam lingkungannya.


3.3 Citra Manusia yang Mendayagunakan Alam

Dari sajak-sajak yang berkaitan dengan masalah hubungan manusia dan alam terdapat 9 sajak yang mengungkapkan citra manusia yang mendayagunakan alam. Sebagaimana terungkap dalam sajak-sajak tersebut, kebesaran dan karunia alam hanya mungkin sampai pada manusia apabila digali, diupayakan. Untuk lebih menemukan kepuasan batin pun, alam yang besar, indah, dan subur perlu digarap sehingga karunia alam terasa sebagai suatu rahmat, seperti diungkapkan Mozasa dalam sajaknya, "Amanat":

Walau panas terik mendiang,
segala unggas berteduh bernaung;
aku tetap mengemudi bajak,
biar 'alam tidak bergerak.

Lagi lembuku ta' tahu jemu,
mengikuti les patuh sekali;
tidakkan aku berpeluk lutut,
mengengkari amanat ibu.

....

Biar panas mendiang membakar,
kukemudikan bajak sukmaku,
mencari segala keindahan...

(Pujangga Baru, Th. II/No 10, April 1935)

Larik-larik sajak Mozasa itu memperlihatkan citra manusia yang teguh dan penuh gairah dalam menggarap karunia alam. Tantangan alam, berupa panas terik yang menyengat, tidak menumbangkan semangatnya. Justru dalam peluh yang berlelehan, tumbuh kuat tekadnya untuk mereguk karunia alam yang hakiki. Jadi, ada kesadaran dalam diri si aku lirik bahwa karunia alam hanya mungkin dinikmati lewat kerja keras.

Citra manusia yang bergairah dalam mengolah alam juga terlukis dalam sajak A. Hasjmy, "Ladang Petani". Dalam sajak ini si aku lirik menemukan kedamaian dan kebahagiaannya karena hidupnya yang dipenuhi dengan kerja: mengolah alam, menggarap ladang—seperti terungkap dalam larik-larik ini.

....

Di tengah-tengah tanaman muda,
Petani berdiri dengan senangnya,
Memandang ladang penuh kekayaan

Tumbuh-tumbuhan banyak macamnya,
Membayang 'kan datang zaman sentosa ...

....

(Kisah Seorang Pengembara, 1936)
'Membayang 'kan datang zaman sentosa...', demikian salah satu larik dalam sajak "Ladang Petani". Bayangan akan datangnya masa depan yang membahagiakan itu tumbuh karena kenyataan alam kita yang kaya, yang memberikan harapan. Harapan pada tanah air yang kaya dan subur itu juga terbayang dalam sajak "Tanah Air" Rustam Effendi:

....

O, tanah airku yang sangat kaya,
bergoa penyimpan logam,
berkolam penerang malam,
bersungai berbatu ratna
lautan menyimpan harta mutiara
O, tanah airku yang sangat kaya.

O, tanah airku yang sangat subur
bertikar bersawah padi,
berladang berkebun kopi,
Berharta di dalam hutan,
membuah usaha bukan buatan.
O, tanah airku yang sangat subur

....

(Percikan Permenungan, 1926)

Larik-larik sajak "Tanah Air" di atas menampakkan puji-pujian pada kekayaan dan kesuburan tanah air. Namun, sajak Rustam Effendi tidak hanya berhenti pada puji-pujian pada kesuburan tanah air. Dalam sajaknya itu, kecintaan si aku lirik pada tanah airnya juga diperlihatkan dengan upaya keras untuk mengolah kekayaan dan kesuburan tanah airnya ('..../membuah usaha bukan buatan,/O, tanah airku yang sangat subur'). Dengan demikian, di sini tampak citra manusia yang berupaya mendayagunakan karunia alam.

Jika dalam sajak-sajak di atas para penyair mengungkapkan corak pendayagunaan alam dengan jalan menampilkan niatan tokoh lirik untuk menggarap karunia alam, sajak-sajak berikut menghadirkan permasalahan pendayagunaan alam dengan warna yang lain. Alam dipandang sebagai sesuatu yang melahirkan kontemplasi bahwa alam itu sumber inspirasi yang mewarnai kehidupan kita. Singkatnya, alam dipandang sebagai suatu teladan dalam memberi makna pada kehidupan ini, seperti dinyatakan Hamidah dalam bait terakhir sajak "Taman Pujangga":

O, bunga teruslah 'gaimana sediakala
jadi suguhan orang yang lalu
O, burung teruslah berlagu
Menggelora dari getaran jiwa.

