Jalannya Revolusi Kita

Dimuat dalam buku Dibawah Bendera Revolusi

Saudara-saudara sekalian!

Tiap-tiap 17 Agustus saya berhadapan muka dengan Saudara-saudara yang berada di Jakarta. Tetapi melalui corong radio saya berhadapan suara dengan sekalian Saudara di seluruh tanah-air dan di luar tanah-air. Berhadapan suara dengan seluruh Rakyat Indonesia antara Sabang dan Merauke, dan Rakyat Indonesia di luar-pagar Indonesia, – di perantauan. Dan saya harap, bukan berhadapan suara saja, melainkan juga berhadapan semangat, berhadapan batin. Dan oleh karenanya, mencapai persatuan semangat, persatuan batin.

Persatuan semangat, persatuan batin untuk apa? Persatuan semangat dan persatuan batin untuk mengabdi kepada tanah-air dan bangsa dan Negara. Persatuan semangat dan persatuan batin untuk menyelesaikan Revolusi.

Tahun yang lalu, saya menamakan hari ulang tahun Proklamasi satu hari yang unik. Satu hari yang istimewa, satu hari yang menonjol, satu hari yang luar biasa. Sebabnya ialah: pada hari itu kita membuka halaman baru dalam sejarah revolusi kita, dengan menemukan kembali Revolusi kita, "rediscovery of our Revolution". Dan pada hari itu saya sodorkan kepada Rakyat apa yang sekarang termasyhur dengan nama Manifesto Politik. Satu ideologi dalam perjoangan kita, satu ideologi yang tadinya dikabur-kaburkan orang dan malahan dikhianati orang, dikabur-kaburkan agar supaya dilupakan oleh Rakyat, tetapi yang pada hari 17 Agustus tahun yang lalu itu saya tonjolkan kembali di hadapan Rakyat secara gamblang dan secara tegas. Sekarang, Alhamdulillah, Manifesto Politik itu sudah dikenal oleh Rakyat di mana-mana, sudah dibenarkan dan dicintai oleh Rakyat, meski masih ada saja orang-orang tertentu yang masih gelagepan berusaha untuk mengkabur-kaburkannya atau mendêlêp-dêlêpkannya. Tetapi Insya Allah, bukan Manifesto Politik yang akan kelelep, tetapi mereka itu yang akan kelelep samasekali!

Sebetulnya tiap hari 17 Agustus adalah hari istimewa. Pada hari 17 Agustus selalu kita memperingati Proklamasi Nasional. Pada hari 17 Agustus kita memperingati jasa-jasa pejoang kemerdekaan. Pada hari 17 Agustus kita menundukkan kepala memohon berkat-rakhmat Tuhan bagi pahlawan-pahlawan kita yang telah gugur. Pada hari 17 Agustus kita mengadakan introspeksi kepada diri sendiri, sudahkah kita melakukan segala kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan? Pada hari 17 Agustus kita menyelidiki apa yang sudah kita capai, dan apa yang masih harus dikerjakan. Pendek-kata pada hari 17 Agustus kita mengadakan balans daripada kita punya Perjoangan Nasional.

Tetapi 17 Agustus 1959, – tahun yang lalu -, adalah unik, oleh karena kita, di samping segala hal yang saya sebutkan itu, telah (secara Manifesto Politik) menonjolkan ke muka ideologi daripada perjoangan kita dewasa ini.

Dan kita sekarang telah menginjak 17 Agustus 1960. Marilah kita, sebelum saya meneruskan uraian yang lain-lain, secara kilat menengok kembali ke belakang, kepada hal-hal yang telah lalu.

Saudara-saudara tentunya masih ingat kepada analisa saya mengenai babak-babak Revolusi kita ini. Periodisasi yang saya buat ialah:

1945-1950: periode physical revolution;

1950-1955: periode survival;

1955-sekarang: periode investment. Investment of human skill. Material investment. Mental investment. Dan belakangan ini saya jelaskan dengan jelas: investment-investment itu semuanya adalah untuk socialist construction, investment-investment itu semuanya adalah untuk realisasi Amanat Penderitaan Rakyat.

Investment-investment itu kita kerjakan antara 1955 sampai sekarang, dan harus kita teruskan lagi! Malahan, telah kita kerjakan pula buat sebagian apa yang dengan tegas saya dengungkan tiga tahun yang lalu: bahwa investment-investment itu hanya dapat kita lakukan dalam satu suasana-politik yang cocok, yang favourable, bagi melakukan investment itu; bahwa alam demokrasi liberal samasekali tak cocok, bahkan jahat, bagi investment itu; bahwa demokrasi liberal dus harus kita bongkar samasekali; bahwa Demokrasi Terpimpin harus kita pancangkan teguh-teguh di atas puing-puingnya demokrasi liberal itu.

Ya!, kalau saya membicarakan tahun-tahun yang akhir ini, saya mendengar dalam telinga saya gemuruh gugurnya batu-batu-lapuk daripada gedung liberalisme di Indonesia, dan saya mendengar irama dentamnya palu-godam pembangunan pandemèn gedung yang baru, yaitu Gedung Rakyat, Gedung Sosialisme Indonesia, yang pandemènnya ialah investment-investment itu tadi. Dan terdengarlah pula jerit-mecicilnya penghuni-penghuni gedung yang lama, yang masih mau mempertahan-kan gedung yang lama itu: dewan-dewan partikelir, P.R.R.I., Permesta, R.P.I., Manguni, Liga ini, Liga itu, surat-kabar ini, surat-kabar itu, risalah ini, risalah itu! Gégérlah jerit-mecicil mereka itu!

Ya! Tanpa tèdèng-aling-aling memang saya akui: kita merombak, tetapi juga kita membangun! Kita membangun, dan untuk itu kita merombak. Kita membongkar, kita mencabut, kita menjebol! Semua itu untuk dapat membangun. Revolusi adalah menjebol dan membangun. Membangun dan menjebol. Revolusi adalah "build tomorrow" and "reject yesterday". Revolusi adalah "construct tomorrow", "pull down yesterday". Saya sendiripun tidak mau dikatakan mandek. Saya ingin tetap seirama dengan gelombangnya Revolusi. Revolusi adalah laksana gelombang samudra yang selalu mengalir, laksana taufan yang selalu meniup. Ingatkah Saudara semboyan Revolusi yang saya berikan tempohari: mandek-amblek, mundur-hancur?

Revolusi Amerika, Revolusi Perancis, Revolusi Rusia, Revolusi Tiongkok, semuanya mempunyai penjebolan dan pembangunannya sendiri-sendiri. Penjebolan-penjebolan dan pembangunan-pembangunan itu adalah ibarat geloranya gelombang-gelombang Lautan yang Besar. Tidak seorangpun dapat menentang gelombang-gelombang itu, sebab menentang gelombang berarti menentang Lautan itu sendiri. Siapa menentang gelombang lautan, (dus menentang Lautan itu sendiri), ia akan lenyap-binasa oleh dahsyatnya tenaga Lautan itu sendiri!

Ya, saya ulangi, saya ingin tetap seirama dengan gelombangnya Revolusi. Karena itu saya tidak menentang gelombang, tetapi sebaliknya saya malahan sebagai Presiden berusaha mengemudikan bahtera Negara sehaluan dengan gelombangnya Revolusi. Dan haluan itu adalah Haluan Negara yang terwedar dalam Manifesto Politik.

Kaum reaksioner yang saya sebut tadi itulah menentang gelombang. Nasib mereka telah tertulis di atas dahi mereka masing-masing. Sekarang mereka masih mencoba segala coba untuk merem Kereta Jagannatnya Revolusi, tetapi nanti mereka akan digilas oleh Kereta Revolusi itu!

Mereka memang orang yang bukan-bukan! Dalam usahanya untuk membelokkan Revolusi ke arah kepentingan mereka, mereka berkata bahwa Revolusi Indonesia gagal. Saudara-saudara masih ingat apa yang dikatakan oleh Kartosuwiryo dulu? Untuk membuat landasan bagi proklamasi daripada iapunya N.I.I. ("Negara Islam Indonesia"), ia lebih dulu mengatakan bahwa Revolusi Indonesia gagal! Nah persis demikian pulalah apa yang diperbuat oleh penjerit-penjerit dan pemecicil-pemecicil model baru ini. Mereka pun mengatakan bahwa Revolusi Indonesia gagal!

Apa yang gagal?!! Revolusi Indonesia tidak gagal, dan tidak akan gagal, selama Rakyat Indonesia setia kepada tujuan Revolusi dan setia kepada Amanat Penderitaan Rakyat. Revolusi Indonesia tidak gagal, karena kita berjoang terus untuk melaksanakan cita-cita Revolusi Agustus '45, yakni untuk Indonesia yang merdeka-penuh bersih dari imperialisme, – untuk Indonesia yang demokratis bersih dari sisa-sisa feodalisme, – untuk Indonesia bersosialisme Indonesia, bersih dari kapitalisme dan exploitation de l’homme par l’homme".

Sekali lagi Revolusi Indonesia tidak gagal! Yang gagal adalah orang-orang yang tidak mengenal tujuan Revolusi, orang-orang yang tidak mengenal Amanat Penderitaan Rakyat, bahkan hendak menghalangi pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat. Yang gagal adalah mereka itulah, kaum reaksioner, kaum sinis, kaum over-intellektualis, kaum yang kekayaannya sudah ”binnen", kaum "vested interest", kaum yang menjerit-jerit dan matanya mecicil-mecicil karena segala kubu-kubu-kepentingannya dan segala kubu-kubu-pertahanannya satu per satu ambruk dan gugur. Partai-partai mereka yang tidak mempunyai akal wajar dalam masyarakat ambruk dan gugur; persekutuan-persekutuan mereka yang berjiwa reaksioner dan bersekongkol dengan petualang-petualang asing dan P.R.R.I./ Permesta/R.P.I. ambruk dan gugur; N.V. N.V. mereka yang menggendutkan perut mereka dengan menggaruk kekayaan Rakyat, ambruk dan gugur; lembaga-lembaga-pengetahuan dan lembaga-lembaga-persurat-kabaran mereka yang penuh dengan blandisme dan textbook-thinking, ambruk dan gugur; – ambruk dan gugur, runtuh berantakan karena gilasannya Kereta Jagannat Revolusi, gilasan Rakyat yang Revolusioner, gilasan Rakyat yang berjiwa Manifesto Politik dan USDEK.

Hanya bagi mereka yang ingin membangun kapitalisme dan feodalisme di Indonesia-lah, Revolusi adalah gagal! Bagi kita, bagi Rakyat-jelata Indonesia, bagi kita, Revolusi belum selesai, dan oleh karena itu, kita berjalan terus untuk melaksanakan cita-cita Proklamasi. Revolusi kita bisa gagal, kalau kita tidak sungguh-sungguh melaksanakan cita-cita Proklamasi, tidak sungguh-sungguh melaksanakan Manifesto Politik, tidak sungguh-sungguh melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat!

Karena itu sebenarnya adalah amat gila, jika sekarang orang sudah bicara tentang gagal atau tidak gagalnya Revolusi!

Ada yang menjawab: Toh sudah limabelas tahun Revolusi kita ini? Tidakkah limabelas tahun cukup lama untuk membuat pernilaian?

Saudara-saudara! Dalam perjoangan penghidupan sesuatu bangsa, dalam pertumbuhannya dan konsolidasinya, 15 tahun sebenarnya baru merupakan suatu permulaan saja. Sering sudah saya katakan, bahwa Revolusi jangan diukur dengan hari dan dengan tahun. Revolusi harus diukur dengan windu-windu atau dengan penggandaan-penggandaan daripada windu. Limabelas tahun barulah merupakan satu phase pertama, – paling-paling merupakan akhirnya phase pertama, paling-paling "the end of the beginning", – yang harus disusul dengan phase-phase lain yang tidak kurang hebatnya dan dahsyatnya. Terus-menerus usaha Revolusi itu berjalan, terus-menerus satu phase disusul oleh phase yang lain, sesuai dengan ucapan saya bahwa "for a fighting nation there is no journey's end".

Inilah yang tempohari saya namakan dinamikanya Revolusi! Dan bagi siapa yang mengerti jalannya Revolusi, bagi siapa yang ikut-serta dalam maha-arusnya secara aktif, bagi siapa yang secara positif dan konstruktif memberi sumbangan kepadanya, (tidak menentangnya, atau menghambatnya, atau gelagepan memutar-balikkannya, seperti kaum reaksioner itu tadi), bagi mereka yang ikut-serta dalam maha-arus Revolusi itu tadi, maka dinamika Revolusi itu menjadilah satu Romantik yang amat menggiurkan jiwa, – menarik, menggandrungkan, inspirerend, fascinerend. Well, dengan terus-terang saya berkata: saya tergolong dalam golongannya orang-orang yang tergandrung oleh Romantik Revolusi itu, saya inspired olehnya, saya fascinated olehnya, saya habis-habisan tergendam olehnya, – saya tergila-gila, saya kranjingan Romantiknya Revolusi itu! Dan untuk itu saya mengucapkan Alhamdulillah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam!

Ada orang-orang yang tidak mengerti Logika Revolusioner. Itulah orang-orang yang ditengah jalan berkata: Revolusi sudah selesai. Padahal Revolusi belum selesai, dan masih berjalan terus, terus dan sekali lagi terus. Logika Revolusioner ialah, bahwa: sekali kita mencetuskan Revolusi, kita harus meneruskan Revolusi itu sampai segala cita-citanya terlaksana. Ini secara mutlak merupakan Hukum Revolusi, yang tak dapat dielakkan lagi dan tak dapat ditawar-tawar lagi! Karena itu, jangan berkata "Revolusi sudah selesai" padahal Revolusi sedang berjalan, dan jangan mencoba membendung atau menentang atau menghambat sesuatu phase Revolusi padahal phase itu adalah phase-kelanjutan daripada Revolusi!

Ada pula orang-orang yang yah mengerti dan setuju dengan semua phase-phase, tetapi mereka bertanya: "Apakah perlu kita selalu mengkobar-kobarkan saja semangat Revolusi, apakah perlu segala hal kok harus dikerjakan secara revolusioner?" "Apakah tidak bisa dengan cara yang lebih sabar, apakah tidak bisa dengan cara alon-alon asal kelakon?"

Amboi!, "alon-alon asal kelakon"! Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin, kalau kita tidak mau digilas oleh Rakyat! Tahun yang lalu sudah saya tegaskan: janganlah ada di antara kita yang mau mengamendir atau memodulir dasar dan tujuan Revolusi. Sekarang saya menegaskan lagi: janganlah ada di antara kita yang mau mengamendir atau memodulir Semangat Revolusioner! Sekalipun kita sudah 15 tahun dalam Revolusi, ya sekalipun kita nanti sudah 25 tahun atau 35 tahun atau 45 tahun dalam Revolusi, saya berkata: janganlah ada di antara kita yang mau mengamendir atau memodulir Semangat Revolusioner! Sekali lagi saya ulangi apa yang saya katakan tahun yang lalu, bahwa kesadaran sosial daripada Rakyat dimana-mana, di seluruh muka bumi ini, adalah sama, dan amat tinggi sekali. Jangan silap tentang hal itu, jangan selip tentang hal itu! Kesadaran Rakyat inilah yang menuntut, mendesak, bahwa segala keadaan atau perimbangan yang tidak adil harus dirombak dan diganti secara tepat dan cepat, secara lekas, secara revolusioner. Jika tidak dirombak dan diganti secara cepat dan lekas, maka Kesadaran baru ini akan meledak laksana dinamit, meledak laksana Gunung Rakata dalam tahun 1883, dan akan berkobar-kobar menjadi pergolakan yang mahadahsyat, yang malahan dalam abad ke-XX ini mungkin pula mengancam perdamaian dunia dan perimbangan ekwilibrium di seluruh dunia.

