Dr. Soetomo: Riwayat Hidup dan Perjuangannya/Bab 3

BAB III. PERDJUANGAN SOETOMO DALAM KALANGAN PERGERAKAN

Perdjuangan Dr Soetomo dalam pergerakan nasional sangat dipengaruhi oleh sikap dan sifatnja sebagai manusia. Karena itu usaha-usahanja maupun tjita-tjitanja dalam perdjuangan politik sering berdasarkan pada perasaan sosial, rasa sajang kepada sesama manusia, keinginan untuk meringankan beban dan mengentengkan penderitaan manusia, terutama bangsa Indonesia. Untuk membela nasib rakjat, djika dipandang perlu, Dr Soetomo tidak menolak djalan kompromi dengan lawannja dalam poliktik. Itulah sebabnja setengah orang menuduh, bahwa Dr Soetomo adalah seorang pemimpin pergerakan jang tidak mempunjai pendirian jang tetap. Tuduhan itu a.l. disandarkan pada kedjadian, bahwa Dr Soetomo pernah 'mogok', melepaskan keanggotaannja dalam Gemeenteraad Surabaja dan pernah menolak pengangkatan mendjadi anggota Volksraad, sedangkan ia sebagai ketua Partai Indonesia Raja (Parindra) sedjak Juli 1937 menjetudjui duduknja anggota-anggota Parindra dalam Dewan-dewan, seperti Volksraad, Provinciale Raad, Regentschapsraad dan Gemeenteraad. Sebagai pemimpin suatu partai jang mau mempunjai wakil-wakil dalam Dewan-dewan itu, Dr Soetomo termasuk golongan pemimpin jang berhaluan 'cooperation', mau kerdja-sama dengan Pemerintah Hindia-Belanda. Karena itu tidak mengherankan, kaum non-cooperator sering mengeluarkan kritik jang pedas-pedas terhadap sikap dan sepak terdjang partai jang dipimpin oleh Dr Soetomo (P.B.I. dan kemudian Parindra). Dasar buat segala tindakan politik jang diutamakan oleh Dr Soetomo ialah berfaedah atau tidaknja tindakan itu bagi rakjat. Mengenai putusan Parindra dalam bulan Juli 1937 tersebut diatas, jang menetapkan, bahwa partai akan mengizinkan anggotanja memasuki Dewan-dewan perwakilan rakjat, Dr Soetomo pernah memberikan keterangan sebagai berikut:

'Kita tahu, bahwa susunan Dewan-dewan sangat mengetjewakan, karena djumlah anggota bangsa Indonesia ― ditambah dengan anggota bangsa 'Timur Asing' ― kalah dengan djumlah anggota bangsa Belanda atau mereka jang memihak kepada Pemerintah. Lain daripada itu Gubernur Djenderal dapat pula membatalkan putusan Dewan-dewan, bahkan College Gedeputeerden Provinciale Raad berkuasa membatalkan putusan Dewan Kabupaten dan Dewan Kota-besar. Tetapi meskipun demikian, dalam memperdjoangkan kepentingan rakjat, kita harus memakai segala djalan jang mungkin membawa keuntungan bagi rakjat: Adanja wakil-wakil dalam Dewan-dewan itu memberi kesempatan kepada partai untuk memadjukan tuntutan-tuntutan dan pembelaan guna perbaikan nasib rakjat dan pentjapaian kemerdekaan. Suara partai itupun bukan sadja akan didengarkan oleh fihak Pemerintah, melainkan djuga oleh rakjat dengan perantaraan pers. Dengan begitu rakjat akan bertambah sadar dan insaf akan hak-haknja. Kita tidak dapat mengharapkan, bahwa hak-hak politik dan sjarat-sjarat lainnja untuk mentjapai kemuliaan Bangsa dan Nusa akan diberikan sebagai hadiah oleh fihak jang berkuasa. Kemuliaan Bangsa hanja dapat tertjapai dengan kekuatan dan ketjakapan rakjat sendiri. Karena itulah kita harus selalu berdaja-upaja menjentosakan kekuatan dan menambah ketjakapan rakjat dalam organisasi jang teratur, dengan mempergunakan pengaruh pergerakan rakjat didalam maupun diluar badan-badan Pemerintah dan Dewan-dewan perwakilan'.