(Suryadi AG., 1987a: 209)
Dengan meneladan kepada alam itu, secara tidak langsung citra manusia yang tertemukan adalah manusia yang berbakti tanpa pamrih, bagaikan bunga yang jadi suguhan orang lewat tanpa berharap mendapatkan apa pun. Dengan demikian, pendayagunaan alam di sini berupa peneladanan kepada alam, pengambilan hikmah gerak dan hakikat alam. Hal ini antara lain juga tampak dalam sajak M. Taslim Ali, "Kepada Angin Raja Kelana": 'Semangat yang tercinta dan ditakuti/Yang tak berhenti mengembara,/Yang membinasakan dan memperbaharui.' Larik-larik M. Taslim Ali itu memperlihatkan betapa angin yang menerjang, membinasakan pada hakikatnya adalah lambang anti kemapanan. Isyarat-isyarat alam, berupa gejala-gejala alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, sesungguhnya adalah perombakan dan pembaruan yang selalu atas tatanan alam yang mapan. Dengan demikian, badai angin dan topan yang memporak-porandakan isi alam itu pada hakikatnya adalah pembaruan kehidupan yang terus-menerus. Inilah yang kita teladani dari isyarat-isyarat alam, gejala-gejala alam.

Isyarat-isyarat alam seringkali berupa gejala-gejala alam yang ganas, seolah-olah membawa kekuasaan gaib yang tak terpahamkan, sehingga manusia acapkali menjadi buta dan menyangkanya sebagai Tuhan itu sendiri. Padahal, isyarat-isyarat alam itu sesungguhnya alat dan kepanjangan tangan dari Yang Maha Kuasa dalam menunjukkan kuasa-Nya dan dalam berhubungan dengan umat-Nya, seperti terungkap dalam sajak "Kepada Angin" M. Taslim Ali ini.

....

Perestu taman mentari pagi
mesra-merdu,
berwarna-wangi Kasih abadi,
Dalam perjuangan.
yang bolak-balikkan
Gelap dan Caya,
Kau tegap berdiri,
Maha Besar
menyanding Takdir dan Waktu.
Nafasmu mendesau jantung dunia
dengan itu panggilan Kasih Abadi,
Maha Besar,
yang iringkan langkah Adam,
kala merantau ke bumi ini.

....

(Suryadi AG., 1987a: 213)
Dalam sajak "Kepada Angin" di atas terlihat bahwa alam itu merupakan cerminan kekuasaan Tuhan Yang Maha Pencipta, Angin dalam sajak tersebut dapat berlaku garang, bisa pula berlaku lembut. Kegarangan dan kelembutan alam itu dapat dikatakan sebagai isyarat Tuhan dalam berhubungan dengan manusia, tetapi alam dan kedahsyatan geraknya itu bukan Tuhan, seperti dinyatakan dalam bait terakhir.

Kini kutahu
kenapa insan jahiliah, dalam kagumnya,
menjulangkan doa dan puja,

pengemis restu pada cerpumu:
Mereka tuli bagai zamannya, buta,
menyangka Kau Yang Maha Kuasa.

Dengan demikian, dalam sajak "Kepada Angin" tersirat bahwa manusia seharusnya mampu membaca gerak dan laku alam, tidak buta terhadap isyarat Tuhan yang dicerminkan melalui gerak dan laku alam itu. Barangkali benar bahwa gejala-gejala alam itu suatu misteri yang tak terpahamkan, yang selalu penuh rahasia, sehingga manusia terkurung dalam pertanyaan-pertanyaan ketika berhadapan dengan alam, seperti dinyatakan Maria Amin dalam prosa lirisnya "Penuh Rahasia":

....

