Dr. Soetomo: Riwayat Hidup dan Perjuangannya/Bab 4

BAB IV. PERTJIKAN TJITA-TJITA DAN PETUA DR SOETOMO



Agar supaja para pembatja dapat mengukur sendiri betapa sifat, budipekerti dan kejakinan almarhum Dr Soetomo dalam beberapa segi perdjuangan, disini kami sadjikan sekumpulan ketjil daripada kutipan-kutipan diambil dari berbagai buku, madjalah, surat kabar dan pidato Dr Soetomo sendiri.


BEKAL UNTUK PERDJUANGAN

Dari buku ‘Perajaan interinsulair’, 11 Juli 1925.

„Senantiasa berdjuang kemuka djurusan kita, dengan tiada memperdulikan sindiran dan tjela, bahkan tiada menjesali kehilangan dan kekurangan jang harus diderita dari barang-barang jang menjenangkan hidup kita sendiri.”


Kongres Parindra di Djakarta, 15-17 Mei 1937.

‘Jang paling berat ialah memerangi rintangan-rintangan jang ada didalam diri sanubari kita sendiri. Kelambatan dan kelemahan djasmani jang menghalangi dan menjukarkan kemadjuan dan ketjerdasan rochani, harus kita kalahkan’. Pidato Kongres Indonesia Raja, 1 Djanuari 1932.

„..... hanja dengan menundjukkan keperwiraan, kebenaran dan ketulusan hati terhadap pengabdian pada nusa dan bangsa, baharulah kita dapat mengharukan hati rakjat kita, baharulah rakjat pertjaja kepada kita dan suka menjokong perdjalanan kita jang menudju dengan langsung kearah kemerdekaan, agar supaja Bangsa dan Ibu Pertiwi kita dapat tempat didunia ini jang penuh dengan kehormatan dan kemuliaan'.


Suara Parindra', Februari 1938.

‘Kita harus memalingkan muka dan segala kemauan bekerdja kita kepada massa, rakjat murba, jang nasibnja begitu djelek. Djika kita dapat bekerdja bagi mereka, mendjundjung mereka dari kesengsaraannja, tahulah kawan akan kesenangan rasa dan kepuasan hati jang dapat melupakan apa jang kita derita sendiri.


UNTUK RAKJAT

Kongres Perguruan di Solo, 8 Djuni 1935.

'Kami, sebagai saja djuga ini, mulai ketjil hingga keluar dari sekolah tinggi adalah mendapat pengadjaran karena ongkos jang dipungut dari keringat bangsa kita jang melarat dan hidup dalam kegelapan itu. Maka oleh karena itu sudah sewadjibnjalah, karena hutang budi itu, kaum terpeladjar menjediakan fikiran dan tenaga untuk keperluan dan kesedjahteraan rakjat.'


'Suara P.B.I.', 1 Djuli 1932.

'Kita masuk mendjadi anggota dari salah suatu partai politik, karena jakin hanja didalam partai itulah kita akan merasa puas dan senang mengorbankan diri kita untuk melajani rakjat dan keluh kesah Ibu Pertiwi kita.' Kongres Indonesia Raja (pidato), 1 Djanuari 1932.

'Baik keneraka bersama-sama dengan rakjat daripada hidup badan sendiri disorga. Menghamba kepada keadilan dan kebenaran itu bermaksud bekerdja dan berusaha seterusnja dengan ketetapan hati dan melintasi djalan jang membawa kita ke Indonesia Mulia'.


SIKAP ANGGOTA PARTAI

'Suara P.B.I.', 1 Djuli 1932.

'Maka adalah salah bila ada orang jang mengira, bahwa hidup didalam perikatan partai politik itu berarti mengubur inisiatif atau perkembangan perseorangan kita sendiri. Djauh daripadanja. Sumbangan dan kekuatan kita akan terbukti dan berpengaruh didalam kalangan kita sendiri, sedang diluar partai harus hanja ada suara dan kemauan partai. Inilah arti kata mengabdi dan berkorban jang sesungguh-sungguhnja, ialah mengakui dan menundukkan diri kita pada kekuatan dan perasaan jang lebih besar dan mulia daripada kekuatan dan perasaan kita sendiri.'