Adapun usaha Parindra dalam lapangan politik, sebelum menetapkan sikapnja turut tjampur dalam Dewan-dewan itu, berupa kursus-kursus untuk kader dan untuk anggota seumumnja, rapat-rapat protes dan rapat-rapat umum jang biasanja menghasilkan sesuatu resolusi atau mosi. Setelah ada putusan tersebut, oleh departemen urusan politik Parindra ditetapkan adanja bagian-bagian jang bertugas-kewadjiban:

  1. mempeladjari dan memperhatikan hal-hal jang mengenai soal pemilihan anggota untuk Dewan-dewan perwakilan, membangkitkan dan memberi tuntunan untuk berdirinja fraksi nasional serta membangunkan fonds untuk membeajai pemilihan dan memadjukan usul dan andjuran bagi perbaikan pemilihan, perbaikan hak-hak memilih ataupun perluasan banjaknja anggota-anggota dalam Dewan-dewan.
  2. mempeladjari dan memperhatikan soal-soal politik jang ada didalam dan diluar Dewan-dewan, jang dapat didjadikan bahan untuk perdjuangan oleh wakil-wakil partai dalam Dewan-dewan, terutama jang dipentingkan dalam Volksraad.

Berkat adanja rentjana dan usaha jang teratur untuk memperdjuangkan pemilihan buat Dewan-dewan itu, Parindra mendjadi partai jang paling banjak mempunjai wakil-wakil dalam semua Dewan-dewan perwakilan.

Karena kemuntjak perdjuangan politik Dr Soetomo adalah didalam Parindra, jang terdjadi karena fusi antara beberapa partai, jaitu jang terbesar Budi Utomo dan P.B.I., jang keduanja membawa djiwa Dr Soetomo pula, ada baiknja diketahui rentjana-dasar partai itu. Didalam rentjana-dasar Parindra terbajanglah garis besar sikap Dr Soetomo sebagai pemimpin pergerakan. Rentjana-dasar itu tertera sebagai 'Keterangan azas Partai Indonesia Raja', sebagai berikut:

'Tudjuan dan tjita-tjita jang terachir ialah mentjapai Indonesia Mulia. Jang harus dikerdjakan selekasnja: memberikan pendidikan kepada rakjat dalam hal politik, ekonomi dan sosial, sehingga rakjat dalam waktu selekas-lekasnja dapat mendjalankan pemerintahan negeri, sebagai permulaan tjita-tjita kemuliaan Indonesia'.

Berhubung dengan sebutan, bahwa tudjuan dan tjita-tjita terachir ialah mentjapai 'Indonesia Mulia' itu, ada beberapa golongan jang menuduh, bahwa Dr Soetomo tidak menghendaki 'kemerdekaan' bagi rakjat Indonesia, melainkan hanja 'kemuliaan' belaka; bahkan ada golongan jang menjatakan, Dr Soetomo tidak berani mengutjapkan 'Indonesia Merdeka'. Dalam pembelaan terhadap dugaan-dugaan itu diterangkan dari fihak Dr Soetomo, bahwa dalam istilah 'kemuliaan Indonesia' telah termasuk arti 'kemerdekaan Indonesia', karena mustahil suatu bangsa dan negara akan dapat mentjapai kemuliaan, apabila masih terdjadjah, belum merdeka! Sebaliknja, adanja kemerdekaan belumlah merupakan djaminan adanja kemuliaan. Apabila pergerakan nasional sudah mentjapai kemerdekaan nusa dan bangsa, perdjuangan masih harus berdjalan terus untuk mentjapai kebahagian bangsa dan negara. Demikian Dr Soetomo, dan kini kebenaran ini dirasakan orang dengan keadaan Republik Indonesia sekarang ini.