Mengapa mega kau ta' bersolek lagi? Mengapa langit
melengkung putih kebiruan menolak warna? Mengapa isi
'alam sunyi diam menyambut perubahan siang dan malam?
Bukankah di balik perubahan yang dingin mati disambut
angin bayu menyegar tubuh? Bukankah caya kuning sepuhan
emas nyala bernyala bergantikan sepuhan perak putih ber-
seri merayukan hati? Akh, bukankah si Raja Siang yang
gagah perkasa yang memerintah selama siang itu, diganti
oleh si Dewi Malam? Si Cantik manis akan memerintah se-
malaman dengan belaian sinar yang lembut itu. Dan di sisi
sepuhan perak, berkilau kerlipan permata terhampar di
beledu biru, bersukaria bermain caya.

Bukankah, bukankah ribuan permata intan berlian,
tanding bertanding menguji caya, siapa terindah di antara

berjuta? Memanglah. Tiap-tiap perubahan mengandung penuh
rahasia.

(Suryadi AG., 1987a: 276—277)

Walaupun gejala-gejala alam itu penuh rahasia, manusia tidak mungkin lepas dari alam. Manusia akan selalu berpaling pada alam, larut dalam misterinya, dalam upayanya memahami kehidupan, seperti terungkap dalam prosa liris Maria Amin, "Tuan, Turutlah Merasakan":

Sudahkah pernah tuan melihat awan putih berarak-arak
merupakan tumpukan benda-benda bermacam-macam bentuk,
di langit biru lazwardi?
Perhatikanlah!
Sebentar saja?
Jangan, tuan. Benda putih itu berkaki, berekor, ber-
gigi, berkumis, bergombak. Mata yang galak itu hendak
menerkam. Liliatlah, dia bergerak perlahan-lahan dengan
hati-hati. Terharu jiwa melihatnya.
Aduuh ... janganlah, janganlah, janganlah, menjadi
benda yang berdarah, berdaging, berbulu dan bergigi,
dan akan menjadi sebesar yang dibentukkan awan itu.
....
Tahukah tuan apa yang menjadikan gedung ingatan
tuan?
Tuan, gedung ingatan tuan pada bentukan yang men-
jadikan benda tadi, oleh dan dari alam kenyataan yang
tuan lihat.
Tuhan, aku akan terus-terus melihat dan akan mera-
sakan.

(Suryadi AG., 1987a: 178—279)

Larik terakhir sajak di atas, 'Tuhan, aku akan terus-terus melihat dan akan merasakan', seakan-akan suatu janji si aku lirik untuk senantiasa berpaling pada alam, menjadikan alam itu sebagai sumber inspirasi sekaligus bahan introspeksi dalam menjalani hidup. Jadi, citra manusia yang terbaca di sini adalah manusia yang peka terhadap gerak dan isyarat alam—kepekaannya terhadap gerak dan isyarat alam itu akan mewarnai laku kehidupannya.

Obsesi untuk peka terhadap gerak dan isyarat alam barangkali pula yang melahirkan sajak alegoris "Dengar Keluhan Pohon Mangga" dari penyair yang sama, Maria Amin. Dalam sajak itu, pohon mangga yang dipersonifikasikan, digambarkan harapan-harapannya, cita-citanya, ambisinya, ketakaburannya, dan seterusnya. Dengan demikian, pohon mangga—alam pada umumnya—menjadi sesuatu yang reflektif, tempat manusia berpaling dan berdialog dengannya untuk menemukan diri manusia itu: mengenali kelemahan, ketakaburan, kepahitan, harapan, ambisinya, dan seterusnya. Dan, alam yang selalu bungkam pun akan kita tangkap bahasanya ('O Tuhan, kalau pohon mangga pandai berbicara tentu dia akan bercerita apa yang telah dideritanya waktu tumbuhnya.'). Kalau saja alam pandai berbicara barangkali manusia lebih bisa menangkap semua isyarat alam. Namun, agaknya tak mungkin kita mengharapkan alam memperkatakan dirinya. Untuk itu, berdialog dan bercermin pada alam adalah salah satu upaya manusia dalam mendayagunakan alam, memetik semua nilai yang terkandung dalam alam.