'Suara P.B.I.', 1 Djuli 1932.

'Putusan umum dari Kongres harus mendjadi kejakinan kita. Terhadap kepada partai kita, kita harus bersikap sebagai Kumbokarno, ialah 'Right or wrong my country'; begitulah sikap bangsa Inggris djuga begitupun seharusnja sikap kita terhadap kepada partai. Betul atau salah: itu bukan soal kita, kita wadjib mendjadi perintah partai kita.'


KAUM PUTERI

Pidato berdirinja P.P.A.J. Surabaja.

'Hendaknja kaum puteri tidak sadja mendjadi sajap kiri pergerakan kita, tetapi dapatlah memberikan tjontoh sebagai ibu sedjati.'

PERDJUANGAN BURUH

Dari bukunja: 'Suluh Sarekat Sekerdja'.
‘Didalam perdjuangan kita harus mengetahui siasat dan politik, dan jang paling perlu ialah mengetahui akan kekuatan kita sendiri dan kekuatan lawan kita.’

Dari bukunja: ‘Pelita Buruh’.
‘Berdjoang berarti berusaha akan merebut kedudukan jang sepadan dengan keadaan kita dimasjarakat ini, dan usaha ini membawa risiko, jang harus kita pikul dengan kegembiraan pula. Pada waktu kemenangan haruslah kita djangan tinggal bersenang-senang dan lupa akan kewadjiban kita. Kemenangan itu adalah berarti mendekati setingkat dari anak tangga jang harus kita naiki lagi. Maka tingkat itu adalah sebuah fondamen, guna meneruskan pemandjatan kita naik terus keatas.’

'Pelita Buruh'.

‘Kekalahan didalam perdjuangan itu bagi kita harus dipandang sebagai pengadjaran guna memperbaiki organisasi, memperbaiki siasat kita, dan sebagainja. Djauhlah kita akan berketjil hati bila mendapat kekalahan dan tamparan dari lawan kita.’

PERSELISIHAN SAUDARA

Kongres Parindra Djakarta, 15-17 Mei 1937.

‘Dengan mengingati peladjaran Kristus (Lucas 11/17, jang maknanja: tiap tiap keradjaan jang memetjah-metjah akan musna, dan sebuah keluarga jang memetjah-metjah sendirinja akan runtuh; Im. S.) dengan mengetahui pula dimanapun djuga didunia ini, karena pertikaian golongan satu dengan jang lain, pekerdjaan nasional kita tidak akan terpelihara, akan tetapi sebaliknja malah mendjadi mangsanja musuh.’ Kongres Parindra Djakarta, 15-17 Mei 1937.

‘Marilah selandjutnja perselisihan-persilisihan kita itu kita pandang sebagai perselisihan saudara, dan tidak kita hembus-hembuskan mendjadi besar dan kita korek-korek pula. Daripada kita membuang-buang waktu dan kekuatan, tenaga untuk bertjakar-tjakar, lebih utama kita mempergunakan waktu jang berharga itu untuk pekerdjaan membangun bersama-sama untuk rakjat kita.’


DASAR KOOPERATIF

Kongres Parindra Djakarta, 15-17 Mei 1937.

‘Didalam lapangan ekonomi bertumpuk-tumpuk pula kewadjiban-kewadjiban baru jang dapat dikerdjakan dengan langkah dan akal jang bulat. Mengingat kemelaratan umum dan kekurangan modal, atau tidak adanja dasar atas adat tolong-menolong dari orang tua terhadap puteranja, maka usaha jang paling gampang dan baik untuk mengganti dan memperbaiki masjarakat itu ialah didasarkan atas adat dan kebiasaan jang sudah ada itu, hanja sadja diperbaharukan dan diatur dengan pengetahuan, artinja membangun masjarakat atas dasar dan perasaan kooperatif, tolong-menolong, tetapi dalam mana tentunja masih ada tempat djuga untuk usaha-usaha seseorang sendiri dan untuk mempunjai milik.’