Lihat kejadian-kejadian di Asia Timur! Lihat kejadian-kejadian di Amerika Latin! Lihat kejadian-kejadian di Afrika, itu benua yang tadinya orang menyangka bahwa rakyatnya belum mempunyai kesadaran samasekali!

Alangkah mlésétnya sangkaan itu!

Dalam pidato 17 Agustus 1959 itu, saya sudah berkata, bahwa Rakyat di mana-mana ingin membebaskan diri secara revolusioner dari tiap belenggu kolonialisme; bahwa Rakyat di mana-mana ingin secara revolusioner menanamkan dasar-dasar materiil untuk satu kemakmuran yang lebih adil; bahwa Rakyat di mana-mana secara revolusioner ingin melenyapkan segala pertentangan-pertentangan sosial yang disebabkan oleh feodalisme dan kapitalisme; bahwa Rakyat di mana-mana secara revolusioner ingin memperkembangkan kepribadian Nasional; bahwa Rakyat di mana-mana secara revolusioner ingin melenyapkan segala bahaya atau ancaman terhadap perdamaian dunia, – menentang percobaan-percobaan bom atom, menentang pakta-pakta peperangan, menentang Batista, menentang Menderes, menentang Syngman Rhee.

Dunia sekarang ini gudang mesiu revolusioner. Dunia sekarang ini mengandung listrik revolusioner. Dunia sekarang ini "revolutionnair geladen". Tiga-perempat dari seluruh umat manusia di muka bumi ini, kataku dalam pidato tahun yang lalu, berada dalam alam revolusi. Belum pernah sejarah umat manusia mengalami suatu Revolusi seperti sekarang ini, – mahahebat dan mahadahsyat, mahaluas dan universil, – satu Revolusi Kemanusiaan yang secara serentak-simultan menggelora menggelédék-mengguntur di hampir tiap pelosok dari permukaan bumi.

Dan kita mau uler-kambang-uler-kambangan? Mau "alon-alon asal kelakon"? Mau memetéti perkutut-manggung, sambil minum air téh yang nasgitel, sebagai yang diémat-ématankan oleh itu orang-orang yang mengadakan konkoers-konkoers burung perkutut?

Sadarlah hai kaum yang menderita revolusi-phobi! Kita ini sedang dalam Revolusi, dan bukan satu Revolusi yang kecil-kecilan, melainkan satu Revolusi yang lebih besar daripada Revolusi Amerika dahulu, atau Revolusi Perancis dahulu, atau Revolusi Sovyet sekarang. Setahun yang lalu sudah saya cetuskan bahwa Revolusi kita ini ya Revolusi Nasional, ya Revolusi politik, ya Revolusi sosial, ya Revolusi Kebudayaan, ya Revolusi Kemanusiaan. Revolusi kita kataku adalah satu Revolusi Pancamuka, satu Revolusi multi kompleks, satu Revolusi yang "a summing up of many revolutions in one generation". Satu tahun yang lalu saya berkata, bahwa dus kita harus bergerak-cepat, harus lari laksana kranjingan, harus revolusioner-dinamis, harus terus-menerus "tanpa ampun" memeras segala akal, segala daya-tempur, segala daya-cipta, – segala atom keringat yang ada dalam tubuh kita ini, agar hasil Revolusi kita itu dapat mengimbangi dinamik kesadaran-sosial yang bergelora dalam kalbunya masyarakat umum.

Apalagi jika kita insyafi, bahwa Revolusi Indonesia ini adalah merupakan bagian daripada Revolusi Besar yang menghikmati ¾ daripada umat manusia itu! Apalagi jika kita melihat, bahwa langit di Timur sudah Bang Wetan, di Barat sudah Bang Kulon, di Utara sudah Bang Lor, bahwa langit-langit di sekitar kita itu semuanya sudah laksana Kobong, maka haramlah bagi kita untuk uler-kambang-uler-kambangan, haram bagi kita untuk "alon-alon asal kelakon", haram bagi kita untuk memelihara revolusi-phobi!

Lihat dan perhatikan! Suatu Negara yang tidak bertumbuh secara revolusioner, tidak saja akan digilas oleh Rakyatnya sendiri, tetapi juga nanti akan disapu oleh Taufan Revolusi Universil yang merupakan phenomena terpenting daripada dunia dewasa ini. Ini tidak hanya mengenai Indonesia, ini juga tidak hanya mengenai bangsa-bangsa lain yang sedang berada dalam masa peralihan dan pertumbuhan, – ini mengenai segala bangsa. Juga negara-negara dan bangsa-bangsa yang sudah kawakan, juga negara-negara dan bangsa-bangsa yang merasa dirinya sudah "gesettled", akhirnya nanti digempur oleh Taufan Revolusi Universil itu, jika mereka tidak menyesuaikan dirinya dengan perobahan-perobahan dan pergolakan-pergolakan ke arah pembentukan satu Dunia-Baru, yang tiada kolonialisme di dalamnya, tiada exploitation de l'homme par l'homme, tiada penindasan, tiada penghisapan, tiada diskriminasi warna kulit, tiada dingkik-mendingkik satu sama lain dengan bom atom dan senjata thermonuclear di dalam tangan.

Inilah sebabnya maka saya, yang diserahi tampuk pimpinan perjoangan bangsa Indonesia, tidak jemu-jemu menyeru dan memekik: selesaikan mas’alah nasional kita secara revolusioner, gelorakan terus semangat Revolusioner, jagalah jangan sampai Api Revolusi kita itu padam atau suram walau sedetikpun juga. Hayo kobar-kobarkanlah terus Api Unggun Revolusi itu, buatlah diri kita menjadi sebatang kayu di dalam Api Unggun Revolusi itu!

Saudara-saudara!

Kita sekarang memasuki tahun yang ke – XVI dari Kehidupan Nasional kita. Alangkah banyaknya dan beraneka warnanya pengalaman-pengalaman kita dalam limabelas tahun yang lampau itu. Segala macam "rasa", segala macam "keberuntungan" sudah kita alami. Kegembiraan, kepedihan, kemajuan-kemajuan, harapan-harapan, kekecewaan-kekecewaan, rasa pahit, rasa getir, rasa manis, rasa cemas, rasa sukses, rasa unggul, rasa babak-bundas, semua sudah kita alami. Dan tiap tanggal 17 Agustus kita membuat satu peninjauan-kembali daripada pengalaman-pengalaman itu. 17 Agustus sekarang inipun satu saat baik untuk membuat balans daripada plus-plusnya dan minus-minusnya tahun yang lalu.

Sebaiknya peninjauan saya itu saya lakukan dengan memakai kacamata: a) apa yang merupakan pertumbuhan normal dalam Revolusi kita; b) apa yang merupakan pertumbuhan abnormal-baik dalam Revolusi kita itu, sehingga menjadi satu kebanggaan nasional; c) apa yang merupakan hal-hal yang kurang memuaskan dalam perjoangan.

Saya tidak akan membuat penggolongan-penggolongan apa yang masuk a, apa yang masuk b, dan apa yang masuk c, tetapi dalam peninjauan kembali saya itu, saya akan memakai kaca-mata itulah.

Pertama saya hendak bicara lagi tentang Manifesto Politik.

Dengan terus-terang harus diakui di sini, bahwa ketegasan kita mengenai ideologi nasional ini agak lambat datangnya, disebabkan oleh hal-hal di dalam negeri, dan hal-hal di luar negeri.

Apa hal-hal yang melambatkan itu?

Di dalam negeri kita terganggu oleh kenyataan bahwa tidak lama sesudah kita mengadakan Proklamasi, timbul dualisme dalam pimpinan bangsa. Pimpinan Revolusi dipisahkan dari pimpinan Pemerintahan. Pimpinan Revolusi malahan dilumpuhkan (di-verlamd-kan) oleh pimpinan Pemerintahan. Ia kadang-kadang dijadikan sekadar "tukang stempel". Ia sering sekali tabrakan faham dengan pimpinan Pemerintahan. Ia di"trias-politica-kan" bukan saja, tapi dalam bagian eksekutif daripada trias-politica itupun ia sekadar dijadikan semacam Togog. Ini, menurut pentolan-pentolannya sistim itu, dinamakan "hoogste wijsheid" dalam alam demokrasi. Ya!, demokrasinya liberalisme! Demokrasinya Belanda! Demokrasinya negara-negara Barat, yang an sich demokrasi di sana itu adalah anak-kandung dan ibu kandung daripada burgerlijk kapitalisme!

Dan apa akibat daripada dualisme itu? Bukan saja Rakyat menjadi bingung, bukan saja Rakyat kadang-kadang menjadi putus-asa karena tak mengerti mana pimpinan yang harus diikut, – misalnya di satu fihak dikatakan Revolusi belum selesai, di lain fihak dikatakan Revolusi sudah selesai; di satu fihak dikatakan Irian Barat harus diperjoangkan secara machtsaanwending yang revolusioner, di lain fihak dikatakan Irian Barat harus diperjoangkan secara ”perundingan baik-baik” dengan Belanda – , bukan saja dualisme ini membuat Rakyat menjadi bingung, tetapi lebih-lebih lagi keadaan semacam itu makin lama makin membahayakan Revolusi sendiri.

Nah, untuk menyelamatkan Revolusi itulah, maka dualisme ini harus selekas mungkin dihapuskan. Dan untuk menyelamatkan Revolusi itu juga, maka satu ideologi nasional yang membakar menyala-nyala dalam kalbu, perlu sekali ditegaskan. Untuk menyelamatkan Revolusi itulah maka pimpinan Revolusi dan pimpinan Pemerintahan dipersatukan, untuk menyelamatkan Revolusi itulah maka Manifesto Politik dengan intisari USDEK-nya, didengung-dengungkan.

Ada orang menanya: "Kenapa Manifesto Politik?" "Kan kita sudah mempunyai Pancasila?"

Manifesto Politik adalah pemancaran daripada Pancasila! USDEK adalah pemancaran daripada Pancasila. Manifesto Politik, USDEK, dan Pancasila adalah terjalin satu sama lain, – Manifesto Politik, USDEK, dan Pancasila tak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika saya harus mengambil qias agama, – sekadar qias! -, maka saya katakan: Pancasila adalah semacam Qur'annya, dan Manifesto Politik dan USDEK adalah semacam Hadis-shahihnya. (Awas! saya tidak mengatakan bahwa Pancasila adalah Qur'an, dan bahwa Manifesto Politik-USDEK adalah Hadis!), Qur’an dan Hadis-shahih merupakan satu kesatuan, maka Pancasila dan Manifesto Politik dan USDEK pun merupakan satu kesatuan!

Masih saja ada orang yang menanya: "Apakah Pancasila saja tidak cukup?"

Pertanyaan ini sama saja dengan pertanyaan: "Apakah Qur'an saja tidak cukup?"

Qur'an dijelaskan dengan Hadis, Pancasila dijelaskan dengan Manifesto Politik serta intisarinya yang bernama USDEK.

Kecuali daripada itu, sebagai akibat daripada dualisme yang mendatangkan segala macam kompromis dan kelembekan dan kekurangtegasan dan keulerkambangan dan kekhianatan dan ke Togogan itu tadi, maka Pancasila makin lama makin dijadikan perkataan di bibir saja, tanpa isi yang membakar cinta, tanpa arti yang menghidup-hidupkan semangat dan keyakinan, tanpa bezieling yang membakar-menggempa-meledak-ledak dalam kalbu dan dalam jiwa. Ini berarti, bahwa makin lama makin kita merasa kehilangan satu ideologi nasional, atau satu Konsepsi Nasional, yang jelas, tegas. terperinci.

Selama kita masih dalam periode pertempuran, – periodenya physical revolution, maka kurang tegasnya ideologi nasional dan Konsepsi Nasional itu tidak begitu dirasakan. Tetapi sesudah kita memasuki periode melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, maka Konsepsi Nasional itu mutlak diperlukan.

"Tanpa theori revolusioner, tak mungkin ada gerakan revolusioner", kata seorang pemimpin besar. Tanpa Ideologi Nasional yang terpapar jelas dan Konsepsi Nasional yang tegas, kita kata, tak mungkin sesuatu bangsa memperjoangkan dan membina iapunya Hari Depan yang berencana. Di hadapan Konstituante dulu pernah saya sitirkan: "Een revolutie kan ontketend worden door een stelletje heethoofden, ze kan alleen voleindigd worden door werkelijke revolutionnairen". "Suatu Revolusi bisa dicetuskan oleh beberapa orang kepala-panas, – ia hanya dapat diselesaikan oleh orang-orang revolusioner yang sejati". Nah, Revolusi kita itu dulu mungkin, pada permulaannya, ikut-ikut dicetuskan oleh orang-orang yang "kepala-panas". Sayang sekali ia kemudian zoogenaamd dipimpin oleh orang-orang yang "kepalanya terlalu dingin", yang saking dinginnya kepala, menjalankan segala macam kompromis dan keulerkambangan! Sekarang, meski agak terlambat, tibalah saatnya yang pimpinan Revolusi itu dilakukan oleh "orang-orang revolusioner yang sejati" dengan berpegangan kepada Proklamasi '45, kepada Pancasila, kepada Manifesto Politik, kepada USDEK.

Dengan pimpinan "orang-orang revolusioner sejati" itu, maka Semangat Revolusi tetap dikobar-kobarkan, tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik! Dengan pimpinan "orang-orang revolusioner sejati" itu yang berpegangan tanpa pengkhianatan kepada Proklamasi, kepada Pancasila, kepada Manifesto Politik, kepada: USDEK, maka kita selalu merasa hidup dan berjoang dan bertumbuh di atas Rél Revolusi, di atas Rél Ideologi dan Konsepsi Nasional dengan mengerti-jelas dan mencintai mati-matian dan dus memperjoangkan mati-matian segala tujuan Revolusi, – yaitu ya tujuan politik, ya tujuan ekonomi, ya tujuan sosial, ya tujuan kebudayaan, – buat tingkatan yang sekarang, buat tingkatan-depan yang dekat, buat tingkatan-depan yang terakhir, – tingkatan Finale, yang Merdeka-Penuh, Makmur-Penuh, Adil-Penuh, Damai-Penuh, Sejahtera-Penuh, sesuai dengan Amanat Penderitaan Rakyat, dan sesuai dengan ujaran-ujaran nénék-moyang kita: "gemah-ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja"!

Camkanlah hai Rakyat Indonesia, camkan dalam dadamu dan dalam fikiranmu: Suatu Revolusi hanya dapat berlangsung dan berakhir secara baik, jika ada:

Satu pimpinan Revolusi yang revolusioner.

Satu Ideologi dan Konsepsi Nasional yang revolusioner, jelas, tegas, terperinci.

Tanpa itu, jangan harap Revolusi bisa berjalan baik. Tanpa itu, Revolusi pasti kandas di tengah jalan. Tanpa itu, malah mungkin Revolusi lantas kembali kepada keadaan-keadaan sebelum Revolusi!

Tahukah Saudara-saudara apa yang dikatakan oleh seorang bangsa asing waktu melihat Revolusi dipimpin oleh orang-orang ahli kompromis? "Do not be afraid of that kind of revolution! It is just the prelude of the pre-revolutionary days!" – "Janganlah takut kepada revolusi semacam itu! Itu hanyalah babak-pertama saja daripada kembali kepada keadaan sebelum revolusi!"

Jangan sampai Revolusi kita ini sekadar merupakan satu permulaan saja daripada perkembalian kepada zaman sebelum Revolusi! Ada orang-orang yang berjiwa kintel, yang menamakan zaman Belanda itu "zaman normal", Oho! Sebutan "zaman normal" bagi zaman Belanda itu saja sudah menggambarkan satu alam-fikiran yang baginya tak ada kata yang lebih tepat daripada kata kintel!