Dengan berdialog pada alam itu, alam yang ganas pun akan tetap memberikan hikmah, tidak mematahkan semangat, seperti diungkapkan Sitor Situmorang dalam sajaknya "Pulau Samosir":

Angin bohorok
Bertiup di lereng bukit
Membawa kekeringan
Membawa kematangan

....

(Dalam Sajak, 1955)

Pulau Samosir yang kering, tandus, berbatu-batu, dan angin bohorok yang memusnahkan tanaman penduduk tidak mengikis harapan hidup penghuni Pulau Samosir, malahan mematangkan sikap mereka. Mereka menjadi tegar dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan alam—menjadi 'bangsa pembajak/lembah-lembah kelabu'. Dengan demikian, dalam sajak "Pulau Samosir" tersebut kita dapatkan citra manusia yang berhasil menaklukkan alam, manusia yang matang oleh tempaan alam.

Apabila dalam sajak "Pulau Samosir" Sitor kita dapatkan citra manusia yang matang karena tempaan alam yang keras, dalam sajak "Tanah Air II" Ajip Rosidi mengemukakan bahwa alam Indonesia yang kaya-raya belum didayagunakan sepenuhnya. Alam Indonesia yang indah itu diibaratkan sebagai seorang gadis jelita yang tertidur pulas. Keindahan tubuhnya yang penuh pesona itu belum dijamah, belum dimanfaatkan untuk kepentingan masa depan kehidupan manusia, karena manusia-manusia yang ada belum sepenuhnya berhasil menaklukkan dan memanfaatkan kekayaan alam itu. Sajak Ajip Rosidi tersebut lengkapnya demikian.

TANAH AIR II



Seorang putri cantik tertidur
Rambutnya indah sepanjang khatulistiwa membujur
Rambut hitam terbantun ombak
Gelung-bergelung, berkilauan mandi sinar mentari
Tangannya lengkung memeluk
Keindahan lembah Priangan
Mengalir dari urat-uratnya impian abadi manusia
Dan bibir indah seolah dalam nyenyaknya
Yang terletak dalam lengkung buah dada
Di mana silang-siur kapal, membongkar dan memunggah
Dalam sungai paling panjang di Kalimantan
Serta dalam lautan paling dalam di Banda
Dalam hutan paling lebat Sumatra
Serta dalam lembah paling curam di Tanah Sunda
Terbayang alam, semesta depan manusia
Begitu indah, putri yang tidur
Begitu nyenyak, begitu lama tak ingat diri
Nafasnya mengalun, memecah di pantai landai
Tenang naik-turun, tapi begitu nyenyak ia!

(Surat Cinta Enday Rasidin, 1960)

Melalui sajak "Tanah Air II" itu sesungguhnya penyair mengungkapkan kecintaan kepada tanah air yang memiliki alam yang kaya dan permai, tetapi belum tersentuh oleh tangan manusia yang membangun dan mengolah kekayaan alam itu. Jadi, secara tersirat sajak Tanah Air 11 berisi ajakan bangkitnya manusia-manusia yang bersedia bekerja keras menggali dan memanfaatkan kekayaan alam tanah airnya.

3.4 Citra Manusia yang Mengagumi Alam

Keindahan dan kedahsyatan alam adalah cerminan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai makhluk yang merasa diri kecil di hadapan Yang Maha Kuasa, manusia hanya bisa terpana dan kagum akan keindahan alam maupun kedahsyatan alam yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa itu. Puisi Indonesia tahun 1920—1960 cukup banyak menampilkan citra manusia yang mengagumi alam. Dari 23 sajak yang berkaitan dengan masalah hubungan manusia dengan alam yang diangkat dalam tulisan ini, terdapat 6 sajak yang mengungkapkan citra manusia yang mengagumi alam.

Dari enam sajak yang menampilkan citra manusia yang mengagumi alam itu terungkap bahwa kekaguman terhadap alam itu dapat juga merupakan perwujudan semangat patriotisme, cinta tanah air, seperti yang terlihat dalam sajak-sajak Muhammad Yamin. Sajak Muhammad Yamin, "Tanah Air", yang ditulis pada tahun 1920, mengungkapkan puji-pujian pada keindahan alam tanah air (yang pada waktu itu konsep tanah air Yamin masih terbatas pada Pulau Sumatra):

Pada batasan, bukit Barisan,
Memandang aku, ke bawah memandang;
Tampaklah hutan rimba dan ngarai;
Lagipun sawah, sungai yang permai;
Serta gerangan, lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk, daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku,
Sumatra namanya, tumpah darahku
.....