PERGURUAN NASIONAL

Kongres Perguruan di Solo, 8 Djuli '35.

‘Soal perguruan nasional untuk rakjat adalah soal jang letaknja pada: mentjari dan mendidik guru-guru jang dengan gembira dan rela hati suka mengorbankan dirinja akan hidup sebagai Kyai jang sedjati, jang merasa senang dan puas dengan menjediakan dirinja untuk berkembangnja Nusa dan Bangsa.’

BAHASA INDONESIA

Kongres Parindra Djakarta, 15-17 Mei 1937.

'Dengan sungguh-sungguh harus diusahakan, supaja bahasa interinsulair, bahasa perantaraan antara bangsa-bangsa dikepulauan Indonesia ini, ialah bahasa Indonesia, diakui sebagai bahasa resmi. Sudah tentu dengan sendirinja orang-orang asing jang tinggal disini lantas lebih memperhatikan dan lebih suka mempeladjarinja dengan radjin bahasa kita umumnja.'

Kongres Parindra di Djakarta, 15-17 Mei 1937.

'Kaum terpeladjar harus menaruh perhatian kepada bahasa kita, agar supaja surat-surat kabar dan madjalah-madjalah nasional kita dengan sendirinja akan mendjadi alat jang penting untuk menjampaikan pendapat umum di Indonesia.'

Kongres Parindra di Djakarta, 15-17 Mei 1937.

'... Kita harus mengambil tjontoh dari bangsa Jahudi, jang menghidupkan kembali bahasa Ibrani. Sedang bangsa Turki dan Tsjech kembali menghormati bahasanja sendiri. Tetapi mudjur djuga basa kita ini masih tetap bahasa jang hidup dengan kuat dan suburnja.'


KESENIAN

Didalam rapat Persindo, Surabaja.

'... meskipun kita sekarang hidup dalam kesempitan, toch dalam abad jang belakangan ini ada tanda-tanda, bahwa kita hendak mengusahakan kesenian. Hampir semua gending-gending, lagu-lagu dan njanjian-njanjian menandakan kedjurusan, bahwa kita sedang dalam kesakitan, dan ada pula tanda-tanda kebangkitan nasional.'

Kongres Parindra Djakarta, 15-17 Mei 1937.

'Rakjat kita mempunjai kehendak dan keinginan, jang tiap kali dinjatakan dalam njanjian, tari-tarian dan bunji-bunjian. Biasanja kita kaum terpeladjar mentertawai akan sifat kedesaan, ketjanggungan dan kedjanggalannja. Akan tetapi, marilah kita mengambil sikap lain, dan dengan ketjintaan dapat menerima kurnia jang diberikan oleh rakjat itu kepada kita. Baiklah kita djaga, supaja kesenian rakjat itu mendapat kemadjuan.'


PERS NASIONAL

Pidato Kongres Indonesia Raja, 1 Djanuari 1932.

'Maka pers nasional itu adalah salah satu dari tjabang kehidupan kita jang sebagai tjermin dapat membajang-bajangkan sekalian tjita-tjita, keadaan dan kemauan kita. Pers nasional ialah suatu sendjata jang maha tadjam dan jang amat setia mengabdikan dirinja pada siapa jang mempergunakannja.'


AGAMA

Didalam rapat pendirian P.P.A.J.

'Pergerakan kita tidak berdasarkan agama ini bukan berarti bahwa kita tiada setudju dengan agama dan melarang anggota kita memeluk agama, sekali-kali tidak. Malah kita andjurkan mereka jang kita berikan kemerdekaan memeluk agamanja masing-masing itu menetapi akan kewadjibannja dengan sungguh-sungguh dan mengerdjakan perintah dengan perbuatannja.'