Tetapi, -Alhamdulillah! Rakyat Indonesia bukan semuanya kwalitet kintel. Kesadaran Revolusi masih hidup segar di dalam kalbu sebagian besar daripada Rakyat Indonesia itu. Sejak tahun yang lalu, kita bukan saja kembali kepada Rél Revolusi, tetapi kitapun telah menetapkan satu Konsepsi Nasional yang bernama Manifesto Politik dengan USDEK-nya.

Dan saya sendiri kini merasa lega, bahwa selanjutnya kita dapat menyeleng-garakan Revolusi kita itu dengan satu pegangan yang terang dan tegas, menyelenggarakan Revolusi kita atas landasan Ideologi dan Konsepsi Nasional yang benar-benar mencerminkan tekad-revolusionernya Rakyat, yaitu Manifesto Politik dan USDEK. Dengan demikian, maka saya dapat memandang dengan kepala tegak kepada semua Pimpinan Politik di semua negeri di luar pagar.

Apalagi karena, sebagai saya katakan barusan, Manifesto Politik-USDEK itu "benar-benar mencerminkan tekad-revolusionernya Rakyat", Manifesto Politik-USDEK adalah progresif-kiri, Manifesto Politik-USDEK adalah mengabdi kepentingan masyarakat-banyak, Manifesto Politik- USDEK adalah mengabdi kepada penyelenggaraan cita-cita ke-Rakyatan, Manifesto Politik-USDEK mengabdi kepada panggilan abad ke-XX, yang sebagai saya katakan tadi penuh menggeletar dengan aliran listrik!

Yang belakangan inipun membuat hati kita mongkok dan besar. Kita menduduki tempat terhormat dalam Revolusi Universil yang kini bergelora di muka bumi! Kita bahkan menduduki salah satu tempat kepemimpinan dalam Revolusi Universil itu, kita menduduki salahsatu "leading position" dalam "this great Revolution of Mankind".

Ahli sejarah dan ahli fikir berkata: "The superior peoples are those who understand the times", "Bangsa unggul adalah bangsa yang mengerti kehendaknya zaman". Saya bangga, bahwa bangsa Indonesia mengerti kehendaknya zaman. Meski kita belum bisa membanggakan kemajuan teknik, meski kita belum dapat mempertunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia, meski kita belum menduduki satu leading position dalam hal-hal materiil, saya toh bangga bahwa bangsa Indonesia merasa dirinya unggul karena mengerti tuntutan zaman dan mengabdi kepada tuntutan zaman!

Saya tadi mengatakan, bahwa terlambatnya perkembangan Ideologi dan Konsepsi Nasional itu disebabkan oleh faktor-faktor di dalam negeri dan di luar negeri.

Di dalam negeri disebabkan oleh dualisme dan kompromisme, di luar negeri disebabkan oleh apa?

Beberapa tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan kita, maka terjadilah di luar negeri, – kemudian juga meniup di angkasa kita – , apa yang dinamakan "perang dingin". Perang dingin ini sangat memuncak pada kira-kira tahun 1950, malah hampir-hampir saja memanas menjadi perang panas. Ia amat menghambat pertumbuhan-pertumbuhan progresif di berbagai negara. Tadinya, segera sesudah selesainya Perang Dunia yang ke-II, aliran-aliran progresif di mana-mana mulailah berjalan pesat. Tetapi pada kira-kira tahun 1950, sebagai salah satu penjelmaan daripada perang dingin yang menghebat itu, aliran-aliran progresif mudah sekali dicap "Komunis". Segala apa saja yang menuju kepada angan-angan baru dicap "Komunis". Anti kolonialisme – Komunis. Anti exploitation de l'homme par l'homme – Komunis. Anti feodalisme-Komunis. Anti kompromis – Komunis. Konsekwen revolusioner – Komunis. Ini banjak sekali mempengaruhi fikiran orang-orang, terutama sekali fikirannya orang-orang yang memang jiwanya kintel. Dan inipun terus dipergunakun (diambil manfaatnya) oleh orang-orang Indonesia yang memang jiwanya jiwa kapitalis, feodalis, federalis, kompromis, blandis, dan lain-lain sebagainya.

Dus: Orang-orang yang jiwanya negatif menjadilah menderita penyakit "takut kalau-kalau disebut kiri", "takut kalau-kalau disebut Komunis". Kiri-phobi dan komunisto-phobi membuat mereka menjadi konservatif dan reaksioner dalam soal-soal politik dan soa1-soal pembangunan sosia1-ekonomis. Dan, orang-orang yang jiwanya memang obyektif ingin menegakkan kapitalisme dan feodalisme, mengucapkan selamat datang kepada peng-capan kiri dan peng-capan Komunis yang dipropagandakan oleh satu fihak daripada perang dingin itu.

Sampai sekarang masih saja ada orang-orang yang tidak bisa berfikir secara bebas apa yang baik bagi Rakyat Indonesia dan apa keinginan Rakjat Indonesia, melainkan à priori telah benci dan menentang segala apa saja yang mereka sangka adalah kiri dan adalah "Komunis".

Dua sebab subyektif dan obyektif itu membuat beberapa golongan dari Rakyat Indonesia menjadi konservatif dan reaksioner, anti-progresif dan anti revolusioner.

Itulah sebabnya, maka pada sebenarnya, kita dulu itu tidak bisa begitu saja lekas-lekas menjelmakan Manifesto Politik dan USDEK, melainkan harus menebus penjelmaan Manifesto Politik dan USDEK itu lebih dulu dengan darah, dengan harta banyak, dengan korbanan-korbanan yang maha pedih. Lahirnya Manifesto Politik dan USDEK dilambatkan dan dihambat oleh sebab-sebab yang saya sebutkan tadi itu. Pemberontakan P.R.R.I./ Permesta – antara lain – adalah buatan dari sebab-sebab obyektif dan subyektif itu, dan menjadi ajang dari peranan kekuasaan asing, oleh karena kekuasaan asing itu mengetahui bahwa kita ini hendak menjalankan politik-ekonomi yang progresif.

Bagi kita sekarang sudah jelas:

Progresif, itulah mengabdi kepada kepentingan Rakyat banyak.

Konservatif-kompromistis-reaksioner, itulah mengabdi kepada kepentingan segolongan-kecil saja, – atau menjadi kakitangan kepentingan asing.

Sekarang, Saudara-saudara! sekali lagi dan sekali lagi: pelajarilah dengan cermat jiwa dan isi daripada Manifesto Politik itu. Mempelajari adalah syarat mutlak untuk mengerti akan isinya. Dan pengertian itu adalah syarat mutlak pula untuk usaha pelaksanaannya.

Dalam mempelajari dan melaksanakan Manifesto Polilik itu semua tidak boleh setengah-setengah. Aparatur Pemerintah, alat-alat Negara, Departemen-departemen, Universitas-universitas, Rakyat seluruhnya, semua, semua, tidak boleh setengah-setengah. Sebab Manifesto Politik adalah Program Perjoangan Negara, Program Perjoangan Masyarakat, Program Perjoangan Kita Semua. Dan Program Perjoangan Besar tidak bisa menjadi realitet jika dilayani dengan jiwa yang setengah-setengah. Momentum-momentum besar dalam sejarah Dunia adalah justru momentum-momentum, yang di situ manusia bekerja atau berjoang ”seperti bukan manusia lagi". (Ucapan Mazzini).

Umpama ada waktu, di dalam pidato ini saya sebenarnya ingin sekali memberikan perincian-perincian yang lebih tegas lagi daripada semua elemen-elemen Manifesto Politik itu. Sayang seribu sayang waktunya tidak ada. Terpaksa nanti hanya beberapa hal saja dapat saya tegaskan. Tapi syukur Dewan Pertimbangan Agung dalam sidangnya bulan September tahun yang lalu dengan suara bulat berpendapat bahwa Manifesto Politik itu adalah garis-garis besar daripada haluan Negara, dan telah membuat pula perincian daripada isi Manifesto Politik itu. Malah keputusan dan perincian Dewan Pertimbangan Agung ini telah disetujui pula oleh Kabinet dan Depernas. Baca dan pelajarilah perincian oleh Dewan Pertimbangan Agung itu, yang telah diterbitkan pula oleh Departemen Penerangan.

Kalau Saudara ingin tahu lebih terang: Apakah Dasar/Tujuan dan Kewajiban Revolusi Indonesia?, – bacalah perincian Dewan Pertimbangan Agung.

Kalau ingin tahu lebih terang: Apakah kekuatan-kekuatan sosial Revolusi Indonesia?,- bacalah perincian Dewan Pertimbangan Agung.

Kalau ingin tahu lebih terang: Apakah sifat Revolusi Indonesia?, bacalah perincian Dewan Pertimbangan Agung.

Kalau ingin tahu lebih terang: Apakah Hari-Depan Revolusi Indonesia?, – bacalah perincian Dewan Pertimbangan Agung.

Kalau ingin tahu lebih terang: Apakah musuh-musuh Revolusi Indonesia?, – bacalah perincian Dewan Pertimbangan Agung.

Kulau ingin tahu lebih terang: Usaha-usaha Pokok yang harus kita kerjakan, di bidang Politik, di bidang Ekonomi, di bidang Mental dan Kebudayaan, di bidang Sosial, di bidang Keamanan, serta badan-badan baru yang manakah yang harus dibentuk, – bacalah perincian Dewan Pertimbangan Agung.

Dengan tegas saya anjurkan penelaahan yang mendalam daripada Manifesto Politik itu, karena ada gejala-gejala yang harus saya sinyalir. Pertama gejala penyalahgunaan Manifesto Politik. Kedua gejala "main perténtang-perténténg" dengan Manifesto Politik, tanpa mempelajari benar-benar akan isi dan semangatnya. Dewan Pertimbangan Agung, – dan di dalam hal ini dibenarkan oleh Kabinet, dan dibenarkan oleh Depernas -, dengan tandas berkata:

"Persoalan-persoalan Pokok Revolusi Indonesia harus difahami oleh tiap warganegara Indonesia sejak ia di bangku sekolah dan apalagi sesudah dewasa. Harus diadakan pendidikan secara luas, di sekolah-sekolah maupun di luar sekolah, tentang Persoalan-persoalan Pokok Revolusi Indonesia.

Rakyat Indonesia harus bersatu fikiran mengenai Revolusinya sendiri, karena hanya jika ada persatuan dalam fikiran, Rakyat Indonesia dapat bersatu dalam kemauan dan dalam tindakan.

Program Revolusi harus menjadi program Pemerintah, program Front Nasional, program semua partai, program semua organisasi massa, dan semua warganegara Republik Indonesia.

Sudah tentu tiap partai, organisasi dan perseorangan boleh mempunyai keyakinan politiknya sendiri, boleh mempunyai program sendiri, tetapi apa yang sudah ditetapkan sebagai Program Revolusi harus juga menjadi programnya, dan harus ambil bagian dalam melaksanakan program tersebut.

Dengan jelasnya Persoalan-persoalan Pokok Revolusi Indonesia dan dengan jelasnya Program Revolusi berkat adanya Manifesto Politik, "maka akan dapatlah ditarik garis antara Revolusi dan kontra-Revolusi, dan antara sahabat-sahabat dan musuh-musuh Revolusi Indonesia".

Lihat! tegas-tandas anjuran Dewan Pertimbangan Agung-Kabinet-Depernas tentang mempelajari dalam-dalam Manifesto Politik itu agar mengetahui Persoalan-persoalan Pokok Revolusi dan Program Revolusi. Memang! Tanpa theori revolusioner tiada gerakan revolusioner. Tanpa Program Revolusi tiada Revolusi yang benar-benar "Revolusi-Bidan" untuk lahirnya suatu Keadaan yang Baru. Tanpa Haluan Negara yang tegas revolusioner tak mungkin Negara itu dijadikan alat penyelenggara segenap cita-cita Revolusi.

Saudara-saudara! Apa hakekat Revolusi? Revolusi adalah, sebagai saya katakan di muka tadi: perombakan, penjebolan, penghancuran, pembinasaan dari semua apa yang kita tidak sukai, dan membangun segala apa yang kita sukai. Revolusi adalah perang melawan keadaan yang tua untuk melahirkan keadaan yang baru. Tiap-tiap Revolusi mempunyai musuh, yaitu orang-orang yang hendak mempertahankan atau mengembalikan keadaan yang tua. Tiap-tiap Revolusi menghadapi orang-orang yang "kontra" kepadanya. Karena itu baik sekali kita ketahui, dengan jelasnya Manifesto Politik dan USDEK itu, siapa kawan siapa lawan, siapa sahabat siapa musuh, siapa pro siapa kontra. Siapa pro Manifesto Politik dan USDEK adalah kawan. Siapa kontra Manifesto Politik dan USDEK adalah lawan. Di dalam tiap-tiap perjoangan, – apalagi dalam Revolusi!-, maka adalah satu keharusan mengetahui siapa kawan dan siapa lawan. Berbahaya sekali untuk tidak mengetahui siapa-kawan-siapa-lawan itu. Berbahaya sekali untuk tidak mengetahui kutu-busuk-kutu-busuk di dalam selimut!

Tetapi berbahaya sekali pula jika penetapan siapa-kawan-siapa-lawan itu dilakukan secara subyektif. Sebab penetapan secara subyektif itu mudah sekali "salah wissel", sehingga menimbulkan pertentangan-pertentangan yang tidak perlu di kalangan Rakyat. Tetapi dengan adanya Manifesto Politik-USDEK ini maka penetapan siapa-kawan-siapa-lawan itu terjadi atas dasar pro dan kontra satu program yang obyektif. Maka – demikian kata Dewan Pertimbangan Agung – "yang akan timbul dan menonjol hanyalah pertentangan-pertentangan antara kekuatan revolusioner dan kekuatan imperialis, dan pertentangan-pertentangan ini harus diakhiri dengan kemenangan kekuatan revolusioner".

Saudara-saudara! Pengalaman selama satu tahun dengan Manifesto Politik-USDEK membuktikan, bahwa Manifesto Politik-USDEK itu sampai batas-batas tertentu sudah dapat menyatukan fikiran Rakyat Indonesia mengenai soal-soal-pokok Revolusi. Pula ia membuktikan, bahwa Manifesto Politik-USDEK adalah senjata di tangan Rakyat untuk mengakhiri imperialisme dan feodalisme sampai ke akar-akarnya, sebagai syarat pertama yang mutlak, untuk kemudian mengakhiri exploitation de l'homme par l'homme, penghisapan atas manusia oleh manusia, untuk SOSIALISME INDONESIA.

Itulah pengalaman tahun yang pertama. Tahun ke-II Manifesto Politik-USDEK (tahun yang kita masuki sekarang ini) adalah tahun di mana kita harus dengan lebih tegap melangkah untuk secara konsekwen melaksanakan Manifesto Politik dan USDEK.

Salah satu soal penting dalam hubungan dengan pelaksanaan ini ialah: retooling alat-alat-perjoangan, dan konsolidasi alat-alat itu sesudah diretool. Mengenai retooling ini, sampai sekarang, berhubung dengan keadaan, baru beberapa saja yang telah 100 % diretool:

D.P.R. – Liberal diretool menjadi D.P.R.G.R.

Pimpinan dari beberapa alat-alat-kekuasaan-Negara sebagian diretool.

Pemerintah Daerah, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.6 1959 diretool.

Dunia kepartaian, yang multi-kompleksitasnya dulu benar-benar merupakan bisul-kanker dalam tubuh masyarakat kita, sesuai dengan Penetapan Presiden No.7 tahun 1959 dan Peraturan Presiden No. 13 tahun 1960, diretool.