(Jong Sumatra, III/4, April 1920)

Menjelang Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, tepatnya pada tanggal 26 Oktober 1928, Muhammad Yamin melalui sajaknya "Indonesia, Tumpah Darahku" memperbarui pandangan kebangsaannya. Dalam sajak Indonesia, Tumpah Darahku itu Indonesia tidak lagi terbatas pada Pulau Sumatra seperti yang tampak dalam sajaknya "Tanah Air". Berikut bait pertama "Indonesia, Tumpah Darahku":

Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai,
Tampaklah pulau di lautan hijau,

Gunung gemunung bagus rupanya,
Dilingkari air mulia tampaknya:
Tumpah darahku Indonesia namanya.

(Suryadi AG., 1987a: 27—29)
Kekaguman akan kebesaran alam yang pada akhirnya melahirkan kecintaan pada tanah air, tanah kelahiran, dengan lebih jelas diungkapkan Yamin dalam sajaknya "Permintaan":

Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku.

Sebelah Timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku.

.....

(Jong Sumatra, IV/6, Juni 1921

Terlepas dari perubahan pandangan kebangsaan Muhammad Yamin yang bergeser dari Sumatra ke Indonesia, ketiga sajak Yamin di atas memperlihatkan citra manusia yang mengagumi alam sebagai perwujudan rasa cinta tanah air. Aku lirik dalam sajak-sajak Yamin itu menyadari bahwa alam yang indah itu terletak di tanah kelahirannya, tanah airnya sehingga sudah selayaknya apabila ia mengagumi dan mencintai tanah airnya.

Selanjutnya, akan dikemukakan tiga sajak yang semata-mata mengungkapkan kekaguman terhadap alam tanpa dikaitkan dengan (pembangkitan) rasa cinta tanah air. Tiga sajak itu adalah "Tenang" karya Muhammad Yamin, "Air Kecil" karya Intoyo, dan "Danau M" karya Toto Sudarto Bachtiar.

Ketiga sajak tersebut pada dasarnya mengungkapkan bahwa keindahan dan pesona alam itu suatu misteri, penuh rahasia yang tak terpahamkan sehingga manusia hanya terpana dan mengaguminya saja. Muhammad Yamin dalam sajaknya "Tenang" melukiskannya demikian:

Ketika matahari sudahlah hilang
Terbenam di pinggir, di tepi danau
Di balik gunung ’alam mulia
Gelaplah bumi, gulita menjalang.

Gunung Salak penuh rah’sia
Sebagai zamrud cerlang-cemerlang

Bertabir awan selang-menyelang
Adun-temadun warna belia.

....

(Sanjak-sanjak Muda Muhammad Yamin, 1954)

Dalam sajak Yamin di atas, Gunung Salak yang indah mempesona itu dikafakan 'penuh rah'sia', karena pada dasamya keindahan alam itu adalah rahasia alam yang sulit terpahamkan oleh akal manusia. Sajak yang hampir serupa dengan sajak Yamin "Tenang", yakni sajak yang semata-mata hanya melukiskan keindahan dan pesona alam, juga tampak dalam sajak "Air Kecil" karya Intoyo. Dalam sajak Intoyo ini dilukiskan bagaimana air kecil yang mengalir itu pada akhirnya menjadi samudra yang luas tak berbatas:

Air kecil girang mengalir,
Menggelincir berdesir-desir,
Berlari-lari mencari kawan,
Tiba di jalan ibu bengawan,
Lambat lakunya menuju samudra,
Tenang mengenang 'kan cita-cita:
Menyelam ke dalam 'kelaman lautan.

(Pujangga Baru, No. 10, Th. IV, April 1937)

Sajak "Air Kecil" Intoyo memperlihatkan betapa dahsyatnya pesona yang ditimbulkan oleh keteraturan siklus alam: samudra yang luas dan dalam itu pada dasarnya adalah kumpulan air kecil yang menyatu. Kenyataan alam seperti itu merupakan sebagian rahasia alam yang menimbulkan pesona dan kekaguman pada manusia.