Dalam keterangan azas tadi selandjutnja tertjantum:

'Sjarat-sjarat akan mentjapai tudjuan dalam soal politik:

  1. Susunan pemerintahan jang demokratis, bersandar atas kepentingan dan kebutuhan Indonesia.
b. Alat pemerintahan jang berdasar dan ditudjukan bagi kepentingan Indonesia, serta dipegang sendiri oleh bangsa Indonesia.
c. Kedudukan jang sama bagi segala penduduknja.
d. Hak dan kewadjiban jang sama bagi tiap-tiap orang.

Dalam hal ekonomi: mentjapai alat ekonomi dan mendjalankan perdagangan dengan Luar Negeri.

Dalam kalangan sosial, mentjapai:

a. Perguruan kebangsaan.
b. Kesehatan rakjat.
c. Memadjukan pendidikan djasmani.
d. Hak bekerdja, perlindungan kaum buruh, larangan bekerdja oleh anak-anak, mentjegah keadaan jang tidak baik.

Dalam soal perhubungan kebudajaan dengan Luar Negeri hendak ditjapai tjita-tjita:

a. Memadjukan kerdja-sama dengan negeri luaran dalam berbagai-bagai hal, istimewa tentang kebudajaan.
b. Mengangkat wakil-wakil dinegeri luaran untuk keperluan orang-orang jang tinggal atau bersekolah dinegeri itu.
c. Memadjukan peladjaran bahasa asing dengan mendirikan club bahasa asing.

Pada keterangan azas itu dan pada keterangan-keterangan lebih landjut, nampak betapa diberikan tempat jang longgar sekali kepada usaha ekonomi dan sosial.

Dr Soetomo sendiri berpendapat, bahwa untuk kemuliaan bangsa harus selalu diperdjuangkan lebih dulu perbaikan hidup rakjat dengan djalan memberikan pertolongan dan tuntunan jang njata, dengan mengadakan badan-badan koperasi, badan-badan perdagangan, perhimpunan kaum-tani, sarekat-sarekat sekerdja, bank-bank dan sebagainja. Semua itu harus dilakukan dengan organisasi jang teratur dan dikerdjakan dengan giat, sehingga terdapat pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan untuk bekal kelak, bilamana kemerdekaan mengatur negeri sendiri telah tertjapai.

Tidak hanja soal-soal politik jang diperlukan, tetapiperlu diperhatikan sepenuhnja djuga soal menjusun penghidupan rakjat dengan organisasi jang sebaik-baiknja.

Sedjak masa Studieclub (mulai tahun 1924) Dr Soetomotelah giat berusaha alam lapangan sosial dan ekonomi,jang a.l. menghasilkan pendirian-pendirian seperti: rumah Pondokan Perempuan, Sekolah Tenun, Internat-internat Perlindungan Peladjar, Bank Nasional, dsb.

Djumlah himpunan koperasi, jang mula-mula bagi kota Surabaja hanja ada 9 buah sadja, atas dorongan dan bantuan Dr Soetomo, terutama dizaman adanja P.B.I. (tahun 1930-1935) berkembang mendjadi lebih dari seratus buah dan diluar Surabajapun timbul koperasi-koperasi jang tak terbilang banjaknja, sebagian besar didaerah Djawa Timur dan berudjud 'verbruiks-cooperatie'. Sajang kemudian, terutama disebabkan oleh kurang ulet dan kurang pengalaman, gerakan koperasi itu djadi mundur sekali.

Disamping koperasi-koperasi itu dibangunkan pula Bank Pasar dimana-mana, jang maksudnja a.l. memberantas pemindjaman uang oleh pedagang ketjil kepada kaum 'lintah darat'.

Dimasa itu pula Dr Soetomo dan kawan-kawan seperdjuangannja mengandjurkan gerakan 'Swadeshi' jang disertai dengan pendirian berpuluh-puluh koperasi pemintalan dan pertenunan.