Di lain-lain lapangan, maka berhubung dengan keadaan, retooling itu belum dilakukan, atau, jika sedang dilakukan, dilakukan dengan secara sedikit demi sedikit. Hal yang demikian itu jauh dari memuaskan hati saya. Saya sendiri dalam Manifesto Politik telah berkata, bahwa "semuanya akan diretool, semuanya akan diordening dan diherordening". Saya tak senang kepada uler-kambang-uler-kambangan, saya tak senang kepada setengah-setengahan. Sayapun berkeyakinan, – sebagai pernah pula dikatakan oleh seorang pemimpin-besar Revolusi lain bangsa -, bahwa tidak bisa Revolusi berjalan dengan alat-alat yang lama. Alat-alat yang lama harus diganti. Oleh karena itu mutlak perlunya retooling. Dengan alat-alat yang lama saya maksudkan terutama lembaga-lembaga, aparat-aparat, orang-orang pengabdi kolonialisme dan kapitalisme, orang-orang yang otak dan hatinya telah berdaki-berkarat tak dapat menyesuaikan diri dengan Manifesto Politik-USDEK. Sungguh, alat-alat yang lama itu harus kita retool! Dalam tahun ke-II Manifesto Politik-USDEK ini kita harus sungguh-sungguh "aanpakken" soal retooling ini benar-benar!

Mengenai retooling kepartaian, Saudara-saudara mengetahui bahwa Penetapan Presiden No.7 1959 dan Peraturan Presiden No. 13 1960 sudah berjalan. Penetapan Presiden No. 7 dan Peraturan Presiden itu pada pokoknya tegas-tegas memberi hak-hidup (dengan tentunya syarat-syarat mengenai organisasi dan sebagainya) kepada partai-partai yang ber-USDEK, dan melarang partai-partai yang kontra-revolusioner. Ini bukan diktatur, ini bukan penggunaan kekuasaan secara sewenang-wenang! Ini adalah pelaksanaan daripada satu universal principle, satu prinsip umum di negeri manapun juga, bahwa dari Penguasa yang memegang kekuasaan Negara, tidak dapat diharapkan memberi hak-hidup kepada kekuatan-kekuatan yang mau merobohkan Negara, atau memberikan senjata-senjata, baik materiil ataupun spirituil, kepada kekuatan-kekuatan yang mau merobohkan Negara. Ketambahan lagi, berdasarkan moral revolusioner dan moralnya Revolusi, maka Penguasa wajib membasmi tiap-tiap kekuasaan, asing ataupun tidak asing, pribumi ataupun tidak pribumi, yang membahayakan keselamatan atau berlangsungnya Revolusi.

Berdasarkan hal-hal ini, saya beritahukan sekarang kepada Rakyat, bahwa saya sebagai Presiden Republik Indonesia, sesudah mendengar pendapat Mahkamah Agung, beberapa hari yang lalu telah memerintahkan bubarnya Masyumi dan P.S.I.! Jikalau satu bulan sesudah perintah ini diberikan, Masyumi dan P.S.I. belum dibubarkan, maka Masyumi dan P.S.I. adalah partai-partai yang terlarang!

Janganlah mengira, bahwa dengan ini Pemerintah memusuhi Islam. Memang ada orang-orang yang dengan cara yang amat licin sekali menghasut-hasut, bahwa "Islam berada dalam bahaya". Hasutan yang demikian itu adalah hasutan yang jahat. Sebab Pemerintah tidak membahayakan Islam, sebaliknya malah mengagungkan semua agama. Pemerintah bertindak terhadap partai yang membahayakan Negara!

Saudara-saudara tahu, bahwa antara lain, dalam Penetapan Presiden No.7 itu ada fasal No.9, yang berbunyi:

1. Presiden, sesudah mendengar Mahkamah Agung, dapat melarang dan atau membubarkan partai, yang:

(1) bertentangan dengan azas dan tujuan Negara;

(2) programnya bermaksud merombak azas dan tujuan Negara;

(3) sedang melakukan pemberontakan karena pemimpin-pemimpinnya turut-serta dalam pemberontakan-pemberontakan atau telah jelas memberi-kan bantuan, sedangkan partai itu tidak dengan resmi menyalahkan perbuatan anggota-anggotanya itu;

(4) tidak memenuhi syarat-syarat lain yang ditentukan dalam Penetapan Presiden ini.

2. Partai yang dibubarkan berdasarkan ayat (1) pasal ini, harus dibubarkan dalam waktu selama-lamanya tiga puluh kali dua puluh empat jam, terhitung mulai tanggal berlakunya Keputusan Presiden yang menyatakan pembubaran itu.

Berdasarkan atas alasan-alasan yang termaktub dalam fatsal 9 Penetapan Presiden No.7 1959 ini, maka Mahkamah Agungpun berpendapat bahwa Masyumi dan P.S.I. "terkena" oleh fasal itu, dan saya beberapa hari yang lalu memerintahkan bubarnya Masyumi dan P.S.I. itu. Dan Insya Allah segala ketentuan-ketentuan dalam Penetapan Presiden No.7 '59, segala ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Presiden No. 13 '60, akan saya kerjakan dalam tahun ini, sehingga misalnya partai-partai yang biasanya saya cap dengan perkataan "partai gurém, tidak akan diakui, atau partai-partai lain yang nyata kontra-revolusioner akan disapu bersih karena dikenakan kepadanya sapu pembubaran. Dengan demikian maka segala keburukan sebagai akibat maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945, maklumat liberalisme itu, dapat dikikis. Dengan demikian maka Dekrit 5 Juli 1959, yaitu Dekrit kembali kepada Undang-undang Dasar '45, menjumpai kewajarannya. Dengan demikian maka akan tinggallah partai-partai yang benar-benar mendukung Undang-undang Dasar '45, Manifesto Politik dan USDEK. Dengan demikian maka retooling dalam alam kepartaian, yang mutlak perlu untuk pelaksanaan Manifesto Politik dan USDEK, akan berjalan sebagaimana mestinya. Dengan demikian pula akan terang-jelas ditarik garis antara revolusioner dan kontra-revolusioner!

Saya ulangi lagi, bahwa dengan demikian akan tinggallah partai-partai yang mendukung Undang-undang Dasar '45, Manifesto Politik dan USDEK. Dengan tegas saya katakan disini, bahwa partai-partai itu, dengan memenuhi semua syarat-syarat perundang-undangan kepartaian, diberi hak hidup, diberi hak bergerak, diberi hak perwakilan, – sudah barang tentu dalam rangka Demokrasi Terpimpin. Partai-partai yang demikian itu dapat memberi sumbangan besar kepada terlaksananya Amanat Penderitaan Rakyat. Sebaliknya kita harus berusaha jangan sampai ada partai yang tidak diakui tetapi juga tidak dilarang, tapi bisa bergerak dalam segala bidang untuk secara sembunyi-sembunyian menentang Manifesto Politik dan USDEK. Terhadap partai-partai yang demikian itu kita harus waspada. Garis harus kita tarik dengan terang: pro Manifesto Politik/ USDEK, atau anti Manifesto Politik/USDEK. Partai hanya bisa bersifat satu diantara dua: atau dilarang, atau Pro Manifesto Politik/USDEK. Tidak boleh ada partai yang main bulus-bulusan. Tidak boleh ada partai yang main bunglon-bunglonan!

Sekali lagi saya katakan: tahun yang lalu belum memenuhi harapan saya mengenai usaha retooling-disegala-bidang. Marilah kita tahun sekarang ini mengerjakan retooling-retooling itu dengan cara yang lebih cepat dan lebih tegas.

Malah bukan hanya dilapangan retooling-retooling kita harus lebih cepat dan tegas. Dilapangan pengertian-pengertianpun, dilapangan begrippen, kita juga harus lebih tegas dan jelas. Misalnya lebih jelas mengenai arti penggunaan segala "funds and forces".

Lebih jelas dan tegas mengenai arti "Gotong Royong". Lebih jelas dan tegas mengenai arti Front Nasional. Lebih jelas dan tegas mengenai politik membasmi pemberontak. Lebih jelas dan tegas mengenai arti ”politik luar negeri yang bebas". Lebih jelas dan tegas mengenai arti bantuan massa Rakyat. Lebih jelas dan tegas mengenai arti "jalan lain" dalam politik memperjoangkan Irian Barat. Dan lain-lain lagi, dan lain-lain lagi.

Di sini lagi, saya kekurangan waktu untuk menjelaskan segala sesuatu yang perlu dijelaskan.

Tetapi marilah saya terangkan sedikit mengenai "Gotong Royong" dan "Front Nasional".

Telah masyhur dimana-mana, sampai diluar negeri sekalipun, bahwa jiwa Gotong Royong adalah salah satu corak daripada Kepribadian Indonesia. Tidak ada satu negeri dikolong langit ini yang disitu Gotong Royong adalah satu kenyataan hidup didesa-desa, satu living reality, seperti di Indonesia ini. Tidak ada satu bangsa yang didalam hidup-keigamaannya begitu toleran seperti bangsa Indonesia ini. Tetapi juga tidak ada satu bangsa yang didalam kehidupan politiknya kadang-kadang mendurhakai prinsip Gotong Royong itu, seperti bangsa Indonesia!

Salah satu kejahatan daripada maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945 ialah sebenarnya pendurhakaan jiwa Gotong Royong ini, karena dengan didirikannya partai-partai laksana cendawan dimusim hujan, toleransi-politik masuk kelobang kubur dan hantu kebencian pringas-pringis dimana-mana. Padahal dilapangan perjoangan bangsa kita harus menggembléng dan menggempurkan persatuan daripada segala kekuatan-kekuatan revolusioner, – menggembléng dan menggempurkan "de samenbundeling van alle revolutionnaire krachten in de natie".

Gotong Royong bukan sekadar satu sifat kepribadian Indonesia! Gotong Royong bukan sekadar corak daripada "Indonesian Identity"! Gotong Royong adalah juga satu keharusan dalam perjoangan melawan imperialisme dan kapitalisme, baik dizaman dulu maupun dizaman sekarang. Tanpa mempraktekkan samenbundeling van alle revolutionnaire krachten untuk digempurkan kepada imperialisme dan kapitalisme itu, janganlah ada harapan perjoangan bisa menang!

Dan kita toh ingin menang? Dan kita toh harus menang? Karena itu maka saya selalu menganjurkan Gotong Royong juga dilapangan politik. Karena itu Manifesto Politik-USDEK bersemangat ke Gotong Royongan-bulat dilapangan politik. Karena itu di Solo beberapa pekan yang lalu saya tegaskan perlunya persatuan dan ke Gotong Royongan antara golongan Islam, Nasional, dan Komunis. Ini adalah konsekwensi-politik yang terpenting bagi semua pendukung Manifesto Politik dan USDEK, satu konsekwensi-politik yang tidak plintat-plintut atau plungkar-plungker bagi semua orang yang setia kepada Revolusi Agustus 1945.

Jika tidak, maka semua omongan tentang Gotong Royong, Manifesto Politik, USDEK, Front Nasional, "setia kepada Revolusi", dan lain sebagainya, hanyalah omong-kosong belaka, lipservice belaka. Salah satu ciri daripada orang yang betul-betul revolusioner ialah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. Orang "revolusioner" yang tidak bersatu kata dan perbuatan, orang "revolusioner" yang demikian itu adalah orang revolusioner gadungan!

Di Indonesia ini memang telah ada tiga golongan-besar "revolutionnaire krachten", yaitu Islam, Nasional, dan Komunis. Senang atau tidak senang, ini tidak bisa dibantah lagi! Dewa-dewa dari Kayanganpun tidak bisa membantah kenyataan ini! Jikalau benar-benar kita hendak melaksanakan Manifesto Politik-USDEK, jikalau benar-benar kita setia kepada Revolusi, jikalau benar-benar kita setia kepada jiwa Gotong Royong, jikalau benar-benar kita tidak kekanak-kanakan tetapi sedar benar-benar bahwa Gotong Royong, Persatuan, Samenbundeling adalah keharusan dalam perjoangan anti imperialisme dan kapitalisme, maka kita harus mewujudkan persatuan antara golongan Islam, golongan Nasional, dan golongan Komunis itu. Maka kita tidak boleh menderita penyakit Islamo-phobi, atau Nationalisto-phobi, atau Komunisto-phobi!

Janganlah mengira bahwa saya ini orang yang sekarang ini memberi "angin" kepada sesuatu fihak saja. Tidak! Saya akan bersyukur kepada Tuhan kalau saya mendapat predikat revolusioner. Revolusioner dimasa dulu, dan revolusioner dimasa sekarang. Justru oleh karena saya revolusioner, maka saya ingin bangsaku menang. Dan justru oleh karena saya ingin bangsaku menang, maka dulu dan sekarangpun saya membanting tulang mempersatukan semua tenaga revolusioner, – Islamkah dia, Nasionalkah dia, Komuniskah dia!

Bukalah tulisan-tulisan saya dari zaman penjajahan. Bacalah tulisan saya panjang-lebar dalam majalah ”Suluh lndonesia Muda" tahun 1926, tahun gawat-gawatnya perjoangan menentang Belanda. Didalam tulisan itupun saya telah menganjurkan, dan membuktikan dapatnya, persatuan antara Islam, Nasionalisme, dan Marxisme. Saya membuka topi kepada Saudara Kiyai Haji Muslich, tokoh alim-ulama Islam yang terkemuka, yang menyatakan beberapa pekan yang lalu persetujuannya kepada persatuan Islam-Nasional-Komunis itu, oleh karena persatuan itu memang perlu, memang mungkin, memang dapat.

Ya!, memang dapat! Kendati omong-kosong orang tentang "tak mungkin"-nya persatuan itu, maka persatuan ini telah ternyata berjalan dibeberapa badan. Di Dewan Nasional ada orang-orang Islamnya, ada orang-orang Nasionalnya, ada orang-orang Komunisnya, dan Dewan Nasional berjalan baik. Di Dewan Pertimbangan Agung malah bukan "orang-orang" lagi, melainkan ada gembong-gembong Islam dan gembong-gembong Nasional dan gembong-gembong Komunis, dan Dewan Pertimbangan Agung berjalan baik. Di Depernas ada banyak sekali wakil-wakil tiga golongan itu, dan Depernas berjalan baik. Di D.P.R.G.R. saya himpunkan wakil-wakil dari tiga golongan itu, (bahkan dalam pembicaraan pendahulunya di Tampaksiring saya hadapkan Saudara gembong Idham Chalid, gembong Suwiryo, gembong Aidit berhadapan-muka satu-sama-lain), dan D.P.R.G.R. saya percayapun akan berjalan baik. Di Panitia Persiapan Front Nasional yang dipimpin oleh Saudara Aruji Kartawinata terhimpunlah pentol-pentol tiga golongan ini, dan Panitia Persiapan Front Nasional itu berjalan baik, bahkan berjalan amat-amat baik. Dan didalam Majelis Permusyawaratan Rakyat yang susunan anggautanya telah saya umumkan beberapa hari yang lalu itu, terhimpunlah wakil-wakil tiga golongan itu, dan Majelis Permusyawaratan Rakyatpun, saya yakin, akan berjalan baik.

Tidakkah ini kesemuanya praktek daripada ke Gotong Royongan yang jujur antara golongan-golongan yang berke-Tuhanan, Nasionalis dan Komunis, yang semuanya dibakar oleh nyerinya siksaan penderitaan Rakyat, tetapi juga dibakar oleh Apinya Idealisme ingin melaksanakan Amanat Pcnderitaan Rakyat? Dan bukankah mereka itu, – itu golongan-golongan Islam, Nasionalis, Komunis, yang kata orang tak mungkin dipersatukan sutu-sama-lain -, didalam beberapa Lembaga, misalnya didalam DENAS, didalam D.P.A., selalu berhasil mencapai mufakat dengan suara bulat diatas dasar musyawarah, – tanpa cakar-cakaran satusamalain, tanpa ngotot-ngototan mencari kebenaran sendiri dan menyalahkan pihak lain, tanpa setém-setéman pemungutan suara?