Pada sajak Toto Sudarto Bachtiar, "Danau M", keindahan alam itu selain menimbulkan pesona juga melahirkan perasaan gamang, seperti terbaca dalam larik-larik berikut:

Serasa pernah kukenal gunung-gunung ini
juga paras danau
Yang tepinya tak kelihatan
Sangat lajunya sekunar berkejaran

Burung-burung terbang siang hari
Air gemersik pelahan meninggalkan daunan

Ada daunan dayu serba 'kan gugur
Yang dahannya langsing melentur-lentur

Semuanya mengacu padaku
Dan sampai pada jamahan tiada berupa
Hidupnya perasaanku pagi ini
Tapi hidupku tak hidup di sini

(Etsa, 1958)

Keindahan "Danau M" yang disaksikan aku lirik ternyata menggugah kenangannya ('Serasa pernah kukenal gunung-gunung ini/Juga paras danau'). Namun, kenangan itu ternyata juga menumbuhkan perasaan gamang, seperti terungkap di bait terakhir: walaupun keindahan danau itu membangkitkan kenangan si aku lirik, tetapi terasa ada jarak yang memisahkan antara si aku lirik dengan keindahan alam yang dihadapinya itu. Pada dua larik terakhir bait terakhir hal itu lebih tegas dinyatakan: 'Hidupnya perasaanku pagi ini/Tapi hidupku tak hidup di sini'. Dengan demikian, dalam sajak "Danau M" ini kita dapatkan citra manusia yang semata-mata mengagumi alam—alam yang pernah lekat dengan dirinya, tetapi alam itu kini telah berjarak dengan dirinya.

3.5 Simpulan

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, alam selalu menarik perhatian para penyair. Di tangan penyair alam dapat menjadi perlambang untuk mengungkapkan berbagai-bagai masalah. Akan tetapi, dalam pembicaraan ini hanya dikemukakan sajak-sajak yang mengungkapkan masalah hubungan manusia dengan alam, dalam arti bagaimana manusia memandang dan memperlakukan alam sebagai bagian dari kehidupannya.

Dari pembicaraan terdahulu ternyata sajak-sajak Indonesia tahun 1920—1960 lebih banyak menampilkan citra manusia yang bersatu dengan alam dan manusia yang menaklukkan/mendayagunakan alam. Dalam hal manusia yang menaklukkan/mendayagunakan alam, selain ada puisi yang menampilkan citra manusia yang secara harfiah menaklukkan/mendayagunakan alam (dengan pengertian alam digali dan digarap untuk kepentingan kehidupan manusia), terdapat pula puisi yang mengungkapkan bahwa sebenarnya alam dapat didayagunakan melalui peneladanan kepada gerak dan hakikat alam itu sendiri.

Sejalan dengan yang dikemukakan di atas dan sejalan pula dengan pertumbuhan masyarakat Indonesia 1920—1960 yang pada umumnya masih bercorak agraris, citraan-citraan alam yang banyak diangkat dalam hubungan manusia dengan alam adalah citraan-citraan alam yang relatif bersifat agraris. Dengan demikian, citraan-citraan yang berkisar pada alam pedesaan dengan kehidupan pertaniannya cukup dominan dalam puisi Indonesia 1920—1960 yang mengemukakan masalah hubungan manusia dan alam.

Cita-cita dan harapan pada modernisasi yang tumbuh di kalangan tertentu masyarakat ternyata agak menggeser citraan-citraan alam yang terdapat dalam puisi. Alam agraris dianggap identik dengan kestatisan hidup, sementara alam yang tidak berasal dari lingkungan agraris dianggap lambang dinamika hidup, misalnya laut. Oleh karena itu, Sutan Takdir Alisjahbana melalui sajak alegorisnya "Menuju ke Laut" mengidentikkan laut sebagai gelanggang perjuangan hidup menuju kemajuan. Akan tetapi, pergeseran citraan alam itu dapat dikatakan terjadi pada sajak-sajak yang tidak mengemukakan masalah hubungan manusia dan alam.