MILISI

Kongres Parindra di Djakarta, 15-17 Mei 1937.

'Pemerintah Hindia-Belanda disini, begitu djuga dinegeri Belanda, telah berulang-ulang mendesak dan mengandjurkan kerdja-bersama. Oleh karena itu apakah buruknja apabila untuk pendjagaan (pertahanan) negeri, baik dilaut, didarat, maupun diudara, digunakan tenaga terpeladjar tjerdik pandai bangsa kita? Tidakkah ini akan mendjadi bukti dari kepertjajaan? Akan tetapi selama ketakutan dan keragu-raguan terdapat dalam pimpinan negeri, selama itu pula sukar dapat diharapkan kemauan jang sungguh-sungguh untuk kerdja-sama dengan saling menambah kekuatan masing-masing itu.'


KRITIK


Pidato Kongres Fusi di Solo.

'Kritik jang sehat dan mempunjai sifat membangun, baik kita perhatikan dan pertimbangkan; tetapi kritik jang memetjah-belah, kita diamkan sadja, sambil bekerdja terus lebih giat menurut kejakinan dan kebenaran.'


BUNGA-BUNGAAN ASING


Terdjemahan kutipan dari kata pengantar Puspita Mantja Negara'.

'Isi buku jang saja beri nama 'Puspita Mantja Negara' ini adalah kumpulan uraian pemandangan saja dinegeri asing jang telah saja tulis disurat kabar, dipilih dan ditambah, mana jang selaras, jang patut diperingati oleh para pembatja, dapatlah kiranja dipakai djadi bahan pertimbangan dalam usaha turut memberikan tanda kebaktian untuk kewadjiban negara dan bangsa sendiri.


Laksana bunga-bungaan, tak semua harum baunja dan indah warnanja, demikianpun puspita dari negeri asing ini tidak semuanja selaras dengan keadaan bangsa kita disini, karena itu harus kita selalu waspada, dapat membeda-bedakan mana jang tjotjok untuk dipakai sebagai pedoman dalam menjatakan kebaktian kita itu.'

DJALAN TERUS


Didalam waktu sudah sakit, dalam Suara Parindra April 1938.

'Kita harus djalan terus, meskipun dengan hati patah. Tidakkah dalam tahun-tahun sekolah kita, kita berbuat demikian? Sebab banjaklah sudah kawan-kawan murid kita sekelas, jang karena beberapa alasan ― baik dari sebab kurang tjakap atau karena kepandaiannja tidak mentjukupi ― harus kita tinggalkan dalam kelas kita itu, sedang kita naik kekelas jang lebih tinggi? Kawan-kawan itu terpaksa kita tinggalkan, karena djika tidak demikian dapat menghalangi tertjapainja tjita-tjita kita jang lebih tinggi.

Demikianlah djuga dalam perdjuangan kita. Banjak dari kawan separtai, jang semendjak dari permulaan perdjuangan berdiri disamping kita, menghadapi segala kesukaran dan dapat menolak atau melalui bahaja, ― achirnja karena beberapa hal tidak dapat meneruskannja. Mereka djatuh dalam masa perdjoangan masih hangat, dan tidak dapat lagi berdiri tegak.

Sebab, jang seorang mementingkan kepada keinginannja untuk dapat hidup sedjahtera dengan keluarganja, seorang lagi ingin naik pangkat, sedang ada pula jang tidak mempunjai perangai dan tidak dapat dipertjaja, apabila kepadanja sudah diserahi kewadjiban jang lebih banjak tanggungannja.

Banjak dari kawan-kawan kita dari dulu, dengan siapa kita bersama menderita kesusahan dan dapat kesenangan, ― jang karena itu lebih kita tjintai dan hargai daripada seorang saudara sendiri — harus kita tinggalkan didjalan, agar supaja tidak menghalangi kemadjuan perdjoangan kita. Djalan terus!'