Saudara-saudara! Saya hendak pula menandaskan di sini bahwa persatuan itu bukan harus diadakan hanya antara golongan-golongan Islam dan Nasional dan Komunis saja, melainkan antara semua kekuatan-kekuatan revolusioner. Semua partai yang pro Manipol dan pro USDEK harus bersatu. Semua suku-bangsa harus bersatu. Semua warganegara, Jawakah ia, Sundakah ia, Minangkabaukah ia, Minahasakah ia, Batakkah ia, Bugiskah ia, – semua warganegara harus bersatu, dengan tidak pandang perbedaan suku-bangsa, tidak pandang agama, tidak pandang keturunan asli atau tidak asli. Pemberontakan P.R.R.I., pemberontakan Permesta, kegiatan subversif Manguni, tidak boleh diartikan pemberontakan atau kegiatan subversif suku Minangkabau atau suku Minahasa. Pemberontakan-pemberontakan itu adalah perbuatan kaum imperialis yang mempergunakan orang-orang pengkhianat dan budak-budak dari suku-suku itu atau suku-suku lain. Rakyat dari semua suku dan dari semua keturunan, asli atau tidak asli, – si-petani, si-buruh, si-tukang dokar, si-nelayan, si-pegawai-kecil, si-pedagang-kecil, si-jembel, si-marhaen, -, adalah cinta kepada Republik Proklamasi, menyetujui Manipol dan USDEK, gandrung kepada masyarakat adil dan makmur. Rakyat itu semua harus digotongroyongkan dalam perjoangan raksasa ini!

Bergandengan dengan itu maka saya ulangi di sini apa yang saya katakan tahun yang lalu mengenai pemersatuan (dus penggotongroyongan) modal dan tenaga. Saya berkata: "Amat perlu ialah supaya kita bisa mengikutsertakan segala modal dan tenaga, segala "funds and forces" bagi usaha-usaha pembangunan semesta kita. Tetapi dalam usaha-usaha mengorganisir dan menghimpun segala "funds and forces" itu, haruslah kita letakkan satu syarat pokok, yaitu: modal dan tenaga yang hendak kita ikutsertakan itu, haruslah bercorak progresif. Segala modal dan segala tenaga yang memenuhi syarat itu, akan kita sambut dengan kedua belah tangan. Sebaliknya "funds and forces" yang tidak progresif (yang dus hanya memikirkan keuntungan sendiri), tenaga-tenaga yang reaksioner dan anti-revolusioner, akan kita tolak dan malahan kita tentang. Tenaga-tenaga dan modal yang tidak memenuhi syarat pokok itu, hendaknya minggir saja, dan sekali-kali janganlah menghalang-halangi kita. Sebab setiap penghalangan akan kita terjang, setiap rintangan akan kita singkirkan, sesuai dengan semboyan "rawé-rawé rantas, malang-malang putung".

"Sekali lagi, segala tenaga dan segala modal yang terbukti progresif akan kita ajak dan akan kita ikutsertakan dalam pembangunan Indonesia. Dus juga tenaga dan modal bukan-asli yang sudah menetap di Indonesia dan yang menyetujui, lagi pula sanggup membantu terlaksananya program Kabinet Kerja, akan mendapat tempat dan kesempatan yang wajar dalam usaha-usaha kita untuk memperbesar produksi di lapangan perindustrian dan pertanian. "Funds and forces" bukan-asli itu dapat disalurkan ke arah pembangunan perindustrian, misalnya dalam sektor industri menengah, yang masih terbuka bagi initiatif partikelir".

"Untuk melaksanakan maksud itu maka perlu adanya iklim kerjasama yang baik. Oleh karena itu, semua yang berkepentingan hendaknya menjauhi sesuatu tindakan yang dapat merugikan iklim kerja-sama itu".

Ya!, dengan sepenuhnya saya punya jiwa, saya meminta: hendaklah semua yang berkepentingan menjauhi sesuatu tindakan yang dapat merugikan iklim kerja-sama itu!

Saudara-saudara!

Kabinet Kerja bekerja keras untuk melaksanakan programnya yang termasyhur Sandang-Pangan, Keamanan, lrian Barat dan perjoangan anti-imperialis. Program ini merupakan usaha jangka pendek dalam rangka garis-besar Haluan Negara, dan karenanya tidak dapat dilepaskan dari pelaksanaan Haluan Negara tersebut, yaitu Manifesto Politik-USDEK.

Harus diakui dengan terus-terang, bahwa pelaksanaan program jangka-pendek itu belum selancar sebagai kita harapkan. Ada disebabkan karena kekurangan pengertian tentang program itu sendiri dan tentang Manipol-USDEK (tadi saya terangkan); ada karena anasir-anasir yang memang mau mensabot pelaksanaan program itu dan Manipol dan USDEK; ada kemacetan-kemacetan di sementara bidang produksi dan distribusi; ada karena tendensi-tendensi inflantoir yang belum terkuasai sepenuhnya; ada karena kurang ketegasan kita sendiri dalam uitvoeringnya program itu, dan sebagainya, dan sebagainya.

Semua kesalahan-kesalahan kita ini harus secara jantan kita akui, dan harus secara jantan kita koreksi. Tidakkah salah satu ciri orang Revolusioner, bahwa ia berani mengakui kesalahan dan berani mengkoreksi kesalahan? Ambillah misalnya pimpinan-pimpinan perusahaan-perusahaan Negara dan P.T.-P.T. Negara.

Pada tanggal 27 Januari permulaan tahun 1960 ini sudah saya ucapkan, satu kritik atas pimpinan-pimpinan perusahaan dan P.T. Negara itu dalam satu pidato di Istana Negara. Pokoknya pada waktu itu saya tandaskan setandas-tandasnya, bahwa untuk Ekonomi Terpimpin haruslah ekonomi negara memegang posisi Komando (ini adalah istilah D.P.A.). Dan ini akan gagal samasekali, kataku, jika diteruskan "pencoléngan-pencoléngan di dalam pimpinan-pimpinan P.T.-P.T. Negara", dan " pencoléngan-pencoléngan, korupsi-korupsi, ketidaktegasan etc., etc., di semua bidang, daripada bidang sipil sampai kepada militer". Pokoknya sekarang ialah, supaya diakhirilah pensalahgunaan atau penggunaan kesempatan oleh siapapun juga adanya SOB (adanya Keadaan Bahaya) untuk menggemukkan kantong sendiri. Untuk ini, saya kira baik jika di semua perusahaan-perusahaan Negara, di semua P.T.-P.T. Negara, dibentuk dewan-dewan, yang berkewajiban membantu pimpinan perusahaan untuk mempertinggi kwantitas dan kwalitas produksi, dan – untuk mengawasi kaum pencoléngan-pencoléng, kaum koruptor-koruptor, kaum penipu-penipu, kaum pencuri-pencuri kekayaan Negara!

Di bidang distribusi – pun belum semuanja berjalan diharumgandanya bunga mawar dan di bawah sinarnya bulan-purnama. Salah satu kesulitan obyektif ialah belum lengkapnya kitapunya alat-alat-pengangkutan di laut dan di darat. Tetapi kita berusaha keras untuk memperlengkapi alat-alat-pengangkutan itu. Dan saya kira ada baiknya kita mempertimbangkan inschakeling Rukun-Rukun-Kampung dan Rukun-Rukun Tetangga dalam lapangan distribusi ini. Untuk lancarnya distribusi, maka R.K.-R.K.-R.T.-R.T. itu bisa menunjuk warung yang dipercayainya. Banyak warung-warung Sandang-Pangan yang sekarang ini ternyata hanya tempat pencarian untung saja bagi beberapa gelintir orang. Syarat-mutlak bagi inschakelingnya R.K.-R.K.-R.T.-R.T. itu tentunya ialah bahwa R.K.-R.K.-R.T.-R.T. itu sendiri harus benar-benar diretool lebih dahulu. Sebab di lapangan ke-R.K.-R.T.-anpun masih banyak hal-hal yang busuk, masih banyak "rotzooi" yang harus diretool!

Demikianlah beberapa cukilan mengenai kesulitan-kesulitan kita di lapangan pelaksanaan program Sandang-Pangan. Saudara-saudara tentunyu mengerti, bahwa persoalan Sandang-Pangan ini meliputi bidang persoalan yang lebih luas, lebih terjalin-jalin, lebih kompleks. Soal tambahnya produksi beras-garam-ikan asin etc., soal tambahnya produksi tekstil dan import tekstil etc., etc., soal menu makanan Rakyat etc., etc., soal-soal yang demikian itu semuanya menjadi challenge (tantangan) yang tanpa ampun harus dilayani.

Harus dilayani, oleh karena soal Sandang-Pangan adalah satu soal "the stomach cannot wait" (perut tak bisa menunggu) bukan saja, tetapi juga karena soal itu adalah satu bagian daripada Persoalan Besar "menjelmakan masyarakat adil dan makmur" sesuai dengan Amanat Penderitaan Rakyat.

Untuk melayani Persoalan Besar inilah, tempohari kita membangunkan Depernas, – Dewan Perancang Nasional. Untuk melayani Persoalan Besar inilah Depernas diwajibkan menyusun satu pola daripada pembangunan semesta untuk membangun satu Masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila, pola yang nanti harus kita karyakan secara Gotong Royong dengan bermandikan keringat dan berkendarakan idealisme revolusioner yang menyala-nyala.

Perencanaan, Pola, atau Planning, adalah satu syarat mutlak bagi pelaksanaan Sosialisme! Planning itu nanti dalam pengkaryaannya menjadilah wahananya Ekonomi Terpimpin dan Demokrasi Terpimpin, itu dua penghela ke arah Sosialisme atau Masyarakat Adil dan Makmur. "Planning is the technique of foreseeing-ahead every step in a long series of separate operations", – "perencanaan adalah teknik untuk telah melihat lebih dahulu setiap langkah yang harus diambil, dalam satu rentetan-panjang dari tindakan-tindakan yang berdiri sendiri-sendiri".

Depernas bekerja keras. Saya buka topi kepada Depernas itu. Pada tanggal 13 Agustus yang baru lalu saya sudah menerima resmi dari Depernas itu mereka punya blueprint tahapan pertama. Blueprint ini akan saya teruskan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang susunan anggautanyapun sudah selesai saya bangun. Bahagialah Rakyat Indonesia, kalau ia nanti, dengan diterimanya blueprint Depernas oleh M.P.R.S., telah mempunyai iapunya Pola Pembangunan Tahapan Pertama. Bahagialah ia, karena ia, dengan adanya Pola Pembangunan itu, merasakan adanya pimpinan ekonomis, – merasakan adanya economisch leiderschap, di samping adanya politiek leiderschap yang terpancar dalam Manifesto Politik dan USDEK.

Berantakanlah nanti zoogenaamd ramalannya P.R.R.I.-Permesta yang berbunyi: "Betul mereka (P.R.R.I.-Permesta itu) kalah di bidang militer, tetapi Republiknya Sukarno nanti akan hancur sendiri karena economic mismanagement and misleadership". Dengan adanya blueprint Depernas itu maka economisch leiderschap akan tergaris nyata. Dan Insya Allah akan berantakan bukan saja ramalan kaum pemberontak itu bahwa kita akan hancur, tetapi Insya Allah akan berantakan pula merekapunya harapan, bahwa mereka akan tetap berdiri. Insya Allah, bukan Republik Indonesia yang akan hancur, tetapi P.R.R.I.-Permestalah yang akan hancur!

Semangat "foreseeing-ahead", (semangat "telah melihat lebih dahulu") tercermin pula dalam keputusan D.P.A. dan Kabinet mengenai Landreform. D.P.A. telah mengusulkan kepada Pemerintah tentang "Perombakan hak tanah dan penggunaan tanah", "agar masyarakat adil dan makmur dapat terselenggara dan khususnya taraf hidup tani meninggi dan taraf hidup seluruh rakyat jelata meningkat", – Pemerintah telah memutuskan "Rancangan Undang-undang Pokok Agraria", Rancangan Undang-undang yang mana telah saya teruskan kepada D.P.R.G.R. agar lekas disidangkan.

Ini adalah satu kemajuan yang penting-maha-penting dalam Revolusi Indonesia! Revolusi Indonesia tanpa Landreform adalah sama saja dengan gedung tanpa alas, sama saja dengan pohon tanpa batang, sama saja dengan omong-besar tanpa isi. Melaksanakan Landreform berarti melaksanakan satu bagian yang mutlak dari Revolusi Indonesia. Gembar-gembor tentang Revolusi, Sosialisme Indonesia, Masyarakat Adil dan Makmur, Amanat Penderitaan Rakyat, tanpa melaksanakan Landreform adalah gembar-gembornya tukang penjual obat di pasar Tanah Abang atau di Pasar Senen.

Pada taraf sekarang ini, demikianlah D.P.A., Landreform di satu fihak berarti penghapusan segala hak-hak asing dan konsesi-konsesi kolonial atas tanah, dan mengakhiri penghisapan feodal secara berangsur-angsur, di lain fihak Landreform berarti memperkuat dan memperluas pemilikan tanah untuk seluruh Rakyat Indonesia terutama kaum tani. Dan Rancangan Undang-undang Pokok Agraria berkata: tanah tidak boleh menjadi alat penghisapan, apalagi penghisapan dari modal asing terhadap Rakyat Indonesia. Karena itu harus dihapuskan "hak eigendom", "wet-wet agraris" bikinan Belanda, "Domeinverklaring", dan lain sebagainya.

Kalau nanti Rancangan Undang-undang ini telah menjadi Undang-undang, maka telah maju selangkah lagilah kita di atas jalan Revolusi. Telah maju selangkah lagilah kita di atas jalan yang menuju kepada realisasi Amanat Penderitaan Rakyat. Ya!, tanah tidak boleh menjadi alat penghisapan! Tanah untuk Tani! Tanah untuk mereka yang betul-betul menggarap tanah! Tanah tidak untuk mereka yang dengan duduk ongkang-ongkang menjadi gemuk-gendut karena menghisap keringatnya orang-orang yang disuruh menggarap tanah itu!

Toh!, – jangan mengira bahwa Landreform yang kita hendak laksanakan itu adalah "Komunis"! Hak milik atas tanah masih kita akui! Orang masih boleh mempunyai tanah turun-temurun! Hanja luasnya milik itu diatur, baik maksimumnya maupun minimumnya, dan hak milik atas tanah itu kita nyatakan berfungsi sosial, dan Negara dan kesatuan-kesatuan masyarakat hukum mempunyai kekuasaan yang lebih tinggi daripada hak milik perseorangan.

Ini bukan "Komunis"! Kecuali itu, apakah orang tidak tahu bahwa negara-negara yang bukan Komunis pun banyak yang menjalankan Landreform? Pakistan menjalankan Landreform, Mesir menjalankan Landreform, Iran menjalankan Landreform! Dan P.B.B. sendiri tempohari menyatakan bahwa "defects in Agrarian structure, and in particular systems of land tenure, prevent a rise in the standard of living of small farmers and agricultural labourers, and impede economic development". (Keburukan-keburukan dalam susunan pertanahan, dan terutama sekali keburukan-keburukan dalam cara-cara pengolahan tanah, menghalangi naiknya tingkat hidup si-tani-kecil dan si-buruh pertanian, dan menghambat kemajuan ekonomis).

Karena itu, hadapilah persoalan Landreform ini secara zakelijk-obyektif sebagai satu soal keharusan mutlak dalam melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat dan Revolusi, dan jangan hadapi dia dengan komunisto-phobi!

Saudara-saudara! Sekarang bagian kedua daripada Program Kabinet Kerja: Hal Keamanan.

Dalam Pidato 17 Agustus tahun yang lalu, saya berkata: "Program Pemerintah adalah untuk melaksanakan keamanan Negara terhadap gerombolan-gerombolan pemberontak dalam 2 á 3 tahun. Tetapi mengingat sifat gerilya dan anti-gerilya yang berkembang sejak perang dunia yang lalu, maka konsolidasi dan stabilisasi teritorial sepenuhnya bagi keamanan Rakyat yang merata, mungkin masih memerlukan waktu yang lebih lama".