Suatu gerakan jang sangat penting bagi kehidupan kaum tani, mulai dari zaman P.B.I., diteruskan pada zaman Parindra, ialah pembentukan 'Rukun Tani' jang maksud dan tudjuannja: memberi tuntunan kepada kaum tani untuk mendapat kedudukan jang baik dalam masjarakat, dengan djalan:

  1. Mengadakan kursus-kursus dan propaganda untuk menginsafkan kaum tani sebagai warga negara dengan hak-hak dan kewadjibannja.
b. Mempertinggi tjara mereka bekerdja dan mengusahakan pekerdjaannja, serta pula mempertinggi harga-harga hasil pekerdjaan untuk mendapat penghasilan jang lebih luas.
c. Mengadakan organisasi-organisasi, terutama berbentuk koperatif, guna keperluan mentjari bibit tanaman, membeli dan mendjual bahan.

Gerakan ini telah berhasil dengan berdirinja tjabang-tjabang Rukun Tani jang terserak diseluruh Djawa dan ada djuga terdapat diluar pulau Djawa. Dalam masa madju-madjunja gerakan ini, tjabang Rukun Tani Lumadjang menjelenggarakan suatu Pasar Malam Rukun Tani jang mendapat perhatian besar dari segala fihak.

Urusan koperasi, bank, pertanian, disamping pelajaran, keradjinan dan perdagangan dalam Parindra diselenggarakan oleh Departemen Ekonomi dan dipimpin oleh Mr Susanto Tirtoprodjo. Bagian pelajaran telah berhasil membentuk perhimpunan koperasi bagi para pelajar Indonesia dipusat-pusat pelajaran seperti Surabaja, Makasar, Semarang, Djakarta, Palembang, Bandjarmasin, dll. Telah terbentuk pula perhimpunan Rukun Pelajar Indonesia (Rupelin) jang mempunjai kantor-kantor di Surabaja, Makasar, Semarang, Djakarta dan Balikpapan; perahu-perahu Rupelin melajari seluruh lautan jang menghubungkan bagian-bagian kepulauan Indonesia.

Oleh Departemen Sosial Parindra diusahakan a.l.: pemeliharaan kaum miskin, pemeliharaan anak jatim, pemeliharaan kaum penganggur. Dalam usaha sosial itu Dr. Soetomo banjak sekali memberikan bantuan uang sendiri.

Untuk memperdjuangkan perbaikan dalam lapangan sosial, termasuk pula urusan kesehatan rakjat dan perguruan, telah disusun rentjana perdjuangan untuk para anggota partai jang duduk dalam badan-badan perwakilan. Dalam rentjana itu tak dilupakan usaha kearah perbaikan perumahan rakjat, soal air minum bagi rakjat dikota-kota besar, pembikinan tempat mandi dan tempat buang air bagi penduduk kota-besar jang tidak mampu, dan andjuran memperbanjak adanja poliklinik sampai didesa-desa, dsb.

Departemen Serikat Sekerdja jang diketuai sendiri oleh Dr Soetomo berhasil a.l. mendirikan 'Serikat Sopir', 'Serikat Kusir', 'Serikat Buruh Pelabuhan' dan 'Serikat Buruh Pertjetakan'.


Dr Soetomo sangat memperhatikan soal pengadjaran. Telah kita ketahui, betapa ia senantiasa memikirkan pengadjaran bagi adik-adik dan kemanakan kemanakannja; telah kita ketahui, bahwa tudjuan pendirian Budi Utomo semula adalah terutama mempertinggi deradjat pengadjaran bagi para peladjar Indonesia; telah kita ketahui pula, bahwa Dr Soetomo di Surabaja mendirikan Indonesische Studieclub, suatu perhimpunan untuk mempeladjari pelbagai soal kemasjarakatan; dalam keinginannja jang terachir' tak lupa pula berpesan, agar sebagian besar dari harta peninggalannja dipergunakan untuk suatu fonds jang bunganja guna menolong peladjar. Kesemuanja itu menundjukkan dengan djelas, bahwa soal pengadjaran sungguh mendapat perhatian istimewa dari Dr Soetomo.