Demikianlah kataku tahun yang lalu.

Bagaimanakah keadaan sekarang?

Pengacau yang pokok terhadap keamanan Republik Indonesia masihlah tetap gerombolan D.I.T.I.I., P.R.R.I.-Permesta, dan R.M.S., beserta aksi-aksi subversifnya yang mereka jalankan bersama dengan subversif asing.

Saya peringatkan kembali bahwa sebab-sebab yang pokok dari pengacauan itu ialah pertentangan-pertentangan dan petualangan-petualangan di bidang politik-psychologis, dengan membawakan pula kesulitan-kesulitan Negara di bidang sosial-ekonomis dan militer. Di samping itu saya peringatkan pula, bahwa selama Belanda masih bercokol di Irian Barat, maka selama itu, sengketa ini akan tetap merupakan sumber pengacauan terhadap Republik. Demikian pula maka perang dingin antara blok Barat dan blok Timur akan tetap mengganggu keamanan Indonesia.

Dan selalu harus diinsyafi, bahwa soal keamanan bukanlah soal bagi tentara saja, bukan soal bagi tentara saja, bukan soal bagi polisi saja, melainkan satu soal Rakyat seluruhnya. Oleh karena itu maka dalam Manifesto Politik telah ditegaskan, bahwa Rakyat diikutsertakan dalam penyelenggaraan keamanan, dengan mengintensifkan organisasi-organisasi keamanan Rakyat, dengan wajib-latih bagi pemuda dan veteran, dengan milisi darurat di seluruh Indonesia. Ya, soal seluruh Rakyat seumumnya! Malah sebagai tadi saya katakan, soal keamanan ini adalah jalin-menjalin dengan bidang politik-psychologis, bidang sosial-ekonomis, bidang subversi asing. Karena itu maka dalam suksesnya pelaksanaan Manifesto Politik di segala bidang terletaklah pula suksesnya pemulihan keamanan. Dalam suksesnya USDEK, terletaklah pula suksesnya pemulihan keamanan.

Mengenai keamanan dalam arti khusus, maka kita harus:

Pertama: Melakukan operasi-operasi tempur yang semakin hebat dan semakin sempurna, untuk dengan pukulan-pukulan yang dahsyat menggempur menghancurkan gerombolan-gerombolan pengacau tadi.

Kedua: Melakukan operasi-operasi teritorial yang semakin hebat dan semakin sempurna pula, untuk memisahkan gerombolan dari dukungan masyarakat dan mengembalikan serta menegakkan-kembali kewibawaan Ncgara, baik strukturil menegakkan kembali alat-alat pemerintahan dari atas sampai ke bawah, maupun idiil meng-USDEK-kan seluruh masyarakat, berbarengan dengan rehabilitasi sosial-ekonomis.

Ketiga: – inipun mutlak perlu –: mengintensifkan operasi-operasi mental, dan khusus penertiban dan penyehatan alat-alat Negara sipil dan mlliter, baik teknis maupun ideologis, sebagai yang telah ditentukan dalam Manifesto Politik.

Keempat: Dengan makin hebatnya dan makin sempurnanya operasi-operasi ke I, ke II, dan ke III tadi, maka akan lebih banyak pula jumlah gerombolan yang "kembali ke pangkuan Republik" sebagaimana dimungkinkan dan disyaratkan dalam Manifesto Politik.

Kelima: Semua usaha-usaha yang saya sebutkan itu harus dirampungkan (dibulatkan) dengan tindakan-tindakan follow-up, sebagai operasi-operasi lanjutan untuk rehabilitasi daerah dan pembangunan di daerah, sehingga tercapailah konsolidasi dan stabilisasi teritorial guna mencapai normalisasi dan pengakhiran Keadaan Bahaya.

Bagaimana hasil usaha kita dalam tahun yang lalu? Dalam satu tahun yang lalu, maka luas daerah yang dikuasai dahulunya oleh gerombolan-gerombolan, terutama di luar Jawa, telah banyak berkurang. Terutama sekali di Sumatera Utara, di Sumatera Tengah, di Kalimantan Selatan, di Sulawesi Selatan, dan di Sulawesi Utara. Jumlah gerombolan yang dieliminir (ditewaskan) dalam pertempuran-pertempuran adalah ± 11.000 orang, dan jumlah yang kembali ke pangkuan Republik adalah ± 18.000 orang. Kegiatan subversif mereka sebagian besar telah dipatahkan. Subversif "Manguni" telah dipatahkan, subversif "Kobra" telah digulung. Akan tetapi perlu tetap diingat, bahwa selama masih ada P.R.R.I., selama masih ada Permesta, selama masih ada D.I.-T.I.I., dan lain sebagainya, selama itu, akan masih tetap ada subversifnya dan perang-urat-sarafnya, untuk merusak kita dari dalam dan dari belakang.

Dengan hasil-hasil tersebut, saya mengucapkan penghargaan dan terimakasih kepada alat-alat-Negara, dan Rakyat yang telah ikut membantu usaha-usaha keamanan itu di berbagai bidang dan di berbagai daerah. Penghargaan dan terimakasih saya itu adalah sungguh-sungguh! Sebab saya mengetahui betapa banyaknya kesulitan-kesulitan yang telah diderita oleh alat-alat-Negara dan Rakyat: kesulitan-kesulitan yang berupa penderitaan pribadi yang pedih-pedih; kesulitan-kesulitan materiil-personil-finansiil; kesulitan-kesulitan keluarga yang terpisah berbulan-bulan; kesulitan-kesulitan perasramaan; kesulitan-kesulitan sosial; kesulitan-kesulitan kekurangan ini kekurangan itu sehari-hari dan seribu-satu kesulitan-kesulitan lagi. Bahkan prajurit-prajurit kita sejak saat Proklamasi limabelas tahun yang lalu sampai sekarang masih belum pernah mengenal istirahat yang sebenarnya sedikitpun, karena panggilan tugas yang terus-menerus dan tiada berhenti!

Namun, ya namun!, kita belum boleh puas dengan hasil-hasil yang telah tercapai. Kita masih perlu mengerahkan segenap urat-urat dan segenap otot-otot lagi, kita masih perlu lebih giat dan lebih hebat memaksimumkan semua usaha, agar dalam waktu dua tahun lagi Insya Allah tercapailah keamanan di seluruh wilayah Republik.

Ya! kita harus terus membantras pengacau-pengacau itu! Mereka sekarang melansir apa yang mereka menamakan "perdamaian nasional", sebagai yang dikemukakan oleh kaki-tangan-kaki-tangan mereka Sam Karundeng, Daniel Maukar, Sukanda Bratamenggala, dan lain-lain lagi. Saya tandaskan di sini sekali lagi dengan suara yang setandas-tandasnya, sesuai dengan isi Manifesto Politik bab keamanan:

Tiada kompromis dengan D.I.-T.I.I.!

Tiada kompromis dengan P.R.R.I.-Permesta!

Tiada kompromis dengan R.M.S.!

Terhadap yang tetap membangkang, akan kita teruskan operasi-operasi militer dan polisionil yang semakin hebat lagi!

Terhadap yang tetap membangkang, penggempuran akan berjalan terus!

Tetapi terhadap yang insyaf kembali, terhadap yang benar-benar menyerah tanpa syarat, terhadap yang ingin kembali ke pangkuan Republik dengan cara yang benar-benar ikhlas dan bukan untuk belakangan menggarong Republik lagi, terhadap mereka itu diadakan "politik pintu terbuka". Mereka akan diterima dengan baik, dan akan diperlakukan dengan wajar. Setiap jalan yang mempercapat keamanan dan mengurangi korban-korbun, harus kita pergunakan!

Saudara-saudara! Sekarang bagian ketiga daripada program Kabinet Kerja: Perjoangan Anti-imperialisme, perjoangan Irian Barat.

Perjoangan menentang imperialisme adalah salah satu jiwa pokok daripada Revolusi kita, dan malahan juga daripada pergerakan Nasional sebelum kita mengadakan Proklamasi. Salah satu unsur daripada Amanat Penderitaan Rakyat, – penderitaan yang telah berpuluh-puluh tahun, dan tidak hanya 15 tahun saja – salah satu unsur itu ialah justru mengnyahkan imperialisme dari seluruh wilayah tanah-air Indonesia. Maka sudah barang tentu, juga sesudah kita memiliki Republik ini, perjoangan di dalam negeri melawan imperialisme berjalan terus. Tetapi dalam hubungan kita dengan dunia luarpun perjoangan ini kita teruskan.

Dalam hubungan Republik dengan dunia luarpun, tetap kita memegang teguh kepada jiwa-pokok Revolusi, yaitu menghimpun segala kekuatan Nasional dan Internasional untuk menentang, dan akhirnya membasmi menyapu bersih imperialisme dan kolonialisme itu di manapun juga dan dalam bentuk apapun juga. Secara khusus kita meletakkan titikberat kepada perjoangan memerdekakan Irian Barat, karena di Irian Barat imperialisme-kolonialisme menancap di tubuh darah-daging kita sendiri.

Alhamdulillah, di luar negeri itu perjoangan ini berjalan sengit! Telah saya katakan sejak tahun yang lalu, bahwa ¾ umat manusia kini berada dalam Revolusi, antara lain Revolusi menentang penjajahan. Jiwa revolusioner merasa berhati-besar melihat Revolusi mondial itu. Jiwa revolusioner berhati-besar melihat perjoangan menentang penjajahan berhasil baik di beberapa negeri. Di Tunis, di Konakry, di Bukarest dan di Budapest saya tempohari dengan semangat mengatakan, bahwa Afrika kini adalah laksana kancah yang berkobar menyala-nyala, – bahwa "Africa is ablaze like a burning fire"! Mesiu telah meledak di sana, kena cetusan "Semangat Bandung"! Sekarang saya mengulangi lagi salam dan do'a selamat saya atas nama bangsa Indonesia kepada para pemimpin dan bangsa-bangsa Afrika yang baru saja hidup-kembali ke dalam alam Kemerdekaan. Salam-kemerdekaan dan salam revolusioner kepadamu, hai Saudara-saudara di Afrika! Salam hangat dan do'a selamat kepada Kamerun, kepada Togo, kepada Federasi Mali, kepada Konggo, kepada Somali, kepada Malagasi, kepada Pantai Gading! Dan saya yakin: tidak lama lagipun kepada bangsa-bangsa Afrika yang lain, yang juga pasti menang, pasti menang, dalam perjoangan kemerdekaannya. Dan saya yakin pula, bahwa seperti juga Bangsa Indonesia, dengan segala keteguhan, dengan segala ketabahan hati, dengan segala kebulatan tekad untuk meneruskan perjoangan mati-matian, Saudara-saudara kita di Afrika itu akhirnya akan dapat mematahkan segala rintangan, menghancur-leburkan segala halangan, baik dari dalam maupun dari luar. Berjoanglah terus, hai Saudara-saudara di Afrika, kemenanganmu pasti nanti datang! Kami di Indonesia sendiri masih mengalami berbagai kesulitan, tetapi secara sederhana kami bersedia memberi bantuan sedapat mungkin bilamana dibutuhkan. Saudara-saudara tidak berdiri sendiri dalam perjoangan Saudara-saudara menentang imperialisme dan kolonialisme! Kemenangan Saudara-saudara adalah kemenangan kami, kemenangan kami adalah kemenangan Saudara-saudara!

Dan bukan hanya untuk menghimpun segala kekuatan Nasional dan Internasional menentang imperialisme dan kolonialisme sajalah politik luar negeri kita itu. Politik luar negeri kita, juga kita tujukan kepada persahabatan dengan semua bangsa, sesuai dengan ajaran Pancasila. Ia kita tujukan kepada menyumbang kepada terwujudnya perdamaian dunia, sesuai pula dengan ajaran Pancasila. Ia, sebagai semua orang telah mengetahui, berwujud satu politik luar negeri yang di luar negeri orang manakan ”independent policy” atau ”policy of non-alignment”. Kadang-kadang orang di luar negeri menamakannya juga ”policy of neutralism”, – satu politik yang netral. Sebutan yang belakangan itu adalah sebutan yang salah dan melését, samasekali. Sebab kita tidak netral, kita tidak penonton-kosong daripada kejadian-kejadian di dunia ini, kita tidak tanpa prinsipe, kita tidak tanpa pendirian. Kita menjalankan politik bebas itu tidak sekadar secara ”cuci tangan”, tidak sekadar secara defensif, tidak sekadar secara apologetis. Kita aktif, kita berprinsipe, kita berpendirian! Prinsipe kita ialah terang Pancasila, pendirian kita ialah aktif menuju kepada perdamaian dan kesejahteraan dunia, aktif menuju kepada persahabatan segala bangsa, aktif menuju kepada lenyapnya exploitation de l’homme par l’homme, aktif menentang dan menghantam segala macam imperialisme dan kolonialisme di manapun ia berada.

Pendirian kita yang ”bebas dan aktif” itu, secara aktif pula setapak demi setapak harus dicerminkan dalam hubungan ekonomi dengan luar negeri, agar supaya tidak berat-sebelah ke Barat atau ke Timur. Manakala pada saat sekarang ini keberatsebelahan itu nampaknya masih ada, maka usaha kita ialah untuk menghilangkan keberatsebelahan itu. Hanya jikalau kita tidak berat-sebelah, maka kita benar-benar boleh menuliskan Pancasila di atas dada kita, dan kita dipercaya orang dalam usaha kita mendamaikan dunia. Hanya jikalau kita benar-benar tidak ”pilih kasih”, maka kita bisa menghindarkan yang tanah-air kita yang cantik-molek, kaya raya, strategis ini, dijadikan padang perebutan pengaruh politik internasionalm dijadikan arena perang-dingin dan mungkin arena perang-panas dari dunia luaran!

Sampai-sampai dalam hal memperjoangkan bebasnya Irian Barat-pun kita menjalankan Pancasila! Bertahun-tahun lamanya kita sesuai dengan Pancasila itu menjalankan politik "ajakan manis" kepada Belanda. Bertahun-tahun lamanya kita mencoba meyakinkan Belanda bahwa tuntutan kita adalah adil. Bertahun-tahun lamanya kita mencoba mempengaruhi public opinion di negeri Belanda, dan juga public opinion di dunia, untuk memberi desakan kepada Belanda. Sebenarnya sedari tadinya kita harus sudah mengerti bahwa politik "ajakan manis" itu niscaya tidak akan berhasil. Juga dalam pergerakan nasional kita dahulu, dalam mana pemimpin-pemimpin kita dua puluh tahun lamanya menjalankan politik mohon-mohonan, rekés-rekésan, yakin-yakinan, cooperatie-cooperatiean dengan Belanda, terbuktilah bahwa "politik ajakan manis" itu tidak diréwés. Baru sesudah kita mendengungkan politik non-cooperation, baru sesudah kita memformulir dengan tegas bahwa politik kita harus berupa "'machtsvorming dan machtsaanwending", baru sesudah kita menyemboyankan dengan cara yang menyundul-langit bahwa kita harus menuju kepada Indonesia Merdeka 100% lepas dari Belanda dengan menggerakkan revolusionnaire massa-actie yang tidak nyembah-nyembah dan tidak bercooperatie-cooperatiean dengan Belanda, baru sesudah pergerakan nasional kita itu benar-benar berdiri atas dasar belangentegenstellingen dan machtstegenstellingen dengan Belanda, – baru sesudah itulah matahari-kejayaan kita mulai menyingsing.

Dan juga pengalaman kita sesudah Proklamasi, antara 1945-1950, yaitu pengalaman kita dalam physical revolution, bahwa dengan fihak Belanda tak dapat dicapai kata-sepakat atas dasar "give and take", sebenarnyapun harus telah memberi pengajaran kepada kita bahwa kita harus menempuh jalan lain dalam usaha mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik. Tetapi tidak. "Jalan lain" itu tidak segera kita ambil! Penyakit tidak mempunyai konsepsi yang tepat dan tegas, juga merajalela di antara kita bertahun-tahun lagi mengenai persoalan Irian Barat ini, sebagaimana penyakit ini juga menjadi kanker dalam tubuh-fikiran kita bertahun-tahun sesudah physical revolution di bidang lain-lain.

Tetapi akhirnya, eindelijk, e-i-n-d-e-l-i-j-k, beberapa tahun yang lalu merantak-rantaklah fajar menyingsing dalam politik-Irian Barat kita itu. Eindelijk, beberapa tahun yang lalu kita merobah sifat perjoangan kita, dari "mengajak Belanda secara manis" untuk mengembalikan Irian Barat kepada kita, menjadi satu politik konfrontasi antara segala kekuatan nasional kita terhadap Belanda dalam mas'alah Irian Barat.

Saat itulah saat lahirnya istilah "jalan lain" dalam politik-Irian Barat kita. Saat itu saatnya kita menemukan-kembali kesadaran, bahwa perjoangan nasional adalah soal kekuatan, soal "machtsvorming en machtsaanwending", soal perjoangan, dan bukan soal pengemisan. Saat itu adalah saat "rediscovery of our struggle", yang kemudian disusul samasekali oleh "rediscovery of our Revolution". Ya!, kita sekarang tidak mau lagi meminta-minta berunding dengan Belanda mengenal Irian Barat, kita akan terus menjalankan politik "jalan lain" itu sampai Irian Barat masuk kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik. "Man bettelt nicht um ein Recht, um ein Recht kämpft Man!", – "Hak tak dapat diperoleh dengan mengemis, hak hanya dapat diperoleh dengan perjoangan!", – demikianlah ajaran yang kita dapat dari alam perjoangan.

Saya mengucap banyak terimakasih kepada Dewan Pertimbangan Agung, bahwa Dewan ini pada tanggal 21 Juli beberapa pekan yang lalu telah mengusulkan kepada Pemerintah tentang "Kebijaksanaan Politik Pembebasan Irian Barat". Usul Dewan Pertimbangan Agung itu amat berharga sekali, lebih-lebih lagi oleh karena usul Dewan Pertimbangan Agung pun berdiri di atas prinsipe konfrontasi segenap kekuatan Nasional kita terhadap fihak imperialis-kolonialis Belanda, konfrontasi antara nationale macht kita terhadap imperialistis-koloniale macht Belanda. Maka Pemerintah akan memberikan perhatian sepenuhnya kepada usul Dewan Pertimbangan Agung itu.

Di dalam pidato 17 Agustus tahun yang lalu saya berkata: "Khusus mengenai perjoangan Irian Barat, saya menyatakan di sini bahwa benar Pemerintah tidak akan memasukkan soal Irian Barat itu ke P.B.B. tahun ini. Tetapi ini tidak berarti bahwa Pemerintah kendor dalam perjoangannya mengenai Irian Barat. Tidak! Samasekali tidak! Sebaliknya! Pemerintah memperhebat perjoangan Irian Barat itu di lapangan lain daripada P.B.B. Pemerintah memperhebat perjoangannya itu di lapangan ekonomi. Pemerintah mengakui bahwa perjoangan Irian Barat harus dilakukan di segala lapangan, ya di dalam negeri ya di luar negeri, tetapi buat tahun ini Pemerintah mengkonsentrir perjoangannya melawan Belanda itu di lapangan ekonomi. Ingatlah kepada pemindahan pasar ke Bremen, Ingatlah kepada keputusan kita untuk tidak mengakui ada hak eigendom Belanda lagi (sekarang semua hak-hak agraris Belanda dihapuskan), ingatlah kepada ucapan saya bahwa jika Belanda tetap membandel dalam persoalan Irian Barat, maka akan habis-tamatlah samasekali riwayat semua modal Belanda di bumi Indonesia. Coba lihat nanti, fihak Belanda dan konco-konconya imperialis tentu akan gégér-marah oleh keputusan-keputusan kita ini, dan kegegeran mereka itupun harus dan akan kita layani di dunia Internasional. Pemerintah berpendapat lebih baik mengkonsentrir enersinya di luar negeri pada pelayanan kegégéran inilah, dan tidak memecah-mecah enersinya itu antara pelayanan kegégéran ini + perjoangan di P.B.B. Dan bagi P.B.B. sendiripun, sikap kita sekarang ini (untuk tidak memasukkan Irian Barat dalam acara P.B.B.), harus diberi arti yang langsung mengenai P.B.B. Saya harap P.B.B. dengan sikap kita sekarang ini mengerti, bagaimana perasaan kita terhadap P.B.B.!"

Demikian tahun yang lalu. Bagaimana tahun yang sekarang? Tahun yang sekarang, kita tetap mengambil "jalan lain" itu, malahan memperkuat, memperhebat, memperdahsyat "jalan lain" itu. Dewan Pertimbangan Agung sendiri dalam salah satu kalimat penjelasan usulnya itu menulis: (boleh saya ungkap sedikit): "Berdasarkan pengalaman-pengalamnn politik pembebasan Irian Barat dari Kabinet-Kabinet yang lalu, di samping kenyataan sikap kepalabatu kolonialis Belanda yang makin memperkuat pendudukan militernya di Irian Barat, dan berhubung dengan penemuan kembali Revolusi Indonesia pada garis U.U.D. '45, maka adalah satu keharusan, bahwa Kabinet Kerja melaksanakan politik pembebasan Irian Barat secara revolusioner menurut bahasa tersendiri Revolusi Nasional Indonesia".

Ya!, pengalaman-pengalaman Kabinet-kabinet yang lalu sudah jelas. Ya!, kolonialis Belanda makin bersikap kepalabatu! Ya!, Belanda malahan mengirim Karel Doorman ke Irian Barat. Tetapi juga ya!, kita sekarang sudah benar-benar menemu-kembali perjoangan kita dan menemu-kembali Revolusi! Karena itu, ya!, benar sekali anjuran Dewan Pertimbangan Agung supaya kita melaksanakan politik pembebasan Irian Barat secara Revolusioner, menurut bahasa tersendiri Revolusi Nasional Indonesia! Belanda makin berkepalabatu.

Belanda malahan mengirimkan Karel Doorman-nya. Satu negara rentenier kecil yang sebenarnya sudah jatuh seperti Nederland itu, yang masih bernafsu kolonialisme, sekarang mencoba mengirimkan deurwaardernya, yang bemama Karel Doorman!

Sekarang dengarkan Saudara-saudara! Dalam keadaan yang demikian itu, tidak ada gunanya lagi hubungan diplomatik dengan negeri Belanda. Tadi pagi telah saya perintahkan Departemen Luar Negeri memutuskan hubungan diplomatik dengan negeri Belanda.

Itu negatifnya! Positifnya kita mempertinggi kekuatan Nasional kita yang kita harus konfrontir dengan kekuatan imperialis Belanda itu. Sekali lagi dengan tegas saya katakan di sini, bahwa kekuatan Nasional itulah yang menentukan, kekuatan Nasional yang berupa satu totalitas daripada semua tenaga politik, ekonomis, sosial, sipil, militer dalam bangsa dan Negara yang dalam ketotalannya kita konfrontir dengan kekuatan imperialis Belanda! Sebab di dalam konfrontasi itulah nanti akan ternyata siapa yang kuat, siapa yang menang!

Dalam mempertinggi kekuatan Nasional itu, Front Nasional menduduki salah satu tempat yang penting. Dalam usul Dewan Pertimbangan Agung tadi itu antara lain diusulkan: (saya ungkapkan lagi sedikit): "menggalang persatuan rakyat revolusioner berupa Front Nasional anti imperialis di bawah pimpinan Bung Karno, sebagai landasan untuk membangkitkan aksi-aksi massa".

Dan di dalam Manifesto Politik tempohari saya berkata: "Ide Front Nasional sebenarnya keluar daripada prinsip Gotong Royong "Ho-lopis Kuntul-baris". Seluruh tenaga Rakyat harus digalang dan dijadikan satu gelombang-tenaga yang mahasyakti, menuju kepada terbangunnya satu masyarakat adil dan makmur, – menuju kepada penyelesaian Revolusi. Dan penggalangan itulah tugasnya Front Nasional. Menjadi Front Nasional itu adalah satu hal yang prinsipiil-fundamentil: sebab pembangunan semesta tak mungkin berhasil tanpa mobilisasi tenaga semesta pula. Revolusi tak mungkin berjalan penuh tanpa ikut-ber-Revolusinya seluruh Rakyat. Front Nasional nanti diadakan untuk menggalang seluruh tenaga daripada seluruh Rakyat. Ia harus menggalang seluruh kegotongroyongan Rakyat. Front Nasional itulah dus yang harus menggalang semangat dan tenaga latent dikalangan Rakyat, dijadikan satu gelombang "ke-ho-lopis-kuntul-barisan" untuk menyelesai-kan Revolusi".

Saya mengulangi bagian pidato Manifesto Politik yang mengenai penggalangan tenaga dan semangat massa Rakyat ini in extense (dengan lengkap), oleh karena masih banyak orang-orang dalam kalangan aparatur Negara, orang-orang kwalitas ndoro-ndoro dan juragan-juragan, wanita-wanita yang kwalitet dén-ajeng dén-ajeng dan dén-ayu dén-ayu -, yang tidak mengerti artinya tenaga massa dan semangat massa, bahkan menderita penyakit massa-phobi dan Rakyat-phobi, yaitu takut kepada massa dan takut kepada Rakyat. Jiwa ndoro dan jiwa dén-ayu itu harus kita cuci samasekali dan harus kita kikis samasekali, agar supaya Revolusi dapat berjalan benar-benar sebagai Revolusi Rakyat, dan oleh karenanya berjalan seefisien-efisiennya pula!

Sebagai di muka telah saya katakan, beberapa hari yang lalu sudah selesai saya bentuk pucuk pimpinan daripada Front Nasional itu. Tinggal sebentar lagi benar-benar kita menggerakkan Front Nasional itu: Ho-lopis-kuntul-baris!, – menuju pembangunan semesta, menuju pembebasan Irian Barat, menuju lenyapnya imperialisme dari bumi Indonesia, menuju kemerdekaan penuh, menuju sosialisme Indonesia, menuju pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat!

Saudara-saudara!

Lambat-laun datanglah saatnya saya harus mengakhiri pidato saya ini. Tetapi saya tidak mau mengakhirinya, sebelum saya menandaskan beberapa hal kepada Saudara-saudara.

Banyak telah kita kerjakan dalam tahun yang lalu. Kita telah meretool badan legislatif dan membentuk D.P.R.G.R. Kita sedang meretool dunia-kepartaian, dan telah memerintahkan pembubaran partai-partai yang anti-revolusioner. Kita telah mempersiapkan Landreform, salah satu bagian mutlak daripada Revolusi. Kita telah menyusun Majelis Permusyawaratan Rakyat. Kita telah menyusun pimpinannya Front Nasional. Kita telah memecahkan sedikit persoalan Sandang-Pangan. Kita telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda. Kita telah membasmi sebagian yang lumayan daripada gerombolan-gerombolan pengacau. Kita telah membangun Bank Pembangunan, sedang membangun Bank Koperasi, Tani dan Nelayan, sedang membangun Bank-bank Pembangunan Daerah. Kita telah mulai membangun beberapa industri-dasar, dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Pendek-kata: kita telah ini, kita telah itu! Tetapi sekali-kali janganlah menjadi puas karena kita telah-ini telah-itu. Banyak sekali hal-hal investment yang masih harus kita kerjakan. Misalnya belum semua warganegara bisa membaca dan menulis, meski jumlah yang melek-huruf sekarang sudah lebih dari 60%, padahal di masa penjajahan hanya 6%.

Dapatkah sosialisme diselenggarakan oleh bangsa yang buta-huruf? Saya komandokan sekarang, supaya buta-huruf itu habis samasekali pada akhir tahun 1964! Dan saya komandokan kepada semua sekolah-sekolah dan Universitas-universitas, supaya semua murid mahasiswa di-USDEK-kan dan di-Manipol-kan!

Sekali lagi saya tandaskan di sini, bahwa masih banyak sekali hal-hal investment yang masih harus kita kerjakan. Dan percayalah: bulan purnama masih beratus-ratus kali lagi harus bersinar, tahun masih harus berkali-kali lagi berganti tahun, sebelum kita boleh berkata bahwa sebagian besar karya investment telah kinarya. Masih lama lagi kita harus membanting-tulang, masih lama lagi kita harus memeras keringat, masih lama lagi kita harus berjoang habis-habisan, kalau perlu berjoang mati-matian. Apa yang sudah kita kerjakan itu barulah sekadar pucuk dari permulaan saja, sekadar "the beginning of the beginning", paling-paling "the end of the beginning"! Tetapi masih tetap the beginning, masih tetap permulaan! Ya tentu, kita bangga telah mempunyai Manifesto Politik.

Tetapi Manifesto Politik hanyalah satu Manifesto, satu pernyataan, satu Konsepsi, satu ideologi, – katakanlah satu pembakar semangat. Sebagai pembakar semangat ia boleh ditempatkan dalam trilogi kita yang termasyhur: semangat nasional – kemauan nasional – perbuatan nasional, sehingga trilogi itu menjadi caturlogi yang berbunyi:

Semangat nasional

Konsepsi nasional

Kemauan nasional

Perbuatan nasional

Tetapi program atau pernyataan, konsepsi atau ideologi, – yang menentukan ialah pelaksanaannya. Mengenai pelaksanaan ini, Dewan Pertimbangan Agung dengan tepat berkata: "Walaupun Manifesto Politik adalah sangat penting karena telah menjawab persoalan-persoalan pokok Revolusi, dan telah mengemukakan usaha-usaha-pokok untuk menyelesaikan Revolusi Indonesia, tetapi realisasinya sangat tergantung pada orang-orang yang diberi tugas untuk melaksanakannya".

Benar sekali: tergantung pada orang-orang yang harus melaksanakan! Khususnya orang-orang yang diberi tugas, umumnya orang-orang 90.000.000 jiwa yang bernama Rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. "Ten slotte beslist de mens", inilah sitat dari Fritz Sternberg yang saya gemar sekali mensitirkannya. "Pada akhirnya, manusialah yang menentukan".

Oleh karena itulah maka orang-orang yang diberi tugas tapi tidak berhati-penuh atau tidak becus untuk melaksanakan Manifesto Politik-USDEK, harus diretool! Tetapi Saudara-saudara juga, Saudara-saudara dari kalangan Rakyat, Saudara-saudara pun tak luput dari memikul kewajiban! Saudara-saudara yang sudah sadar, harus aktif menyumbangkan tenaga kepada realisasi Manipol-USDEK itu. Saudara-saudara yang belum sadar, yang tidak mengerti sedikitpun tentang Manipol-USDEK, apalagi pelaksanaan Manipol-USDEK, Saudara-saudara yang demikian itu harus diindoktrinasi, harus disadarkan, harus dikocok-dihoyag-hoyag, ditempa, di-gemblèng, sampai betul-betul mereka menjadi sadar, dan menjadi orang-orang yang menyumbang secara aktif, menyumbang secara dinamis-revolusioner!

Hari ini adalah hari memperingati Proklamasi. Pantas kita bangga atas Proklamasi itu. Pantas kita merasa mongkok kitapunya hati kalau ingat kepada 17 Agustus 1945 oleh karena kita pada hari itu menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa kita bukan bangsa budak yang berjiwa tempe yang mau terus ditindas dan dihisap beratus-ratus tahun, melainkan bangsa jantan yang berjiwa banténg. Pantas kita bangga atas Proklamasi itu, karena kita telah menjadi pengambil inisiatif (initiatiefnemer) daripada pernyataan-pernyataan kemerdekaan di lain-lain negeri di Asia, seperti di India, di Pakistan, di Burma, di Vietnam, di Philipina dan lain-lain, yang semuanya menyatakan kemerdekaannya sesudah Proklamasi kitn itu.