Waktu Dr Soetomo dalam tahun 1936 melawat keluar negeri, dimana-mana ia memperhatikan soal pendidikan dan pengadjaran; di India ia mengundjungi Santiniketan, di Mesir mengundjungi Al Azhar, di Turki mengundjungi Universitet Ankara, dinegeri Belanda a.l. Universitet Merdeka, di Inggeris memperhatikan kehidupan putera-putera India jang beladjar disana. Karena itu sudah selajaknja ia pada Kongres Perguruan Nasional ditahun 1937 memegang peranan jang penting. Dalam pre-adpisnja diandjurkannja disitu, supaja pemuda-pemuda Indonesia sedapat-dapat melandjutkan peladjaran diluar negeri, terutama di Pilipina, India, Djepang, Mesir dan Turki. Dan untuk itu diandjurkannja, supaja sekolah-sekolah nasional dan sekolah-sekolah pertikelir lainnja mengadjarkan bahasa Inggris, suatu bahasa jang dapat memudahkan urusan meneruskan peladjaran keluar negeri itu.
Dr Soetomo Riwayat Hidup dan Perjuangannya (page 64 crop)
Dr Soetomo Riwayat Hidup dan Perjuangannya (page 64 crop)

ATAS: Makam Dr Soetomo selalu menarik perhatian orang jang baru datang di Surabaja. BAWAH: Presiden Soekarno bersama istri sedang mendoa untuk arwah Dr Soetomo. Andjuran Dr Soetomo itu mendapat sambutan jang hangat sekali dari fihak mereka jang menjetudjuinja maupun jang tidak menjetudjuinja. Dalam tulisan untuk mendjawab fihak jang tak setudju dengan andjuran Dr Soetomo itu, ia a.l. mengemukakan saran, agar Pemerintah Hindia Belanda melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:

  1. menambah djumlah dan djenis perguruan jang tjotjok dengan rentjana kemakmuran dan kelebihan penduduk;
  2. menurunkan uang sekolah dengan maksud agar selaras dengan kekuatan rakjat Indonesia dan memberikan kesempatan anak-anak jang tidak mampu untuk beladjar dengan tjuma-tjuma.
  3. memberikan bea-siswa (studie-beurs) setjara luas dan mengadakan asrama jang murah beajanja bagi murid-murid sekolah menengah dan tinggi, kalau perlu djuga untuk murid-murid sekolah rendah.


Sambutan dari mereka jang menjetudjui andjuran-andjuran Dr Soetomo dalam Kongres Perguruan Nasional itu ialah, bahwa para pemuda Indonesia lebih giat mempeladjari bahasa Inggris dan berbagai sekolah partikelir mentjantumkan bahasa Inggris pada daftar pengadjarannja. Tidak lama sehabis Kongres tersebut mulai banjak pemuda-pemuda pergi keluar negeri, ke Mesir, India, Djepang, untuk meneruskan peladjarannja, terutama dalam pengetahuan vak.

Ketjuali bagi pengadjaran sekolah, Dr Soetomo djuga pengandjur bagi pendidikan masjarakat seumumnja: kursus pemberantasan buta huruf, kursus pengetahuan umum dan penerangan setjara tertulis. Dalam hal penerangan tertulis ini Dr Soetomo menundjukkan kegiatan jang sungguh menakdjubkan: Disamping pekerdjaannja sebagai dokter, sebagai guru sekolah dokter dan sebagai pemimpin partai, masih sempat pula ia menulis karangan-karangan jang sering bersifat penerangan. Buku-buku karangan Dr Soetomo jang sematjam itu ialah misalnja: 'Sesalan Kawin', 1928.

'Perkawinan dan Perkawinan anak-anak', 1928.

'Pelita Buruh'.

'Suluh Sarekat Sekerdja', 1934.

'Puspa Rinontje', 1938.

Usaha Dr Soetomo dalam lapangan penerbitan surat-surat kabar dan madjalah adalah djuga karena terdorong oleh hasrat memberikan penerangan seluas-luasnja kepada rakjat.