Namun demikian, janganlah sekali-kali kita hanya bangga saja, janganlah sekali-kali kita hanya mengagul-agulkan kejantanan kita saja! Sepertinya juga dengan halnya konferensi Asia-Afrika lima tahun yang lalu. Benar kita salah-satu initiatiefnemer dari konferensi itu, benar kita motor daripada Konferensi itu, benar Konferensi itu diadakan di kota Bandung kota Indonesia, tetapi jangan sekali-kali kita selalu menonjol-nonjolkan "Bandung" itu seolah-olah kita ingin melanggengkan jasa. Tidak! Kita bangsa Indonesia, kita pemimpin-pemimpin Indonesia, tidak boleh berhenti, tidak boleh duduk diam bersenyum-simpul di atas damparnya kemasyhuran dan damparnya jasa-jasa di masa yang lampau. Kita tidak boleh "teren op oud roem", tidak boleh hidup dari kemasyhuran yang liwat, oleh karena jika kita "teren op oud roem", kita nanti akan menjadi satu bangsa yang "ngglenggem", satu bangsa yang gila-kemuktian, satu bangsa yang berkarat.

Janganlah kita "ngglenggem" atas kemasyhurannya Proklamasi '45! Dinamikanya Revolusi menuntut, bahwa kemasyhuran dan jasa-jasa yang lampau itu hanyalah merupakan pancatan-pancatan pertama saja dan batu-loncatan-batu-loncatan-pertama saja daripada jasa-jasa dan kemusyhuran-kemasyhuran yang baru. Jasa-jasa baru itu kita butuhkan demi kemajuan nasional, demi progresnya Revolusi, tetapi juga untuk menambah kepercayaan kepada diri sendiri. Selanjutnya terserahlah kepada Sejarah nanti, menonjolkan atau tidak, jasa-jasa atau kemasyhuran-kemasyhuran itu!

Terus-terang saja, saya persoonlijkpun berfalsafah demikian! Siang dan malam kegandrungan saya hanyalah ingin mengabdi kepada Tuhan, mengabdi kepada tanah-air dan bangsa, menyumbang kepada Revolusi, menyumbang kepada pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat. Dicacimaki musuh saya tidak ambil perduli, diagul-agulkan kawan saya tidak membusungkan dada. Saya berjalan terus dengan tenang jika diserang musuh dari kiri dan dari kanan, saya berjalan terus tanpa meminta sanjungan kawan. Saya menolak orang spesial membuat biografi (riwayat-hidup) dari saya, saya menolak orang membuat patung Sukarno atau monumen Sukarno.

Oleh tindakan-tindakan saya di waktu yang akhir-akhir ini, ada orang yang mengatakan bahwa saya telah melakukan satu "coup d'état". Apakah benar saya melakukan "coup d'état"? Ambui, saya dikatakan melakukan "coup d'état"! Siapa orang-orang yang mengatakan demikian itu? Orang-orang yang mengatakan saya melakukan "coup d'état" itu adalah orang-orang yang menentang Konsepsi Presiden dan menentang Manifesto Politik, atau dalam kata-kata "menerima" Manifesto Politik itu, tetapi dalam perbuatannya menentang. Orang-orang yang demikian itu sekadar berlagak!, – berlagak revolusioner, dan berlagak membela demokrasi. Mereka berlagak revolusioner, karena mereka hanya menyebut kata "Revolusi", tetapi menentang Revolusi-Komplit yang kita lakukan, yaitu Revolusi penuh dari atas dan dari bawah, sebagai yang kita lakukan sekarang ini. Dari atas, dengan adanya retooling terhadap aparat dan sistim; dari bawah, karena retooling aparat dan sistim itu dilakukan sesuai dengan desakan Rakyat dan didukung pula oleh Rakyat. Kalau hanya dari atas saja, maka itu bukan revolusinya massa, dus bukan Revolusi; kalau hanya dari bawah saja, maka itu adalah semacam rebelli.

Mereka berlagak membela demokrasi, oleh karena yang mereka bela itu sebenarnya adalah bukan … demokrasi, melainkan sistim liberalisme semata-mata. Mereka berlagak membela demokrasi, oleh karena sebagai yang saya katakan di Tokyo tempohari, justru di kalangan mereka itulah banyak simpatisan-simpatisan dan makelar-makelar-gelap daripada D.I.-T.I.I., P.R.R.I.-Permesta, yang malahan selalu mendurhakai demokrasi, dan selalu mencoba untuk mengadakan "coup d'état" dengan kekerasan senjata. Mereka berlagak membela demokrasi, oleh karena mereka tak pernah dengan terang-terangan menghukum atau mengutuk perbuatan-perbuatan itu yang menyalahi demokrasi.

Dan sekarang mereka mengatakan bahwa saya melakukan coup d'état"? Mereka, yang selalu hendak mencoba mengadakan coup d'état? Mereka, yang selalu menghambat dan merem Revolusi? Mereka, yang berkata bahwa Revolusi sudah selesai, dus tidak boleh ada Revolusi lagi? Saya kok ingat kepada cerita pencuri yang berteriak "maling! Maling! Bangunlah, ada maling!" Alangkah bedanya dengan mereka itu pendapat Mahkamah Agung Republik Indonesia, yang misalnya berkata bahwa Penpres No. 7/1959 (mengenai kepartaian) adalah syah karena "dalam keadaan yang bersifat memaksa ini, maka Kepala Negara berwenang mengambil tindakan yang menyimpang dari segala peraturan yang ada, termasuk juga Undang-Undang Dasar".

Sekali lagi saya bertanya: siapa yang melakukan coup d'état, – sayakah, atau mereka? Sejarah akan menjawab, bahkan Rakyat sekarang telah menjawab, bahwa saya tidak melakukan coup d'état dengan tindakan-tindakan saya yang akhir-akhir ini. Sejarah dan Rakyat itu akan menjawab, bahwa saya bersama dengan kawan-kawan revolusioner malahan telah melakukan penyelamatan daripada Negara, penyelamatan daripada Revolusi. Zonder tindakan-tindakan kami-bersama itu, zonder pembasmian free-fight-liberalism, zonder mengadakan demokrasi terpimpin, zonder pembubaran Konstituante, zonder dekrit 5 Juli 1959 untuk kembali kepada U.U.D, '45, zonder pembubaran D.P.R.-liberal, zonder pembentukan D.P.R.G.R., zonder Manifesto Politik dan USDEK, zonder Pen. Pres. No, 7 yang menyederhana-kan kepartaian, zonder penggempuran habis-habisan kepada kaum pemberontak serta makelar-makelar-gelapnya kaum pemberontak, maka Negara kita sudah lama akan pecah, sudah lama akan berantakan, sudah lama Revolusi akan kandas, Apa yang kami-bersama telah perbuat, bukanlah perebutan kekuasaan, bukanlah coup d'état, melainkan penyelamatan Negara dan penyelamatan Revolusi: Apa yang kami bersama telah perbuat bukanlah coup d'état, melainkan sauvetage d'état, sauvetage de la Revolution!

Saya ulangi lagi: Insya Allah saya berjalan terus. Insya Allah kita-semua berjalan terus tanpa membusungkan dada atas jasa-jasa yang lalu, sekadar sebagai memenuhi kewajiban kita dalam Revolusi, meratakan jalan bagi lanjutnya Revolusi itu, meratakan jalan dan ikut menarik Kereta, agar supaya Kereta itu akhirnya mencapai apa yang menjadi tujuan Revolusi dan kewajiban Revolusi, yaitu (saya mengambil perincian Dewan Pertimbangan Agung):

"Membentuk satu Republik Kesatuan yang demokratis, di mana Irian Barat juga termasuk di dalamnya, di mana Kedaulatan ada di tangan Rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, di mana hak-hak-azasi dan hak-hak-warganegara dijunjung tinggi, dan membentuk masyarakat adil dan makmur, cinta damai, dan bersahabat dengan semua negara di dunia, guna membentuk satu Dunia yang Baru".

Ya!, Saudara-saudara!, panjanglah definisi daripada tujuan dan kewajiban Revolusi kita itu! Revolusi kita memang bukan Revolusi témpé! Revolusi kita, demikian kataku di muka, adalah Revolusi Besar yang lebih Besar daripada revolusi-revolusi lain di lain negeri. Dasar dan jiwanyapun lebih besar daripada dasar dan jiwa revolusi di lain-lain negeri itu. Pancasila adalah lebih memenuhi kebutuhan manusia dan lebih menyelamatkan manusia, daripada Declaration of Independencenya Amerika, atau Manifesto Komunis. Pancasila adalah satu "pengangkatan ke taraf yang lebih tinggi", satu "hogere optrekking", daripada Declaration of Independence dan Manifesto Komunis.

Apa yang ditulis dalam Declaration of Independence, dan apa yang ditulis dalam Manifesto Komunis? Declaration of Independence menuntut "life, liberty, and the pursuit of happiness", yaitu “hak hidup, hak kebebasan, dan hak mengejar kebahagiaan" bagi semua manusia, padahal pursuit of happiness (pengejaran kebahagiaan) belum berarti reality of happiness (kenyataan kebahagiaan), – dan Manifesto Komunis menulis, bahwa jikalau kaum proletar di seluruh dunia bersatu-padu dan menghancurkan kapitalisme, mereka "tak akan kehilangan barang lain daripada rantai-belenggunya sendiri", dan "sebaliknya akan memperoleh satu dunia yang baru".

Kita bangsa Indonesia melihat apa yang terjadi di bawah kolong langit ini dengan Declaration of Independence saja, atau Manifesto Komunis saja. Kita bangsa Indonesia melihat bahwa Declaration of Independence itu tidak mengandung keadilan sosial atas sosialisme, dan kita melihat bahwa Manifesto Komunis itu masih harus disublimir (dipertinggi jiwanya) dengan Ketuhanan Yang Maha-Esa. Duaratus tahun yang lalu, hampir, Declaration of Independence itu dicetuskan oleh penanya Thomas Jefferson, seratus tahun yang lalu, hampir, Manifesto Komunis dicetuskan oleh genialitasnya Karl Marx dan Friedrich Engels. Kedua-duanya adalah umat progresif bagi zamannya masing-masing. Kedua-duanya adalah amat berharga bagi pembebasan nasional di zaman itu, atau pembebasan proletar di zaman itu. Tetapi kita sekarang sudah berada di bagian kedua dari abad ke-XX. Dengan Declaration of Independence saja dan Manifesto Komunis saja, maka kenyataannya sekarang ialah, bahwa dunia-manusia sekarang ini terpecah-belah menjadi dua blok yang hintai-menghintai satu-samalain, “lir angkasa kang hangemu dahana", sebagai juga digambarkan oleh Bertrand Russell tempo hari.

Karena itulah, maka kita bangsa Indonesia merasa bangga mempunyai Pancasila, dan menganjurkan Pancasila itu pada semua bangsa. Pancasila adalah satu dasar yang universil, satu dasar yang dapat dipakai oleh semua bangsa, satu dasar yang dapat menjamin kesejahteraan-dunia, perdamaian-dunia, persaudaraan-dunia. Pancasila, tidak salah lagi, adalah satu hogere optrekking daripada Declaration of Independence dan Manifesto Komunis. Dan Manifesto Politik Republik Indonesia dan USDEK adalah refleksi daripada Pancasila itu, sehingga benarlah konklusi Dewan Pertimbangan Agung, bahwa Revolusi Indonesia "bukanlah Revolusi borjuis model tahun 1789 di Perancis, dan bukan pula Revolusi proletar model tahun 1917 di Rusia". Revolusi Indonesia adalah satu Revolusi yang dasar dan tujuannya "kongruèn dengan Social Conscience of Man", kongruèn dengan Budi Nurani Manusia, sebagai kukatakan setahun yang lalu.

Dan kamu, hai bangsa Indonesia yang sedang dalam Revolusi, kamu yang sedang bekerja keras dan membanting-tulang dibèngkèl-bèngkèl dan diladang-ladang, kamu yang sedang bertempur dan menderita segala kekurangan, kamu yang sedang ditinggalkan suami atau kehilangan suami, kamu hai bangsa Indonesia tua-muda laki-perempuan dari Sabang sampai Merauke, tidakkah kamu – kendati segala kesulitan dan penderitaan itu – merasa hatimu mongkok bahwa Revolusimu adalah mengambil inspirasinya dari Pancasila, bahkan mendasarkan diri kepada Pancasila itu, sehingga sebagai kukatakan tadi Revolusimu itu adalah lebih besar dan lebih luas dan lebih benar daripada revolusi-revolusi bangsa lain, Revolusi Manusia, Revolusi Sejati, yang hendak mendatangkan satu Dunia Baru yang benar-benar berisikan kebahagiaan jasmaniah dan rokhaniah dan Tuhaniah bagi Umat Indonesia, bahkan juga bagi Umat Manusia di seluruh muka bumi?

Sekarang Revolusi kita sudah 15 tahun usianya. Banyak kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, banyak penyeléwéngan dan pendurhakaan yang kita derita, tetapi koreksipun kemudian kita adakan. Banyak jasa-jasa yang telah kita kerjakan, dan program Revolusipun kini terpapar dalam Manifesto Politik dan USDEK, tetapi jasa-jasa itu sebagai kukatakan tadi adalah sekadar batu-loncatan saja kepada jasa-jasa yang masih harus berdentam-dentam kita usulkan. Atau hendakkah kamu menjadi bangsa yang "ngglenggem?" Bangsa yang tidak bergerak, tetapi adem-anteng ”teren op oud roem?" Bangsa yang zelfgenoegzaam? Bangsa yang anglér memetèti burung perkutut dan minum tèh nasgitel? Bangsa yang demikian itu pasti nanti hancur lebur terhimpit dalam desak-mendesaknya bangsa-bangsa lain yang berebut-rebutan hidup!, – "verpletterd in het gedrang van mensen en volken, die vechten om het bestaan", sebagai yang dikatakan oleh pemuda-pemuda kita 40 tahun yang lalu.

Ya!, kalau mau hancur lebur, buat apa mengadakan Proklamasi! Kalau mau hancur lebur, buat apa mengadakan Revolusi! Kalau mau hancur lebur, buat apa tidak tunduk saja kepada D.I.-T.I.I., dan kepada P.R.R.I. dan Permesta! Kalau mau hancur lebur, buat apa tidak nurut saja kepada kehendaknya makelar-gelap-makelar-gelap dari mereka itu, yang mau meneruskan sistim bejat liberalisme etc. etc. dalam Negara kita ini?

Saudara-saudara menjawab: "Tidak! Kita tidak mau hancur lebur! Malah kita mau dengan cepat melaksanakan USDEK!"

Benar!, Saudara-saudara, benar! Tetapi Saudara-saudara tahu siapa tidak mau hancur lebur, harus berjoang mati-matian, atau harus membanting-tulang habis-habisan! Karena itu, janganlah setengah-setengah, berjoang membanting-tulanglah seperti "bukan manusia lagi" kata Mazzini, – berjoanglah mati-matian dan membanting-tulanglah habis-habisan seolah-olah kita ini malaekat-malaekat yang menyerbu dari langit!

Bahagialah Dr. Cipto Mangunkusumo dan Dr. Setiabudi, pejoang-pejoang kemerdekaan Indonesia yang sudah mangkat, yang pada waktu berjoangnya bersemboyan dan memesan:

"Serahkanlah jiwa-ragamu mutlak! Sekali lagi serahkanlah jiwa-ragamu mutlak! Sebab Tuhan benci kepada orang yang setengah-setengah!"

"Men moet zich geheel geven: geheel! De hemel verwerpt het gesjacher met meer of minder!"

Ya! Hayo!, marilah kita serahkan jiwa raga kita mutlak!

Moga-moga Tuhan meridhoi kita, karena kita tidak setengah-setengah!

Terima kasih!